Penantian Kekasih Halal

Penantian Kekasih Halal
Pertemuan


__ADS_3

Setelah tiga hari Karin tidak pulang ke rumah nya, akhirnya hari ini ia kembali kerumah orang tuanya. Sesampainya di rumah, Karin malah mendapat amukan dari sang papa.


"Karin! dari mana saja kamu?" tanya papa nya berang.


"Pa, sabar pa. Ini semua bisa kita bicarakan baik-baik," ucap mamanya Karin.


"Tidak bisa ma, papa sudah peringatkan anak kesayangan Mama ini sejak awal. Tetapi dia malah tidak mendengar kan apa kata papa." ucapnya berapi-api.


"Ada apa papa tiba-tiba marah. Karin baru saja pulang pa." ucapnya santai.


"Kamu masih bertanya ada apa? Apa kamu tidak memikirkan tindakan kamu sebelum melakukan sesuatu?." berang nya.


"Maksud papa apa? Apa yang aku lakukan?" ucapnya yang belum menyadari kesalahannya.


"Gara-gara kamu mendatangi istri tuan Aqiel, hampir saja kita kehilangan investor terbesar Karin, dan ini karena ulah kamu. Jika kamu masih menemui istri tuan Aqiel dan membuat keributan di kantor nya, papa akan kirim kamu keluar negeri." ancam papanya tak main-main.


"Ck, Jadi dia mengadu, dia tidak pantas menjadi istri nya Aqiel pa." ucapnya berdecak.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya.


"Masih berani kamu berkata begitu. Papa malu dengan sikap kamu Karin. Mau di taruh dimana muka papa di hadapan Tuan Roy, papa nya Aqiel, jika dia mengetahui anak semata wayang papa ingin merusak rumah tangga anak dan menantunya." ucapnya menahan sesak di dada. Tiba-tiba saja papa nya Karin ambruk setelah meluapkan kemarahannya.


"Papa," ucap Karin dan mamanya cukup terkejut.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada papa kamu. Mama yang akan kirim kamu ke luar negeri, agar kamu di didik dengan keras oleh eyang kamu." ucap mama nya menahan buliran bening yang sudah menggenang di ujung pelupuk matanya.


***


Kini Alesha dan Amora janjian untuk check up bersama. Alesha bersama suaminya lebih dulu tiba dirumah sakit. Tak sampai sepuluh menit, Amora dan Zain juga tiba di sana.


"Assalamu'alaikum," salam Amora dan Zain kepada pasutri yang lebih dulu tiba.


"Wa'alaikumsalam kak, bang." jawab salam Alesha dan Aqiel bersamaan. Alesha mencium tangan kakak nya dengan takzim. Sedangkan Aqiel bersalaman dengan Zain.


"Sudah dari tadi Sha?" tanya Amora.


"Baru sepuluh menit yang lalu kak." jawab Alesha.

__ADS_1


"Tak lama nama Alesha di panggil oleh seorang perawat.


"Kak, bang, kami tinggal dulu ya." ucapnya Alesha, lalu memasuki ruangan dokter kandungan nya. Lebih kurang lima belas menit Alesha melaksanakan pemeriksaan. Setelah itu Amora pun juga masuk ke ruangan itu untuk periksa.


Setelah pemeriksaan Alesha dan Amora selesai, kini mereka menuju ke tempat toko bayi. Amora mengajak adik dan iparnya itu untuk ikut menemani mereka membeli beberapa perlengkapan bayi.


"Cinta, apa tidak sebaiknya kita juga sekalian membeli perlengkapan bayi sekarang saja? Mumpung kita disini?" tanya Aqiel sembari menggenggam tangan mungil istrinya.


"Aku mau mas, tapi kata ibu pamali kalau beli perlengkapan bayi jika usia kandungan belum memasuki tujuh bulan kehamilan." Jawab Alesha.


"Benar kah seperti itu cinta? Mas baru tahu." tanya Aqiel lagi.


"Aku juga kurang paham mas, hanya saja lebih baik kita menuruti perkataan ibu." jawab Alesha.


"Baiklah cinta, mas ikut kamu saja." ucap Aqiel.


"Kakak beli apa saja?" tanya Alesha antusias.


"Kakak belum ada beli apapun sama sekali Sha. Jadi mulai dari pakaian, ayunan, tempat tidur bayi, bak mandi, dan masih banyak lagi." Jawab Amora yang juga bingung apa saja yang harus disiapkan.


Kini dua pasang pasutri itu sedang melihat-lihat perlengkapan bayi. Alesha mengajak sang suami untuk melihat baju-baju bayi serta beberapa perintilannya.


"Mas, jumpsuit ini lucu banget, warna nya juga lucu-lucu." ucap Alesha gemas sendiri. Ia membayangkan jika nantinya baby twins memakai jumpsuit itu.


"Aku beli ini ya mas, buat calon keponakan kita." ucap Alesha meminta izin terlebih dahulu.


"Beli saja mana yang mau kamu beli untuk calon keponakan kita cinta." Ucap Aqiel mengelus sayang kepala sang istri yang terbalut hijab.


"Terimakasih mas." ucapnya tersenyum, menampakkan lesung pipi nya yang dalam. Alesha memilih beberapa model baju-baju yang lucu serta beberapa pasang sepatu, karena Alesha sudah mengetahui calon anak kakak nya itu laki-laki, jadinya Alesha memilih perlengkapan untuk bayi lelaki.


Hingga semua yang dibutuhkan sudah lengkap, Zain membayar di kasir. Aqiel juga membayar belanjaan istrinya.


"Banyak banget yang kamu beli Sha? Memangnya kata ibu boleh beli perlengkapan bayi mu sekarang?" tanya Amora.


"Bukan kak, ini untuk calon keponakan ku." ucap Alesha tersenyum sembari mengelus perut buncit kakaknya. Ya, kandungan Amora sekarang sudah memasuki usia tujuh bulan kandungan. Beda dua bulan dengan Alesha.


"MasyaaAllah Sha, kamu tidak perlu repot." ucap Amora.


"Tidak repot kak." ucap Alesha tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih ya Sha." ucap Amora.


"Sama-sama kak." jawab Alesha.


Setelah selesai membeli perlengkapan bayi, kini mereka menuju restoran tak jauh dari sana. Ternyata saat mereka tiba, Alesha melihat Alex dan Parisya juga makan di restoran yang sama.


"Mas, itu bukannya mas Alex dan Parisya?" tanya Alesha kepada suaminya. Aqiel mengikuti arah pandang sang istri.


"Benar cinta, itu Alex dan Parisya. Sejak kapan mereka mulai dekat? Kok Alex nggak pernah cerita sama mas." ucap Aqiel heran.


"Sama mas, Parisya juga belum cerita apa-apa. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua mas." ucap Alesha.


"Aamiin Ya Rabb." Jawab Aqiel.


Dua pasang pasutri itu duduk tak jauh dari tempat duduk Alex dan Parisya. Ternyata Alex juga melihat mereka berempat. Alex mengajak Parisya untuk bergabung dengan dua sejoli yang sudah halal itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Parisya dan Alex bersamaan.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka berempat bersamaan.


"Kok bisa kebetulan kita bertemu disini. Kita boleh gabung disini?" tanya Alex santai, sedangkan Parisya kikuk sendiri, serasa kepergok sedang berduaan dengan seorang pacar. Walaupun mereka tak sengaja bertemu di sana.


"silahkan mas Alex. Ayok Sya duduk." ucap Alesha menepuk bangku yang ada di sebelahnya. Parisya duduk di sebelah Alesha.


"Bay the way sudah ada kemajuan bro? Lo jangan hanya bawa anak gadis orang. langsung datangi kedua orang tuanya." ucap Aqiel to the point.


"Bukan begitu kejadian yang sebenarnya mas Aqiel. Kita berdua hanya tak sengaja bertemu, kebetulan aku memang sering beli makanan di sini khusus pesanan mama. Terus mas Aqiel ngajakin aku sekalian makan bareng." ucapnya menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.


"Tapi bagi aku kita dipertemukan disini bukan secara kebetulan Sya. Pasti ini sudah rencana Allah untuk menyatukan kita." ucapnya menaik-turunkan alisnya.


Uhuk..! Uhuk..!


"Kamu tidak apa-apa Sya? Ini diminum." ucap Alex menyerahkan segelas air putih.


"Terimakasih mas." jawab Parisya canggung.


Kini mereka menikmati makan siang di restoran yang cukup terkenal itu dengan rasanya yang unik. Setelahnya mereka mencari masjid terdekat untuk melaksanakan shalat zhuhur.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2