Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Murid Pertama


__ADS_3

Suara kokok ayam jantan yang terdengar begitu nyaring membangunkan Rajendra dari tidur nyenyak nya. Waktu itu tepat sesaat sebelum fajar, Rajendra segera bangkit dari ranjang dan duduk di tepi ranjang yang terbuat dari bambu itu. Wajahnya kelihatan ceria sepertinya tengah bersyukur untuk tidur nyenyak nya malam ini, meskipun diatas ranjang dan kasur jerami yang usang tapi jelas lebih baik dari pada tidur di alam terbuka.


Ketika dia bangkit dan mulai berjalan keluar dari kamar kecil itu tampak olehnya sebuah baki yang terdapat beberapa makanan yang disiapkan tuan rumah, meskipun kelihatannya hanya makanan sisa masakan hari sebelumnya tapi Rajendra sangat menghargainya. Mungkin saja bagi orang lain itu hanya makanan sederhana mungkin juga bagi sebagian yang lain hanya makanan sisa yang murah, tapi Rajendra paham makanan yang sengaja disisakan untuknya itu kemungkinan adalah seluruh harta dari tuan rumah.


"Sungguh anak yang baik" Pikir Rajendra dalam hatinya sebelum mulai menyantap makanan yang telah di siapkan untuknya itu. Untuk sesaat dia menyadari jika mendengar suara dentingan cangkul di belakang rumah, dia yakin itu suara Ranu yang mungkin sedang melakukan pekerjaan di ladangnya.


Maka setelah Rajendra menyelesaikan makan, dia segera berjalan ke luar rumah mencoba mencari tahu apa yang sedang Ranu lakukan di belakang rumahnya. Dan benar saja ketika dia akhirnya menemukan anak itu terlihat Ranu sedang mencangkul di kebunnya, nampak jelas anak itu sepenuhnya paham dengan apa yang sedang dilakukan.


Dari caranya mengayunkan cangkul, memadatkan tanah dengan kaki kecilnya dan caranya menanam semua dilakukan Ranu dengan cekatan. Terpikir oleh Rajendra saat seusia anak itu dia sama sekali tak pernah melakukan hal itu, saat seusia Ranu belum terpikir olehnya pikiran harus mengerjakan ladang untuk memperoleh makanan, untuk bisa bertahan hidup.


Menyadari ke hadiran tamunya Ranu sesaat menghentikan kesibukannya dia tersenyum dan berkata "Sudah bangun bapak? Apa bapak sudah makan masakan yang saya siapkan?"


"Iya, sudah.. terima kasih untuk itu" Jawab Rajendra membalas senyum anak itu.


"Apa bapak sudah mau pergi?" Tanya Ranu sambil berjalan mendekati Rajendra.


"Sepertinya begitu, tak ingin saya merepotkan mu lebih banyak lagi"


"Apa bapak bisa mengajak saya?"

__ADS_1


"Maksud kamu??" Tanya Rajendra sedikit bingung dengan yang dikatakan Ranu.


"Saya tahu bapak seorang pendekar, atau setidaknya begitu menurut yang saya lihat, saya mau jadi murid bapak ijinkan saya ikut kemana pun bapak pergi" anak itu menjelaskan, suaranya terdengar serius.


Rajendra tak langsung menjawab dia terdiam sepertinya sedang menimbang keputusannya, sebagian dari dirinya mengatakan jika dia memutuskan untuk meng iya kan keinginan Ranu berarti dirinya telah menempatkan dirinya pada sebuah tanggung jawab yang besar pada seluruh kehidupan Ranu ke depan, tanggung jawab itu tak hanya meliputi memberinya makan dan perlindungan tapi juga harus bisa mendidik Ranu agar bisa jadi manusia sejati.


Tanggung jawab itu menurutnya saat ini terasa cukup berat karena dia sendiri beranggapan kalau dirinya belum merasa jadi orang yang mumpuni. Tapi di sisi lain jika dia menolak keinginan Ranu hal itu justru menunjukan kalau dirinya hanyalah orang yang lemah karena jika dia tak bisa merubah nasib seorang anak bagaimana bisa dirinya akan merubah tatanan negeri ini, bagaimana bisa dirinya diakui orang banyak.


Akhirnya setelah dia meyakinkan kebimbangan di hatinya dia pun mengucapkan,


"Baiklah , aku akan membawamu kau akan menjadikanmu murid ku.."


"Bukankah kita harus pergi" kata Ranu menoleh menghentikan langkahnya.


"Tidak, kita tak akan pergi sekarang"


"Hach..lalu apa yang akan kita lakukan"


"Kita sementara akan tinggal disini, kita bisa melakukan banyak hal untuk sementara di sini, aku akan mengajarimu banyak hal"

__ADS_1


Seperti kurang senang dengan jawaban Rajendra yang sekarang telah menjadi gurunya, sesaat keceriaan di wajahnya nampak hilang,


"Dan apa yang akan guru ajarkan padaku disini?" Tanya Ranu kemudian.


"Banyak yang akan ku ajarkan aku akan mengajari membaca, mengajari cara bercocok tanam yang baik dan mungkin aku akan mengajari mu sedikit tentang ilmu bela diri" Jawab Rajendra bersemangat.


Seketika wajah Ranu kembali cerah mendengar akan diajarkan ilmu bela diri, dan sepertinya itulah tujuannya. Ranu memang belum bercerita tentang kenapa dia hidup sebatang kara di dunia ini dan Rajendra pun belum menanyakan hal itu.


Ayah dan ibu Ranu telah menjadi korban dari kejahatan dan kekejaman perampok.


Suatu ketika di musim panas tahun sebelumnya di desa itu di datangi segerombolan bandit yang biasa hidup di pegunungan, para penjahat yang sangat kejam itu segera saja merampas semua yang bisa didapatkan di desanya. Mereka tak segan untuk melukai bahkan membunuh siapa saja yang menghalangi. Dan ketika semua sedang itu sedang terjadi ayah dan ibunya menjadi salah satu korban karena berusaha melawan untuk mengalihkan perhatian para perampok yang hendak masuk ke dalam rumahnya, Ranu yang saat itu bersembunyi dalam ruangan dibawah atap dapat melihat jelas ketika ke dua orang tuanya di bunuh oleh para perampok itu.


Kemarahan atas apa yang dilihatnya itu sepertinya menumbuhkan rasa dendam dalam hatinya sehingga keinginannya untuk dapat menguasai ilmu bela diri sangatlah pantas untuk sebuah tujuan membalas dendam.


Ketika akhirnya Rajendra menanyakan hal itu Ranu pun menceritakan kejadian itu dengan sangat jelas, dia juga mengutarakan keinginannya yang sangat besar untuk bisa mempelajari ilmu bela diri dari gurunya.


"Aku akan mengajarkan mu ilmu bela diri tapi tak perlu kau mencari para perampok itu untuk melakukan upaya balas dendam, tapi jika para perampok itu kembali kita akan siap menyambutnya" begitulah yang Rajendra katakan kepada Ranu untuk menyenangkan hatinya, dan memang Ranu merasa senang dengan jawaban gurunya terlebih kata "kita" yang diucapkan gurunya itu, kata sederhana yang menandakan jika dirinya kini tak lagi sendiri.


Hari-hari berikutnya dihabiskan mereka dengan kesibukan petani pada umumnya namun yang sedikit membedakan, diantara sela waktu, Rajendra mengajarkan Ranu beberapa ilmu dasar seni bela diri. Jurus-jurus yang diajarkan tentunya bersifat mempertahankan diri karena tahu muridnya masih kecil dan kekuatannya belum setara dengan orang dewasa maka dia memilih mengajarkan beberapa jurus yang bersifat pasif, jurus yang cenderung bertahan dan menggunakan kekuatan lawan untuk menyerang balik.

__ADS_1


Penilaian Rajendra pada anak itu memanglah tepat Ranu memang anak yang cerdas penilaian sekilas dari sorot matanya yang cemerlang waktu itu kini terbukti, tak butuh waktu lama Ranu nampak telah menguasai beberapa jurus yang diajarkan padanya. Merasa senang dengan kemajuan yang dialami muridnya Rajendra nampak tersenyum puas ketika melihat Ranu masih tekun berlatih dalam latar belakang langit senja yang nampak memerah.


__ADS_2