
Setelah mereka semua menyelesaikan makan-makan nya, mereka berpisah saat tiba di parkiran. Karena mereka masih memiliki tujuan masing-masing. Naura dan Gus Hanan lebih dulu kembali, karena mereka akan kerumah mertuanya Naura. Sedangkan Alena sudah ditelfon sedari tadi, karena anak nya terus mencari dirinya. Tinggal lah Alesha dan Aqiel, Amora dan Zain, Alex dan Parisya serta Sandra.
Sandra masih ingin menunggu taksi, jadinya mereka yang tinggal sengaja menunggu Sandra hingga taksinya tiba. Sebelumnya Parisya juga sudah menawarkan diri untuk mengantar kan Sandra, namun Sandra menolak karena arah rumah mereka berlawanan arah. Saat mereka menunggu, tak disengaja mereka melihat pemandangan yang tidak mengenakan.
Ya, ternyata Rio dan istrinya baru saja keluar dari cafe yang ada disebelah restoran yang mereka datangi. Mereka sedang bertengkar disana. Rio mengatakan kepada istirnya bahwa ia menyesal telah meninggal kan Sandra dan putra nya, tentu saja Sandra dan yang lain mendengar semua pertengkaran mereka. Tanpa mereka sadari mereka sudah menjadi bahan tontonan orang-orang.
"Yo, kamu bisa tidak jangan membandingkan aku terus dengan mantan istri kamu itu. Aku juga ingin kita segera punya anak, tapi kamu tahu sendiri kondisi aku bagaimana. Sejak aku keguguran, aku begitu sulit memiliki anak karena memang rahim aku bermasalah. Tapi kamu harus mengerti perasaan aku. Nggak gampang ada di posisi aku." Istri Rio menyampaikan isi hatinya sembari bercucuran air mata.
"Sampai kapan? Kedua orang tua aku terus menuntut cucu, mereka terus menyalahkan aku atas perceraian aku dengan Sandra. Aku capek, aku menyesal telah meninggalkan mereka." Terlontar lah kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan.
Deg!
Betapa sakit hati istrinya mendengar penuturan Rio. Padahal dulu Rio sendiri yang memaksa untuk mempertahankan pernikahan siri nya dengan dirinya. Setelah pernikahan mereka diresmikan secara hukum dan agama, justru kini mereka terus-menerus berdebat setiap harinya. Ada saja bahan pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Mungkin ini lah karma untuk Rio sendiri.
"Sandra," lirihnya saat melihat Sandra menatap ke arah mereka. istrinya pun pergi begitu saja menaiki taksi saat ia juga melihat Sandra disana, ia begitu malu berhadapan langsung dengan mantan suaminya itu.
"Kenapa mas menatap aku? Kejar istri mas. Jangan sampai mas melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya sebelum mas menyesal." hanya itu yang Sandra katakan, lalu ia segera menaiki taksi online yang sudah ia pesan.
"Aku duluan ya, kalian hati-hati, terimakasih sudah menunggu ku. Assalamu'alaikum" ucapnya cipika-cipiki dengan Alesha, Amora dan Parisya.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya bersamaan.
Rio yang hanya diam membisu tersadar saat taksi yang dinaiki Sandra sudah mulai menjauh. Ia begitu terpana melihat Sandra yang sekarang, terlihat semakin cantik dan anggun.
"Yuk mas kita pulang," ajak Alesha. Ia tidak terlalu memperdulikan masalah rumah tangga orang lain.
"Sya, kita duluan ya, kalian hati-hati, next time kita kumpul lagi." ucap Alesha kepada Parisya.
Akhirnya Alesha dan Amora berpamitan kepada Parisya. Aqiel dan Zain juga tos ala pria dengan Alex. Mereka menaiki mobil masing-masing. Seperti berangkat tadi, Zain dan Amora pulang bersama Alesha dan Aqiel karena mereka juga harus kembali kerumah Ibunya untuk menjemput sang putra.
"Bye, kita duluan ya, Assalamu'alaikum." Parisya melambaikan tangan.
"Wa'alaikumsalam." jawab Alesha dan yang lainnya.
__ADS_1
Kini mereka sudah meninggal kan parkiran restoran tersebut. Melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota Jakarta.
"Bang Zain sama kak Amora ada mampir nggak?" tanya Aqiel sembari fokus menyetir.
"Enggak Qiel, kita lanjut saja." jawab Amora. Ya mereka sudah membungkus kan beberapa makanan kesukaan untuk orang dirumah.
"Oke, oh iya cinta, kamu mau mampir atau mau beli sesuatu?" tanya nya lembut.
"Tidak usah mas. Nanti saja sewaktu mau pulang kerumah kita beli bahan-bahan dapur. Kasian anak-anak kalau lama menunggu." ucap Alesha menatap suaminya yang sedang fokus menyetir. Alesha juga sudah membelikannya beberapa kue kesukaan ibu dan ayahnya yang ada disamping restoran itu.
"Baik tuan putri." jawab nya santai.
"Jangan panggil aku begitu, malu sama kak Amora dan mas Zain." ucap nya mencubit lengan sang suami pelan.
"Sakit cinta, jangan di cubit dong sayang." ucapnya menggenggam tangan sang istri. Alesha segera melepaskan genggaman tangan suaminya itu. Aqiel hanya tersenyum melihat reaksi Istrinya itu.
Zain dan Amora pun senyum-senyum melihat pasutri yang ada di depan mereka. Sungguh tidak menyangka walaupun usia pernikahan mereka sudah enam tahun, mereka masih sama saja seperti pengantin baru.
Tak lama kendaraan roda empat itu tiba juga di pelataran rumah kedua orang tua Alesha. Aqiel membukakan pintu untuk istrinya itu. Lagi-lagi Zain dan Amora tersenyum melihat mereka.
"Kenapa, memang nya sikap mas sama kamu nggak semanis sikap Aqiel sama Alesha?" tanya Zain menaik-turunkan alisnya.
"Is apasih, yaudah yuk kita masuk," ajak Amora. Mereka membawa dua kantong makanan yang mereka beli sewaktu di restoran.
"Assalamu'alaikum." ucap Alesha, Aqiel, Amora dan Zain.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu Alice.
"Baru pulang nak?" tanya ibu Alice basa-basi, sudah pasti mereka baru pulang, hihi.
"Iya Bu, ini Bu untuk ibu dan yang lain." ucap Amora menyerahkan dua kantong makanan. Mereka menyalim ibu Alice dengan takzim.
"Ini kue kesukaan ibu dan ayah," ucap Alesha juga menyerahkan kantong berisi kue kesukaan orang tuanya itu.
__ADS_1
"Terimakasih nak," ucap ibu Alice senang dibawakan bingkisan.
"Sama-sama Bu," jawab Amora dan Alesha tersenyum.
"Umma.. Aba.. Kok lama sih, kemana saja?" tanya Yuna mengerjap-ngerjap kan matanya yang bulat seperti boba, persis seperti mata Umma nya.
"Kenapa sayang? Adek nggak tidur siang tadi? Abang mana sayang?" tanya Alesha menggendong sang putri dan mengecup nya sayang.
"Abang main sama Aal dan bang Zaydan. Adek bosan Umma, adek juga mau main sama teman cewek, buatkan adek perempuan untuk adek Umma. Ummi juga buatkan adek teman cewek vair adek ada temannya." rengek Yuna di gendongan Umma nya. Sontak perkataan Yuna membuat semuanya tergelak. Sedangkan Aqiel menatap intens sang istri.
"Kenapa mas menatap aku begitu? Jangan ikut-ikutan ya." ucap Alesha menatap tajam suaminya itu.
"Adek, siapa yang ngajarin adek berbicara begitu?" tanya Alesha kepada putri kecilnya.
"Kata paman Arfa kalau adek bosan minta buatkan adek bayi perempuan sama Umma sama aba, terus Ummi juga Abi Zain." jawabnya polos. Ternyata biang kerok nya adalah Arfa.
"Paman Arfa sudah pulang nak?" tanya Alesha lembut.
"Sudah bunda, itu paman Arfa lagi di ruang bermain sama bang Zaydan dan Aal." ucapnya jujur.
"Adek sama Aba dulu ya, Umma mau ngobrol dulu sama paman Arfa." ucapnya lembut lalu menyerahkan Yuna ke gendongan suaminya.
"Kakak ikut Sha," ucap Amora. Mereka menuju ruangan bermain. Ya, sengaja ibu Alice membuatkan ruang bermain untuk cucu-cucu nya jika main kerumah.
Alesha dan Amora melangkahkan kaki dengan wajah masam untuk menemui sang adik. Saat ia melihat Arfa. Mereka langsung menjewer telinga Arfa satu persatu. Alesha menjewer telinga kanan, Amora menjewer telinga kiri.
Akkhh...
"Sakit kak, kenapa aku dijewer." ucapnya menahan sakit.
"Bang tolongin aku, ini istrinya Abang tolong singkirkan." teriaknya.
"Nggak ikut-ikutan," ucap Aqiel dan Zain bersamaan sambil terkekeh. Para bocil juga tertawa melihat paman mereka kesakitan dan malah berteriak agar Alesha dan Amora menjewer lebih kencang. Ya, ada saja tingkah Arfa jika mereka sudah berkumpul.
__ADS_1
...****************...
Yuk baca juga karya terbaru author "Hidayah Terindah" jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen, subscribe, vote, dll) serta favorit kan agar tidak ketinggalan update selanjutnya. Dukungan dari sahabat sangat berarti untuk kami para author. Terimakasih 🙏🏻🤍