
"Assalamu'alaikum," Salam Aqiel dengan langkah besar memasuki rumah nya.
"Wa'alaikumsalam tuan," jawab mbak Irna dan Mbok Darmi.
"Astaghfirullah cinta kamu kenapa?" ucapnya menghampiri istirnya itu.
"Itu tuan, tadi setelah tamu non Alesha pulang. Non Alesha teriak memanggil mbok sama mbak, tau-tau nya non Alesha sudah begini." adu mbok Darmi.
"Sekarang kita kerumah sakit ya cinta." ucap Aqiel yang mendapatkan gelengan oleh istrinya.
"Panggil saja dokter kerumah ya mas. Aku nggak mau kerumah sakit." ucap Alesha.
"Baiklah cinta." ucap Aqiel segera menghubungi dokter kandungan sang istri, untung saja saat itu sang dokter tidak ada praktek. Setelah menghubungi dokter, Aqiel menggendong istri nya ala bridal style ke kamar mereka.
Kurang lebih dua puluh menit, dokter kandungan Alesha datang juga.
"Assalamu'alaikum mas Aqiel, mbak Alesha." ucap dokter itu memasuki kamar sang pasutri.
"Wa'alaikumsalam dok, silahkan dok langsung saja periksa keadaan istri saya." ucap Aqiel memberikan ruang untuk sang dokter.
Setelah dokter memeriksa kondisi Alesha dan memberikan obat pereda kram. Akhirnya Aqiel bisa bernafas lega setelah melihat keadaan sang istri mulai membaik.
"Apa yang terjadi pada istri saya dok?" tanya Aqiel khawatir.
"Sepertinya kram perut yang di alami mbak Alesha karena terlalu stress mas. Stress yang berlebihan bisa mengakibatkan terjadinya kram perut pada ibu hamil. Karena jika hormon berlebihan, kontraksi pada otot perut lebih mudah terjadi. Jadi tolong dijaga betul kondisi mbak Alesha. Jangan sampai hal ini terjadi lagi, apalagi sampai stress yang berlebihan. Mas tahu sendiri kandungan mbak Alesha cukup lemah, jika seperti ini lagi, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi berikutnya." Tutur sang dokter menjelaskan.
"Baik dok kalau begitu, terimakasih dok." ucap Aqiel menautkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Jaga kesehatan ya mbak Alesha, kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum." ucap dokter itu pamit.
"Wa'alaikumsalam," jawab Alesha dan Aqiel bersamaan.
Dokter kandungan Alesha di antar ke depan oleh mbok Darmi.
Kini tinggal lah pasutri itu berdua di kamar, Aqiel segera menutup pintu kamar mereka. Dan ikut berbaring disamping sang istri setelah membersihkan dirinya dan mengganti bajunya.
"Cinta, tolong cerita sama mas, kenapa kamu sampai stress berlebihan. Siapa tamu yang datang sehingga membuat istri yang mas cintai ini sampai seperti ini." ucap Aqiel mendekap tubuh mungil istrinya.
"Boleh tidak bahas nya nanti saja mas. Aku mau istirahat dulu. Nanti aku kepikiran lagi sama masalah tadi. Aku nggak mau baby twins kenapa-napa mas." ucap Alesha lemah.
"Baik lah cinta, mas akan menunggu kapan kamu siap menceritakan semuanya kepada mas." ucapnya mengelus sayang kepala istrinya dan mengecup kening sang istri lama. Hingga tak terasa Alesha sudah terlelap di dalam dekapan suaminya itu.
Disaat azan ashar berkumandang, Alesha terbangun dari tidurnya. Ia melihat sang suami juga terlelap di samping nya sembari memeluknya hangat. Ia tatap lamat-lamat wajah tampan suaminya itu.
"Maksud kamu apa cinta berbicara begitu? jangan pernah berfikir mas akan menikah lagi. Mas sangat mencintai mu, dan mas tak akan pernah membagi cinta mas dengan wanita manapun. Mas dan kamu akan hidup menua bersama hingga ke Jannah Nya." ucapnya tiba-tiba, membuat Alesha terkejut.
"Mas sudah bangun?" tanya Alesha kaget.
"Sedari tadi mas sudah bangun istriku. Hanya saja mas melihat mu masih terlelap, mas tidak tega membangunkan istri cantik mas ini." ucapnya melihat netra indah sang istri.
"Mas mendengar perkataan ku?" tanya Alesha memastikan.
"Bagaimana mas tidak mendengar nya cinta, sedangkan kamu berbicara tepat dihadapan mas. Coba ceritakan sama mas. Kenapa istri mas ini sampai mengatakan hal demikian?" Tanya Aqiel lembut.
"Mas janji jangan marah ya, tetap lah tenang." ucap Alesha mewanti-wanti suami tampannya itu.
__ADS_1
"Insyaa Allah cinta, tapi mas tidak bisa berjanji untuk tidak marah, tergantung permasalahan nya apa." jawab Aqiel sembari mengelus pipi mulus sang istri dengan sayang.
"Tadi Karin datang kerumah kita, aku tidak tahu dia dapat alamat rumah ini dari mana." ucap Alesha menarik nafasnya dalam-dalam, begitu berat rasanya untuk mengingat kembali pembicaraan nya dengan Karin.
"Terus cinta?" tanya Aqiel masih setia mendengarkan. Alesha menceritakan semua apa yang di minta Karin kepada nya, serta jawaban yang ia berikan kepada wanita itu. Mendengar penuturan sang istri, membuat Aqiel mendidih menahan gejolak yang ada di dada. Kini dadanya kian bertalu-talu. Namun berusaha ia redam karena tak ingin membuat sang istri khawatir nantinya.
"Astaghfirullah, cobaan apa ni. Cinta.. Ingat kata-kata mas. Seperti yang pernah mas sampai kan sebelumnya, mas tidak akan pernah berpoligami. Karena untuk berlaku adil tentu saja mas tidak sanggup. Dan andaikan pun mas bisa adil, cinta mas sudah mas berikan sama kamu seutuhnya. Kamu istri Sholehah nya mas, bidadari surganya mas, dan akan tetap menjadi satu-satunya di hati mas. Kamu bisa kan percaya sama mas? Dan jangan pikirkan perkataan Karin. Mas tidak mau kalau kamu sampai kembali stress dan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Mengerti cinta?" Tutur Aqiel lembut.
Mendengar penuturan sang suami, membuat mata Alesha berkaca-kaca. Kesekian kalinya ia jatuh cinta lagi dengan sosok suami sholeh nya itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam rumah tangga nya, jika bukan Aqiel suaminya. Takdir Allah tidak ada yang tahu, bahkan sekian lama ia menanti kekasih halal nya, ternyata Allah mempertemukan nya dengan sosok lelaki sholeh dan bijaksana seperti suami nya.
"Terimakasih mas karena sudah memilih aku sebagai istri nya mas. Aku sangat beruntung bersuamikan mas." ucap Alesha tersenyum, menampakkan lesung pipinya yang dalam.
"Mas lebih beruntung cinta, jauh lebih beruntung. Memiliki istri yang sholehah seperti kamu. Dalam situasi apa pun, kamu selalu bisa tenang dan bijak dalam mengambil keputusan." ucapnya semakin memeluk hangat tubuh mungil istrinya.
"Mas sedari tadi sudah azan ashar, aku mandi dulu ya, terus kita shalat berjamaah." ucap Alesha mengingat mereka belum melaksanakan shalat fardhu empat raka'at sore itu.
"Sama-sama saja bagaimana cinta?" goda Aqiel.
"Mulai deh," ucap Alesha memukul gemas dada bidang suaminya. Aqiel terkekeh dengan tingkah istirnya yang selalu membuat ia gemas. Lalu Alesha melangkahkan kaki kekamar mandi.
"Tunggu apa yang akan aku lakukan Karin, aku tidak akan membiarkan kamu melukai istriku barang sedikit pun." Bathin nya berbicara.
.
.
To Be Continued
__ADS_1