Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Jatuh Pingsan


__ADS_3

Semua keluarga beserta sahabat Alesha dan Aqiel telah mengetahui kabar bahagia dua sejoli itu mengenai kehamilan Alesha. Mereka turut bahagia dan memberikan selamat.


Kini sudah memasuki sepuluh Minggu masa kehamilan. Seperti biasa pagi-pagi sekali Alesha selalu mengalami morning sickness, sehingga membuat wanita cantik itu bolak-balik ke kamar mandi, sang suami yang tak tega dengan keadaan istri nya selalu setia menemani.


"Bagaimana sekarang cinta, masih mual?" tanya suaminya dengan penuh kelembutan. Alesha hanya menganggukkan kepalanya, karena rasanya tenaganya terkuras habis tak bersisa.


Setelah kembali ke tempat tidur, Alesha membaringkan badannya, untuk bersiap-siap mengajar saja rasanya tak bersemangat.


"Cinta hari ini nggak usah mengajar saja ya, mas nggak tega dengan keadaan mu, lihat wajah kamu pucat sekali sayang." tutur lembut sang suami.


"Enggak mungkin dong mas, nanti yang ada aku makan gaji buta. Insyaa Allah aku masih kuat kok, nanti kalau rasanya aku nggak kuat mengajar, aku pasti akan mengabari mas." Ucap sang istri yang tak ingin membuat suaminya khawatir.


"Ya sudah kalau memang begitu mau kamu. Assalamu'alaikum anak aba, jangan nakal di dalam perut Umma ya nak, kasian Umma jika harus seperti ini setiap hari, sehat-sehat terus anak aba di dalam ya, Umma nya juga harus sehat. Aba sayang kalian." Ucapnya berbicara dengan janin yang ada di dalam perut rata sang istri sembari mengelus sayang dan tak lupa mengecupnya cukup lama. Hal itu menjadi perhatian Alesha, ia menerbitkan senyuman manisnya melihat sang suami yang tak pernah absen mengajak calon buah hati mereka berbicara.


Ya, sebelumnya pun mereka juga sudah diskusi mengenai panggilan anak mereka nanti setelah lahir. Alesha dan Aqiel sepakat bahwa mereka dipanggil dengan panggilan Umma dan aba.


Kini pasutri itu sedang bersiap-siap, Alesha menguatkan dirinya untuk tetap mengajar. Walau sebenarnya badan nya kini terasa sangat lemah. Mungkin karena kandungan nya juga lemah, namun ia tak ingin membuat suami tercinta khawatir, jadi Alesha berusaha kuat dihadapan sang suami.


"Sudah cinta, ayo kita kebawah, sarapan dulu. Istri dan calon anak kita harus selalu sehat. Mau mas gendong?" ucapnya ingin menggendong sang istri.


"Mas jangan aneh-aneh deh, aku ini hamil mas, bukan nya lumpuh, kenapa harus di gendong segala." ucapnya terkekeh.


"Tapi mas khawatir cinta, pasti kamu lelah harus naik turun tangga." Seloroh nya, membuat sang istri gemas.

__ADS_1


"Mas suami, aku Insyaa Allah kuat, ayo mas kita turun, entar telat." Ucapnya, lalu menggandeng tangan suaminya. Sang suami tak bisa lagi berkata-kata, dia mengikuti langkah kaki sang istri tercinta.


Sampai di meja makan, menu makanan pun telah terhidang. seperti biasa mbok Darmi yang menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum pasutri itu berangkat bekerja.


Seperti biasa Aqiel dan Alesha makan satu piring berdua. pemandangan itu pun sudah biasa dilihat oleh mbok Darmi dan Mbak Irna.


"Ayo mbok, mbak, kita sama-sama saja makan nya." Ajak Alesha kepada kedua asisten nya.


"Terimakasih non, mbok sama mbak irna nanti saja. Masih ada kerjaan, kalau begitu mbok tinggal dulu kebelakang." Ucap mbok Darmi yang sungkan jika harus satu meja dengan sang majikan. Walaupun Alesha dan Aqiel tak pernah keberatan.


Setelah menggumamkan doa sebelum makan, pasutri itu kini menikmati sarapan pagi mereka dengan penuh keheningan. Namun lagi-lagi setiap makanan yang masuk ke dalam mulut Alesha, selalu saja keluar lagi. Ia berlari ke arah wastafel yang ada di dekat dapur.


Melihat sang istri seperti itu, membuat hati sang suami teriris. Untuk makan saja sesulit ini, ia pun tak berselera melanjutkan makannya. Bukan karena jijik melihat sang istri muntah-muntah seperti itu, tapi karena sang istri tak berselera makan, bagaimana mungkin ia makan dengan tenang.


Aqiel setia menemani Alesha, memijat tengkuk nya, setelahnya memapah sang istri kembali duduk di meja makan.


"Ia mas, lemas banget rasanya. Tapi mas nggak usah khawatir, nanti juga baikan. Mas lanjut makan saja, aku sudah nggak apa-apa." Tutur Alesha yang tak ingin sang suami nantinya tak konsentrasi saat bekerja karena lapar.


"Mas sudah cukup makan nya cinta. Kalau sayang nggak kuat bekerja, istirahat dirumah saja ya." Ucap suaminya, karena melihat wajah sang istri pucat pasi.


"Jangan dong mas, aku sudah enggak apa-apa kok. Kalau begitu kita berangkat saja ya mas. Ayo mas suami." Ucapnya tersenyum lebar menampakkan lesung pipi nya yang dalam.


Aqiel paham, pasti istri nya tak ingin ia khawatir, makanya sang istri berusaha kuat di depan dirinya. Jadinya Aqiel hanya mengikuti keinginan istri tercintanya.

__ADS_1


Di saat Alesha akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja perutnya kram. langkahnya pun terhenti, begitupun dengan suaminya.


"Akkhh.. Astaghfirullah, mas perut aku keram banget rasanya." ucap Alesha beristighfar. Melihat keadaan sang istri seperti saat ini, membuat Aqiel sangat panik.


"Ya Allah cinta, mas harus bagaimana? Kita kerumah sakit ya cinta, biar di periksa. Mas nggak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa, kali ini dengarkan mas ya sayang ku." Tuturnya selembut mungkin, namun Alesha hanya menggeleng kan kepalanya.


Tiba-tiba saja Alesha kehilangan kesadarannya, membuat sang suami khawatir tak terkira, ia pun meneteskan air mata melihat kondisi sang istri tercinta.


"Astaghfirullah cinta, Kamu kenapa sayang, bangun sayang. Jangan buat mas khawatir." Ucapnya menepuk pelan pipi sang istri. Namum tidak ada pergerakan dari istrinya itu.


"Mbok... Mbak... Cepat panggil mang Dadang, siapkan mobil. Istri saya pingsan, saya harus membawa Alesha kerumah sakit." Teriaknya, memanggil kedua asisten rumah tangganya.


"Astaghfirullah, kenapa dengan non Alesha tuan?" Tanya mbak Irna juga panik.


"Saya juga nggak tahu Mbak, suruh mang Dadang siapin mobil, Saya mau membawa istri saya ke rumah sakit." Perintah nya, kini pikirannya sudah menerawang kemana-mana.


Aqiel berlari keluar rumah sambil menggendong istrinya, air matanya pun tak berhenti meluruh membasahi pipi mulus nya. Sampai di teras, Mang Dadang sudah siap dengan mobilnya. Ia segera membukakan pintu belakang tanpa banyak bertanya. Setelah sang majikan menaiki kendaraan roda empat itu, mang Dadang pun masuk ke bagian sopir dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi atas permintaan Aqiel.


"Sabar ya cinta, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit, kamu harus kuat. Mas tau kamu istri yang kuat sayang." Ucapnya dengan air mata yang tak kunjung berhenti, Ia mendekap tubuh lemah sang istri dan mengecup nya cukup lama.


Mang Dadang yang melihat ke arah spion dan mendengar penuturan sang majikan, membuat Ia pun meneteskan air mata. Kini kendaraan roda empat itu pun telah sampai di pelataran rumah sakit. Aqiel pun kembali berlari di lorong rumah sakit itu sambil mendekap tubuh istrinya. Untung saja sang istri langsung ditangani.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2