
Langit malam saat itu dipenuhi dengan awan namun tak ada tanda-tanda petir atau angin. Salah satu orang dari kelompok penjaga pos di atas benteng Shaminari tampang memandang ke atas,
"Apa menurut kalian akan turun hujan?"
Yang lain pun kemudian tampak mengikuti arah pandanganya ke atas langit.
"Bisa jadi, sulit kiranya memastikan cuaca di musim seperti ini" Jawab seorang yang lain.
"Ku harap awan-awan itu bukan pertanda akan datangnya hujan, sulit melihat keadaan di sekitar benteng ini jika hujan bener akan turun" Jawab orang pertama sambil menghela nafasnya dalam-dalam.
Kelebat-kelebatan bayangan tampak bergerak mendekati benteng kerajaan Shaminari. Pasukan kecil siluman telah menerima perintah untuk melakukan pengintaian. Tugas pasukan kecil pengintai itu selain memberikan informasi keadaan sekitar benteng juga diperintahkan untuk membuat keributan dan kekacauan di sekitar benteng. Dengan gerakan yang cepat kelompok itu pun sudah sampai ketempat tujuan, beberapa diantaranya kemudian tampak mulai akan melakukan sesuatu. Seketika titik-titik api mulai menyala dan membakar semak, merambat dengan cepat ke pepohonan di sekitar benteng.
Api yang membesar dengan pesat itu tentu saja terlihat oleh para penjaga di atas benteng,
"Kebakaran?" Teriak salah satu penjaga di pos.
Sontak yang lain terperanjat dan berdiri dengan sekonyong-konyong.
"Bagaimana bisa tiba-tiba ada api sebesar itu?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang terlontar tapi tak ada waktu bagi yang lain untuk menjawab.
Sadar akan adanya sebuah bahaya, sinyal tanda bahaya pun segera dibunyikan oleh para penjaga yang melihat kebakaran, suara serupa bambu dan senjata yang saling beradu pun terdengar memecah keheningan malam. Prajurit-prajurit yang bertugas menjaga benteng pun segera memenuhi seluruh penjuru tembok benteng.
"Apa yang terjadi" Tanya salah satu Panglima prajurit pada yang lain.
Pertanyaan itu tak perlu lagi dijawab karena saat Panglima itu sudah naik ke atas benteng dirinya segera melihat nyala api yang membumbung di luar benteng. Sambil menajamkan pandangannya Panglima itu mulai memeriksa keadaan sekitar kebakaran, namun di tempat yang terang oleh nyala api itu dirinya tak menemukan apa-apa selain percikan bunga-bunga api.
"Sepertinya cuma kebakaran biasa" Teriaknya mencoba menyimpulkan dan menenangkan keadaan. "Buka gerbang benteng dan lekas padamkan api disana" perintahnya kemudian.
Mendengar sebuah perintah para prajurit pun segera melaksanakannya, suara berderit gerbang benteng yang dibuka mulai terdengar. Ratusan prajurit pun segera dikerahkan untuk memadamkan api, atau setidaknya mencegah meluasnya kebakaran. Belum lagi ratusan prajurit itu sempat mendekati daerah kebakaran sebuah serangan yang tidak terlihat arah datangnya memukul mereka. Rentetan serangan yang serupa bola-bola api itu menghantam tanah dan menciptakan sebuah ledakan yang memekakkan.
"Ini jebakan, lekas kembali ke benteng!" Teriak salah satu Panglima dari atas benteng.
Melihat dengan jelas jika serangan itu tak akan memberikan kesempatan untuk selamat, salah satu Panglima dengan berat hati meneriakkan sebuah perintah, "Lekas tutup kembali gerbangnya!" Meskipun lantang namun suara perintah itu terdengar sedikit parau menahan kesedihan.
Ratusan mayat prajurit nampak jelas dalam cahaya api yang masih berkobar, menciptakan sebuah pemandangan yang memilukan. Seiring pintu benteng yang telah ditutup, serangan itu pun terhenti, menyusul sebuah keheningan yang mencekam. Semua pandangan mata menyapu sekeliling benteng namun tak satupun prajurit yang melihat musuh yang melakukan serangan.
"Apa arti semua ini?" Barangkali adalah pertanyaan hati masing-masing prajurit yang tak memahami kejadian yang mereka saksikan.
__ADS_1
...***********************...
Patih Pramana, Wanara, Shengkara dan Pemimpin-pemimpin siluman masih berada di bukit yang tak jauh dari benteng. Mereka kini sedang menunggu sebuah kabar dari pasukan pengintai yang mereka kirim, beberapa saat kemudian dua siluman pengintai datang menghadap mereka.
"Kami telah melaksanakan perintah tuan" Kata salah satu siluman ketika sudah berada di hadapan Patih Pramana.
"Dan sepertinya saat ini rencana tuan telah berhasil, selain membuat kebakaran kami juga telah melakukan serangan kecil pada prajurit yang mencoba memadamkan api" Lanjut siluman yang satu melengkapi informasi yang disampaikan teman silumannya.
Lengkungan senyum penuh kelicikan tersungging dari bibir Patih Pramana. Dengan penuh wibawa dirinya kemudian berkata "Bagus, sekarang kita tunggu hingga tengah malam untuk memulai serangan kita yang sebenarnya".
Pasukan kecil yang dikirim oleh Patih Pramana sama sekali tak bertujuan untuk meraih kemenangan, mereka hanya ditugaskan untuk membuat kekacauan dan ancaman. Ketika sebuah ancaman tercipta maka ketakutan akan datang menyertainya, dan tak ada yang dapat menghancurkan sebuah kesatuan melebihi dari dahsyatnya rasa takut.
Sebagai seorang yang telah mempunyai pengalaman di medan perang Patih Pramana tentu saja memahami berbagai siasat perang, dan baginya membiarkan musuh menunggu dalam ketakutan adalah cara termudah untuk menentukan sebuah kemenangan. Ketika perasaan takut sudah berhasil dia ciptakan maka tanpa melakukan apa-apa lagi dirinya perlahan telah menghancurkan mental musuhnya. Kini dirinya tinggal menunggu saat yang tepat untuk memulai sebuah serangan yang sebenarnya.
...**********************...
Rasa penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi berangsur berubah menjadi sebuah kepanikan yang menjalar di antara para prajurit yang berada di atas benteng kerajaan Shaminari. Mereka membutuhkan sebuah penjelasan yang kiranya dapat memecahkan kebuntuan pemikiran mereka. Dalam keheningan yang telah lama terjadi itu sebuah pertanyaan terlontar dari salah satu prajurit, "Apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang melakukan serangan tadi?".
Semua pandangan seketika mengarah ke prajurit yang bertanya, namun tak satu pun yang bisa untuk menjawab pertanyaan itu. Para panglima pun tak mampu memberikan jawaban yang masuk akal, jikapun serangan itu dilancarkan dari jauh seharusnya bola-bola api itu terlihat arah kedatanganya. Tapi mereka dapat menyaksikan sendiri jika serangan itu datang dari dekat tapi anehnya mereka sama sekali tak melihat asal serangan itu. Seolah serangan itu datang dan menghilang secepat api yang membakar dedaunan kering.
__ADS_1
Belum lagi sempat mereka menata pemikiran, sebuah serangan kembali datang. Kali ini serangan itu menghujani tembok benteng, dengan gerak refleks para prajurit pun seketika menunduk dan berlindung. Serangan itu datang bertubi-tubi seolah akan mampu meruntuhkan tembok benteng, sesaat para prajurit merasa jika serangan itu telah terhenti. Para prajurit saling memandang satu dan yang lain, setelah menunggu dan yakin jika serangan itu telah benar-benar terhenti hampir bersamaan mereka mulai berdiri dan mencoba melihat keadaan sekitar benteng.
Sebuah pemandangan mengerikan kini dapat mereka saksikan, barisan ratusan mahkluk-mahkluk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya telah berdiri dengan penuh ancaman di sekitar penjuru benteng. Ketakutan seketika seperti mencengkram para Panglima kerajaan ketika akhirnya pandangan mereka tertuju pada satu sosok yang berdiri didepan para mahkluk-mahkluk siluman itu. Sosok yang sebelumnya sangat mereka banggakan, sosok yang sangat mereka kagumi dan sosok yang begitu mereka kenali. Siapa lagi jika yang saat ini mereka lihat memimpin pasukan siluman itu selain Patih mereka sendiri, siapa lagi jika bukan Patih Pramana.