
Sudah dua hari berlalu semenjak Rajendra berhasil menyingkap kabut misteri dibalik bukit Serigala, sudah dua hari juga dirinya menginap di rumah Kepala desa. Dirinya sudah mulai merasa tergelitik keinginannya untuk melanjutkan perjalanannya, apa lagi sekarang ada sebuah misi yang ingin dia coba tuntaskan yakni mencoba menemukan ke empat ruh penjaga yang lain.
Ranu pun juga sudah merasa gelisah, kebosanan nampaknya sudah menyelimuti hatinya dia sudah merasa lebih dari cukup melihat keadaan desa Maruya. Tentu saja saat ini dirinya berkeinginan melihat hal-hal lain lagi, dia merindukan perjalanan, merindukan keadaan malam di alam bebas. Dia pun mulai merengek pada Rajendra agar lekas pergi melanjutkan perjalanan.
" Ayolah guru, apa belum cukup kita berada disini?? " Rengek Ranu meminta sang guru secepatnya melanjutkan perjalanan.
Rajendra yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan muridnya hanya menjawab
" nanti menjelang senja kita akan lanjutkan perjalanan ke tempat lain " janjinya pada Ranu.
Senang mendengar jawaban dari gurunya Ranu pun tampak menari-nari kegirangan, sudah terbayang dalam benaknya keindahan yang mungkin akan segera ditemui nya nanti.
Ketika Darya melihat Ranu yang tampak kegirangan dia pun menanyakan hal itu pada Rajendra.
" Tidak biasanya anak itu memperlihatkan kegembiraan seperti saat ini "
" Sepertinya, dia senang mendengar jika nanti kami akan melanjutkan perjalanan " jawab Rajendra sambil memandang muridnya yang masih juga menunjukan keceriaannya.
" Oh jadi anda sudah mau pergi?? "
" Ya sepertinya sudah cukup lama kami tinggal disini, ada sesuatu yang harus segera saya lakukan juga "
" Jadi kapan anda akan pergi? " Tanya Darya lagi seolah tak ingin tamunya meninggalkan rumahnya.
" Menjelang senja nanti " jawab Rajendra sambil melihat ke arah matahari yang nampak masih di atas kepala.
" Secepat itu ya, akan saya siapkan sesuatu yang mungkin bisa anda bawa sebagai perbekalan "
__ADS_1
" Tak perlu, kami sudah terlalu banyak merepotkan bapak " kata Rajendra mencoba menolak bantuan dari Kepala desa yang baik itu.
" Tak usah sungkan, lagi pula yang akan saya berikan hanya apa yang ada di rumah saya , tak merepotkan sama sekali " ucap Darya bersikeras menawarkan bantuannya.
Rajendra yang sudah tahu tak akan lagi bisa menolak kebaikan tuan rumah hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
Waktu senja pun tiba Rajendra tampak sedang berpamitan dengan Darya,
" Terima kasih atas segala kebaikan yang sudah bapak berikan pada kami selama disini " ucap Rajendra sambil menundukkan kepalanya.
" Bukan masalah, datanglah kembali ke tempat ini jika ada kesempatan " jawab Darya disertai senyuman ramah.
" Semoga saja ada kesempatan, saya mohon diri sekarang pak " kata Rajendra sambil memanggil Ranu untuk berpamitan, Ranu yang sudah menunggu di depan pintu,yang tampak sudah tak sabar menunggu pun akhirnya berlari ke arah Rajendra untuk mengucapkan salam perpisahan dan terimakasih.
Mereka pun pergi meninggalkan desa Maruya, dengan langkahnya yang ringan Ranu selalu saja seperti biasanya berjalan lebih jauh dari gurunya, sesekali berhenti menunggu gurunya, sesekali berteriak pada Rajendra untuk bertanya arah ketika menemui sebuah persimpangan jalan. Ketika hari mulai gelap Ranu sudah mulai berjalan lebih pelan kini dia sudah berjalan di samping gurunya. Merasa ada kesempatan untuk bercerita Rajendra pun membuka obrolan dengan muridnya,
" Iya guru, apalagi disini hanya ada kita berdua rasanya jalan dan hutan ini serasa milik kita " jawab Ranu.
" Apa kamu tahu jika sebenarnya kita bertiga? "
" Maksud guru? " kata Ranu sambil menoleh ke kanan kiri,wajahnya mulai terlihat cemas.
" Kamu tentunya ingat kan kejadian di hutan serigala waktu itu, pemilik aura yang kita kira jahat itu sekarang sudah menjadi teman perjalanan kita " ucap Rajendra menjelaskan pada Ranu.
Ranu tersentak kaget mendengar jawaban gurunya, dia seakan tak percaya jika sang guru mengajak mahluk lain untuk menjadi teman perjalanan mereka. Awalnya Ranu bersikeras untuk menolak menjadikan sosok yang dikatakan oleh gurunya menjadi teman perjalanan mereka, bahkan ketika Rajendra mengatakan akan menyuruh sosok itu menampakan wujudnya, Ranu menampik dengan tegas ketidak inginannya melihat sosok itu. Yang ada dalam pikiran Ranu tentu saja sosok itu akan berwujud menyeramkan, dan apa menyenangkannya melakukan perjalanan ditemani mahkluk yang mengerikan.
" Lebih baik guru mengusirnya sekarang, aku sama sekali tak ingin melihatnya " kata Ranu kesal dengan keputusan sang guru.
__ADS_1
" Tak bisa, dia telah mengabdikan dirinya pada ku jadi tak mungkin aku mengusirnya begitu saja, lagi pula kamu akan senang jika sudah melihatnya " ucap Rajendra meyakinkan muridnya yang berwajah cemberut itu.
" Tak mungkin aku senang melihat sosok siluman " kata Ranu sambil mendengus menghela nafas.
" Apa kamu yakin? Lihatlah sekarang " kata Rajendra sambil menyuruh Riswana untuk menampakan wujudnya.
Kabut asap pun mulai muncul seolah berasal dari dalam tanah, kabut tebal itu semakin lama makin menipis dan nampak lah wujud Riswana yang seperti seorang dewi. Riswana pun tersenyum ke arah Ranu.
Ranu terkesima melihat sosok Riswana yang terlihat begitu bercahaya dalam kegelapan hutan. Ranu yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya tampak mengusap-usap matanya mungkin untuk memastikan jika dia tidak salah lihat, meskipun Ranu masih sangat muda tapi tetap saja dirinya mampu menilai kecantikan sosok yang baru saja muncul di hadapannya itu.
Sifat cerianya kembali lagi bahkan bisa dikatakan melebihi sesaat sebelum Riswana menampakan wujudnya. Ranu pun mulai menyanyikan sebuah lagu yang dia ingat kemudian dia pun berlari jauh ke depan, saat dia berhenti dan menoleh dia dapat melihat Gurunya dan Riswana. Melihat keduanya dirinya tertegun sepertinya tengah bersyukur, tak pernah terbayangkan dalam benak nya jika dirinya kini mempunyai dua sosok yang menemaninya di dunia ini. Melihat keduanya dirinya merasa mempunyai orang tua lagi, keharuan pun merasuk di hatinya dalam hatinya dia berkata "ayah, ibu kini aku tak sendiri lagi, aku bahagia sekarang, kalian tenanglah di alam sana".
Melihat Ranu yang terdiam Riswana pun bertanya, " Kenapa, apa kamu lelah? "
" Hach.. tidak , aku tidak lelah " jawab Ranu tergagap karena tersadarkan dari lamunannya.
" Jika kamu lelah, aku bisa merubah wujudku agar bisa kamu naik ke punggungku "
Ranu merasa penasaran dia pun bertanya dalam hatinya memangnya akan menjadi wujud seperti apakah Riswana, pertanyaan dalam hati Ranu seketika terjawab karena saat itu juga tubuh Riswana mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, cahaya itu perlahan memudar dan ketika cahaya itu hilang terlihat seekor serigala yang sangat besar, dengan bulu putihnya yang panjang.
Ranu pun kembali di buat kagum melihat perubahan wujud Riswana, rasa kagum itu lalu berubah menjadi rasa senang dia bahkan terlihat meloncat-loncat kegirangan seolah tak sabar ingin naik ke punggung mahkluk yang mengagumkan itu, Riswana pun menekuk kakinya agar Ranu bisa naik. Kebahagian tak dapat disembunyikan lagi dari wajah Ranu.
" Apa kamu bisa berlari dengan cepat??" Tanya Ranu pada Riswana ketika dia sudah menaiki punggungnya.
" Tentu saja, berpeganglah dengan erat "
Riswana kemudian berlari mengelilingi hutan, Ranu yang berpegangan dengan erat tampak tertawa gembira.
__ADS_1
Rajendra yang melihat tingkah kedua teman perjalanannya hanya tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.