Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Gunung Yang Hilang


__ADS_3

Saat ini jalan utama yang menghubungkan desa Wiyati dengan desa lainya adalah jalan yang paling ramai di musim seperti ini. Jalan itu membentang dari timur, berkelok-kelok melewati dataran yang dalam peribahasa dilukiskan sebagai "berbukit-


bukit". Seperti halnya pancang-pancang yang menandai perbatasan, jalan itu menelusuri rangkaian pegunungan yang seakan tanpa akhir. Para musafir yang muncul dari desa lain biasa memandang ke lembah sungai yang mengalir melewati desa Wiyati, dan di situ sering kali mereka terkejut melihat sebuah desa yang cukup besar.


Siang itu Rajendra dan Ranu nampak sedang berjalan di jalan yang ramai dengan lalu lalang orang yang mempunyai kepentingan nya masing-masing. Disisi lain jalan terlihat gerobak pedati yang penuh dengan hasil bumi, begitu penuhnya hingga perlu ditarik oleh dua ekor sapi. Ranu yang baru kali ini melewati sebuah jalan raya tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada keramaian di jalan yang mereka lewati.


Hari sebelumnya ketika Riswana telah mengatakan tempat Atmik Api berada mereka pun segera bergegas untuk menuju desa Wiyati. Setelah melakukan persiapan dan rencana di rumah Adanu Rajendra pun berpamitan dan malam itu juga berencana segera pergi. Adanu melepas kan kepergian mereka dengan sebuah ucapan yang berupa sebuah janji "Panggillah kami kapanpun anda memerlukan bantuan, kami selalu siap dan ada untuk kalian" Katanya dengan penuh kesungguhan. Rajendra yang merasa senang dengan ucapan itu membalasnya dengan sebuah anggukan yang mantap.


Malam itu pun mereka segera terbang melintasi hutan Birama, karena jarak yang cukup jauh Ranu pun sampai jatuh tertidur di punggung Riswana. Menyadari jika malam telah larut para Atmik pun memperlambat laju mereka untuk memberi kesempatan Rajendra dan Ranu untuk beristirahat dalam perjalanan. Hal itulah yang sedikit menunda waktu mereka, hingga sampai fajar hampir menjelang mereka pun turun di sebuah bukit. Terlalu mencolok jika mereka meneruskan perjalanan seperti itu saat hari mulai terang. Akhirnya Rajendra dan Ranu pun memutuskan berjalan sedangkan para Atmik segera menghilangkan wujudnya.


Perjalanan mereka kini sudah sedikit lagi menuju Desa Wiyati, mereka sempat bertanya pada seseorang yang mengatakan hanya tinggal perlu melintasi sebuah perbukitan untuk sampai ke desa itu.


"Tinggal melintasi bukit itu dan kita akan sampai ke tujuan, apa kamu sudah merasa capek?" Kata Rajendra sambil menunjuk sebuah bukit yang sudah terlihat di depan mereka.


"Jadi sudah dekat, aku selalu senang melakukan perjalanan guru, jadi aku tak pernah merasa lelah" Jawab Ranu berbohong.


Melihat peluh dan nafasnya yang berat Rajendra pun tersenyum,


"Kita akan istirahat sejenak di kedai depan itu!" Rajendra mengarahkan pandangan ke kedai-kedai yang berdiri berjejer di jalan menuju bukit.


Ranu hanya menganggukan kepalanya menanggapi kata-kata dari gurunya. Rajendra kemudian memilih sebuah kedai yang tak terlalu ramai, dia ambil tempat duduk yang kosong dan duduk menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Silahkan tuan" Kata pelayan yang mungkin juga sekaligus pemilik kedai itu ketika datang mengantarkan pesanan mereka.


"Ya, terimakasih" Jawab Rajendra.

__ADS_1


"Sepertinya kalian bukan penduduk sekitar sini?" Tanya pemilik warung itu sambil memperhatikan Ke duanya.


"Memang, kami datang dari tempat yang jauh untuk melihat keajaiban di desa wiyati" Jawab Rajendra berpura-pura.


"Jadi tuan bermaksud membuktikan cerita orang tentang kawah-kawah disekitar desa itu?" Pemilik warung itu kemudian mengambil duduk disebelah Rajendra


"Ya, jika tidak salah desa itu sudah dekat kan dari sini?" Rajendra bergeser memberikan tempat.


"Ya desa itu tinggal berjarak sebuah bukit lagi dari sini, tapi sayangnya terlambat jika tuan datang sekarang!" Jawab pemilik warung itu.


"Maksud anda" Tanya Rajendra yang sedikit merasa bingung.


"Kawah-kawah di sekitar desa itu sudah tak lagi mengeluarkan api" Jawab pemilik warung itu yang kemudian berdiri karena ada pelanggan yang memanggilnya, "Maaf saya harus pergi" lanjutnya.


Rajendra yang merasa ingin lebih banyak tahu lagi tentang apa yang didengarnya berkali-kali menengok ke pemilik kedai, tapi karena dia terlalu sibuk melayani pelanggan, akhirnya Rajendra pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih banyak.


"Apa kalian mendengar apa yang orang itu katakan?" Tanya Rajendra pada para Atmik yang tak menampakan wujudnya.


"Ya, meskipun kami belum tahu arti dari semua itu!" Jawab Bayurajata.


"Lalu apakah mungkin jika hal itu terjadi karena Atmik Api sudah ada yang membebaskan?" Rajendra merasa khawatir.


"Sepertinya tidak, karena hamba masih merasakan jika Atmik Api ada di desa itu" Jawab Riswana.


"Sebaiknya kita bergegas" Rajendra mempercepat langkahnya, merasa tak sabar lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di desa Wiyati.

__ADS_1


Tepat sebelum senja datang mereka pun telah sampai di pinggir desa Wiyati. Hamparan ladang dan sawah nampak tumbuh hijau dan subur, terlihat beberapa petani yang tampak sedang membersihkan peralatan ladangnya. Sepertinya sudah tiba waktu untuk mereka pulang, Rajendra menghampiri para petani itu untuk bertanya. Kemudian para petani itu mengarahkan Rajendra untuk pergi ke rumah kepala desa,


"Kepala desa akan dengan senang hati menerima anda, dan besar kemungkinan dia akan menceritakan semua yang ingin anda tahu" Jawab salah satu petani itu yang lain pun tampak mengangguk setuju.


Rajendra kemudian berjalan mengikuti arahan petani tadi, dirinya kini telah sampai disebuah rumah yang ditunjukan.


"Permisi.." Rajendra setengah berteriak karena melihat bagian depan rumah yang kosong.


"Ya..." Terdengar jawaban dari dalam rumah, sekejap kemudian pria paruh baya berperawakan kurus dengan wajahnya yang tirus menyambut mereka.


"Apa bapak kepala desa Wiyati" Tanya Rajendra sambil membungkuk hormat.


"Ah ya nama saya Dhipa, apa yang bisa saya bantu?" Jawab orang itu dengan Ramah memperkenalkan dirinya.


Rajendra pun menjelaskan jika dirinya sengaja datang dari tempat yang jauh untuk melihat tentang keajaiban api abadi yang terkenal dari desa itu. Kepala desa itu pun mempersilahkan mereka untuk masuk ke rumahnya. Setelah mendengar penjelasan Rajendra dia kemudian berkata,


"Api itu kini telah padam" Dhipa memandang ke arah luar.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Rajendra dengan wajah serius.


Dhipa pun kemudian menceritakan yang dia tahu, dahulu di desa Wiyati memang terdapat sebuah gunung kecil yang selalu aktif. Penduduk menyebut gunung itu dengan nama Prabatatunu, meskipun gunung itu berapi tapi jarang sekali meletus dan menimbulkan kerusakan pada desa. Justru karena adanya gunung itu daerah di sekitarnya menjadi subur karena tanah nya yang kaya dengan mineral. Penduduk juga yakin jika kawah-kawah yang muncul disekitarnya adalah bagian dari lahar gunung itu.


Namun beberapa waktu yang lalu ketika itu malam bulan purnama, penduduk mendengar dengan jelas bunyi kilatan petir yang sangat keras. Sebagian penduduk mengira jika itu adalah suara gunung yang meletus, untuk memastikannya banyak penduduk yang keluar rumah untuk melihat ke arah gunung Prabatatunu. Mereka kemudian sadar jika itu bukan suara gunung yang meletus, beberapa saat kemudian bunyi gemuruh tanah yang keras menyusul. Tanah berguncang seolah terjadi sebuah gempa yang akan meruntuhkan desa, penduduk yang ketakutan pun berbondong-bondong pergi meninggalkan desa untuk menyelamatkan diri.


Guncangan tanah itu pun mereda, penduduk yang belum menyadari apa yang terjadi pun berangsur-angsur pulang ke rumah masing-masing. Saat pagi datang penduduk baru menyadari jika gunung Prabatatunu telah hilang, meninggalkan bekas sebuah lubang yang dalam dan lebar. Seolah kekuatan yang besar telah mencabut gunung itu sampai ke akar-akarnya.

__ADS_1


Rajendra saat ini sedang berada di pinggir lubang besar bekas dari gunung Prabatatunu. Para Atmik yang melihatnya pun merasa tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Dalam hati masing-masing tersimpan pertanyaan yang sama.


"Apa yang sebenernya telah terjadi??"


__ADS_2