
Matahari mulai terbit di ufuk timur, cahaya nya terasa lembut menyinari dedaunan yang dipenuhi embun. Suara kicau burung-burung dan gemrisik air sungai terdengar berirama, menciptakan nyanyian alam yang begitu indah. Sungai itu mengalir semakin deras masuk ke sebuah hutan dan membentuk air terjun yang cukup tinggi.
Di bawah jatuhnya air terjun tampak sosok tubuh manusia yang sedang duduk bersila dengan tenang, seolah tak terusik dengan keadaan sekitar, bahkan dinginnya air sungai yang membeku itu sama sekali terhiraukan. Sosok itu tak lain adalah Rajendra, sepertinya dirinya sedang menjalani latihan khusus. Tubuhnya seolah sedang ditempa oleh alam untuk dibentuk jadi manusia yang lebih kuat. Dirinya hampir tak sadar sudah berapa hari yang dia lewati dengan bertapa diam dibawah air terjun itu.
Beberapa waktu sebelumnya, ketika dia berhasil mencabut pedang di sebuah dinding di dalam gua, dirinya melihat sosok tua berjenggot putih yang mengenalkan dirinya dengan nama Mahesa. Percakapan itu masih melekat erat di benak Rajendra ;
"Sudah lama aku menunggumu.." sosok tua itu berkata sambil mengelus jenggotnya yang putih itu.
"Menunggu ku?" Jawabnya heran, keheranan yang melebihi kekagetan nya melihat sosok yang tiba-tiba muncul didepan nya itu.
"Ya, sudah lama aku menunggu seseorang yang ditakdirkan untuk memiliki pedang itu.." Jawab sosok tua itu menunjuk ke arah pedang yang di bawa Rajendra.
Sambil melihat ke arah pedang mempesona yang dibawanya Rajendra kelihatan bingung untuk berkata-kata. Dengan ragu dia bertanya,
"Pedang ini sepertinya bukan pedang biasa?, ketika saya melihatnya pertama kali pedang ini nampak bercahaya".
__ADS_1
Sosok tua itu hanya tersenyum dan membalas pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan,
"Apa cuma itu yang kamu rasakan pada pedang itu?" terlihat sambil bertanya sosok berjenggot putih itu ingin menilai ketajaman indera-indera dalam diri Rajendra. Pengamatan sekilas jelas sosok tua itu yakin jika secara fisik tubuh pemuda di depannya itu nampak kuat, otot-otot pada tubuhnya tidak terlalu besar tapi kelihatan begitu lentur, syarat yang harus ada pada calon pendekar sakti. Tapi dia juga merasa jika masih ada sesuatu yang liar pada diri pemuda ini, ada semacam kekejaman yang tak kenal rasa iba, keberanian yang tak mengenal rasa takut mirip sekali dengan keberanian binatang buas.
"Tidak, tidak hanya itu, ada hal lain lagi yang saya rasakan ketika memegang pedang ini, perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata" Rajendra mencoba menjawab tanpa keyakinan pada ucapannya, kemudian dia mencoba memilih kata yang tepat dan melanjutkan "Tak bisa saya menjelaskannya secara tepat, tapi ketika saya menggenggam pedang ini ada semacam kekuatan yang masuk ke tubuh, seolah saya merasa ada semangat besar yang bergelora dalam diri, saya merasa siap bertarung dengan siapa saja dan merasa tak terkalahkan.." kali ini suaranya terdengar lebih mantap dan yakin.
"Seperti itu ya.." Sosok tua itu nampak mengangguk-anggukan kepalanya seolah sependapat dengan Rajendra.
Kini dirinya makin yakin jika memang Rajendra lah orang yang tepat memiliki pedang itu, "*H*anya perlu sedikit latihan dan pencerahan agar bisa menghilangkan kebuasan pada diri pemuda ini " katanya dalam hati.
Konon dikisahkan saat itu dunia sedang diambang kehancuran, perang perebutan wilayah kekuasaan hampir terjadi setiap hari. Raja-raja penguasa di buta kan dengan keserakahan, hutan yang dibakar, desa yang dijarah dan pembantaian rakyat menjadi pemandangan yang umum saat itu. Sungguh gambaran kehancuran dunia yang nampak begitu nyata.
Tapi saat itu, di ujung negeri ada sosok Raja yang sangat miris melihat kekacauan ini, menurutnya tak ada gunanya bisa memperluas wilayah kekuasaan jika tak dibarengi dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Maka Raja yang bijaksana itu pun bertapa dan memohon kepada dewa agar bisa mendapatkan kekuatan yang dapat menyatukan negeri ini. Doanya pun dijawab, ketika Raja yang bijaksana itu bertapa dia mendapatkan mimpi yang menyuruhnya untuk pergi ke arah gunung Meranti.
Merasa tahu tempat yang dimaksud, dia pun bergegas pergi ke gunung itu. Ketika dia sampai di kaki gunung, tiba tiba kilat menyambar-nyambar, dia melihat kilat yang menyambar itu mengarah ke sebuah batu secara berulang-ulang. Diapun segera mendekati arah kilatan petir itu, ketika dia sampai, dia melihat bahwa kilatan itu telah membelah sebuah batu besar.
__ADS_1
Didalam batu yang terbelah itu, dia melihat sesuatu yang nampak bercahaya kebiruan, cahaya yang menyilaukan mata itu menyamarkan bentuk benda itu. Ketika cahaya itu berangsur memudar maka tampaklah jika benda itu adalah sebuah Pedang. Maka diambil lah pedang itu dengan tanganya, ketika pedang itu berada pada genggaman sang raja, seketika cahaya berkilau muncul dari ujung pedang itu, cahayanya seolah mengalir dari ujung pedang ke tubuh sang Raja.
Pedang itu telah memberikan kesaktian yang sangat kuat pada sang Raja. Merasa sudah memiliki kekuatan yang mampu menyatukan, maka dengan segenap pasukan yang dia miliki, diapun memerangi segala angkara di seluruh negeri. Kesaktian sang Raja yang dia dapat dari pedang yang di berikan dewa kepadanya sangat hebat, sehingga tak ada penguasa-penguasa lalim yang dapat menghentikan gempuran Raja itu dan pasukannya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Raja itu berhasil menyatukan seluruh negeri dibawah kekuasaannya, rakyat pun yang merasa senang karena akhirnya kedamaian dapat terwujud dan perlahan mulai bisa membangun kembali kehidupannya. Raja pun memerintah dengan adil dan penuh kebijaksanaan. Negeri besar itupun menjadi makmur, merasa keinginannya sudah dapat tercapai raja itupun membagi wilayah nya menjadi dua dan mewariskan ke dua kerajaan pada anak-anaknya, Raja itu pun mengundurkan diri ke pegunungan dan tidak ada lagi yang melihatnya. Dua kerajaan itu sekarang dikenal dengan nama Shaminari dan Bhawana.
Cerita legenda itu sepertinya begitu merasuk dalam diri Rajendra, maka ketika dia selesai mendengarkan kisah itu dirinya menjadi sangat bersemangat, dirinya ingin seperti raja itu dia juga ingin menyelamatkan adiknya. Ketika dia mengungkapkan keinginannya itu, Mahesa menjawab ;
"Ada hal yang mesti kau lakukan dulu sebelum dapat memiliki kekuatan itu, engkau mesti melatih pengendalian diri, hatimu harus di cerah kan agar engkau dapat memperhalus sifat-sifat buruk yang ada dalam dirimu, dan tubuhmu juga harus mendapat tempaan agar kuat menerima kekuatan pedang itu.."
"Jadi.. apa yang harus kulakukan" Rajendra bertanya dalam kebingungannya.
"Aku akan melatih mu, akan ku turunkan semua ilmuku padamu.."
Maka dimulailah latihan keras yang harus Rajendra lalui, dan bertapa di bawah air terjun adalah akhir dari ujian yang harus dia hadapi.
__ADS_1