
Riswana dan Nadira baru saja tiba di istana kerajaan Shaminari, mereka bermaksud menyampaikan pesan Rajendra pada Raja Prabaswara. Setelah menceritakan jika pasukan berkuda kerajaan telah berhasil dikalahkan secara telak oleh Prajurit Sastrika mereka juga menceritakan jika ternyata Prajurit Sastrika tidak dapat mati.
"Alangkah baiknya jika saat ini Paduka memberikan perintah kepada penduduk untuk segera mengungsi dari kota ini" Kata Riswana mulai mengatakan maksud kedatangannya.
"Kami cukup yakin jika mungkin tak lama lagi Prajurit Sastrika akan segera berhasil menerobos masuk benteng kerajaan ini" Nadira melanjutkan ucapan Riswana.
Raja Prabaswara terdiam, dirinya tak pernah menyangka jika Pasukan berkuda yang menjadi kebanggaannya ternyata dapat dengan mudah dikalahkan oleh Prajurit Sastrika. Meskipun dalam batas tertentu dirinya masih merasa enggan untuk menuruti usulan dari ke dua Atmik namun sebagai seorang Raja dirinya juga mempunyai sebuah tanggung jawab untuk menyelamatkan rakyatnya. Setelah cukup lama berpikir akhirnya dirinya pun memberikan perintah kepada Punggawanya.
"Lekas perintahkan pada para penduduk untuk segera meninggalkan kota ini, bawalah mereka ke selatan negeri ke tempat yang bernama desa Sentani" Titah Raja Prabaswara.
Para punggawa yang berada di tempat itu pun segera mengangguk dan pergi untuk melaksanakan perintah Rajanya.
Merasa jika tujuannya telah tercapai kedua Atmik pun akhirnya mengundurkan diri dan pergi untuk melakukan perintah Rajendra yang kedua yaitu membawa Utari dan Ranu pergi ke desa Sentani.
"Kami juga harus segera pergi Paduka, ada hal lain yang mesti kami lakukan. Paduka juga sebaiknya segera pergi meninggalkan kerajaan ini" Riswana mencoba memberikan saran.
Raja Prabaswara hanya menganggukan kepala tanpa berkata-kata mendengar ucapan Riswana. Tak lama ke dua Atmik pun sudah melangkah meninggalkan Istana Kerajaan Shaminari. Meninggalkan Raja Prabaswara yang masih termenung dalam pikirannya.
"Apakah menurutmu aku harus meninggalkan kerajaan ini?" Tanya Raja Prabaswara pada Adyana penasehatnya.
"Jika hal itu adalah satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan diri saya kira memang itulah yang harus Paduka lakukan" Jawab Adyana memberikan pendapat.
"Apakah sikap itu tak tampak seperti seorang pengecut?" Tanya Raja Prabaswara yang masih ragu.
"Ampun paduka, saya kira itu sama sekali tidak menunjukan sikap pengecut. Yang mulia sudah menyuruh penduduk untuk mengungsi dari kota ini, untuk saat ini saya kira menyelamatkan rakyat sebanyak-banyak nya adalah sesuatu yang lebih penting. Jika anda tetap bersikeras untuk bertahan dan memutuskan untuk berperang meski tahu tak ada kemungkinan untuk menang saya kira itu bukanlah sikap yang bijaksana" Adyana menjelaskan panjang lebar.
Raja Prabaswara mulai mendapatkan pencerahan dari penjelasan yang dikatakan Adyana, dirinya kini merasa cukup yakin jika memang untuk saat ini jalan terbaik adalah untuk melakukan penyelamatan bukan untuk berperang.
"Ada benarnya yang engkau katakan, baiklah bawa semua penghuni istana ini dan kita akan segera bersiap untuk meninggalkan kerajaan ini" Raja Prabaswara memberikan perintah meski dengan berat hati.
__ADS_1
"Baik yang mulia" Jawab Adyana, tanpa berlama-lama dirinya pun meneruskan perintah Rajanya pada semua yang dia temui.
Sementara di tempat lain Riswana dan Nadira telah sampai ke tempat Utari dan Ranu. Setelah menjelaskan semuanya mereka kemudian bermaksud membawa ke duanya untuk segera pergi dari Kota Ankara.
"Lalu bagaimana dengan kakak ku" Tanya Utari menunjukan wajah cemas.
"Ya bagaimana dengan guru?" Ranu menimpali kata-kata Utari.
Riswana yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama tetap berusaha untuk tetap tenang dan meyakinkan keduanya, "Dia akan baik-baik saja dan akan segera menyusul kita".
Ranu menatap ke arah Utari, meskipun sebenarnya keduanya enggan meninggalkan Rajendra namun tak ada yang dapat mereka lakukan untuk memaksanya pergi saat ini juga.
"Kita harus cepat, kami juga sebaiknya segera kembali ke tempat ini setelah mengantarkan kalian ke desa Sentani" Kata Riswana tak sabar.
Nadira yang dapat merasakan kekhawatiran pada ucapan Riswana pun membenarkannya, mereka kemudian segera membawa keduanya. Riswana dan Nadira pun berubah ke wujud Atmik dan membawa masing-masing terbang meninggalkan Kota Ankara.
Diluar benteng kerajaan Shaminari Rajendra dan ke dua Atmik tampak masih berjuang untuk menahan Prajurit Sastrika. Meskipun mereka tahu jika pertarungan itu tak dapat mereka menangkan namun tujuan mereka adalah mengulur waktu selama mungkin untuk memberi kesempatan pada seluruh penduduk kota Ankara agar dapat menyelamatkan diri.
Anak panah terus melesat menghujani tubuh Prajurit Sastrika yang datang menyerang benteng kerajaan. Walau usaha para Prajurit itu terlihat sia-sia tapi hanya hal itu yang dapat mereka lakukan.
Rajendra dan ke dua Atmik yang terus bertarung dengan Prajurit Sastrika perlahan terdorong mundur.
"Menjauh dari ku" Teriak Rajendra pada ke dua Atmik.
Mendengar perintah itu Bayurajata dan Agnigara melompat mundur menyamping untuk menjauhi Rajendra.
Disertai sebuah teriakan Rajendra menyapukan pedangnya menyilang dengan garang, dalam dua kali tebasan pedangnya yang dahsyat itu gelombang kekuatannya menebas seluruh Prajurit Sastrika yang berada di hadapannya.
Kedua Atmik kagum dengan dahsyatnya serangan itu, sejenak serangan itu memberikan sebuah jeda bagi mereka. Semua Prajurit Sastrika yang mereka hadapi telah tumbang dan terbelah. Jeda itu tak berlangsung lama karena tubuh-tubuh Prajurit Sastrika itu perlahan telah bangkit lagi dan menyatu.
__ADS_1
Tapi dari semua Prajurit Sastrika yang berhasil tumbang dan terbelah itu mereka bertiga dapat melihat jika ada salah satu yang nampak tak dapat bangkit lagi. Meskipun mereka tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi tapi kini mereka yakin jika ternyata Prajurit Sastrika memiliki sebuah kelemahan.
"Apa yang baru saja anda lakukan?" Tanya Agnigara bertanya pada Rajendra di sela pertarungan yang telah kembali terjadi.
"Aku hanya menyerang sekuat tenaga" Jawab Rajendra yang sepertinya juga tak tahu kenapa serangannya dapat menumbangkan satu Prajurit Sastrika.
"Setidaknya kini kita tahu jika mereka dapat dikalahkan" Kata Agnigara meski dirinya juga belum menemukan penjelasan kenapa salah satu Prajurit Sastrika itu tak dapat bangkit lagi.
Mencoba cara yang sama dengan apa yang Rajendra lakukan kedua Atmik menyerang dengan kekuatan mereka, namun hasilnya tidaklah sama. Meskipun serangan keduanya mampu menghancurkan tubuh Prajurit Sastrika tapi dapat terlihat jika mereka dapat bangkit lagi.
Merasa jika usaha mereka mulai tak memberikan hasil, perlahan mereka mulai terpojok ke dinding benteng. Kini dapat mereka lihat jika Prajurit Sastrika mulai berhasil membobol masuk ke dalam benteng kerajaan.
Para Prajurit yang berada diatas benteng satu persatu mulai terbunuh oleh Prajurit Sastrika yang telah berhasil sampai ke atas dinding.
Rajendra yang melihat hal itu segera meloncat mencoba menghentikan, Kedua Atmik pun mengikutinya.
Dengan pikiran kalut Rajendra berharap jika penduduk kota Ankara sudah berhasil pergi menyelamatkan diri. Ketika sampai ke atas dinding Rajendra berusaha melihat keadaan didalam kota. Perasaan lega segera melingkupi hatinya karena dirinya melihat dengan jelas jika kota Ankara telah kosong.
"Kita harus pergi, tak ada lagi yang harus kita lakukan disini" Kata Agnigara ketika telah melihat juga keadaan didalam kerajaan Shaminari.
Melihat jika semua prajurit penjaga kerajaan telah gugur Rajendra merasakan sebuah amarah, hampir saja dirinya berusaha untuk maju untuk bertempur lagi. Namun Agnigara mencegahnya, "Apa yang hendak anda lakukan?" Katanya sambil memegang tangan Rajendra yang terlihat sudah siap untuk meloncat turun.
"Aku harus mengalahkan mereka, itu adalah tugasku" Kata Rajendra sambil berusaha menepis tangan Agnigara.
"Kami tahu, tapi bukan sekarang ada hal yang jauh lebih penting untuk kita lakukan saat ini. Kita harus memastikan jika penduduk kota ini akan dapat sampai ke Desa Sentani dengan selamat" Seru Bayurajata menenangkan Rajendra.
Seketika amarah Rajendra mereda, dirinya mulai menyadari jika memang hal itu terasa jauh lebih penting dari pada meluapkan amarahnya. Untuk meluapkan segala amarahnya dia sapukan sekali lagi pedangnya ke arah bawah benteng, serangan itu menembus beberapa Prajurit Sastrika dan meledak membelah tanah disekitar benteng.
Dengan perasaan hancur Rajendra pun menuruti perkataan ke dua Atmik, Bayurajata pun segera berubah menjadi Elang dan membawa Rajendra terbang. Tanpa memalingkan pandangannya Rajendra terus melihat kebawah, melihat jika perlahan Prajurit Sastrika mulai berhasil meruntuhkan kekuasaan kerajaan Shaminari.
__ADS_1
Sekejap kini mereka sadar jika kekuasaan negeri saat ini telah jatuh ke tangan Patih Pramana. Kegelapan lah sekarang yang telah berkuasa diatas negeri ini. Dalam hati Rajendra bertekad jika dirinya tak akan membiarkan hal itu akan berlangsung lama. Tapi untuk saat ini ada hal lain yang mesti dia lakukan, untuk beberapa alasan dirinya kini hanya bisa membiarkan untuk sementara kekuasaan jatuh di dalam genggaman Patih Pramana.