Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Hutan Wanamawa


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang, panas matahari mulai terasa menyengat terlihat Rajendra sedang berjalan bersama Darya dan Ranu menuju rumah kepala desa. Ketika mereka melewati beberapa orang petani yang sepertinya sedang berteduh di gubug tepi ladang, kepala desa menghampirinya.


" Sekarang keadaan desa sudah aman, kalian sudah bisa jalan melewati bukit itu, tolong kalian kuburkan beberapa mayat di sekitar jalan menuju bukit, mereka adalah orang-orang yang menimbulkan kekacauan selama ini " perintah Darya pada petani-petani itu.


" Baik pak, terima kasih " kata salah satu dari mereka mewakili semuanya.


" Berterima kasihlah pada orang itu, dialah yang berhasil membebaskan desa kita dari kekacauan ini " ucap darya sambil menunjuk ke arah Rajendra.


Mereka pun langsung berbondong-bondong pergi ke hadapan Rajendra, dengan menunduk mereka ucapkan rasa terima kasihnya pada orang yang membuat desa Maruya kembali damai bebas dari rasa takut yang selama ini sering mengganggu aktivitas mereka. Rajendra menerima mereka dengan senyuman, dia merasa senang karena sekali lagi dia telah menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk membantu orang lain.


Perlahan Rajendra kini bisa merasakan kebahagian ketika bisa melihat orang lain bahagia, melihat dirinya bisa membuat senyum-senyum yang penuh ketulusan di wajah orang lain membuat jiwanya merasa damai. Dalam perjalanan yang baru dimulai ini setidaknya Rajendra mulai banyak dikenali karena jasa dan kebaikannya dan yang lebih penting lagi dirinya kini mempunyai teman, dua orang sahabat yang akan menemani perjalanan-perjalanannya ke seluruh penjuru negeri.


Para petani itu pun minta ijin undur diri dan segera melaksanakan perintah kepala desanya, dan Darya mengajak Rajendra dan Ranu untuk melanjutkan langkahnya ke arah rumahnya. Mereka kini telah sampai ke rumah Darya, Rajendra dan Ranu dipersilahkan duduk sementara Darya masuk ke dalam rumahnya untuk menyiapkan perjamuan bagi dua orang di teras rumahnya. Setelah menyelesaikan persiapannya tuan rumah mempersilahkan para tamunya untuk masuk, di sebuah meja tampak sudah tersedia berbagai makanan.


" Silahkan dinikmati , ini sekedar bentuk kecil rasa terimakasih saya mewakili seluruh penduduk desa ini " kata Darya ramah kepada tamu-tamunya.


" Maaf jadi merepotkan anda " kata Rajendra basa-basi, menghargai kebaikan tuan rumah.


" Sama sekali tidak " balas tuan rumah dengan senyum.


Mereka pun segera menikmati segala makanan yang sudah dihidangkan. Ranu yang baru pertama melihat makanan sebanyak itu nampak begitu senang, di sela-sela makan dia selalu berucap, " ini enak sekali " disusul senyum tuan ramah yang sepertinya ikut senang hidangannya disukai.


" Malam ini menginap lah disini, anda bisa menggunakan kamar kosong di belakang " kata Darya menawarkan pada tamunya.

__ADS_1


" Baiklah " jawab Rajendra tanpa banyak berpikir, kemudian dia lanjutkan kata-katanya "tentunya kami sudah banyak merepotkan anda?"


" Sama sekali tidak, tak usah sungkan, justru kami merasa senang jika kalian mau menginap di gubug kami ini " kata Darya.


Keramahan tuan rumah membuat waktu cepat berlalu tanpa terasa langit sudah mulai menghitam dan rembulan mulai nampak di atas langit, malam telah tiba suara nyanyian serangga membuat suasana malam di desa Maruya begitu tentram. Seakan alam ikut merasakan kedamaian bagi desa itu di hari-hari mendatang.


********************


Sementara itu di tempat lain tepatnya disebuah Hutan bernama Wanamawa. Hujan turun begitu deras malam itu, disertai angin kencang yang menerpa daun dan sela cabang pohon menimbulkan bunyi yang akan menegakan bulu roma siapa saja yang mendengarnya. Deru guntur yang sesekali menyambar bumi menambah seram keadaan di hutan yang gelap waktu itu, cahaya kilatan petir terbentuk di langit seakan hendak meleburkan bumi.


Dalam keadaan yang begitu mencekam tampak sosok berjalan dengan tegap didalam hutan, langkahnya yang mantap seolah menghiraukan keadaan disekitarnya, sosok itu sama sekali tak acuh dengan deras hujan yang menerpanya. Saat cahaya kilat menyambar terlihat sosok itu adalah patih Pramana, dari langkahnya yang pasti sepertinya dirinya memang sudah mempunyai tujuan menembus hutan malam-malam dan saat hujan turun begitu derasnya.


" Aku harus menemukannya " kata Patih Pramana pada dirinya sendiri seolah menancapkan tekad yang dalam di hatinya untuk mencapai tujuannya.


_______________________


Perjalanannya tak mudah karena setiap orang yang dia temui untuk menanyakan arah menuju hutan Wanamawa selalu mengingatkan dirinya untuk mengurungkan saja niatnya untuk pergi ke hutan itu sendirian. Tapi hal itu sama sekali tak digubris olehnya justru hal itu menghidupkan semangatnya seolah membangunkan kemampuan tempurnya untuk menghadapi apapun yang nanti akan dia temui di dalam hutan itu.


Ketika akhirnya dia telah melihat hutan di ujung pandangan matanya mendung tebal tiba-tiba datang, merubah keadaan yang kala itu masih sore menjadi gelap seolah malam datang lebih awal dari waktunya.


____________________________


Tiba-tiba terdengar suara tawa mengekeh yang memenuhi seluruh penjuru hutan, suaranya makin keras menandingi suara angin dan air hujan yang turun begitu lebatnya. Suaranya sudah begitu dekat tapi Patih Pramana belum dapat menangkap dengan matanya sosok yang mengeluarkan suara kekeh tawa yang mengerikan itu.

__ADS_1


Kemudian tatapannya melekat erat pada sebuah pohon yang begitu besar, mungkin pohon itu yang tertua diantara pohon-pohon lain batangnya yang tampak kokoh itu mungkin dibutuhkan rentangan tangan lima atau enam orang dewasa untuk dapat mengelilinginya. Jelas sekali jika suara itu berasal dari pohon itu, tanpa takut sedikitpun Patih Pramana berjalan mendekat,


" Tunjukan wujud mu jika berani " Teriak Patih Pramana dengan lantang.


Suara tawa terhenti seketika, berganti dengan suara keras yang menggema,


" Siapa engkau wahai manusia, besar juga nyali mu berani datang ke tempat ini sendirian " jawab sosok yang belum menampakan diri itu.


" Keluarlah, engkau tentunya yang bernama Wanara kan..? " Seru Pramana


Kaget karena namanya dikenali sesaat Wanara terdiam, menyisakan hanya bunyi petir yang terus menggelegar. Sosok besar dan tinggi yang menyerupai monyet dengan bulu lebat yang panjang seketika muncul dari dalam batang pohon yang besar itu. Tingginya mungkin dua meter atau lebih, mata mahkluk itu menyala merah dengan taring yang keluar dari atas mulutnya menggambarkan wajah yang menyeramkan.


" Dari mana engkau tahu namaku, siapa engkau dan apa mau mu datang ke tempat ini? " Kata Wanara mencerca Patih Pramana dengan pertanyaan.


" Tak perlu kau tahu semua itu yang perlu kau tahu aku datang kesini untuk menjadikanmu abdi ku " jawab Pramana penuh keyakinan.


Kaget dengan jawaban manusia yang terdengar lucu untuk Wanara, dia pun tertawa terkekeh menampakan deretan giginya yang tajam.


Menyadari lawan menganggap remeh dirinya, Patih Pramana tersenyum kecil kemudian dia segera melesat untuk menyerang Wanara dengan pukulan, mendapatkan serangan yang mendadak Wanara mencoba menangkisnya dengan kedua tangannya, tapi gerakanya terlalu lambat, pukulan Pramana telak meninju dadanya, Wanara pun terpental membentur pokok pohon besar.


Marah dengan serangan tiba-tiba itu Wanara menjadi beringas dia segera bangkit disertai pekikan dia serang Pramana dengan kedua tangan bergantian. Tapi serangan yang tanpa koordinasi begitu mudah dielak oleh Pramana. Merasa serangannya sia-sia Wanara meloncat mundur, dia kini sadar jika manusia yang dianggapnya sepele itu bukan Pendekar sembarangan, tadinya dia mengira jika dia akan dapat segera mengalahkannya dengan satu serangan saja.


Merasakan perubahan semangat lawan Pramana pun berganti menyerang Wanara, pukulan dan tendangan silih berganti Patih Pramana lesatkan, Wanara pun sigap menghindar namun serangan yang datang terus tanpa memberinya waktu untuk melakukan balasan. Wanara melompat ke samping, disusul lompatan kebelakang dan lompatan lain, untuk sesaat dia berhasil mengelak dengan baik, tapi kenyataannya Wanara seperti seekor merpati yang mencoba menangkis serangan burung elang.

__ADS_1


Diburu oleh pukulan dan tendangan yang beruntun itu akhirnya Wanara kehilangan kontrol diri ,diapun menerima pukulan dengan telak berkali-kali. Wanara pun terjungkal dan roboh tak sadarkan diri.


__ADS_2