Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Wujud Atmik Angin


__ADS_3

Keberhasilan Rajendra menguasai Ajian Bajlasukla tentu saja banyak mempengaruhi perubahan pada sikapnya. Dirinya kini merasa jika jiwa nya jauh lebih tenang, dia tak lagi menunjukan sikap penuh waspada dan penuh ancaman seperti yang biasa dia lakukan selama ini. Perubahan yang tentu saja disadari oleh para Atmik yang kini sedang berkumpul dengan Adanu di sebuah ruangan melakukan percakapan dengan dirinya.


"Jadi setelah ini tentunya kalian akan mencari Atmik Angin" tanya Adanu sambil melihat mereka satu per satu.


"Ya begitulah, memang itu tujuan awal kami datang ke hutan ini" Jawab Rajendra mewakili yang lain.


"Apa anda tahu dimana Atmik itu berada?" Sela Riswana.


"Saya tahu, bahkan kami sudah berusaha membuka wadah Atmik Angin tapi sepertinya dewa tak mengijinkan, mungkin karena dewa-dewa masih marah pada kami haha.." Jawab Adanu tertawa diakhir ucapannya, seolah menertawakan ketidak patuhan sebagian bangsa Asura atas perintah dewa yang dulu menyuruh mereka kembali ke langit.


"Jadi anda sudah tahu, apa jauh tempat Atmik Angin itu dari sini?" Tanya Rajendra mengajukan sedikit tubuhnya.


"Tidak terlalu jauh, tempat itu berada di tebing samping bangunan ini, apa kalian mau pergi sekarang, akan saya antar" Jawab Adanu sambil bersiap berdiri.


"Ya, lebih cepat akan lebih baik" Rajendra tampak sudah berdiri tak sabar segera pergi ke tempat itu.


Riswana dan Nadira pun ikut berdiri, meninggalkan Ranu yang tampak senang bermain dengan beberapa bangsa Asura di halaman bangunan.


Mereka pun segera pergi ke tebing tempat Atmik Angin itu berada. Bukan suatu kebetulan jika Atmik Angin berada dekat tempat Bangsa Asura menetap di hutan Birama, sepertinya para Dewa sengaja melakukan hal itu agar Atmik Angin dapat dilindungi dari orang-orang yang punya niat jahat untuk menguasainya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai tujuan, di tempat itu ternyata terdapat sebuah tebing yang cukup tinggi menghampar seolah memisahkan hutan menjadi dua tingkat.


"Itu di sana Atmik Angin masih dalam tempatnya" Kata Adanu sambil menunjuk ke bagian atas tebing.

__ADS_1


Rajendra dan yang lain tampak memicingkan mata melihat ke arah yang ditunjuk oleh Adanu. Kini mereka dapat melihat jika Wadah Atmik Angin itu berada di bagian tengah tebing terjepit diantara akar-akar pohon yang terlihat kokoh menggenggam.


Melihat jika tempat itu terlalu tinggi, Rajendra pun mencoba bertanya pada ke dua Atmik, "Apa kalian bisa membawanya turun?" sambil memandang ke duanya bergantian.


"Akan kami coba" Jawab Riswana, diapun menatap ke arah Nadira dan saling menganggukan kepala kemudian terbang ke arah Atmik Angin itu berada.


Adanu dan Rajendra memperhatikan dari bawah saat ke dua Atmik tengah berusaha melepaskan Wadah Atmik Angin dari jerat akar pohon yang kelihatan kokoh itu. Mereka tampak sedikit mengalami kesulitan sampai akhirnya Riswana seolah melakukan sesuatu dan akhirnya berhasil melepaskan wadah itu dari akar pohon yang terakhir. Keduanya kini tampak sedang turun membawa Wadah Atmik Angin.


Rajendra kemudian mendekati Wadah itu setelah ke dua Atmik menurunkannya ke tanah. Dia melihat perbedaan yang sangat banyak antara Wadah Atmik Angin ini dengan milik Nadira, yang sekarang dia lihat berbentuk kubus namun tanpa sudut runcing di masing-masing sisinya. Rajendra juga tak menemukan lubang yang mirip kunci pada Wadah Atmik Angin ini, dia coba cari ke sisi yang lain tapi tak juga menemukan yang dia cari. "Bagaimana cara membukanya?" Tanya Rajendra dalam hati.


"Apa yang anda cari?" Tanya Adanu ketika melihat Rajendra yang sibuk mengelilingi Wadah Atmik Angin.


Rajendra tersadar dari lamunannya mendengar pertanyaan Adanu, "Saya mencoba mencari cara untuk membuka Wadah ini, tapi sepertinya tak ada lubang yang mirip kunci seperti pada Wadah Atmik Air. Apa anda tahu bagaimana cara membukanya?" Rajendra balik bertanya sambil menatap ke arah Adanu.


"Mungkin anda bisa mencobanya dengan ilmu yang baru saja anda kuasai!" Jawab Adanu.


"Wadah ini didalamnya adalah Atmik Angin tak ada salahnya anda mencoba meniupkan angin untuk mencoba membukanya" Jawab Adanu menjelaskan maksudnya.


Rajendra kemudian teringat saat Adanu pernah menunjukan jika dia bisa menciptakan hembusan angin yang dapat merobohkan pohon. Dengan sedikit ragu dia mencoba cara Adanu persis seperti yang dia lihat.


"Menjauh dari wadah itu" Kata Rajendra pada kedua Atmik.


Riswana dan Nadira saling pandang kemudian sedikit menjauh mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Rajendra.

__ADS_1


Mereka kemudian melihat Rajendra tampak sedang melakukan persiapan, dia nampak begitu terfokus kemudian mereka melihat Rajendra mengangkat tangan kanannya kesamping lalu menyapukannya ke depan. Tiba-tiba sebuah hembusan angin berhasil dia ciptakan dari gerakan itu, tepat menerpa Wadah Atmik Angin.


Cara yang Rajendra lakukan sepertinya berhasil, sesuatu tampak terjadi, Wadah Atmik Angin itu seolah mengeluarkan cahaya dari tepi-tepiannya. Tapi ketika mereka menunggu ternyata tak ada perubahan lain lagi.


Rajendra terdiam, dia memikirkan jika mungkin hembusan angin yang dia ciptakan masih kurang. Kini dirinya memasang kuda-kuda lagi tapi kali ini dia merentangkan kedua tanganya. Sepertinya dia berniat menciptakan hembusan angin yang lebih besar dengan kedua tangannya. "Kali ini harus berhasil" Katanya dalam hati, diapun menyapukan kedua tanganya ke depan tubuhnya.


Angin yang jauh lebih kencang pun tercipta menerpa Wadah itu, bahkan hembusan angin itu sampai menerpa jauh ke pepohonan di hutan, menggoyangkan batang, menggugurkan daun-daunnya ke tanah.


Usaha Rajendra yang kedua itu sepertinya memberikan hasil. Wadah Atmik Angin itu bercahaya lagi, tapi kali ini lebih terang. Ke empat sisi sampingnya juga mulai merenggang, mengeluarkan asap berwarna putih keperakan.


"Dia berhasil membukanya" Kata Adanu dalam hatinya semakin merasa kagum pada sosok Rajendra.


Riswana dan Nadira yang melihat cara yang dilakukan Rajendra pun merasa takjub, diam-diam mereka merasa bangga bisa mengabdi pada seorang Pendekar yang hebat itu.


Mereka kemudian sama-sama melihat ke arah kepulan asap yang mulai memudar dan menghilang. Kemudian tampaklah sosok Atmik Angin itu, ke dua Atmik dan Adanu yang sudah paham wujudnya nampak biasa saja. Tapi keheranan tak dapat di sembunyikan dari wajah Rajendra melihat sosok yang kini ada dihadapannya itu.


Wujud Atmik Angin itu bertubuh manusia tapi dari lutut kebawah adalah kaki burung dengan cakar yang tampak tajam. Wajahnya tertutup semacam topeng yang membentuk wajah burung elang dan yang paling membuat kagum adalah adanya sayap berbulu berwarna putih keperakan di punggung nya. Mengingatkan Rajendra pada sosok malaikat yang sering dia dengar dalam cerita rakyat.



"Anda yang membebaskan saya" Tanya Bayurajata sang Atmik Angin pada Rajendra ketika sudah membuka matanya.


"Ya" jawab Rajendra singkat.

__ADS_1


Bayurajata kemudian melihat ke sekelilingnya dia melihat pedang yang disanding di punggung Rajendra dan dia juga melihat jika ke dua Atmik juga telah ada di tempat itu. Sebuah firasat pun telah dirasakannya, kemudian dengan yakin diapun berkata,


"Saya senang bisa di bebaskan, tapi melihat Atmik lain di tempat ini juga firasat saya mengatakan jika dunia sedang tidak baik-baik saja".


__ADS_2