Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Kekhawatiran Ranu


__ADS_3

Beberapa saat sebelum fajar, tepian danau di desa Grigis tampak ramai oleh penduduk setempat yang pulang dari tengah danau Tirtanara untuk menangkap ikan. Beberapa perahu tampak sudah ditambatkan dan yang lain terlihat akan menepi. Percakapan diantara mereka pun tak jauh-jauh dari hasil tangkapan mereka,


"Dapat banyak hari ini?" Tanya salah satu penduduk yang melihat temannya merapatkan perahunya ke tepi danau.


"Cukup banyak, setidaknya lebih banyak dari hari kemarin" Jawab orang yang menarik perahu ke tepian.


"Sepertinya cuaca sedang bagus, kalau hasilnya seperti ini terus, uang yang kita dapat juga lumayan...haha" Ucap orang pertama sambil tertawa.


Mereka pun akhirnya tertawa bersama, merasa senang dengan hasil tangkapan ikan yang mereka dapat.


Ranu terbangun oleh langkah-langkah kaki dan suara tawa penduduk yang berjalan pulang melewati gubug nya. Ketika Ranu telah sepenuhnya membuka mata, dia melihat ke sekeliling dan sadarlah jika dirinya sendirian.


"Kenapa guru belum kembali?" Katanya dalam hati merasa khawatir.


Mendengar suara langkah mendekat Ranu pun segera bangkit dan berlari membuka pintu, ternyata hanya seorang penduduk setempat yang hendak pulang setelah menangkap ikan di danau. Ranu kecewa karena mengira langkah kaki itu adalah gurunya, diapun keluar gubug dan menatap ke arah pulau Canala dalam hatinya yang mulai resah dia bertanya "Apa mereka baik-baik saja?".


...************...


Didalam sebuah gua di pulau Canala Rajendra yang baru saja membebaskan Atmik Air, terlihat sedang berbicara dengan Nadira.


"Hamba Nadinari Ruh Penjaga Air" Kata Atmik Air memperkenalkan dirinya saat pertama kali melihat Rajendra.


"Ya aku tahu engkau tentunya sang Atmik Air.." Ucap Rajendra sambil mengembalikan posisi pedang di punggungnya.


Nadira tampak tertegun sepertinya sedikit heran dengan ucapan Rajendra yang tahu tentang sebutan "Atmik". Keheranannya seketika lenyap ketika dia melihat benda yang ada ditangan kiri Rajendra.


"Oh..sepertinya tuan sudah mendengar cerita tentang para Atmik dari Riswana tentunya, dan siapakah nama tuan" Kata Nadira setelah melihat Perisai Serigala Putih di tangan kiri Rajendra.

__ADS_1


"Namaku Rajendra dan memang benar, Riswana sudah menceritakan sedikit tentang kalian" Jawab Rajendra yang berpikir meskipun Riswana telah banyak bercerita tentang Atmik tapi bisa saja masih banyak lagi rahasia yang belum di ceritakan.


"Dan sepertinya dia cukup menyukai anda tuan..." Kata Nadira tersenyum tipis seolah menahan sebuah kata-kata yang dia rahasiakan.


"Maksudmu?" Tanya Rajendra yang tidak paham dengan maksud ucapan Nadira.


"Hehe..tidak tuan, lupakan saja kata-kata saya yang tadi" kata Nadira sambil tertawa kecil. Nadira tak mengatakan sesuatu yang dia ketahui kepada Rajendra, sebuah rahasia yang mungkin baru para Atmik saja yang tahu.


Rahasia dari para Atmik itu adalah, ketika sang Atmik merubah wujudnya menjadi sebuah senjata, maka warna senjata itu akan berbeda. Ketika Para Atmik dipaksa atau disuruh berubah wujud menjadi senjata, maka senjata itu akan berwarna hitam kecoklatan seperti warna besi pada umumnya, Dan kekuatan yang diberikan senjata itu tidaklah sepenuhnya. Namun ketika para Atmik merubah wujudnya karena keinginan sendiri maka senjata itu akan berwarna serupa dengan wujud Atmiknya dan tentu saja seluruh kekuatan sang Atmik diberikan pada pemegang senjata itu.


Itulah sebab mengapa Nadira mengatakan jika Riswana menyukai Rajendra, karena dia melihat Perisai yang di tangan Rajendra berwarna putih. Warna yang serupa dengan wujud Atmiknya Riswana sang Serigala Putih. Mengartikan jika Riswana sepenuhnya percaya dan mempersembahkan kekuatan yang dia miliki untuk Rajendra.


"Apa engkau bisa terbang??" Tanya Rajendra pada Nadira sambil berjalan mendekat.


"Terbang.., tentu saja bisa..." Jawab Nadira tergagap karena tersadarkan dari lamunannya.


"Memangnya tuan mau pergi kemana?" Tanya Nadira.


"Aku meninggalkan murid ku di desa Grigis yang berada di seberang danau, tentunya saat ini dia pasti mengkhawatirkan ku karena sudah aku tinggalkan semalaman" Jawab Rajendra sambil memandang ke arah luar gua. Terbayang oleh Rajendra mungkin saat ini Ranu sedang berusaha mencarinya dan sesuatu hal yang Rajendra takutkan adalah jika Ranu nekat untuk membawa perahu ke pulau Canala. Mengingat sifat Ranu yang tak mudah merasa takut kemungkinan itu jelas bisa saja terjadi.


"Lalu apa kita akan pergi sekarang?" Tanya Nadira sambil mengikuti Rajendra yang sudah berjalan ke arah luar gua.


Rajendra tak langsung menjawab dia terus melangkah keluar gua, sepertinya untuk memastikan waktu saat itu. Ketika dia keluar ternyata pagi sudah datang, cahaya matahari sudah menerangi seluruh tempat di pulau Canala. Rajendra melihat ke sekeliling pulau, dirinya merasa kagum dengan keadaan hutan di pulau Canala, ternyata hutan terlihat sangat indah ketika diterangi cahaya matahari pagi. Tenggelam dalam kekaguman untuk sesaat Rajendra lupa dengan pikirannya pada Ranu, ketika akhirnya dia melihat Nadira yang sudah berada di sampingnya Rajendra pun tersadar.


"Pastinya saat ini terlalu terang untuk menyamarkan diriku jika engkau membawaku terbang ke desa itu" Kata Rajendra pada Nadira, tentu saja maksudnya jika dia terbang ke desa sekarang pasti setidaknya ada satu orang yang akan melihatnya. Dan Rajendra tentunya tidak ingin itu terjadi.


"Ya saya rasa begitu tuan, tentunya jika hamba membawa tuan terbang ke sana akan ada beberapa orang yang melihat" Jawab Nadira paham maksud dari kata-kata Rajendra.

__ADS_1


Rajendra terdiam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Jika dia menunggu sampai gelap kemungkinan Ranu untuk menyusulnya ke pulau Canala semakin besar. Bukan saja dia mengkhawatirkan jika Ranu akan jatuh dan tenggelam di danau, tapi Rajendra juga khawatir jikapun Ranu berhasil sampai pulau Canala dirinya akan tersesat dalam hutan di pulau ini.


Rajendra kemudian ingat tentang asal usul danau ini, dan karena pulau ini sekarang sudah aman. Rajendra ingin menyampaikan kepada penduduk di sekitar desa Grigis untuk tidak perlu takut lagi datang ke pulau Canala.


"Tentunya kau bisa berubah ke wujud Atmikmu kan?" Tanya Rajendra pada Nadira.


"Tentu tuan, apa tuan mau hamba berubah sekarang?" Jawab Nadira yang belum paham dengan tujuan pertanyaan Rajendra.


"Ya, aku punya rencana" Kata Rajendra menunjukan senyum tipis penuh misteri.


...**********...


Hari sudah menjelang siang, di tepian danau Tirtanara terlihat Ranu yang berjalan mondar-mandir sambil sesekali berhenti dan menengok ke arah pulau Canala. Dirinya sudah merasa sangat khawatir dengan keadaan gurunya yang tak kunjung pulang, terbayang sekilas dalam benaknya hal buruk mungkin saja sudah terjadi pada gurunya. Tak dapat lagi membendung perasaan khawatirnya, Ranu pun berlari ke arah pemilik gubug, sepertinya dirinya mencoba mencari bantuan.


"Pak..... Bisakah bapak membantu saya?" Ucap Ranu pada pemilik gubug yang sedang terlihat melayani beberapa tamu di kedainya.


Melihat Ranu nafasnya memburu dan nada gawat pada kata-kata yang dia ucapkan pemilik gubug pun segera menghampiri Ranu,


"Apa yang terjadi? Apa yang bisa saya bantu?" Tanya pemilik gubug itu berusaha mencari tahu keinginan Ranu.


"Apa bapak bisa membantu saya untuk pergi ke pulau Canala??" Kata Ranu menjelaskan maksudnya.


"Ke pulau Canala? Untuk apa?" Jawab Orang itu tak dapat menutupi keterkejutan di wajahnya.


"Guru saya ada disana, saya ingin pergi menjemputnya !" Kata Ranu dengan nada serak berusaha menahan tangisnya.


"Apa? Bagaimana bisa?" Jawab pemilik gubug lebih kaget lagi.

__ADS_1


Ranu tak bisa menjawab pertanyaan itu, dirinya tak bisa menjelaskan cara gurunya pergi ke pulau itu, akhirnya bahu Ranu tampak mengejang diapun mulai terisak dan hanya bisa menjawab pertanyaan pemilik gubug dengan air matanya.


__ADS_2