
"Kenapa mbak?" tanya Aqiel di saat ia membuka pintu kamarnya.
"Itu tuan, teman-teman non Alesha sudah pada datang semuanya." ucap mbak Irna memberitahu majikannya.
"Baik mba, katakan kepada mereka sebentar lagi saya dan istri akan segera menemui mereka. Letakkan saja minuman dan snack untuk menyambut tamu istri saya ya mbak." ucap Aqiel menginterupsi.
"Baik tuan, kalau begitu mbak permisi." ucap mbak Irna pamit undur diri.
"Terimakasih mbak," ucap Aqiel ramah.
"sama-sama tuan," ucapnya, lalu meninggalkan kamar sang majikan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang, teman-teman kamu sudah pada datang." ucap Aqiel mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya mas, sebentar." jawab Alesha.
Tak lama Alesha keluar dari kamar mandi menggunakan handuk melilit tubuhnya. Ia langsung melesat ke arah ruang ganti. Melihat sang istri keluar hanya menggunakan handuk, membuat ide jahil di otak nya muncul. Aqiel mengikuti sang istri sampai keruang ganti.
"Mas ngapain ikuti aku sampai kesini? Kata mas mereka sudah datang semua? Temani tamu kita dong mas." tutur Alesha.
"Ada Alex kok cinta di bawah, kita agak sepuluh menit lagi disini juga nggak apa-apa. Mereka pasti maklum." ucapnya mulai jahil, dengan tatapan yang tak bisa di artikan, langkah demi langkah ia mendekati sang istri dari belakang disaat Alesha memilih pakaian yang akan ia kenakan.
"Mas Aqiel kenapa tatap aku begitu?" ucapnya di saat Alesha melirik sekilas ke arah suaminya.
Tanpa aba-aba Aqiel mulai mendekap sang istri dari belakang, bahu yang terekspos membuat ia tergoda dengan kulit putih nan mulus sang istri. Ia mengecup setiap inci miliknya itu.
"Mas geli, sana ih. Jangan seperti ini, mereka sudah menunggu." ucap Alesha gemas dengan sang suami.
"Kita nggak usah menemui mereka bagaimana cinta?" godanya lagi, Aqiel semakin senang melihat ekspresi wajah sang istri mode waspada.
"Jangan aneh-aneh deh mas," ucapnya segera memasang pakaiannya. Aqiel semakin ingin melakukan apapun untuk membuat istrinya tertahan bersamanya. Akhirnya dengan penuh perjuangan Alesha menggunakan pakaian nya.
Ia lanjut memasang hijab instan agar lebih gampang. Memoles sedikit lipbalm di bibir nya nan mungil. Sang suami pun masih bergelayut manja padanya. Alesha hanya membiarkan tingkah suami bucinnya itu.
"Ayuk mas kebawah, aku sudah siap." ucapnya.
Gagal sudah misi dirinya menahan sang istri, ternyata iman istrinya begitu kuat, sedari tadi ia tak bisa mematahkan pertahanan istirnya.
Saat Alesha akan membuka handle pintu kamar mereka, Aqiel segera menahan pintu dengan tangannya, memutar tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya. Lalu tanpa aba-aba ia mengecup ranum merah sang istri dan semakin memperdalam nya dengan penuh gairah. Saliva yang tertukar menjadi saksi bahwa dua insan itu tengah menikmati setiap sentuhan daging kenyal mereka. Hingga Alesha mendorong dada bidang sang suami karena mulai kehabisan oksigen.
__ADS_1
Untung saja setiba di rumah mereka telah melaksanakan shalat ashar. Jika tidak maka akan habis waktu mereka karena perbuatan Aqiel suami bucin Alesha.
"Mas ih, jadi hilang kan lipbalm aku." ucap Alesha bersungut-sungut.
"Sengaja cinta, kamu nggak boleh cantik-cantik jika mau menemui mereka. Cukup cantiknya di depan mas saja." Ucapnya mode posesif.
"Astaghfirullah mas, teman-teman aku perempuan semua. Masak mas cemburu dengan mereka. Biasanya juga aku sedikit dandan kalau mengajar dulu." Tutur Alesha heran dengan kelakuan random suami tampannya itu.
"Tetap saja, kan ada Alex dibawah cinta. Sejak kamu hamil, aura kamu semakin berbeda. Kamu semakin terlihat cantik, dan mas nggak rela kecantikan istrinya mas dilihat orang lain." ucap Aqiel di luar nalar. Membuat Alesha geleng-geleng kepala. Namun di satu sisi ia sangat beruntung dicintai oleh suaminya sedemikian rupa.
"Oke aku paham mas suami. Sekarang kita temui mereka semua ya. Ingat kita harus memuliakan tamu-tamu kita." Nasehat Alesha.
"Astaghfirullah, kamu benar cinta. Kamu pakai pelet apa sih, sampai mas bucin banget sama kamu." seloroh Aqiel, mengecup gemas pipi sang istri sembari keluar dari kamar.
"Pelet cinta," jawab Alesha terkekeh, membuat Aqiel juga terkekeh.
Kini mereka sudah menuruni anak tangga itu satu persatu. Semua mata tertuju kepada mereka berdua.
"Ini dia pasutri yang ditunggu-tunggu, lama banget sih kalian?." Tanya Alex.
"Maaf ya semuanya, tadi ada urusan sebentar." Jawab Aqiel santai.
"Mas aneh-aneh aja deh jawabnya." ucap Alesha memukul lengan sang suami pelan.
"Masyaa Allah bestie kangen." Jawab Alena memeluk sahabatnya itu.
"Aku juga kangen sama kamu Na." balas Alesha.
"Kita juga kangen kak, sudah lama kita nggak kumpul bareng dan pergi kajian bareng." ucap Parisya juga memeluk bumil itu, diikuti juga oleh Naura.
"Hai Sha, apa kabar?" Tanya Sandra. Ia masih agak canggung dengan bumil satu ini.
"Alhamdulillah aku baik San, kamu apa kabar? Tanya Alesha kepada mantan teman seprofesinya itu.
"Alhamdulillah aku juga baik," ucapnya cipika-cipiki dengan Alesha.
"Kalian apa kabar?" Tanya Alesha beralih menatap Dona dan Lisa.
Mereka juga menyalami Alesha dan cipika-cipiki seperti apa yang di lakukan Sandra.
"Alhamdulillah kita baik Sha. Masyaa Allah perut kamu sudah besar Sha, sudah berapa bulan?" tanya Dona.
__ADS_1
"Lima bulan Don." jawab Alesha.
"Lima bulan seperti sudah tujuh bulan Sha?" Tanya Lisa. Ya, mereka memang belum mengetahui bahwa Alesha hamil kembar. Hanya sahabat-sahabat Alesha yang sudah mengetahui nya.
"Alhamdulillah aku hamil kembar Lis." ucap Alesha tersenyum.
"MasyaaAllah, selamat ya Sha, kamu akan memiliki dua baby sekaligus.". tutur Lisa turut bahagia.
"Terimakasih Lis." ucap Alesha.
"Halo baby twins, ini Nana. Sehat-sehat ya nak. agar nanti bisa ketemu Nana segera." ucap Alena berbicara kepada baby yang ada di dalam perut buncit Alesha.
"Halo Nana, ini baby twins." ucap Alesha menirukan suara bayi. Membuat semua yang ada di ruangan tertawa.
"Kok Nana sih kak?" tanya Naura polos.
"Iya, agar lebih gampang ntar baby twins panggil Aunty nya." ucap Alena.
"Diminum dulu minumannya, terus Snack nya juga di makan." ucap Alesha kepada semua teman-temannya.
Akhirnya mereka meminum minuman yang sudah disuguhkan, dan memakan snack yang ada di depan mata. Begitu banyak makanan dihidangkan untuk mereka. Alesha dan Aqiel benar-benar memuliakan tamu mereka.
"Sya, kapan kamu siap untuk ku lamar?" tanya Alex tiba-tiba. membuat Parisya tersedak minumannya.
uhuk.. Uhuk..!
"Astaghfirullah Sya, kamu nggak apa-apa?" tanya Alex ingin menghampiri. Namun ia sadar mereka bukan mahram.
"Iya aku nggak apa-apa mas." Jawab Parisya segera menetralkan perasaan nya. Entah kenapa pertanyaan Alex mampu membuat dadanya kian bertalu-talu saja.
Sebenarnya sedari awal ia bertemu Alex, Parisya sudah ada sedikit perasaan berbeda yang tak pernah ia rasakan. Namun, karena trauma dengan hubungan masa lalunya, jadilah ia menutup diri hingga sekarang.
"Hhmm.. dijawab atuh Sya." ucap Naura menyenggol bahu Parisya. Membuat pipi mulus Parisya merah merona.
Saking asyiknya mengobrol, tak terasa kini sudah memasuki waktu magrib. Mereka semua shalat berjamaah di rumah Aqiel. Dengan Aqiel sebagai imamnya.
.
.
To Be Continued
__ADS_1
Agar tidak ketinggalan update bab, jangan lupa subscribe.