Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Tersebarnya Rumor


__ADS_3

Rumor rumah tangga antara Sandra dan Rio suaminya telah tersebar, entah siapa yang menyebarkan berita itu, yang pasti kini Sandra tengah menjadi bahan pembicaraan orang-orang terutama warga sekolah, baik dikalangan para guru maupun siswa.


Tidak sedikit yang melimpahkan kesalahan kepada Sandra, tetapi ada juga yang sebagian iba pada wanita berumur 27 tahun itu, terdapat beberapa pro dan kontra mengenai masalah rumah tangga yang ia hadapi.


Selama ini Sandra sudah berusaha menutupi aib rumah tangganya dengan Rio, karena ia tidak mau orang lain terutama keluarga nya mengetahui tentang masalahnya itu, ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya, ada yang ia takuti jika keluarga nya mengetahui bahwa rumah tangga nya telah terjadi keretakan. Apa yang ia katakan kepada keluarganya, padahal ia yang di khianati, tapi ia yang merasa jadi tersangka disini.


Desas desus kini tengah terjadi di lingkungan sekolah, disaat Sandra menginjakkan kaki di halaman sekolah itu.


"Eh itu Miss Sandra kan, ternyata dia tetap datang ke sekolah." Ucap salah seorang guru.


"Kasihan nggak sih di selingkuhi sama suaminya." Ucap guru lain.


"Tapi dengar-dengar dia yang nggak becus jadi istri." Beberapa suara lain terdengar.


"Kalau benar Miss Sandra yang salah, saya dukung tu suaminya nikah lagi, buat apa punya istri tapi tidak tahu tugas nya." Kata yang lainnya lagi.


"Hus kalian ini, bukan nya prihatin malah ngomongin orangnya." Ucap guru lain, ia tidak berpihak dan tidak juga menyalahkan.


"Tapi mungkin ini karma nggak sih, dulu Miss Sandra seneng benar ledekin Miss Alesha, padahal Miss Alesha baik banget anaknya, sekarang dia rasa sendiri kan punya suami nggak setia." Ucap salah seorang staf sekolah.


"Udah sana bubar, ntar orang nya dengar." Ucap wakil kesiswaan.


Ternyata obrolan para guru yang sedang membicarakan Sandra terdengar oleh indra pendengaran Alesha dan Alena.


"Na, aku kok kasihan ya sama Miss Sandra." Ucap Alesha yang memang memiliki hati lembut bak malaikat itu.


"Gue juga kasihan sebenarnya, tapi itu salah satu karma untuk dia, karena dia dulu segitu jahatnya sama Lo." Ucap Alena apa adanya.


"Kita nggak boleh begitu na, kita nggak punya hak menghakimi orang lain. Karena kita pasti punya kesalahan dan dosa." Ucap Alesha menasehati sahabat nya itu.


"Kalau gue udah ngomong sama sahabat gue yang satu ini, udahlah gue pasti kalah," ucap Alena yang tidak ingin lagi mendebat sang sahabat, karena apa yang di katakan Alesha juga benar adanya. Mereka tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di antara Sandra dan suaminya.


Di saat Sandra memasuki ruang guru, ia melihat pandangan-pandangan aneh tertuju padanya, ada yang iba, ada yang bodoh amat, dan ada yang meremehkan. Maklum namanya juga manusia, kita tidak bisa mengontrol pemikiran orang lain terhadap kita.


Tong... Tong... Tong... !


Bel pun berbunyi, kini para guru menuju kelas yang akan masing-masing mereka ajar. Saat ini Alesha mengajar di kelas XI IPA 1.


"Assalamu'alaikum," ucap Alesha saat memasuki ruang kelas.


"Wa'alaikumsalam Miss," jawab semua murid.


Kini Alesha tengah mengabsen murid nya satu-persatu, tiba-tiba ada salah satu murid yang bertanya padanya.


"Sorry Miss, May I ask?" Tanyanya dengan bahasa inggris.


"Yes, please," jawab Alesha juga menggunakan bahasa inggris.


"Benarkah rumor tentang Miss Sandra Miss? Kalau suaminya selingkuh?" Tanya murid perempuan itu. Alesha sempat terdiam sepersekian detik.


"Itu bukan pembahasan kita kali ini, dan Miss tidak suka kalau anak-anak Miss nantinya membahas masalah ini baik di luar sekolah maupun di lingkungan sekolah, karena itu bukan masalah yang harus kalian pikirkan, mengerti? Tutur Alesha kepada seluruh muridnya.


"Mengerti Miss," jawab semua murid.


Ternyata disaat salah satu murid Alesha tadi menanyakan tentang permasalahan yang terjadi pada Sandra, Sandra lewat di depan kelas XI IPA 1 itu.


"Itu Miss Sandra lewat barusan, jangan-jangan dia dengar apa yang kamu omongin." Ucap salah satu murid lainnya.


Mendengar omongan muridnya itu, Alesha menoleh ke arah pintu kelas, ternyata benar kalau Sandra barusan melewati kelas yang ia ajar. Namun, karena ia masih ada tanggung jawab untuk mengajar kelas hari ini, ia tidak bisa menyusul Sandra, karena Alesha melihat Sandra seperti sedang menangis, ada rasa iba di hati nya.


Bel istirahat pun berbunyi, disaat Alesha tiba di ruang guru, ia tak melihat keberadaan Sandra, entah mengapa ia merasa khawatir kepada teman se-profesinya itu.


Di saat alesha melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan Sandra, tiba-tiba saja Alena datang menghampirinya.

__ADS_1


"Yuk besty kita makan siang," ajak Alena kepada sahabatnya itu.


"Kamu duluan deh Na, aku ada urusan sebentar, bye Na." Ucap Alesha segera melangkahkan kaki meninggalkan sang sahabat sebelum Alena menyelesaikan omongan nya.


"Benar-benar ni anak, main ditinggal aja, tapi perut gue laper, yaudah deh ntar gue tanya dia kemana." Gumam Alena seorang diri.


Alesha kini menghampiri Sandra yang sedang duduk seorang diri di bangku belakang sekolah, tempat itu memang jarang sekali di datangi para guru maupun murid.


"Assalamu'alaikum San," ucap Alesha memberanikan diri.


Disaat Sandra menoleh ke sumber suara, ia terkejut karena Alesha yang menghampiri nya, ia berfikir Alesha sekarang tengah mengejeknya, apalagi dulu ia juga sering merendahkan Alesha.


"Mau ngapain lo nyamperin gue," berang Sandra tiba-tiba, bukannya menjawab salam, ia malah marah tidak jelas kepada Alesha.


"Aku nggak bermaksud apa-apa kok San, aku cuma mau nemani kamu duduk disini." Jawab Alesha berusaha tenang.


"Gue tau, Lo mau meledek gue kan, karena sekarang rumah tangga gue udah hancur, sama seperti yang lain tertawa di atas penderitaan gue." Ucap Sandra yang kini berbicara dengan intonasi tinggi.


"Kamu salah paham San, justru aku khawatir sama kamu," ucap Alesha berusaha meredam amarah Sandra.


"Jangan munafik deh Lo, gue tau Lo bahagia dengan penderitaan gue," ucap Sandra yang tak mau mendengarkan ucapan Alesha.


"Nggak San, aku bukan orang yang seperti itu, aku benar-benar tulus, aku cuma mau menghibur kamu." Ucap Alesha masih berusaha setenang mungkin.


"Gue nggak mau dengar omongan Lo, pergi Lo dari hadapan gue," berang Sandra mengusir Alesha.


Alesha masih setia duduk diam disamping Sandra, entah kenapa kakinya begitu berat meninggalkan Sandra seorang diri disana, padahal dulu Sandra dan teman-teman nya selalu saja menyakiti hatinya, namun ia tak sampai hati meninggalkan wanita yang harus di berikan dukungan itu seorang diri.


"Lo nggak dengar apa yang gue bilang, pergi Lo dari hadapan gue," ucap Sandra lalu refleks mendorong Alesha dari tempat duduknya.


Aakkhh....


Teriak Alesha karena ia terjatuh kesamping, terdengar kuat bunyi orang jatuh. Bagaimana tidak, Sandra mendorong Alesha sekuat tenaga.


Ya, ternyata Alena tadi tidak jadi ke kantin, ia menyusul sang sahabat karena ia penasaran kemana sahabat nya itu akan pergi, tak ia sangka Alesha ternyata menghampiri Sandra.


"San, Lo keterlaluan, Alesha cuma ingin menghibur Lo, tapi apa yang Lo lakuin ke sahabat gue," berang Alena menatap tajam ke arah Sandra.


"Na gak usah marah-marah deh, sekarang tolongin aku, antar aku ke UKS yok, sakit banget ini." Ucap Alesha menghentikan amarah sang sahabat.


Sandra yang melihat keadaan Alesha sempat merasa bersalah, namun ia tepis pemikiran nya itu, ia merasa ia tak salah, siapa suruh Alesha tak mau pergi dari hadapannya. Karena menurut nya Alesha hanya akan menertawakan dirinya. Ia pergi begitu saja meninggalkan Alesha dan Alena disana.


"San, kemana Lo," ucap Alena masih dengan amarahnya.


"Udah lah Na, biarin aja," ucap Alesha yang tak ingin memperpanjang masalah. Kini Alesha dipapah Alena menuju ruang UKS. Saat tiba di ruang UKS Alesha langsung di obati oleh dokter perempuan yang bertugas di hari itu.


"Miss Alesha ini kenapa?" Tanya dokter itu.


"Tadi hanya terpeleset di kamar mandi dok," jawab Alesha. Dokter itu dengan telaten mengobati luka yang ada di telapak tangan Alesha serta lutut nya yang berdarah, dan kakinya yang terkilir pun sudah di beri salep dan di perban.


"Oke sudah ya Miss, rajin-rajin diganti perban nya," ucap dokter penjaga itu.


"Terimakasih dok," ucap Alesha tersenyum. Dokter itu pun meninggalkan Alesha dan Alena di ruangan UKS.


"Lo kok nggak jujur aja kalau sebenarnya Lo di dorong Sandra," ucap Alena geram dengan sang sahabat.


"Aku nggak mau aja masalah ini di perpanjang, aku juga tau Sandra nggak bermaksud, yaudah lah Na biarin aja, ini musibah buat aku." Jawab Alesha setenang mungkin agar sang sahabat tidak lagi marah.


"Hati Lo terbuat dari apa sih Sha, udah di perlakukan seperti itu, dulu juga Lo selalu di rendahkan, masih aja baik sama orang." Ucap Alena bersungut-sungut.


"Tidak harus kan kejahatan dibalas dengan kejahatan, kalau begitu apa bedanya kita dengan mereka." Tutur Alesha sehingga membuat Alena terdiam.


"Eh tunggu, kamu kok tau aku nyamperin Sandra." Ucap Alesha penuh selidik.

__ADS_1


"Hehe sorry besty, tadi gue ngikutin Lo, soalnya lo aneh banget tadi, main pergi ninggalin gue gitu aja," jawab Alesha cengengesan. Alesha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jam pulang pun telah tiba, Aqiel telah menunggu sang istri tercinta di parkiran. Dari kejauhan ia melihat sang istri di papah oleh Alena, ia segera berlari menghampiri Alesha.


"Cinta, kamu kenapa? Kenapa istri gue Na?" Tanya Aqiel kepada istrinya serta sahabat istrinya itu.


"Salam dulu mas," tegur Alesha.


"Assalamu'alaikum sayang," ucap Aqiel.


"Wa'alaikumsalam mas," jawab Alesha, lalu mencium tangan Aqiel penuh takzim, Aqiel mengecup lama kening sang istri.


"Nanti aku jelasin ya mas, sekarang kita pulang." Ucap Alesha yang tak ingin menjelaskan di sana.


"Yaudah karena sekarang udah ada suami bucin Lo, kalau gitu gue tinggal ya." Ucap Alena lalu meninggalkan dua pasutri itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Alena.


"Wa'alaikumsalam," ucap Alesha dan Aqiel bersamaan.


"Hati-hati Na, makasih ya Na." Teriak Alesha karena sang sahabat sudah mulai menjauh.


"Ayo cinta mas gendong ke parkiran," ucap Aqiel ingin menggendong istri nya itu.


"Nggak mas, aku jalan aja, ini masih di lingkungan sekolah, lagian aku cuma terkilir Mas." Ucap Alesha yang tak ingin jadi bahan perhatian warga sekolah.


"Cuma sayang? Terkilir kamu bilang cuma, kamu luka sedikit aja mas nggak tega, apalagi terkilir begini," ucap Aqiel bersungut-sungut.


" Ya sudah sekarang mas papah aja aku ke parkiran ya, aku nggak mau jadi bahan perhatian di sini." Bujuk Alesha agar suaminya itu berhenti berdebat. Akhirnya Aqiel menuruti keinginan sang istri, ia memapah Alesha hingga ke parkiran, membukakan pintu mobil lalu mendudukkan nya dengan hati-hati, barulah ia masuk ke bagian pintu sebelahnya.


Sampai di pelataran rumah mewah itu, ia tak membiarkan sang istri membuka pintu mobilnya seorang diri, ia pun membantu Alesha keluar dari mobil dan tanpa aba-aba ia menggendong sang istri ala bridal style.


"Mas kenapa aku harus di gendong, aku bisa jalan sendiri mas," ucap Alesha yang tak ingin diperlakukan seolah-olah ia terluka parah.


"Kamu diam aja sayang, yang ada kita jatuh kalau kamu gerak-gerak gini di gendongan mas," ucap Aqiel yang tak mau lagi di bantah oleh sang istri.


Alesha hanya diam dan menurut, tak lagi mendebat sang suami hingga tiba di kamar bernuansa putih milik mereka. Aqiel mendudukkan sang istri di sofa yang ada dikamar, lalu mengecek keadaan sang istri.


"Kamu kenapa cinta? Tadi di mobil kamu nggak mau mejelaskan sama mas, sekarang coba jelaskan, siapa yang sudah buat kamu seperti ini. Tangan kamu sampai luka gini." Ucap Aqiel meminta penjelasan kepada sang istri.


"Hhhuufff... Mas jangan marah tapi ya," ucap Alesha bernegosiasi dengan sang suami sambil menghirup udara dalam-dalam.


"Tergantung," jawab Aqiel dengan raut wajah yang serius. Alesha pun menceritakan semua nya kepada Aqiel tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Astaghfirullah sayang, kamu kok bisa masih baik begini sih, padahal kamu sudah di jahati oleh dia, sekarang lihat kamu jadi seperti ini, tapi kamu masih bela dia," ucap Aqiel yang kini gemas dengan kesabaran sang istri.


"Mas, katanya nggak bakalan marah," ucap Alesha mengingatkan sang suami.


"Iya kalau seperti ini gimana mas nggak marah," ucap Aqiel berusaha meredam kekesalannya.


"Bukan kah Allah maha pemaaf, kenapa kita sebagai hambanya tidak bisa memaafkan," ucap Alesha menatap netra suami tampannya itu.


"Astaghfirullah, kamu benar sayang, mas yang seharusnya mengingatkan kamu, ini malah mas yang marah-marah nggak jelas, mas nggak suka saja kalau ada yang nyakitin istri mas ini." Tutur Aqiel menjelaskan sembari mengusap wajahnya kasar.


"Maafkan aku ya mas, mas mau kan maafkan aku?" Tanya Alesha mengerjap-ngerjap kan matanya.


"Ia sayang mas maaf kan kamu, tapi lain kali jangan ikut campur lagi urusan siapapun, apalagi sampai buat istri cantiknya mas terluka seperti ini, mengerti cinta?" ucap Aqiel mengusap kepala istrinya yang masih terbalut hijab dengan sayang.


"Mengerti mas," ucap Alesha tersenyum.


.


.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2