
Kini Amora dan bayinya sudah dipindahkan keruangan perawatan. semua keluarga juga sudah berkumpul disana. Mereka semua antusias melihat cucu pertama di keluarga ayah Anggara dan Ibu Alice yang sudah lama dinanti kan itu.
"Nak, ayo azani anak kamu." ucap ayah Anggara yang diangguki oleh Zain.
Allahuakbar... Allahuakbar...
Zain mengazankan sang buah hati dengan suara yang begitu merdu.
"Alhamdulillah, jawab semuanya setelah di azankan oleh ayahnya.
"MasyaaAllah ganteng banget cucu nenek. Mirip sekali dengan ibunya." ucap ibu Alice yang terlihat gemas dengan sang cucu pertama.
"Benar Bu. Anak kak Amora dan Abang Zain ganteng banget." timpal Alesha.
"Maaf permisi, nanti setelah bayinya bangun, segera di susui ya Bu dua jam sekali." ucap sang perawat yang memberitahu kan kepada Amora.
"Baik sus. terimakasih." Jawab Amora yang masih lemah.
"Baik kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum." ucap sang perawat.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.
"Oh iya mas, siapa nama anak kita? mas bilang kalau sudah lahir mas akan langsung memberikan namanya?" tanya Amora menatap lekat netra sang suami.
"Iya nak, siapa nama cucu ibu yang ganteng ini?" tanya ibu Alice. Zain menatap bayi mungil itu di dalam gendongan nya. Ia mengelus pipi mulus bayi mungil nya itu dengan ibu jarinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, nama anak kita Azlan Zaydan Hidayat sayang." Jawab Zain yakin.
"MasyaaAllah, nama yang bagus mas." ucap Amora tersenyum haru.
"Mas, bawa sini bayiku, aku mau gendong bayiku." ucap Amora tak sabar untuk menggendong si buah hati yang sudah tiga tahun itu mereka harapkan kehadiran nya dalam keluarga kecil mereka.
"Bayi kita sayang." jawab Zain menyerahkan bayi mungil itu kedalam dekapan sang istri.
"Iya mas, bayi kita. Jawabnya terkekeh.
"Ibu, dedek bayinya tidur terus, kan adek mau main sama dedek Azlan." celoteh sibungsu.
"Nama nya bayi sayang, kalau bayi baru lahir ya begitu, tahunya tidur saja sama minum susu." jawab ibu Alice mengelus sayang kepala putra bungsunya.
"Apa dulu adek juga begitu? Tidur terus seperti dedek Azlan?" tanya nya lagi.
__ADS_1
"Enggak mah, adek dulu langsung bisa kayang." seloroh Arfa.
"Bu, lihat Abang. Aku tanya ibu loh, bukan tanya Abang." jawabnya, mereka mulai berdebat lagi. Arfa memang sangat senang menjahili adiknya itu.
"Jangan di dengarkan Abang Arfa ya, yang namanya bayi baru lahir, pasti sama seperti dedek Azlan, hanya bisa tidur, Alfa dulu juga begitu. " jawab ibu lembut.
"Adek dulu juga lucu seperti dedek Azlan dong?" tanya nya lagi, sibungsu Alfa memang sangat pintar, sehingga ada saja yang ia tanyakan jika ia penasaran dengan suatu jawaban.
"Iya adek, dulu adek juga lucu dan menggemaskan seperti Azlan. Kakak dulu suka gemas pingin cubitin ni pipi kamu." jawab Alesha tersenyum.
"Masak sudah jadi paman kecil masih dipanggil adek sih." ucap Arfa menatap adiknya itu.
"Biarin, Abang iri saja deh." jawabnya tak mau kalah.
"Memangnya nggak malu entar, kalau Azlan sudah besar, kamu juga dipanggil adek sama keponakan kamu itu." ucap Arfa terkekeh. Alfa tampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan abangnya itu. Begitu pikirnya.
"Ya sudah deh, Alfa jangan dipanggil adek lagi ya. Kan Alfa sudah menjadi paman kecil." jawabnya dengan polosnya. Membuat seisi ruangan mengulum senyum.
"Memangnya kenapa? Kan Alfa memang adek kakak, kalau kakak tetap panggil adek nggak apa-apa kan?" tanya Alesha. Ia begitu gemas dengan sang adik bungsunya. Ada saja yang ia tanyakan dan perdebatkan dengan abangnya itu.
"Kalau khusus kakak sama kak Amora nggak apa-apa deh." jawabnya lagi.
"Sama saja mah kalau begitu." seloroh Arfa yang tak mau mengalah dengan adiknya itu.
"Oh iya kak, berarti kalau kakak melahirkan, keponakan adek nambah dua lagi dong?" tanya nya dengan mata yang berbinar.
"Iya dek, doakan nanti persalinan kakak berjalan lancar ya. Kakak sama baby twins nya sehat-sehat sampai nanti lahir di dunia ini." jawab Alesha sembari mengelus perut buncitnya. Ia juga berdo'a agar persalinan nya bisa normal dan lancar seperti kakaknya. Aqiel pun menggenggam tangan sang istri.
"Aamiin Ya Rabb." jawab semuanya.
"Oh iya bang, Panggilan anak abang siapa? Azlan kah?" tanya Aqiel yang sedari tadi hanya diam saja.
"Iya Qiel, panggilan nya Azlan." jawab Zain.
"MasyaaAllah, artinya apa bang?" tanya Alesha.
"Artinya, anak laki-laki pemberani yang diberikan Tuhan dengan memiliki kelebihan di dalam dirinya." jawab Zain lagi.
"MasyaaAllah, bagus sekali artinya mas. Kamu kapan menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya sang istri penasaran.
"Sudah mas siapkan sejak tahu kamu hamil sayang." jawab sang suami sembari mengelus sayang kepala sang istri tercinta.
__ADS_1
"Sampai segitunya mas? berarti mas juga menyiapkan nama untuk anak perempuan?" tanya Amora lagi.
"Tidak, mas hanya menyiapkan nama anak lelaki sayang." jawabnya lembut.
"Kok mas bisa yakin jika anak kita akan lahir laki-laki?" kan kita tidak pernah periksa jenis kelamin anak kita mas?" tanya sang istri kembali. Zain hanya menjawab dengan senyuman.
"Mas ditanya malah senyum-senyum." ucap Amora gemas.
Melihat sepertinya dua pasang orang tua muda itu, semuanya berinisiatif untuk keluar dari ruang perawatan Amora.
"Khem, mas aku lapar. Cari makan yuk." ajak Alesha. Aqiel yang paham tentu menuruti mau istirnya.
"Iya cinta, Ayo." ajak Aqiel. Akhirnya mereka keluar juga. Ia tak melepaskan genggaman tangan sang istri.
"Nak, ibu sama ayah pulang dulu ya. Mau jemput baju kamu sama perlengkapan bayi kalian. Untung saja sudah diletakkan dirumah ibu." ucap ibu Alice yang di angguki oleh ayah Anggara.
"Ayo Bu, ayah, pulang sama Arfa. Adek juga harus pulang. Besok sekolah kan." ucap Arfa.
"Iya bang," jawab sibungsu menurut.
"Ar, hati-hati ya bawa mobilnya." ucap Zain.
"Iya bang, pasti." jawab Arfa.
Zain dan Amora menyalami kedua paruh baya itu dengan takzim. Arfa dan Alfa juga menyalami kakak dan Abang iparnya.
"Halo Azlan, nanti kita ketemu lagi ya. Paman kecil mau pulang dulu." ucap sibungsu dengan polosnya. Ia juga mencium gemas keponakan nya itu. Membuat semua yang ada diruangan itu terkekeh. Merasa lucu sibungsu menyebut dirinya paman kecil.
Akhirnya tinggal lah Amora, Zain dan Azlan bayi mereka di ruangan itu.
"Mas, kita belum buat panggilan untuk anak kita. Mas maunya dipanggil apa?" tanya Amora.
"Bagaimana kalau Abi sayang, jadi kamu dipanggil Ummi." usul sang suami.
"Bagus mas, aku setuju. Jadi kita dipanggil Abi dan Ummi ya mas." ucapnya memastikan.
"Iya Ummi nya Azlan." jawab Zain tersenyum, mengecup kening sang istri dan juga bayi mungil mereka.
.
.
__ADS_1
To Be Continued
Follow Ig Author @winda_srimawati