
Pagi pukul 03.00, Aqiel terbangun dari tidurnya seperti biasa melaksanakan salat sunnah malam, namun saat ia menoleh ke arah sang istri, dia mendapati wajah sang istri pucat pasi serta badan nya yang menggigil. yang tadinya ia ingin melaksanakan salat malam, iya urungkan untuk merawat sang istri.
"Astaghfirullah cinta, kamu pucat sekali sayang, kamu sakit?" tanya nya sembari memegang dahi istrinya menggunakan punggung tangan nya.
"Panas sekali badan kamu cinta, kenapa tidak bangunkan Mas, hhmm..?" tanya nya lagi penuh kelembutan.
"Aku tak ingin mengganggu tidurnya Mas, Mas terlihat sangat lelah sekali, apalagi semalam bekerja sampai tengah malam, aku nggak pa-pa kok mas, paling hanya demam biasa, dan hanya pusing sedikit, mas jangan terlalu khawatir." Ucapnya menenangkan sang suami agar suaminya tidak khawatir terhadap dirinya.
"Bagaimana mas tidak khawatir cinta, badan kamu saja panas sekali. Tunggu sebentar ya, Mas mau ambil termometer dulu untuk mengukur suhu tubuhmu." Ucapnya berlalu mencari dimana letak termometer, setelah itu ia kembali lagi, segera mengecek suhu tubuh istrinya, setelah dilihat ternyata suhu tubuh sang istri lumayan tinggi, sekitar 38 derajat celsius.
"Astaghfirullah, tinggi sekali suhu tubuh mu cinta, kita kerumah sakit ya?" ucap suaminya.
"Tidak usah mas, biasanya kalau aku demam cukup istirahat saja." Tutur nya yang tak ingin dibawa ke rumah sakit.
"Kali ini dengarkan mas cinta, mau ya kita kerumah sakit." bujuk sang suami agar istrinya mau dibawa ke rumah sakit, namun Alesha tetap dengan pendirian nya.
Aqiel tetap berusaha tenang agar tidak panik. Ia melangkah kan kaki ke dapur, mencari handuk bersih dan air hangat untuk mengompres sang istri. Dengan telaten iya merawat istri tercintanya, berkali-kali memeras handuk yang telah kering karena menyerap panas dari tubuh sang istri.
Di saat adzan subuh berkumandang, Aqiel melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mengambil wudhu serta melaksanakan kewajiban lima waktunya.
"Mas bisa bantu aku untuk ke kamar mandi? Aku juga mau salat Mas." tutur Alesha segera turun dari ranjang, melihat sang istri turun dari ranjang ia segera memapah sang istri untuk menuju kamar mandi yang ada dikamar mereka.
"Kamu kuat cinta? masih pusing?" tanyanya khawatir. Alesha hanya menganggukkan kepalanya, ia di papah sang suami menuju kamar mandi. setelah itu mereka salat subuh berjamaah.
"Neneran kuat salat sambil berdiri cinta? kalau pusing salatnya duduk saja ya?" tutur sang suami khawatir.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja Mas, Ayo dimulai salatnya," ucapnya tersenyum, akhirnya Aqiel mengalah, jika memang itu mau istrinya, maka ia hanya bisa menuruti.
Setelah menyelesaikan salat fardhu dua rakaat dan salam, Alesha mencium tangan suaminya dengan takzim, begitupun sebaliknya dengan Aqiel, ia mencium kening sang istri lama, dilanjutkan dengan dzikir, namun kali ini tidak membaca Alquran seperti biasanya, melihat keadaan sang istri yang masih pucat.
"Ayo kembali ke tempat tidur, kamu masih sangat pucat cinta." tutur sang suami dengan lembut. Alesha hanya menuruti perkataan suaminya. hingga menunjukkan pukul 06.00 pagi, ia melihat sang istri telah tertidur kembali, mungkin karena kepalanya yang masih pusing walaupun suhu tubuhnya sudah menurun. Aqiel turun ke bawah menuju dapur lalu membuat bubur putih untuk istrinya. Kini ia sedang berjibaku dengan alat masak serta bahan-bahan yang akan digunakan. setelah buburnya jadi, iya kembali ke kamar membawa bubur dan segelas air putih menggunakan nampan. Saat ia kembali ternyata sang istri telah bangun dari tidurnya.
"Ayo cinta dimakan dulu buburnya biar kamu cepat sehat," tutur sang suami pengertian.
"Mas yang masak?" tanyanya menatap netra sang suami.
"Iya cinta, ayo mas suapi, makan yang banyak." ucapnya, Alesha membuka mulutnya berusaha menelan bubur yang telah disiapkan oleh sang suami, walaupun rasa bubur yang ia makan terasa hambar, ia berusaha untuk menghabiskan sedikit demi sedikit untuk menghargai lelah suaminya. Setelah bubur habis, ia kembali membaringkan tubuhnya, ditemani sang suami tercinta, Aqiel benar-benar mengurus Alesha dengan baik saat ini.
"Mas nggak kerja hari ini?" Tanyanya.
"bagaimana Mas berangkat kerja cinta, sedangkan bidadari Mas saja sedang terbaring lemah." Ucapnya menatap manik indah itu.
"No cinta, dengar kan mas, kamu tanggung jawab Mas, masa istri sakit, suaminya malah meninggalkan istrinya sendirian di rumah." Ucapnya dengan sabar.
"Baik lah kalau begitu, mas belum sarapan kan, sekarang mas sarapan dulu ya, aku nggak mau mas ikutan sakit." ucapnya agar suaminya juga sarapan.
"Kamu tidak perlu khawatirkan Mas, Yang penting kamu sekarang istirahat agar segera sehat, oke istriku." ucapnya mengelus kepala sang istri dengan sayang. Alesha menuruti sang suami kali ini, karena untuk berbicara banyak saja rasanya ia tak ada tenaga, Aqiel juga sudah mengabari pihak sekolah untuk memberikan izin istrinya, dan ia juga sudah mengabari sekretaris nya untuk menyelesaikan pekerjaan nya hari ini.
Pada saat pukul 13.32, setelah pasutri itu melaksanakan shalat fardhu empat raka'at dan makan siang, Aqiel kembali membawa istrinya untuk istirahat, ia benar-benar tidak membiarkan Alesha melakukan apapun hari ini, padahal sang istri sudah mulai membaik, hanya sedikit pusing saja.
Tak lama terdengar suara bel berbunyi, Aqiel turun ke bawah untuk mengecek siapa tamu yang datang, ternyata yang datang adalah Parisya, Naura serta Alex. Parisya dan Naura tidak sengaja bertemu dengan Alex di depan gerbang saat akan memasuki rumah dua sejoli itu.
__ADS_1
"kok kalian bisa barengan ke sini?" tutur Aqiel penuh selidik.
"Namanya jodoh, ya pasti bertemu, ya kan calon?" jawab Alex antara serius dan bercanda menatap ke arah Parisya.
"Kita nggak janjian kok, nggak sengaja aja tadi ketemu Mas Alex di depan." jawab Parisya segera agar tidak salah paham.
"Kalau kita jodoh memang nya kenapa? emang nggak mau berjodoh sama cowok tampan seperti gue?" tanya Alex kepada parisya dengan menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih mas, nggak jelas deh." Ucap Parisya ketus.
"Kalian kalau mau ribut jangan disini deh, gue lagi sibuk ngurusin istri gue yang lagi sakit." Ujar Aqiel yang geram lihat dua pasang yang ada di hadapannya kini.
"Kita mau jenguk Kak Alesha, kak Alesha sudah baikan mas? tadi kata kak Alena kalau kak Alesha sakit." ucap Naura segera memutus perdebatan dua orang yang selalu tak pernah akur kalau bertemu.
"Oh iya, yaudah masuk, Alesha di kamar, langsung aja ke kamar atas, Lo disini aja sama gue." tutur Aqiel, menyuruh parisya dan Naura langsung ke atas, sedangkan Alex tidak ia biarkan melihat sang istri.
"kok lo pilih kasih? Mereka boleh jenguk istri Lo, kenapa gue nggak boleh?" ucap Alex bersungut-sungut.
"istri gue lagi nggak pakai jilbab, mau liatin istri gue lo, gue hajar yang ada Lo." jawab Aqiel berang.
"Santai kali bro, ya mana gue tau. Sensi amat lo kalau urusan nya dengan Alesha." ucap Alex geram. Sedangkan Parisya dan Naura sudah lebih dulu meninggalkan dua lelaki yang sedang adu mulut itu.
.
.
__ADS_1
To Be Continued