Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Firasat Buruk


__ADS_3

Keberhasilan Patih Pramana menguasai Ajian Atmaanjana kini membuat dirinya kekal, dia tak akan bisa dibunuh dan lukanya akan segera pulih selama kakinya masih memijak tanah. Dirinya kini sedang tampak keheranan melihat bekas luka karena serangan Wanara di tangan kirinya yang sudah pulih.


"Jadi inilah kekuatan yang dimiliki oleh orang yang menguasai Ajian itu?" Tanya Patih Pramana pada Wanara.


"Begitulah tuan, tapi tubuh anda masih bisa mendapatkan luka, untuk mendapatkan ilmu pedang hitam kini anda tinggal selangkah lagi mencapai tujuan itu" Kata Wanara sedikit menjelaskan karena sebenarnya dia sudah tahu jika Patih Pramana telah mendapatkan petunjuk dalam pertapaannya.


"Ya, aku tahu, aku harus pergi untuk menemui Shengkara, aku sudah tahu keberadaannya dalam penglihatan yang aku dapatkan dalam akhir pertapaan ku" Ucap Patih Pramana sambil menatap ke arah barat, seolah dia dapat melihat tujuannya dari tempatnya sekarang.


"Dan dimanakah dia berada tuan?" Tanya Wanara penasaran dengan persembunyian teman silumannya itu.


"Gunung Basanta" Jawab Sang Patih sambil menghadapkan mukanya menatap Wanara.


...********...


Di desa Grigis terlihat Rajendra sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanannya malam itu dia melihat bulan bersinar penuh, artinya saat ini dia bisa membawa Perisai Serigala Putih di bawah sinar bulan agar bisa kembali menjadi wujud Atmik hutan. Dengan begitu dirinya akan tahu kemana tujuan selanjutnya,


"Terima kasih atas segala kebaikan yang bapak berikan selama saya tinggal di sini" Ucap Rajendra sambil membungkukkan badannya pada pemilik rumah tempatnya menginap.


"Tak usah sungkan, justru sebenarnya saya lebih merasa berat melihat anda harus pergi" Jawab pemilik rumah sedih seolah yang akan pergi adalah anaknya sendiri.


"Semoga saya ada kesempatan untuk datang lagi ketempat ini pak" Ucap Rajendra untuk menghibur pemilik rumah yang baik itu.

__ADS_1


"Saya harap juga demikian" Kata pemilik rumah setengah berharap ucapan tamunya itu kelak bisa jadi kenyataan.


"Kami pergi sekarang pak" Ucap Rajendra mewakili pamit dari muridnya juga.


"Ya jaga diri kalian baik-baik" Kata empunya rumah melepas dengan berat hati sosok yang sangat dia kagumi itu pergi dari rumahnya. Orang tua yang baik itu masih melihat ke arah dua orang yang berjalan meninggalkan desa hingga tubuh keduanya hilang dalam kegelapan.


Ketika sudah sampai ditengah hutan Ranu pun mulai menanyakan tentang Riswana,


"Dimana Riswana guru? Apa dia belum kembali?" Tanya Ranu yang sebelumnya sempat menanyakan hal yang sama dan di jawab Rajendra dengan mengatakan jika Riswana sedang pergi dan akan kembali saat malam purnama.


"Sebentar lagi dia akan datang" Jawab Rajendra sambil mengangkat tangan kirinya keatas, ditangan kiri itu sebenarnya ada Perisai Serigala Putih yang tidak menampakan wujudnya.


Cahaya bulan segera menyinari perisai itu dan merubahnya menjadi kepulan asap putih yang sangat tebal. Bersamaan dengan perubahan Riswana menjadi wujud Atmiknya tiba-tiba mereka mendengar bunyi guntur yang begitu keras. Itu adalah bunyi petir hitam yang menyambar di gunung Wanamawa. Setelah bunyi itu hilang keheningan segera saja terjadi, Rajendra, Riswana dan Nadira yang tiba-tiba menampakan dirinya dapat merasakan sebuah firasat buruk. Ranu yang hanya merasa kaget menutup kedua telinganya dengan tangan, dia tak dapat merasakan aura jahat yang begitu kuat.


Kedua Atmik itu saling memandang seolah tak ingin mengatakan sesuatu yang mereka ketahui, Riswana kemudian memilih untuk mengatakannya.


"Hamba pernah merasakan sesuatu seperti ini beberapa puluh tahun yang lalu tuan, suatu tanda yang tak salah lagi jika saat ini ada seseorang yang sudah menguasai sebuah ilmu hitam yang sangat terlarang" Ucap Riswana menjelaskan apa yang dia tahu.


"Entah siapapun orang itu dirinya pasti kini sedang berusaha mendapatkan ilmu Pedang Hitam, dan sepertinya dia sudah berhasil melakukan setengah dari usahanya itu" Sambung Nadira sambil menatap ke arah sumber suara yang terdengar jauh itu.


"Apa maksud kalian? Aura ini jelas terasa bukan dari manusia" Sanggah Rajendra yang dengan jelas merasakan besarnya aura jahat yang kuat. Dirinya yang sudah sering merasakan hawa jahat dari siluman, merasa jika aura yang dia rasakan saat ini bahkan melebihi dari siluman-siluman yang pernah dia hadapi.

__ADS_1


"Ilmu hitam terlarang yang bahkan keberadaanya disembunyikan dari dunia ini namanya adalah Ajian Atmaanjana, seseorang yang telah menguasainya tubuhnya akan kekal selama kakinya memijak tanah. Tentu saja orang yang berhasil menguasainya dirinya telah berwujud setengah siluman" Kata Riswana menjelaskan apa yang dirasakan Rajendra.


"Dan yang lebih menakutkan lagi jika orang ini kemudian berhasil mempelajari ilmu hitam yang ke dua tuan" Sela Nadira sambil menatap ke arah Riswana.


"Jelaskan semua padaku sekarang!!" Kata Rajendra yang sudah merasa perlu mengetahui semua tentang orang yang kemungkinan akan jadi musuh terbesarnya.


"Orang yang sudah menguasai Ajian Atmaanjana, kemungkinan akan berusaha menguasai ilmu hitam yang kedua yaitu Ajian Candanisukma untuk menyempurnakan kekuatan ilmunya. Ilmu hitam yang kedua akan membuat tubuh orang yang menguasainya menjadi kebal terhadap senjata biasa. Dan yang lebih menakutkan di atas semua itu orang yang berhasil menguasai keduanya akan mampu menciptakan senjata yang akan membawa kehancuran bagi dunia ini" Kata Riswana bergidik membayangkan ketakutannya seolah akan segera terjadi.


"Selama ini belum ada satu manusia pun yang berhasil menguasai ke dua ilmu itu, jika hal itu sekarang sampai terjadi saya khawatir dunia akan mengalami kehancuran" Kata Nadira yang merasakan ketakutan yang Riswana rasakan.


"Jika begitu kita harus bergegas menemukan semua Atmik yang tersisa" Ucap Rajendra seperti punya firasat jika sosok misterius yang sedang mereka bicarakan ini kemungkinan nanti juga akan mencari Atmik.


" Baik tuan" Kata Riswana dan Nadira hampir bersamaan seolah paham dengan maksud Rajendra.


"Jadi dimana Atmik yang paling dekat dari tempat ini" Tanya Rajendra pada Riswana.


"Atmik tanah, Dia berada di gunung Japadipa" Jawab Riswana dengan cepat.


"Sebaiknya kita bergegas tuan" Sela Nadira yang sudah tahu tujuan mereka.


Kedua Atmik itu pun berubah ke wujud Atmiknya dan menyuruh Rajendra dan Ranu untuk naik ke atas tubuh mereka. Ranu yang dari tadi mendengarkan kini merasakan apa yang mereka bertiga khawatirkan, perjalanan pun dilakukan dengan terbang agar mereka bisa secepatnya sampai ke tujuan. Ranu yang berada diatas tubuh Atmik Riswana berada sedikit lebih depan dari Rajendra yang berada di atas tubuh Atmik Nadira.

__ADS_1


Dalam diam Rajendra sepertinya sedang berpikir tentang calon musuh besarnya, dia merasakan sedikit keraguan tentang kesiapannya saat ini untuk menghadapi sosok misterius itu. Namun kemudian dia mendapatkan keyakinannya kembali, terlintas sebuah pemikiran jika memang untuk inilah dirinya ditakdirkan. Jika bukan dirinya lalu siapa lagi yang akan mampu menghentikan pemilik aura jahat yang begitu besar itu, dirinya kini hanya terfokus untuk secepatnya menemukan Atmik yang tersisa.


"Aku tak boleh gagal" Kata Rajendra dalam hatinya menancapkan sebuah tekad yang kuat dalam dirinya.


__ADS_2