Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Graduation (1)


__ADS_3

Hari ini adalah hari wisuda nya Arfa, pagi-pagi sekali ia telah sibuk membangun kan seisi rumah, padahal waktu masih menunjukkan pukul 04.30 pagi.


"Ibu, Ayah, sudah bangun belum? sebentar lagi azan shubuh." teriak nya dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu kamar kedua orang tuanya.


Ceklek


Ibu Alice membuka pintu, dengan mata yang masih sayu, dan sesekali menguap.


Hoam...!


"Ada apa Ar, pagi-pagi sekali kamu sudah gedor-gedor pintu ibu." ucap ibunya sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Sudah jam 04.30 Bu, makanya ibu sama ayah buruan bangun." Ucapnya tanpa dosa.


"Ya Allah Ar, baru jam 04.30 kamu sudah ribut sekali, belum juga azan. Kamu tahu sendiri ibu sama ayah semalam baru bisa tidur jam 11.23 malam." ucap ibunya gemas dengan kelakuan sang anak, karena semalam ibu Alice dan ayah Anggara mengobrol dengan putra pertama mereka hingga larut malam.


"Kenapa Bu?" Tanya Ayah Anggara yang juga keluar kamar karena mendengar suara anak dan istrinya.


"Ini yah, Arfa pagi-pagi sekali sudah heboh bangunkan kita. padahal masih jam 04.30 pagi." Adu ibu Alice kepada suaminya itu.


"Ada-ada saja kamu nak, kurang kerjaan. tanpa kamu bikin keributan pagi-pagi begini ayah sama ibu pasti juga akan bangun." ucap Ayah Anggara, yang memang biasa bangun sebelum azan shubuh.


"Ayah.. Ibu... Maafkan Arfa, Arfa tidak bermaksud untuk mengganggu waktu tidur ayah dan ibu, Arfa hanya ingin memberitahukan bahwa sekarang kan Arfa wisuda, ibu dan ayah jangan sampai telat." ucapnya nyengir kuda, dan masih belum sadar jika ibunya tengah geram dengan kelakuan random nya, sedangkan ayahnya hanya geleng-geleng kepala.


"Iya, ibu tau nak, ibu juga nggak lupa. Ada dua puluh lima kali kamu mengingat kan ibu dan ayah dari semalam." ucap Ibu Alice yang sekarang kantuk nya sudah hilang sembilan puluh sembilan persen karena kerandoman sang putra.


"Iya habis nya aku takut ibu sama ayah lupa pagi ini, makanya aku berinisiatif untuk mengingatkan ibu sama ayah. lagian kan ada untungnya juga Arfa bangunin ibu dan ayah, jadinya Ibu dan ayah nggak terlambat untuk shubuh kan." Seloroh nya.

__ADS_1


"Iya.. Karena ini hari wisuda mu, ayah dan ibu maklum. Sudah Bu sekarang mandi Shubuh, karena sebentar lagi juga memasuki waktu shubuh." Ucap Ayah Anggara menengahi.


"Hehe.. Maaf ya ayah, ibu, sekali lagi maaf kan Arfa, Karena Arfa telah mengganggu waktu tidur ayah sama ibu." ucapnya nyengir kuda.


Ibu Alice pun hanya bisa pasrah dengan kelakuan sang putra, lalu kembali masuk ke kamar nya untuk mandi shubuh sebelum melaksanakan sholat shubuh. Ayah Anggara pun juga bersiap-siap, karena akan ke Masjid untuk berjama'ah.


Arfa juga tak lupa membangun kan sang adik, yang katanya juga mau hadir saat Abang satu-satunya itu wisuda.


Begitulah kelakuan random seorang Arfa Reynaldo pagi-pagi buta, karena tidak sabar akan memakai toga. Hari kelulusan yang dinantikan setiap mahasiswa setelah menyelesaikan masa kuliahnya.


Setelah itu Arfa kembali ke kamar nya untuk bersiap-siap. Ia juga sudah mandi sebelum membangun kan kedua orang tuanya itu, dan menunggu sang ayah dan adiknya untuk berangkat ke masjid melaksanakan shalat shubuh berjama'ah.


***


Setelah Alesha melaksanakan shalat shubuh, ia masih betah duduk di atas sajadah, hingga sang suami pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam mas suami." ucapnya lalu berdiri dari duduknya di atas sajadah, dan melepas mukena nya. Ia menyalim tangan suami nya dengan takzim, dan Aqiel tak lupa mengecup lama kening sang istri.


Tiba-tiba saja Alesha kembali mual-mual, seperti biasa, suaminya selalu siaga menemani sang istri. Setelah nya Alesha kembali merebahkan badannya di atas pembaringan, di ikuti oleh Aqiel.


"Cinta, kamu masih kuat sayang, andai kan mas bisa menggantikan kamu yang merasakan mual-mual setiap pagi seperti ini, kamu pasti tidak akan lelah seperti ini setiap paginya." Ucapnya sendu menatap sang istri yang tengah lemas dalam dekapannya, sungguh tak tega melihat sang istri dengan wajah pucat dan sendu seperti itu, hampir setiap paginya.


"Insyaa Allah aku nggak apa-apa mas. Ini adalah salah satu nikmat menjadi calon ibu, menikmati fase-fase mengidam dan juga salah satunya merasakan mual-mual seperti ini. Aku senang kok mas dalam menjalani masa kehamilan ku, mas nggak usah khawatir. Karena aku mempunyai suami yang siaga seperti mas." Ucap sang istri tersenyum, sembari meyakinkan sang suami.


"Terimakasih ya cinta, demi calon anak kita Kamu rela merasakan mual setiap pagi seperti ini."Ucapnya, Alesha hanya balas dengan tersenyum.


"Oh iya Mas, hari ini aku terakhir ke sekolah, rasanya sedih banget harus berpisah dengan teman-teman sejawat dan juga semua murid-murid ku." Adunya kepada sang suami. Karena ia mengajar sudah tiga tahun lebih, pastinya akan rindu dengan suasana sekolah dan juga tingkah para murid-murid nya.

__ADS_1


"Tapi kamu ikhlas kan cinta, ini semua juga demi kebaikan kamu dan juga calon baby twins." ucap sang suami dengan lembut.


"Insyaa Allah ikhlas mas, hanya saja karena terbiasa mengajar dan aku juga sudah sangat dekat dengan para murid-murid ku, jadinya agak bagaimana gitu mas. Tapi nanti aku juga akan terbiasa kan mas." Ucapnya melihat netra sang suami.


"Insyaa Allah cinta, semuanya karena terbiasa, jalani semuanya karena lillahi ta'ala." ucap sang suami.


"Insyaallah mas. Oh iya mas, nanti kan wisuda nya Arfa, mas bisa kan ikut ke kampus Arfa? agak telat juga enggak apa-apa. Karena dari kampus kita semua akan ke studio foto. Arfa pingin banget kita semua bisa foto studio." Ucap sang istri.


"Iya cinta, mas pasti datang, nanti mas yang jemput kamu ke sekolah. Tunggu mas nanti di sekolah ya cinta." Ucapnya lembut sambil mengelus sayang kepala sang istri.


"Siap mas suami." ucap Alesha tersenyum lebar, menampakkan lesung pipi nya yang dalam.


Tiba-tiba Alesha kembali mual, seperti biasa ia bolak-balik ke kamar mandi, dan Aqiel akan selalu setia mendampingi, seperti itulah setiap paginya.


***


Sebelum Arfa dan keluarga berangkat ke kampus untuk acara wisuda nya, mereka kini sedang menikmati sarapan pagi seperti biasanya. Mereka sarapan penuh dengan keheningan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Hingga mereka menyelesaikan sarapan pagi itu habis tak bersisa.


Setelah itu, Arfa segera menelfon Amora, kakak pertamanya untuk mengingatkan agar kakak dan Abang iparnya itu tidak terlambat nantinya untuk foto studio di tempat yang telah ia tentukan.


Sedangkan dengan Alesha, semalam sudah di ingatkan oleh Arfa saat mereka berbicara lewat telfon.


.


.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2