
Panglima kerajaan yang melihat ketiga sosok pahlawan itu berjalan menuju benteng, segera memerintahkan prajuritnya untuk menurunkan gerbang benteng. Meski langit masih gelap mereka seolah melihat sebuah cahaya fajar dari ketiga sosok pahlawan di hadapan mereka, sebuah sinar yang membawa harapan baru. Rasa terimakasih mengalir dalam diri para prajurit kerajaan Shaminari, meski mereka tak mengenal ke tiga sosok tersebut namun pertolongan yang mereka berikan tak akan pernah terlupakan bagi para prajurit. Kegagahan dan kehebatan mereka dalam menghadapi pasukan pemberontak jelas terekam dalam benak masing-masing yang melihat.
Wajah prajurit penjaga pos penjagaan gerbang kerajaan terlihat menganga ketika melihat Rajendra dari dekat, nampaknya dirinya masih mengingat jelas jika Rajendra adalah orang yang pernah ditolak untuk masuk ke kota Ankara. Kini dirinya merasa malu dan menyesal karena tak percaya dan mengabaikan peringatan yang diberikan pada Rajendra beberapa hari yang lalu.
"Maafkan saya karena pernah melarang anda untuk masuk ke kota Ankara, jika saya boleh tahu siapakah nama tuan ini" Prajurit itu terlihat menyesal dan mengakui kesalahannya.
"Nama saya Rajendra, dan mereka adalah Agnigara dan Bayurajata, bolehkan saya bertemu dengan Raja Prabaswara? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada sang Raja" Jawab Rajendra dengan tersenyum seolah sudah melupakan kesalahan prajurit penjaga.
"Silahkan tuan-tuan masuk dan menunggu di sana, saya akan segera menyampaikan keinginan anda" Prajurit itu menunjuk ke sebuah tempat di belakang pos penjagaan sebelum akhirnya berlari tergopoh-gopoh menyampaikan pesan dari Rajendra pada Panglima kerajaan yang datang untuk menyambut ketiganya.
Dengan sikap hormat Panglima prajurit menemui Rajendra, "Raja Prabaswara akan senang menemui anda semua, mari ikut saya" Panglima itu kemudian menuntun ketiganya menuju kerajaan Shaminari.
Prajurit penjaga pos penjagaan terlihat memberitahukan nama ke tiga pahlawan itu pada teman-temannya, "Pahlawan itu bernama Rajendra, dan nama dua yang lain adalah Agnigara dan Bayurajata" sambil tersenyum puas karena merasa dirinya yang pertama tahu.
Nama Rajendra dan ke dua Atmik pun seketika menjadi buah bibir dikalangan para prajurit, nama ketiganya dengan cepat menyebar dan kemungkinan saat ini tak ada satupun dari prajurit-prajurit kerajaan yang akan melupakan nama-nama itu.
Mengesampingkan fakta jika Raja yang saat ini berkuasa adalah pihak musuh yang dulu dihadapinya dalam perang perebutan kekuasaan, Rajendra tetap mempunyai sebuah tanggung jawab untuk memberikan peringatan kepada Raja Prabaswara. Karena ancaman yang kemungkinan akan datang bukan lagi sekedar untuk meruntuhkan kekuasaan kerajaan Shaminari tapi bisa jadi akan memusnahkan peradaban manusia di negeri ini.
Gerbang masuk istana berupa sebuah gapura megah yang terbuat dari batu-batu yang tampak begitu kokoh, dua patung singa terlihat menghiasi kedua sisi gapura tersebut. Setelah melewatinya kini Rajendra telah sampai di halaman kerajaan Shaminari, istana di hadapannya tampak begitu gagah dengan setengah bangunan bagian bawahnya berupa batuan. Panglima kerajaan terus menuntun Rajendra melewati beberapa prajurit yang berjaga di sepanjang jalan masuk menuju aula kerajaan.
__ADS_1
Tak lama ketiganya telah sampai di tengah kerajaan Shaminari, sebuah singgasana terlihat diatas ruangan.
"Silahkan tunggu sebentar, biar saya mengabarkan kedatangan kalian pada Raja Prabaswara" Panglima itu berkata, lalu undur diri dan masuk ke sebuah ruangan lain di samping mereka.
Rajendra menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru istana, seperti ada sesuatu yang dia harapkan untuk dapat dilihat. Suatu kenangan membawa nya ke masa lalu betapa dulu keinginannya yang paling besar adalah untuk menyerbu ke istana ini dan menyelamatkan adiknya, tapi saat ini dirinya dengan mudah bisa berada di dalam istana ini datang dengan disambut ramah. Kini harapannya untuk menemukan adiknya terbuka "Aku akan coba menanyakannya nanti jika ada kesempatan" Katanya dalam hati.
Tak lama kemudian Raja Prabaswara telah hadir dihadapan mereka, meski tubuh Raja Prabaswara tak begitu besar namun kehadirannya seolah memenuhi ruang aula itu. Setelah duduk di singgasananya Sang Raja tampak mengamati ke tiga tamunya, wajah terpesona tak dapat disembunyikannya ketika melihat dua sosok Atmik di samping Rajendra.
"Aku sudah mendengar tentang apa yang telah kalian lakukan, sebagai seorang Raja aku ucapkan terimakasih, karena kalianlah kerajaan ini masih dapat diselamatkan" Raja Prabaswara tak berusaha menyembunyikan rasa hutang budinya pada ketiga pahlawan yang menyelamatkan kerajaan dari serangan pemberontakan.
"Hamba hanya melaksanakan kewajiban, tapi ada yang perlu yang mulia tahu jika semua ini belumlah berakhir" Jawab Rajendra seraya membukukan badannya.
"Belum berakhir? Apa maksudnya?" Raja Prabaswara sedikit merasa bingung.
"Pedang Hitam!!" Raja Prabaswara tersentak seketika berdiri dari singgasananya. Meskipun dirinya belum tahu pasti tentang cerita kutukan apa yang dibawa pedang hitam ketika telah muncul, kini dirinya benar-benar merasakan bahaya besar yang akan segera datang.
"Benar paduka" Jawab Rajendra dengan yakin.
Raja Prabaswara tak dapat lagi berkata-kata dirinya tampak kembali duduk dengan wajah yang lesu. Kekhawatiran jelas tergambar dari nya, setelah cukup lama termenung dirinya kemudian mencoba bertanya "Dan apakah kalian tahu bahaya seperti apa yang kiranya akan datang itu?".
__ADS_1
Rajendra kemudian menjelaskan semua yang dia tahu, dia menceritakan tentang mitos Prajurit Sastrika yang didengar dari Ratu suku Carani. Satu ancaman yang dia khawatirkan dengan munculnya pedang hitam ada kemungkinan jika Prajurit Sastrika akan mampu dibangkitkan lagi. Dan kisah kelam dari keganasan Prajurit Sastrika yang tak terkalahkan itu terkenal dengan kekejaman dan daya hancurnya yang dahsyat. Meskipun Rajendra sendiri belum tahu seperti apa wujud dari Prajurit Sastrika namun dirinya yakin jika calon musuh nya itu sangat kuat.
Raja Prabaswara mendengarkan cerita dari Rajendra dengan seksama, kini setelah mendengar apa yang Rajendra katakan dirinya menyimpulkan jika ternyata Prajurit Sastrika lah kemungkinan maksud dari kutukan yang dibawa Pedang Hitam. "Tak mungkin salah lagi itulah yang dimaksud kutukan itu" Kata Raja Prabaswara dalam hatinya dengan yakin.
Setelah diam sesaat Rajendra meneruskan ceritanya, "Meskipun keberadaan Prajurit Sastrika saat ini tak ada satu pun yang tahu, tapi tidak menutup kemungkinan jika salah satu siluman yang telah lama hidup mengetahui keberadaannya" Rajendra mencoba memperingatkan sang Raja.
"Lalu apakah yang harus kita lakukan? Tak mungkin aku menyerah begitu saja menghadapi ancaman bahaya yang mungkin akan datang itu" Jawab Sang Raja yang enggan untuk berputus asa "meskipun mungkin pasukan kerajaan yang ku miliki tak akan bisa mengalahkan Prajurit Sastrika tapi kami punya kehormatan yang harus kita junjung, kami punya tanggung jawab untuk melindungi penduduk, kami tetap akan maju berperang menghadapi mereka jika saatnya telah tiba".
Rajendra yang mendengarkan semangat pantang menyerah pada kata-kata sang Raja menjadi tersentuh. Dia yang awalnya mencoba untuk memberikan sarannya agar Raja Prabaswara dan yang lain untuk pergi mengungsi ke sebuah desa di selatan negeri ini menjadi sedikit ragu.
"Jika yang mulia bersikukuh untuk berperang hamba dan yang lain tentu saja siap membantu, namun jika ternyata keadaan memburuk bawalah orang-orang yang bisa anda ajak untuk pergi ke sebuah desa bernama Sentani di selatan negeri ini" Jawab Rajendra mengatakan tujuannya.
Raja Prabaswara mengerutkan dahinya dirinya sepertinya sedang mengingat nama desa itu, "Kenapa harus ke pergi ke tempat itu?" Tanya Raja Prabaswara.
"Hamba mendapatkan saran ini dari Ratu suku Carani, dikatakan jika disana orang-orang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk" Jawab Rajendra meyakinkan Raja Prabaswara, Rajendra berpikir jika saat ini tak mungkin mengatakan pada sang Raja apabila yang memimpin dan mempersiapkan segalanya di desa Sentani adalah Prabu Widyatmaka.
"Baiklah akan aku ingat pesan yang telah kau sampaikan itu, tapi aku harap hal itu tak akan terjadi. Kami akan melakukan dan mengerahkan segala upaya untuk mencegah kemungkinan terburuk itu terjadi" Raja Prabaswara bangkit dari singgasananya.
Rajendra yang sudah menyampaikan pesannya kini merasa sedikit lega. Melihat jika Raja Prabaswara tidak merasa takut dan panik dirinya menjadi kagum dan bersemangat untuk ikut berjuang bersama pasukan kerajaan Shaminari.
__ADS_1
Memang seperti itulah seorang Raja seharusnya bersikap, meskipun sebenarnya dirinya merasakan takut dan khawatir Raja Prabaswara tak ada sedikitpun niat untuk menunjukannya. Menurut pemikirannya jika seorang pemimpin telah kehilangan keyakinannya lalu kemanakah negeri ini akan dibawa. Maka dengan sepenuh keyakinan yang dia kumpulkan dirinya berusaha untuk tetap tenang dan akan terus menunjukan keberaniannya pada seluruh punggawa kerajaan dan rakyatnya.
Kini dengan peringatan yang telah Rajendra sampaikan kerajaan Shaminari telah bersiap untuk menghadapi ancaman bahaya yang mungkin akan segera datang. Meskipun tak ada jaminan mereka akan mampu meraih kemenangan, tapi seluruh kerajaan Shaminari akan terus berjuang dan tak akan membiarkan pemberontakan akan berkuasa dengan mudah.