
Kini dikediaman Amora dan Zain, mereka sedang berbicara serius dikamar mereka setelah makan malam berdua. Ya, setiap hari pengantin yang sudah tiga tahun menjalankan bahtera rumah tangga itu selalu berdua, tanpa ada nya pembantu rumah tangga, karena rumah mereka juga tidak terlalu besar, dan Amora juga seorang ibu rumah tangga, jadilah ia tak memerlukan pembantu.
"Mas... Besok mau aku Masakin apa?" Tanya Amora kepada suaminya itu.
"Mas ikut kamu saja sayang," jawab Zain yang memang selalu tak ingin menyulitkan sang istri.
Walaupun sudah tiga tahun pernikahan mereka, Zain selalu saja pengertian dengan istri cantiknya itu.
"Mas tau tidak? Sebenarnya, istri di rumah memikirkan menu masakan saja sudah pusing tujuh keliling loh Mas." Adu Amora kepada sang suami, agar suaminya memahami dirinya.
"Ya sudah, besok tidak usah masak sayang, ayo Mas ajak kamu makan di lesehan pecel lele kesukaan kamu ya." Bujuk Zain dengan lembut sambil mengelus kepala sang istri.
"Benar mas? Sehari tidak masak?" Senang Amora mendengar penuturan suaminya itu.
"Iya sayang... tidak usah, sehari besok kita makan di luar saja." Jawab Zain meyakinkan istrinya.
"Pagi makan di mana Mas? Siangnya? Dan malamnya? Hihi..." Tanya Amora terkekeh saking senangnya karena sang suami selalu mengerti dirinya.
"Mmm, pagi kita sarapan bubur ayam di mang jali bagaimana? Siangnya makan pecel lele kesukaan kamu, dan malamnya makan bakso di warung ijo, siap?." Jawab Zain dengan lembut.
"Siap mas suami, Mas kok bisa sekali baca hatiku." Jawab Amora antusias.
Cup
Ia mengecup sekilas pipi kiri sang suami.
"Haha.. bisalah, mas hebat kan sayang," jawab Zain terkekeh. Padahal ia pernah mendengar istri nya bergumam seorang diri perkara ingin makan dimana. Amora hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya, obat-obat hari ini sudah diminum belum sayang?" Tanya Zain mengingatkan, karena mereka sedang promil.
"Sudah Mas, aku minum pagi tadi setelah Mas berangkat. Jujur aku bosan sekali minum obat Mas." Keluh Amora yang setiap hari harus mengkonsumsi obat-obatan yang telah di resep kan oleh dokter mereka.
"Yang sabar sayang, ini bentuk ikhtiar kita, semangat ya... Ingat, niatnya ikhtiar supaya dipentaskan menerima amanahnya Allah, Allah tahu kita bisa melewati ini." Zain menyemangati sang istri, ia paham sekali bagaimana perasaan istrinya selama ini.
"Baik Mas, tapi sepertinya kalau mengkonsumsi obat kimia terus, efeknya juga tidak bagus kan Mas?" Tanya Amora menatap netra sang suami.
"Mas paham sayang, setelah obat kali ini habis, kita tetap kontrol tapi obatnya tidak usah di tebus ya. Mas.ingin kita minum madu zuriat saja, bagaimana menurutmu sayang?" Tutur Zain sambil menggenggam jari jemari sang istri.
"Baik mas, aku juga kepikiran makan kurma muda, bagaimana menurut mas?" Tanya Amora lagi.
"Iya sayang, nanti kita ikhtiar yang herbal-herbal dulu saja, sambil mengatur pola makan kita agar tetap sehat" jawab Zain dengan pandangan yang meneduhkan.
"Siap mas, oh iya mas.. berarti kita benar-benar menghadapi masalah ini berdua saja?" Tanya Amora bimbang apakah harus diceritakan ke keluarga atau tidak.
"Iya sayang, kita belajar dewasa dari masalah-masalah kecil maupun masalah besar yang ada dalam rumah tangga. Kalau kamu cerita kepada kedua orang tuamu, Mas pasti dianggap tidak bertanggung jawab. Kalau Mas cerita kepada kedua orang tua mas, pasti mereka juga memandang akan kurang nya kamu." Jawab Zain memandang lekat sang istri yang selalu dicintai nya itu melebihi dirinya.
"Mas, beruntung kah Aku memiliki suami sebijak Mas?" Tanya Amora ambigu.
"Sayang, laki-laki yang beruntung adalah ia yang bisa menjadikan istrinya wanita yang sholehah, bukan ia yang menikah dengan wanita sholehah." Jawab Zain pasti.
"Apa bedanya mas?" Tanya Amora lagi, seperti seorang murid yang sedang bertanya kepada gurunya. Karena Zain memang selalu mengayomi sang istri, sehingga membuat Amora selalu nyaman jika ingin menyampaikan keluh kesahnya ataupun bertanya hal-hal Yang ia tak yakin.
__ADS_1
"Ketika wanita yang belum menikah sudah solehah, itu karena didikan orang tuanya, yang baik akan kembali pada orang tuanya. Ketika sudah menikah dan wanita itu berubah menjadi wanita yang tidak sholehah, maka hancurlah suaminya. Maka dari itu mas minta sama kamu, bila jam sekian kamu muroja'ah, maka muroja'ah lah. Paham sayang?" Tutur Zain panjang lebar agar sang istri memahami maksud dari dirinya.
"Baik mas, tapi bila aku tidak bisa mengeruk pahala ladang suamiku dari pekerjaan rumah apapun, aku takut mas tidak rindo Mas." Ucap Amora sendu.
"Sayang, mas menikahi mu itu sudah menimbang bagaimana resiko kedepannya nanti, yang kata orang kamu sakit-sakitan, yang biasanya kamu manja dan lain hal nya, Mas sudah mempertimbangkan hal itu." Jawab Zain dengan sabar.
"Berarti mas memang sudah siap dengan segala keburukanku?" Tanya Amora lagi.
"Siap sayang," jawab Zain tersenyum.
"Terimakasih mas, hari ini ridho ya Mas?" Tanya Amora untuk terakhir sebelum tidur.
"Iya sayang, semoga Allah selalu menyelimuti kita dengan cinta Nya, Aamiin." Ucap Zain.
Assalamu'alaikum mas, good night." Ucap Amora lalu menggumamkan do'a sebelum tidur.
Wa'alaikumsalam sayang, good night too." Jawab Zain juga membaca do'a sebelum tidur dan menyusul sang istri ke alam mimpi.
***
Kini dikamar Alesha dan Aqiel, mereka sedang video call dengan sibungsu Alfa, yang katanya sudah sangat merindukan kakak kesayangan nya itu, Amora juga kakak kesayangan nya, tapi ia lebih lengket dengan Alesha, karena sedari kecil memang Alesha yang selalu menjaga adik bungsunya itu.
["Assalamu'alaikum kakak dan Abang,"]~ Alfa.
Girangnya ia saat melihat wajah sang kakak dan Abang iparnya di layar berbentuk persegi panjang itu.
["Wa'alaikumsalam dek."]~ Alesha dan Aqiel
["Kakak kapan mau kesini? adek kangen main sama kakak, kalau adek ajak bang Arfa kesana, bang Arfa selalu nggak mau, katanya dia sibuk karena sebentar lagi mau sidang."]~ Alfa
Alesha memberikan pengertian kepada adiknya itu.
["Memangnya bang Arfa kapan sidang nya dek?"]~ Aqiel
["Katanya lusa, memang sidang itu apa bang?"]~ Alfa
Tanya Alfa penasaran.
["Sidang itu ujian akhir untuk menentukan kelulusan"]~ Aqiel
Sibungsu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia mengerti, Alfa memang cepat memahami apa yang ia dengar dan perhatikan.
["Ibu sama ayah mana dek?"]~ Alesha
["Ibu ada dikamar, kalau ayah tadi pergi kerumah pak RT, katanya ada urusan."]~ Alfa
["Sudah sampai mana hapalan nya dek?"]~ Alesha
["Alhamdulillah sekarang sudah masuk juz ke 25, dua bulan lagi adek akan mengikuti lomba untuk menjadi hafidz cilik, akan masuk TV kak."]~ Alfa
[" MasyaaAllah jadi adek mau jadi hafidz Qur'an?]~ Alfa
__ADS_1
["InsyaaAllah bang, do'a kan adek yang bang, kak. Adek ingin jadi hafidz Qur'an dan Qori Internasional untuk menjadi panutan anak-anak seumuran adek."]~ Alfa
[" MasyaaAllah, Aamiin Allahumma Aamiin."]~ Alesha dan Aqiel
["Memangnya adek belajar dari siapa? Kenapa ingin jadi hafidz dan Qori?]~ Aqiel
["Dari kak Alesha,"]~ Alfa
["Kok dari kakak?"]~ Alesha
["Iya, soalnya adek sering lihat kakak muroja'ah sendiri dikamar, terus pas kakak mengaji, suara kakak itu merdu sekali, makanya adek mau jadi seperti kakak."]~ Alfa
["MasyaaAllah dek, benar dek, suara kak Alesha memang merdu"]~ Aqiel
"Dek, sudah belum pakai handphone nya, Abang ada perlu ni sama handphone milik Abang." Teriak Arfa dari dalam kamarnya.
["Yah.. kak, Abang, bang Arfa sudah minta handphone nya, sudah dulu ya, Assalamu'alaikum."]~ Alfa
["Wa'alaikumsalam dek."]~ Alesha dan Aqiel
Alesha menutup telfonnya, ia lalu merebahkan kepalanya ke bahu sang suami. Aqiel mengelus rambut lembut istri cantiknya itu.
"Mas... Jadi kangen rumah, Minggu depan kita kerumah ibu sama ayah ya." Pinta Alesha mendongak kan kepalanya untuk bisa menatap netra sang suami.
"Iya sayang, Abang juga kangen mau main sama Alfa, adek kamu itu gemesin, sama seperti kakaknya ini, selalu bisa buat mas gemas." Tutur Aqiel sambil mencubit hidung sang istri.
"Ih mas, sakit tau, kenapa di cubit." Ucap Alesha sambil mencebikkan bibirnya, Aqiel yang melihat ekspresi sang istri malah semakin ingin menjahili istrinya itu.
Cup
Ia mengecup sekilas daging kenyal berwarna merah jambu sang istri yang selalu menjadi candu baginya.
"Kan curang, selalu begitu." Ucap Alesha sambil memukul sang suami dengan bantal yang ada di tangan nya. Akhirnya pasutri itu saling pukul-pukulan dengan menggunakan bantal hingga keduanya tergelak memenuhi penjuru ruang kamar bernuansa putih itu.
"Cinta, kamu sudah siap belum untuk mempunyai baby?" Tanya Aqiel tiba-tiba dengan kehati-hatian, takut sang istri belum siap karena usia pernikahan mereka masih seumur jagung, dan akan membuat sang istri kepikiran dengan pertanyaan nya itu.
"Insyaa Allah aku siap mas, jika Allah memberikan amanah itu di rahimku, aku akan sangat bahagia, karena menjadi seorang ibu itu adalah suatu anugerah, apalagi sekarang usiaku sudah 27 tahun, akan sangat susah nanti jika aku harus mengandung di usia yang sudah menginjak tiga puluhan." Jawab Alesha yakin. Ternyata apa yang dipikirkan Aqiel sama sekali berbeda dari pikiran nya, sang istri justru antusias dan senang jika secepatnya ia diberikan amanah itu oleh Allah.
"MasyaaAllah, terimakasih ya cinta." Ucap Aqiel menerbitkan senyuman yang lebar sehingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Ia menarik sang istri untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Ayo tidur cinta, ini sudah malam. Besok kamu harus mengajar kan, mas tidak mau kamu kecapekan nantinya." Tutur Aqiel mengelus sayang kepala sang istri.
"Maaf kan atas segala kesalahan Alesha hari ini ya mas, mas ridho kan?" Tanya Alesha, seperti biasa ia selalu meminta keridhoan sang suami, agar ia bisa tidur dengan tenang, karena ia tak mau dilaknat oleh malaikat hingga pagi.
"Iya sayang, mas akan selalu ridho dengan mu cinta." Ucapnya tersenyum.
"Assalamu'alaikum mas," ucap Alesha lalu menggumamkan do'a sebelum tidur dan mulai menutup matanya, karena sedari tadi sebenarnya ia sudah mengantuk.
"Wa'alaikumsalam cinta nya mas," jawab Aqiel lalu mengecup kening sang istri lama, setelah menggumamkan do'a ia pun menyusul sang istri untuk menutup matanya dengan tangan kanan menjadi bantalan untuk kepala sang istri, sedangkan tangan kiri menepuk-nepuk pelan punggung sang istri, seperti menidurkan bayi.
.
__ADS_1
.
To Be Continued