Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Pulau Langit


__ADS_3

Bersamaan hilangnya gunung Prabatatunu di desa Wiyati maka kawah-kawah yang dulu selalu memancarkan magma dan api kini telah padam. Bekas-bekas lubang kawah itu kini mengering, sebagian lagi menjadi tempat genangan air. Rajendra yang diajak berkeliling oleh Dhipa kepala desa Wiyati saat ini sedang melihat sebagian bekas kawah itu.


"Di sini dulu anda bisa melihat pijaran magma yang mengalir, tapi kini hanya terlihat seperti sebuah sumur tua" Kata Dhipa menunjuk sebuah lubang di tanah.


"Apakah ada hal lain yang anda ingat saat kejadian malam itu?" Tanya Rajendra, yang mulai berpikir jika mungkin hal ini ada hubungannya dengan orang yang berhasil menguasai Ajian Atmaanjana.


"Satu-satunya yang paling saya ingat tentunya bunyi dentuman keras seperti petir sebelum kejadian itu" Dhipa memegang dagunya mencoba mengingat kejadian malam itu.


"Apa anda yakin saat itu bertepatan dengan bulan purnama?" Tanya Rajendra memastikan.


"Saya yakin" Jawab Dhipa tanpa ragu, dirinya ingat benar jika waktu itu dirinya sempat melihat keindahan suasana malam yang terang karena purnama.


Rajendra terdiam, dirinya kini merasa yakin jika memang semua ini ada hubungannya dengan suara petir yang dia dengar. Suara petir yang menandakan adanya penguasa Ajian Atmaanjana.


"Barangkali bapak punya kepentingan lain, silahkan kalau mau pulang duluan. Saya mau berkeliling sekali lagi" Rajendra mempersilahkan Dhipa karena tak ingin menyita waktunya lebih banyak lagi.


"Ya, kalau begitu saya akan pulang, anda bisa menginap di tempat saya jika anda mau" kata Dhipa menawarkan kebaikan dengan tulus.


"Ah ya terimakasih" Rajendra menghargai kebaikan itu dengan memberikan senyuman yang hangat.


Rajendra melihat sosok kurus itu pun berpamitan dan pergi dari tempat itu, meninggalkan Rajendra yang masih belum bisa memastikan kebenaran di balik hilangnya gunung Prabatatunu. Ranu yang mendengar cerita mereka tampak berlarian memeriksa lubang-lubang bekas kawah itu.


"Menurut kalian apa yang sebenarnya telah terjadi?" Rajendra bertanya pada para Atmik yang semenjak tadi sudah berada di sekitarnya tanpa menampakan wujudnya.

__ADS_1


Para Atmik terdiam berpikir,


"Sulit memastikan kejadian sebenarnya, seolah hanya dewa-dewa saja yang mampu melakukan sesuatu seperti ini" Jawab Bayurajata memandang bekas lubang besar tempat gunung sebelumnya berada.


Merasa jika Riswana yang tampak terdiam dan menunduk seolah sedang memikirkan sesuatu Nadira pun bertanya padanya "Apa yang sedang kau pikirkan?apa ada yang kau tahu?"


"Aku tak dapat memastikan apa yang terjadi, tapi ada hal aneh yang aku rasakan!" Jawab Riswana penuh keraguan.


"Hal aneh apa?" Tanya Rajendra tak sabar mendengar penjelasan dari Riswana.


"Meskipun gunung Prabatatunu itu telah hilang, tapi aku masih merasakan keberadaan Atmik Api ditempat ini??" Jawab Riswana yang kemudian menampakan wujud manusianya dan menyapukan pandangan ke sekeliling tempat itu.


Mereka kembali terdiam mendengar ucapan yang riswana katakan. Mereka mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang kiranya dapat menjadi penjelasan dari kejadian yang mereka lihat.


"Jika kau masih merasakan keberadaannya artinya gunung Prabatatunu seharusnya masih ada di sekitar sini, atau barangkali Wadah Atmik Api itu tertinggal di sekitar bekas gunung itu berada?" Terka Rajendra.


Mereka pun segera menyebar dan turun ke bawah lubang besar bekas gunung Prabatatunu berada sebelumnya. Setelah cukup lama mencari ke setiap sudutnya mereka sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaan Atmik Api di tempat itu.


Cahaya matahari mulai meredup pertanda senja telah datang. Mereka sudah berkumpul lagi di pinggir lubang besar bekas gunung,


"Jika tak ada disini... Lalu dimana lagi kemungkinan Atmik Api itu berada!?" Tanya Rajendra pada yang lain, merasa langit telah mulai gelap Rajendra pun menatap ke arah atas.


Ilham itu tiba-tiba datang seperti kilas cahaya, ketika Rajendra menatap ke arah langit sebuah pemikiran tak lazim merasuki pikirannya "apa mungkin?" Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Akan ku coba memeriksa keadaan langit di atas sana!" Seru Rajendra yang sudah siap dengan posisi duduk bersila akan menggunakan Ajian Bajlasukla miliknya.


"Apa maksud tuan" Tanya Riswana mempertanyakan yang ada dipikiran Rajendra.


"Jika kau masih merasakan keberadaan Atmik Api di tempat ini, maka kemungkinan gunung Prabatatunu masih ada disini, tapi berada di atas sana. Aku akan menggunakan ilmu yang ku pelajari dari Adanu untuk memastikannya" Rajendra kemudian memejamkan matanya.


Para Atmik saling memandang mereka meragukan pendapat dari Rajendra, tapi mengingat apa yang dirasakan oleh Riswana kemungkinan itu bisa saja terjadi. Mereka kini melihat ke arah Rajendra yang sudah duduk bersila terlihat sangat tenang dan luwes.


Rajendra kini sudah menggunakan Ajian Bajlasukla, dalam pandangannya kini dia sedang terbang ke atas dengan cepat. Dia melihat kebawah, dia bisa melihat seluruh rumah yang ada di desa Wiyati. Rajendra terus berfokus untuk terus naik lebih tinggi lagi kini dia seolah telah menembus awan, dia melihat sebuah awan yang cukup besar. Ketika dia menembus awan itu kini dia dapat melihat sesuatu yang menakjubkan.


Sebuah hamparan daratan yang cukup besar benar-benar berada di balik awan, daratan itu terpisah-pisah membentuk seperti sebuah pulau di atas langit. Sebagian besar pulau berupa hutan, dia kini juga bisa melihat sebuah gunung yang kemungkinan adalah gunung Prabatatunu. Dan yang paling menyita perhatian Rajendra saat ini adalah adanya sebuah bangunan yang mirip seperti puri di salah satu pulau tersebut. Bangunan itu terlihat megah namun tidak sebesar yang seharusnya.


Di tempat itu Rajendra juga bisa merasakan banyak aura kehidupan, bahkan dia juga bisa merasakan aura kekuatan yang cukup besar. Aura itu tersebar di pulau-pulau disana tapi anehnya dia tak dapat melihat satupun mahkluk yang mengeluarkan aura yang dia rasakan. Karena merasa sudah cukup mendapatkan penglihatannya Rajendra pun segera kembali ke raganya dan mengembalikan kesadarannya.


"Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat, tapi memang gunung itu ada di atas langit" Kata Rajendra ketika dia membuka matanya. Meskipun kata "Langit" yang dia katakan hanyalah mewakili tempat yang tinggi di balik awan-awan.


Para Atmik tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka dengan apa yang Rajendra katakan.


"Apa benar yang anda katakan" Tanya Bayurajata ragu-ragu.


"Bisa kau buktikan sendiri jika nanti kita terbang ke atas sana" Rajendra meyakinkan para Atmik dengan tatapan serius, dia lanjutkan kata-katanya "Tapi kita mesti berhati-hati dan penuh waspada, aku merasakan banyaknya aura kuat yang mendiami pulau di atas sana. Entah mahkluk apa yang ada di sana karena sepanjang penglihatan ku tak dapat aku menemukan satupun".


Perkataan terakhir yang Rajendra ucapkan seketika menciptakan kebekuan diantara mereka. Karena sepanjang pengetahuan para Atmik tak ada satupun mahkluk yang bisa hidup dan mampu membangun peradaban di atas langit.

__ADS_1


Setelah berpikir cukup lama mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah kepala desa. Tentu saja mereka membutuhkan sebuah rencana dan terlalu riskan jika Ranu ikut serta dalam rencana mereka untuk pergi ke pulau Langit. Langkah terbaik adalah meninggalkan Ranu tetap di rumah kepala desa.


Mereka akhirnya berjalan menuju rumah kepala desa, suara burung celepuk terdengar samar-samar dari kedalam hutan, mengisyaratkan jika malam telah tiba. Ranu terlihat menggigil terkena hembusan angin besar yang tiba-tiba bertiup.


__ADS_2