
Karena ini hari libur, jadilah Alesha dan Aqiel masih betah di atas tempat tidur berukuran king size itu. Entah kenapa bawaan nya Alesha selalu ingin bermanja-manja dengan suaminya, tidak ingin ditinggal barang sedetikpun, apalagi dengan mood-nya yang suka berubah-ubah.
Aqiel yang masih belum mengetahui bahwa sang istri tengah mengandung, ia justru bingung dengan sifat istrinya yang tiba-tiba seperti ini, biasanya Aqiel yang akan selalu bermanja dengan istrinya itu, tapi kini justru terbalik, Alesha lah yang ingin selalu bermanja-manja dengan sang suami tercinta.
Melihat perubahan sang istri, justru Aqiel senang, karena sejak awal pernikahan mereka, jarang sekali Alesha bermanja dengannya. kini ia tengah menikmati momen-momen mesranya dengan istri cantiknya itu.
"Mas, aku kok tiba-tiba kepingin bubur ayam ya," ucap Alesha menatap netra sang suami sembari mengerjap-ngerjapkan mata bobanya.
"Kamu mau bubur ayam jam segini sayang? Bukannya sudah sarapan?" Tanya nya heran, pasalnya ia dan istrinya itu sudah sarapan setelah drama yang terjadi tadi. Namun tiba-tiba kini istrinya malah meminta bubur ayam, bukannya Aqiel tak ingin membelikan, tapi ini sudah menunjukkan pukul 10.30, biasanya bubur ayam jam segitu sudah habis.
"Jadi mas tidak mau membelikan untukku? Mas keberatan membelikan bubur ayam untuk istri mas ini?" tanyanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ya Allah cinta, bukan begitu maksud Mas istriku, biasanya jam segini bubur ayamnya sudah habis, kenapa kamu tidak bilang dari tadi cinta, hhmm." Tuturnya lembut, namun Alesha malah merasa suaminya itu menyalahkan nya karena baru meminta sekarang.
"Jadi mas kini menyalahkan aku? Aku juga nggak tahu tiba-tiba baru sekarang kepingin makan bubur ayam, aku harus bagaimana?" ucapnya yang kini sudah kembali menangis.
Melihat kelakuan random sang istri hari ini, membuat Aqiel kalang kabut, tidak biasanya sang istri manja begini dan tiba-tiba menangis, terlebih kini permintaannya harus segera dituruti.
"Ya Allah, kenapa dengan istriku?" bathin nya berucap.
__ADS_1
"Mas kenapa diam saja? Ayo kita cari bubur ayamnya mas, mas nggak mau memenuhi keinginan anak nya mas, nanti anak kita ileran, aku nggak mau anak kita sampai ileran nantinya." ucapnya sendu sambil menundukkan kepalanya.
Deg!
"Maksud kamu apa sayang? Anak kita?" tanyanya yang masih belum bisa mencerna perkataan sang istri dengan baik.
Alesha berjalan kearah dimana tas nya di gantung, ia mengambil hasil pemeriksaan USG nya kemarin, dan memberikan nya kepada sang suami.
"Ini apa cinta? hasil USG siapa?" tanya Aqiel yang masih bingung, karena ia tak pernah tahu jika sang istri pergi ke dokter kandungan untuk periksa kehamilan, Alesha sengaja merahasiakan nya agar menjadi surprise untuk suaminya.
"Maaf ya mas, semalam aku nggak bilang, sebelum menemani Alena ke mall, aku dan Alena pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan, karena waktu Aku sedang mengajar, tiba-tiba saja Aku pingsan, dan saat tiba di UKS, dokter yang memeriksa diriku mengatakan bahwa gejala yang aku alami itu gejala orang yang tengah mengandung, dokter itu menyuruh aku untuk segera periksa ke dokter obgyn (dokter kandungan)." Jawabnya menceritakan semua yang terjadi semalam.
"Maaf kan aku mas, aku tidak bermaksud. Aku sengaja tidak memberitahu kan kepada mas semalam, karena aku tidak ingin membuat mas khawatir. Dan aku takut jika pergi ke dokter kandungan dengan mas, dan mengetahui aku tidak hamil, mas akan kecewa." Ucapnya menundukkan kepalanya karena merasa bersalah kepada suaminya, karena tidak mengatakan yang terjadi semalam pada dirinya.
"Hey.. Cinta, lihat mas, mas kan sudah pernah bilang sama kamu, bahwa anak itu adalah termasuk anugerah sekaligus ujian untuk setiap hamba Nya, adapun anak atau tidak dalam pernikahan kita, tidak masalah buat Mas sayang, sedikit pun rasa cinta dan sayang mas tak akan pernah berkurang pada mu istriku. Jadi kenapa istrinya mas sampai berfikiran mas akan kecewa, justru mas merasa gagal karena tidak bisa menjaga kamu sepenuhnya, bahkan kamu pingsan saja mas tidak mengetahui nya." Tuturnya yang kini menatap lekat netra sang istri.
"Mas aku yang salah, mas tidak pernah gagal menjadi suamiku, mas adalah suami terbaik dan siaga, mas selalu menjaga dan melindungi aku, selalu mengayomi aku, sekarang ada buah hati kita disini, seharusnya mas bahagia, seperti aku yang bahagia disaat aku mengetahui ada kehidupan di rahim ku." Ucapnya tersenyum menatap lekat sang suami.
"Masyaa Allah cinta, mas sangat bahagia, bahagia sekali... rasanya hidup mas kini terasa lengkap, karena sekarang ada calon buah hati kita, di usia pernikahan kita yang masih terbilang baru, Allah sudah memberikan amanah terbesar ini untuk kita berdua, terimakasih istriku, karena sudah memberikan kado terindah ini untuk mas." Ucapnya yang kini tengah mengecup lama kening sang istri. Air mata nya pun kian meluruh, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia.
__ADS_1
"Mas kenapa menangis?" tanya sang istri lembut, lalu ia menghapus air mata suaminya itu dengan jari jemari lentiknya.
"Mas bahagia cinta, sangat bahagia karena kini telah tumbuh calon anak kita di rahim wanita Sholehah seperti kamu istriku. Semoga kelak anak kita menjadi anak yang sholeh maupun sholehah, sama seperti ibunya." ucapnya mengecup kedua tangan sang istri dan memeluk erat istri tercintanya, Alesha pun balas memeluk sang suami.
"Aamiin Allahumma Aamiin, terimakasih ya Allah Engkau telah memberikan suami terbaik dan Sholeh untuk hamba Mu ini, dan terimakasih karena Engkau kini telah menyempurnakan kebahagiaan hamba dan suami hamba dengan adanya kehidupan di rahim ini." Bathin nya berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa.
"Oiya cinta, siapa saja yang sudah tahu dengan kehamilan mu? apa hanya mas yang baru tahu?" tanya nya tiba-tiba.
"Belum ada yang mengetahuinya mas, kecuali Alena." ucapnya tersenyum.
"Selanjutnya kalau periksa kandungan harus pergi sama mas ya cinta, mas nggak rela kalau kamu pergi dengan orang lain, kan ini anaknya mas." Ucapnya bertingkah seperti anak-anak yang tengah merajuk. Melihat tingkah sang suami kini, membuat Alesha tersenyum gemas.
"Iya mas suami, Insyaa Allah untuk periksa kandungan selanjutnya aku pergi nya sama mas, maafin aku ya mas, sebenarnya aku mau memberitahu kan kabar bahagia ini semalam dengan mas, tapi mas pulang nya telat, makanya baru bisa kasih tahu kan sekarang dengan mas." ucapnya menjelaskan. Aqiel memaklumi sang istri, namun rasa bahagianya kini tak bisa ia tutupi.
.
.
To Be Continued
__ADS_1