
Setiba nya dirumah, Alesha langsung menuju kamar nya dan suami, segera membersihkan dirinya, lalu melaksanakan shalat fardhu tiga raka'at, dan seperti biasa membaca Al-Qur'an setelah nya, hingga azan isya berkumandang, Alesha segera menunaikan shalat fardhu empat raka'at.
Setelah menyelesaikan ibadahnya, dan mengadukan segala keluh kesahnya kepada Yang Maha Kuasa, ia turun ke bawah menunggu sang suami dan duduk di sofa yang ada di ruang keluarga itu, perkataan para tetangga di sekitar rumah kedua orang tuanya sore tadi masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Kenapa tidak ada habisnya pertanyaan-pertanyaan mereka lontarkan terhadap dirinya, dulu saja sebelum ia menikah, setiap bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya, pasti ada saja obrolan yang menanyakan kapan Ia menikah, jangan terlalu pilih-pilih, jangan kelamaan nanti jadi perawan tua dan masih banyak lagi.
Kini di saat dia telah menikah, berganti dengan pertanyaan kapan ingin memiliki anak, jangan suka-suka menunda, apalagi usia nya kini tidaklah lagi muda, sudah menginjak usia yang sangat dewasa yaitu 27 tahun, padahal usia pernikahannya baru saja satu bulan, tetapi sudah mendapatkan berbagai pertanyaan yang tidak mengenakan hatinya.
Rasanya Alesha ingin mempertanyakan semuanya kepada mereka, apakah mereka lebih mengetahui takdir setiap hamba Allah, kenapa suka sekali ikut campur dengan urusan orang lain, kenapa mereka tidak melihat kekurangan pada diri mereka atau memperbaiki diri mereka sendiri, daripada harus memikirkan urusan orang lain. Namun itu semua hanya ia telan mentah-mentah.
Hingga pukul 11.00 malam, Aqiel baru saja memasuki rumah mewah itu mendapati sang istri tertidur di sofa ruang keluarga.
"Cinta, kenapa tidur disini?" Ucap nya melihat sang istri sudah nyenyak dengan tidurnya. Ia berniat menggendong Alesha menuju kamar mereka, ternyata Alesha sudah lebih dulu terbangun karena mendengar suara sang suami tercinta.
"Mas baru pulang?" Tanya nya sambil mengerjap kan matanya, untuk menghilangkan kantuk yang mendera.
"Cinta, Maaf ya hari ini mas pulang terlambat, pasti kamu kesepian." Tutur Aqiel lembut sembari mengelus kepala sang istri dengan sayang.
"Hhmm, iya tidak mengapa mas." Ucapnya dengan wajah yang sendu.
"Ada apa? Mengapa wajahmu tidak sebahagia biasanya cinta?" Tanya Aqiel menatap lekat manik nan indah itu.
"Mas, tadi sore Aku dan kak Amora jalan-jalan di sekitar rumah Ibu, lalu mengobrol dengan para ibu-ibu di sekitar, Mas tahu apa yang mereka katakan?" Ucapnya menggantung pertanyaannya.
"Iya terus, adakah kata-kata mereka yang menyinggung hati bidadari mas ini, hhmm?" Tanyanya lembut.
__ADS_1
"Katakanlah, telinga mas tidak sabar mendengar rajukan dari bibir bidadari cantik di hadapan Mas ini." Rayunya agar sang istri tak lagi sedih.
"Mereka bertanya, kapan kita berencana memiliki anak..." Alesha menceritakan semua apa yang dikatakan oleh para ibu-ibu itu tanpa ada Yang terlewatkan, padahal usia pernikahan mereka baru seumur jagung.
"Lalu apa jawabanmu istriku?" Tanyanya penuh pengertian.
"Aku jawab, aku dan Mas tidak menunda, selain ikhtiar kami juga tawakal. Allah maha tahu kapan kita menerima amanahNya." Jawab Alesha menjelaskan apa yang ia jawab saat ibu-ibu itu berkata hal demikian.
"Masyaa Allah, istriku wanita cerdas, lalu apa tanggapan ibu-ibu itu?" Tanya nya lagi dengan sabar, lalu Alesha menceritakan semua jawaban yang ia berikan.
"Lalu istri mas menjawab apa lagi?" Tanyanya lagi sembari menggenggam kedua tangan sang istri.
"Aku jawab, Insyaa Allah, Allah akan segera memberikan amanah kepada kami. Sejujurnya.. Aku ingin mencela, tapi bersyukurlah guardian angel ku mencegah bibirku mengatakannya." Jawabnya sambil menarik nafasnya dalam.
"Cinta, di depanmu bukan mereka, tapi suamimu. Katakanlah apa yang membuatmu resah dan marah." Tutur nya agar sang istri menyampaikan semua keluh kesahnya dan hanya kepadanya.
"Iya cinta, Mas paham. Mungkin kita sepemikiran, jadi ini yang membuat istri mas dongkol hingga malam hari?" Tanya nya lagi.
"Mas, tujuan kita memiliki anak itu apa Mas?" Tanya Alesha yang tak pernah membahas tentang anak dengan suami nya.
"Kita harus memiliki visi misi yang sama dalam hal itu cinta. Niatkanlah karena ingin agama Allah diteruskan oleh generasi kita. Jangan ada unsur untuk berbangga diri antar sesama makhluk. Dalam surah At-Taghabun ayat lima belas Allah berfirman: bahwasannya harta dan anak-anak adalah ujian manusia, bukan anugerah atau perkara yang harus dibangga-banggakan." Jawab sang suami bijak.
"Masya Allah, Aku sangat mencintaimu mas, ana uhibbuka ya jauzi." Tutur Alesha tersenyum mendengar penuturan bijak sang suami.
"Semoga Allah memantaskan kita untuk menjadi orang tua cinta, jangan lengah berdoa supaya dipantaskan dalam hal apapun, jangan memaksa harapan kita pada Allah, itulah adab manusia meminta pada Rabb Nya." Tutur sang suami memperdalam tatapannya.
__ADS_1
"Masyaa Allah Mas, pantaskah aku bila memohon untuk bersamamu sampai ke surga Allah?" Tutur sang istri tak kalah lekat memandang yang halal baginya itu.
"Apa yang kamu banggakan terhadap suamimu yang penuh dengan kekurangan ini Cinta?" Ucapnya balik bertanya.
"Mas adalah sosok yang bisa mengayomi saat Aku berteduh, juga air yang bisa meredakan api saat amarahku lekas membara." Jawabnya dengan puitis.
"Kamu juga istriku, kamu penyejuk jiwaku dalam segala keadaan, maukah kamu memaafkan kesalahan mereka hari ini?" Tuturnya agar sang istri tak menyimpan amarah kepada siapapun.
"Aku mungkin tidak akan mengungkitnya lagi, tapi hatiku masih sakit Mas." Adunya pada sang suami.
"Baik, Maaf itu sesungguhnya untuk diri sendiri, jadi perbanyaklah dengan istighfar dan sholawat. Dengan itu hatimu akan cepat sembuh cinta, setelah ini jangan ada penyakit hati yang bersarang di hatimu pada mereka, bisa bidadariku?" Nasehatnya dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih Mas, akan kucoba, semoga Allah segera menyembuhkan." Tuturnya segera beristighfar.
"Baik cinta, sekarang kamu mau Mas Ridho terhadapmu tidak?" Tanyanya mengedipkan sebelah matanya.
"Mas.. jelas mau Mas, bagaimana caranya hari ini menggapai Ridho itu mas?" Tanyanya antusias.
"Tersenyumlah, maka Mas Ridho denganmu hari ini." Ucapnya tersenyum menatap lekat manik sang istri. Alesha pun balas tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi serta lesung pipinya yang begitu dalam.
Setelah pembicaraan itu selesai, pasutri itu menaiki tangga menuju kamar mereka untuk mengistirahatkan diri di malam yang sudah cukup larut itu. melupakan segala gundah gulana, untuk mendapatkan ketenangan dalam jiwa menyusuri alam mimpi di malam yang penuh sunyi.
.
.
__ADS_1
To Be Continued