Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Siluman Serigala Putih


__ADS_3

Suara serangga mulai berdengung, matahari sudah hampir tenggelam, langit dia atas desa Maruya makin menggelap. Rajendra masih terlibat percakapan dengan Darya, beberapa orang tampak menyalakan lampu minyak untuk menerangi mereka.


Desa Maruya dahulu adalah desa yang lebih maju lagi, tapi seiring mitos yang berkembang banyak para pedagang yang mulai enggan datang ke desa itu untuk membeli hasil panen dan kerajinan penduduknya. Mitos itu justru mengundang beberapa pendekar yang kadang beberapa diantaranya justru menimbulkan kekacauan di desa Maruya, karena tak semua pendekar yang datang memiliki tujuan yang baik.


" Aku akan kesana ! " Kata Rajendra pada Darya.


" Maksud anda? " tanya Darya mencoba mencari tahu arti kata-kata yang diucapkan Rajendra.


" Malam ini juga aku akan ke bukit itu, untuk mencari tahu kebenaran mitos yang ada disana" ucap Rajendra menjelaskan.


Semua orang tampak hanya terdiam mendengar kata-kata Rajendra seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengarkan,


" Apa anda yakin? " Tanya kepala desa mewakili semua pertanyaan orang-orang disitu.


" Ya, saya yakin, tapi bolehkah saya minta tolong sesuatu? " Kata Rajendra sambil memandang wajah Ranu yang mulai merasa tak enak mendengar gurunya akan pergi lagi ke bukit itu.


" Apa yang bisa saya bantu? " Tanya Darya.

__ADS_1


" Jika saya tak kembali, tolong anda jaga murid saya ini, meskipun dia sedikit nakal tapi sebenarnya dia anak yang cerdas dan baik " kata Rajendra sambil mengelus kepala Ranu.


Kaget mendengar kata-kata gurunya, air mata Ranu seolah mau keluar tapi ia berusaha menahannya dia berusaha menutupi dengan mencoba tersenyum, tapi sia-sia saja karena senyum yang dipaksakan itu jadi terlihat aneh di wajah Ranu. Ia tatap wajah gurunya yang tampak serius itu, kemudian terbayangkan oleh dirinya jika belum lama dirinya merasa tak sendirian lagi di dunia ini, apakah hanya sesaat saja dia akan merasakan kebahagian itu, apakah dia akan hidup sebatang kara lagi di dunia ini? Bayangan itu tiba-tiba saja memecahkan tangisnya yang berusaha dia tahan,


" Guru tak perlu ke sana.., aku tak ingin kehilangan guru.." kata Ranu sambil terisak mencoba mencegah tekad gurunya.


Sesaat Rajendra menatap kasihan ke arah muridnya, terbayang olehnya jika mungkin saja anak itu akan menjadi sebatang kara lagi, tapi tekadnya sudah bulat dan tangisan dan rengekan Ranu tak akan bisa merubah tekadnya.


" Aku akan kembali, jangan khawatir " kata Rajendra tersenyum berusaha meyakinkan dan menghibur Ranu.


" Aku akan pergi sekarang.." kata Rajendra.


Ranu yang merasa sudah tak bisa lagi menahan keinginan gurunya, hanya bisa terdiam terpaku melihat gurunya sudah pergi ke luar teras, dia tahu gurunya kuat tapi dia tidak bisa meyakinkan hatinya jika gurunya akan bisa kembali esok pagi. Seseorang tampak memberikan pelita pada Rajendra, dan beberapa terlihat mengantarkan Rajendra keluar desa. Ranu menatap kepergian mereka hingga akhirnya hanya terlihat cahaya pelita yang mereka bawa kemudian hilang ditelan kegelapan.


Rajendra sudah berjalan menuju ke arah bukit, dan orang-orang yang mengantarkannya pun sudah kembali ke rumah kepala desa. Ketika Rajendra memutuskan untuk ke bukit malam itu juga, karena dia berpikir jika benar memang ada siluman di bukit ini maka besar kemungkinan lebih mudah memancingnya keluar di malam hari. Bukit serigala sudah terlihat di depan Rajendra, diapun tak membuang waktunya untuk segera melangkah masuk.


Saat dia sudah sampai ke tengah bukit ternyata anggapannya keliru, ternyata keadaan malam di bukit saat ini justru terasa tentram, suara serangga yang mendengung berirama menambah damai suasana dalam bukit, jauh dari kesan seram seperti siang saat dirinya pertama memasuki bukit itu. Dia coba mengarahkan pelita yang dibawanya ke penjuru bukit, namun tak ada satupun yang terlihat mencurigakan.

__ADS_1


Maka Rajendra memutuskan untuk mencoba menunggu dan menghabiskan malam ini di dalam bukit serigala. " nyala api mungkin akan menarik perhatiannya " kata Rajendra dalam hati, dicarinya beberapa daun kering dan dahan yang dilihatnya lalu dibuatlah api dari dahan dan daun yang dia temukan. Nyala api seolah menari mengikuti arah angin yang meniupnya, membuat bayangan tubuh Rajendra terlihat bergoyang aneh jika sekiranya ada orang yang melihat mungkin akan mengira bayangan itu adalah siluman yang menunggu bukit serigala.


Malam semakin larut tapi tanda-tanda kemunculan aura jahat yang Rajendra tunggu tak juga datang, terlalu lama menunggu membuat rasa kantuk datang Rajendra pun jatuh tertidur.


Suara dahan patah membangunkan Rajendra, saat itu hampir fajar keadaan bukit sudah lebih terang, sambil memicingkan mata dia menengok ke arah suara itu. Tak terlihat apa-apa, tapi aura kejahatan yang siang tadi dirasakannya kini muncul lagi dia segera melesat ke arah pusat aura itu. Ketika sampai, kabut tipis terbentuk disekitar Rajendra semakin lama makin menebal membentuk semacam dinding yang membutakan pandangannya.


Merasa dalam bahaya dirinya memasang sikap bertahan dia cabut pedang dari sarungnya cahaya biru berpijar lembut dari pedang itu, di tebaskan pedang itu seolah hendak membelah udara, suaranya berdecit menimbulkan gelombang serangan berwarna biru yang membelah kabut yang mengelilinginya.


Kabut itu seketika lenyap dan kini tiba-tiba Rajendra dapat melihat sosok besar di hadapannya, sosok itu mirip serigala yang besar tapi berdiri dengan ke dua kaki belakangnya, bulunya berwarna putih begitu putih hingga seolah tampak bersinar. Wajah mahkluk itu tampak menyeramkan dengan taring dan matanya yang terlihat memancarkan sinar, sosok itu tiba-tiba memandang langit dan melolong suaranya memekakkan telinga, suara yang kiranya akan menciutkan nyali siapa saja yang mendengarnya.


Tapi Rajendra dapat merasakan suara yang keluar dari mahkluk itu bukan suara amarah lebih pada ratapan, semakin dia amati mata mahkluk itu pun tampak berkaca-kaca bukan bersinar seperti yang pertama dia kira. Mata mahkluk itu terlihat menyorotkan kesedihan mengingatkannya pada mata anak kecil saat merajuk meminta sesuatu. Dan kakinya dia melihat kedua kaki mahkluk itu terbelenggu, melihat semua itu dia kemudian merasa jika mungkin mahkluk dihadapannya bukan hendak menyerang tapi lebih kepada ingin membutuhkan pertolongan.


" Siapa engkau sebenarnya dan apa mau mu? " Seru Rajendra mencoba berbicara pada mahkluk itu.


Mahkluk itu menurunkan wajahnya lalu menoleh ke arah Rajendra seolah tahu apa yang Rajendra ucapkan, entah karena merasa senang karena ada yang mau berbicara dengannya atau mungkin merasa takut mengetahui kekuatan pedang yang Rajendra bawa. Mahkluk itu kemudian mengangkat sebelah tangan lalu menurunkan tanganya pelan sampai ke depan dadanya seketika kabut mulai muncul menyelimuti mahkluk itu semakin lama makin menebal kemudian berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan.


Secara reflek Rajendra menutup mata dengan sebelah tangan untuk menghindari kilau cahaya itu, kabut dan cahaya itu mulai menghilang mata Rajendra pun perlahan dapat melihat dari balik tangannya jika mahkluk yang mengerikan tadi telah berubah menjadi wanita yang sangat cantik dengan busana yang biasa dikenakan wanita-wanita bangsawan kerajaan, mahkluk itu kini lebih mirip gambaran seorang dewi dalam cerita dongeng dari pada sosok siluman.

__ADS_1


__ADS_2