Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Bertemu dan Berkumpul Kembali


__ADS_3

Matahari pagi mulai membagikan sinarnya, terang cahaya nya menggantikan kemuraman malam sebelumnya di kerajaan Shaminari. Mayat-mayat siluman yang mati telah lebur terkena sinar matahari, menyisakan jasad-jasad para prajurit yang gugur dalam pemberontakan pasukan siluman. Jasad itu pun tampak sedang dikebumikan oleh prajurit dan yang mendapatkan perintah untuk membereskan sisa kekacauan, beberapa penduduk kota juga terlihat datang untuk membantu.


Kabar tentang tiga sosok pahlawan yang telah menyelamatkan ibu kota kerajaan pun kini telah menyebar ke seluruh penjuru kota Angkara, tak ada lagi kiranya seorang yang kini tak mengenal nama Rajendra. Seorang gadis yang terlihat anggun dengan busana yang dikenakannya berkaca-kaca matanya ketika tak sengaja mendengar cerita tentang nama salah satu pahlawan itu. Gadis manis itu tak lain adalah Utari yang kini menjadi abdi di dalam kerajaan Shaminari, meskipun dirinya yakin jika telinganya tak salah dengar namun nama Rajendra baginya sangat sulit untuk dipercaya jika itu adalah kakaknya. Menurut yang dia yakini kakaknya kemungkinan dulu telah gugur dalam perang besar yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Diliputi rasa ingin tahu yang besar, Utari memberanikan dirinya untuk mencoba bertanya pada prajurit yang sedang berjalan ke arahnya,


"Maaf, bolehkan saya bertanya sebentar" Kata Utari membuka obrolan.


"Boleh, dan apakah yang akan kau tanyakan itu?" Jawab prajurit itu ramah.


"Apakah tuan tahu tentang sosok yang saya dengar telah menjadi penyelamat kerajaan ini dari serangan para pemberontak?" Utari bertanya sambil menajamkan telinganya.


"Saat kejadian itu terjadi saya sendiri tak melihat nya secara langsung, tapi dari apa yang saya dengar ke tiga sosok yang menjadi pahlawan itu sangatlah hebat. Diceritakan jika mereka dengan mudah mampu menghancurkan pasukan pemberontak yang katanya tak mempan oleh panah dan api. Memang cerita yang sulit untuk dipercaya tapi saksi atas kejadian itu begitu banyak hingga tak mungkin jika cerita ini hanyalah omong kosong" prajurit itu menjelaskan dengan semangat, seolah dirinya merasa melihat sendiri semua yang diceritakannya.


Utari semakin ragu jika itu adalah sosok kakaknya, baginya tak mungkin Rajendra yang begitu hebat dalam cerita itu adalah kakak yang dikenalnya, "Dan apa tuan tahu nama mereka?" Tanyanya tanpa banyak harapan.


"Ya, sosok pemuda yang sepertinya menjadi pemimpin mereka adalah Rajendra, dan dua mahkluk yang berwujud setengah manusia adalah Agnigara dan Bayurajata"


"Apakah pemuda bernama Rajendra itu memiliki semacam bekas luka di alis sebelah kanan?" Tanya Utari yang mengingat jika kakaknya dulu pernah terjatuh saat kecil dan membuat alis sebelah kananya memiliki bagian yang tidak ditumbuhi rambut.

__ADS_1


"Saya tak terlalu paham soal itu, apakah kau mengenalnya?" Prajurit itu balik bertanya sambil mengerutkan dahinya.


"Ah tidak juga, hanya saja nama itu mengingatkan saya tentang seseorang" Utari ragu mengatakan jika mungkin sosok itu adalah kakaknya.


"Saat ini pemuda yang bernama Rajendra itu sedang berada di aula kerajaan, coba saja kau lihat sendiri apakah benar sosok itu adalah orang yang kau kenal atau bukan" Prajurit itu menjelaskan keberadaan Rajendra pada Utari.


"Ya, Terimakasih tuan sudah menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan saya" Utari membungkukkan badannya.


"Ah bukan apa-apa tak perlu berterimakasih" jawab prajurit itu sambil mengibaskan tangannya, diapun kemudian segera pergi melanjutkan penjagaannya.


Tanpa banyak berharap Utari mencoba untuk pergi ke aula kerajaan untuk melihat sosok pemuda yang bernama Rajendra itu. Meski Utari tahu jika kakaknya memang kuat namun tetaplah tak sehebat sosok Rajendra yang diceritakan oleh orang-orang dan sekarang dianggap sebagai pahlawan di kerajaan Shaminari. Melihat pintu aula kerajaan sudah semakin dekat Utari pun mempercepat langkahnya, dirinya merasa tak sabar lagi untuk melihat sosok pemuda dalam cerita. Namun ketika Utari memberanikan dirinya untuk mengintip ke dalam aula kerajaan tempat itu ternyata sudah kosong.


Utari terperanjat mendengar suara dibelakangnya, ternyata suara itu berasal dari wanita abdi pelayan yang lain. Wanita itu tampak sedang membawa sebuah baki berisi minuman di tangannya.


"Oh..aku penasaran dengan orang yang katanya berhasil menjadi penyelamat kerajaan ini" Jawab Utari dengan jujur.


"Hee.. kau pasti ingin melihat ketampanan sosok pahlawan itu kan" goda wanita pelayan itu dengan tersenyum.


"Ah tidak juga" Utari mencoba menyembunyikan kebenaran.

__ADS_1


"Tak akan kau temukan dia disini, ayo ikut aku jika kau ingin melihatnya. Dia sekarang sedang berada di ruang perjamuan" Wanita itu menjelaskan.


Kini menjadi jelas bagi Utari jika baki berisi minuman yang dibawa wanita itu hendak disajikan untuk para pahlawan di ruang perjamuan. Tanpa menjawab Utari hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah wanita pembawa baki itu tepat di belakangnya.


Mereka berjalan mengikuti sebuah lorong dan kemudian berbelok ke sebelah kanan, tak lama mereka pun telah sampai ke ruang perjamuan. Dengan membungkukkan badan dan menunduk dirinya masuk ke ruangan perjamuan. Ketika hampir sampai ke meja Utari perlahan mulai mengangkat kepala dan mencoba melihat sosok pemuda yang dikatakan pahlawan dalam cerita-cerita orang. Dari ujung kaki pandangan Utari perlahan mulai naik sampai ke tubuh dan wajah Rajendra, air mata nya tak terbendung lagi ketika melihat wajah yang begitu dikenalnya.


Seakan lupa dengan dirinya Utari segera berlari menghampiri Rajendra dan sambil menangis dirinya berteriak dengan serak "kaaakak".


Rajendra yang mendengar suara yang begitu akrab itu terperanjat dan segera berdiri menoleh mencari asal suara itu. Dengan mata berkaca-kaca dirinya kini melihat dengan jelas jika suara itu memang berasal dari adiknya yang telah lama dirindukannya, dia melihat Utari sudah sangat dekat dan segera memeluk tubuhnya dengan begitu erat. Rajendra merasakan arti pelukan dan tangisan adiknya, dengan lembut Rajendra pun mengusap kepala Utari mencoba menenangkannya.


Raja Prabaswara yang melihat kejadian itu merasa sedikit tak enak hati mengetahui jika salah satu abdi pelayannya ternyata adalah adik dari Rajendra. Namun ketika akhirnya Utari menceritakan kejadian yang sebenarnya, Rajendra pun segera memahami kesalahpahamannya selama ini. Cerita yang dulu dia dengar tentang adiknya yang diculik dan dipaksa untuk menjadi abdi di kerajaan ternyata tidaklah benar, Utari sendirilah yang mengajukan dirinya untuk menjadi abdi kerajaan karena diajak oleh salah satu kenalannya. Utari yang merasa tak mempunyai siapa-siapa lagi di desa kelahirannya akhirnya menyetujui ajakan itu dan semenjak itu dirinya tinggal di istana kerajaan Shaminari sebagai abdi pelayan kerajaan.


Melihat adiknya nampak sehat dan memakai busana yang indah, dirinya merasa bahagia ternyata adiknya terawat dengan baik di kerajaan ini. Dirinya lantas merasa perlu mengucapkan rasa terimakasih nya pada Raja Prabaswara,


"Hamba mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena selama ini telah memberikan tempat bagi adik hamba di istana ini" Kata Rajendra di hadapan Raja Prabaswara dengan penuh ketulusan.


"Tak perlu engkau berterimakasih setelah apa yang telah kau lakukan untuk kerajaan ini, justru sebenarnya aku sendiri tak tahu jika salah satu abdi pelayan ku adalah adik dari anda" Jawab Raja Prabaswara mencoba merendah.


Rajendra yang kini telah berhasil bertemu kembali dengan adiknya dengan satu cara yang tak disangkanya itu nampak bahagia. Dirinya kemudian berpikir alangkah tololnya dirinya yang dulu punya rencana menyerang kerajaan Shaminari untuk menyelamatkan adiknya. Kenyataannya kini adalah dengan menyelamatkan kerajaan Shaminari dirinya justru dapat bertemu dan berkumpul lagi dengan adiknya. Sebuah pemikiran baru kini ada dalam benaknya jika kita berbuat kebaikan maka kita akan mendapatkan kebaikan, dan kebaikan yang saat ini didapatkannya melebihi apa yang dapat dia bayangkan.

__ADS_1


Rajendra nampak memandangi wajah manis adiknya dan mengacak-acak rambutnya dengan lembut, sebuah kebiasaan yang sudah lama tak dilakukannya. Utari yang merasakan perlakuan kakaknya itu kini nampak sudah mulai mengembangkan senyum manisnya. Dia peluk sekali lagi tubuh Rajendra seolah tak ingin melepaskan dan kehilangan sosok kakaknya itu lagi. Semua yang menyaksikan tampak ikut larut dalam kebahagian yang dirasakan oleh mereka.


__ADS_2