Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Berhasil Melewati Ujian


__ADS_3

Dalam beberapa hari keadaan desa Grigis manjadi lebih ramai dari biasanya, seiring kabar tentang pulau Canala yang makin meluas. Kesibukan tak hanya terlihat dari penduduk setempat yang hilir mudik ke pulau untuk melakukan pembangunan, tapi juga banyak para pendatang dari desa lain yang penasaran. Sebagian penasaran dengan keadaan pulau Canala sebagian yang lain merasa penasaran dengan sosok yang berhasil menaklukan penunggu pulau itu.


Pemilik gubug yang menyadari jika Rajendra menjadi terganggu dengan banyaknya orang yang datang ke gubug nya untuk sekedar melihatnya, akhirnya mengundang mereka untuk menginap dirumahnya. Pemilik gubug yang baik itu pun juga membebaskan seluruh sewa dari Rajendra, dia sepertinya mengistimewakan sosok yang membuatnya kagum itu. Pemilik gubug yang sudah melihat sendiri keindahan dan kesuburan tanah di pulau Canala kemudian merasa perlu berterimakasih dengan orang yang berhasil membukakan jalan ke pulau itu.


Rajendra sebenarnya sudah ingin melanjutkan perjalanannya, tapi ketika dia tahu jika tujuan selanjutnya hanya Riswana yang tahu diapun menunggu sampai malam purnama. Karena di malam itu sinar bulan akan merubah nya kembali ke wujud Atmiknya. Malam itu dirinya pun menyampaikan maksudnya itu pada pemilik gubug,


"Pak, apa boleh saya tinggal disini untuk beberapa hari ke depan? Sepertinya saya belum bisa menentukan tujuan perjalanan berikutnya" Kata Rajendra pada pemilik gubug yang malam itu menemaninya duduk didepan rumah.


"Tentu saja boleh, tinggallah dirumah ini selama engkau mau" jawab orang tua itu dengan senyum yang tulus. Dengan banyaknya orang yang datang berkunjung ke desa grigis tentu saja membuat usaha orang tua itu mendapatkan lebih banyak keuntungan, dan kepada siapa lagi dia harus berterimakasih jika bukan kepada sosok yang kini tinggal dirumahnya itu.


Rajendra yang kemudian mencoba memberikan beberapa keping uang kepada orang itu, ditolak dengan halus.


"Mungkin uang ini bisa untuk menutup biaya selama saya tinggal disini" Kata Rajendra sambil menyodorkan kepingan uang dari sakunya.


"Simpan saja uang itu untuk perjalananmu, engkau tentunya akan lebih membutuhkannya nanti" Jawab pemilik rumah seraya mendorong tangan Rajendra yang menyodorkan uang padanya.


"Apa benar tidak akan merugikan bapak?" Tanya Rajendra lagi yang masih merasa tidak enak, karena tempatnya menginap adalah sebuah tempat usaha dari orang tua itu.

__ADS_1


"Hahaha.. sama sekali tidak, jangan khawatir, kedatangan anda disini saja sudah membawa banyak keuntungan buat kami" Jawab pemilik rumah sambil tertawa.


Rajendra yang merasakan kesungguhan niat baik dari pemilik rumah akhirnya menyimpan kembali uangnya. "Terimakasih atas kebaikan bapak" Katanya kemudian.


Keesokan paginya Rajendra pergi ke pulau Canala dirinya ingin melihat hal-hal yang sudah dilakukan penduduk di pulau itu. Bersama Ranu diapun segera ikut pada salah satu perahu yang memang mau ke pulau itu. Saat sampai di pulau, dia melihat ke sekeliling pulau Canala, dirinya merasa puas karena apa yang di inginkan nya dapat terwujud. Hanya daerah tepian danau saja yang oleh penduduk sekitar dijadikan lahan baru dan tempat tinggal, sedang kan bagian dalam pulau tetap dibiarkan menjadi hutan. Dengan begitu keindahan dan keasrian pulau Canala akan tetap terjaga. Tinggal dua hari lagi malam purnama akan datang dan Rajendra merasa lega bisa meninggalkan tempat ini setelah melihat keadaan pulau Canala yang sekarang.


...*********...


Sementara di tempat lain di tengah hutan Wanamawa saat itu sudah lewat saat senja. Keadaan hutan pun perlahan menggelap seiring cahaya matahari yang mulai hilang. Saat itu Patih Pramana hampir menyelesaikan ujian yang sedang dia jalani, dirinya kini tengah berada pada ujian tahap akhir.


Dihari-hari pertama dirinya menjalani pertapaan untuk menguasai Ajian Atmaanjana, tubuhnya mengalami terpaan dingin dan panas secara bergantian. Meski kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang dia alami, yang ada dalam pikiran Patih Pramana dihari pertama dirinya seolah di terpa hujan badai yang begitu deras. Hingga rasa dingin seolah membekukan darah dan menusuk tulangnya. Dilain hari dirinya seolah berada ditengah padang yang gersang, panas matahari terasa begitu terik membuat tubuh nya merasakan panas yang seakan melepuh kan kulitnya.


Dan saat ini Patih Pramana sedang dihadapkan pada ujian akhir, sebuah ujian berat bagi kaum laki-laki normal manapun. Sudah beberapa hari ini Patih Pramana digoda oleh beberapa siluman yang menjelma menjadi wanita-wanita cantik. Keadaan para wanita yang kecantikannya bahkan melebihi imajinasi itu hampir-hampir tanpa busana. Godaan dan belaian yang dilakukan para siluman itu seolah mendidihkan darah Patih Pramana, menenggelamkannya pada nafsu birahi yang sangat dalam. Jika saja ambisi yang dia miliki tak sebesar saat ini, tentunya tujuannya akan goyah oleh godaan yang dia alami. Tapi karena kebulatan tekad dan ambisinya yang berapi-api seolah memberinya kekuatan untuk menepis segala godaan.


"Tinggal beberapa hari lagi, tak akan aku gagal melewati ujian seperti ini!!" Kata Patih Pramana dalam hatinya mencoba menguatkan dirinya.


Malam pun berganti dan kini malam purnama telah datang, tiba-tiba sebuah petir berwarna hitam melesat dan menyambar tubuh Patih Pramana. Suaranya yang dahsyat menggelegar seolah dapat terdengar sampai ke seluruh alam. Patih Pramana yang mengira kejadian yang baru saja dialaminya masih bagian dari bayangan pertapaannya sama sekali tak berusaha menghindari. Petir itu sama sekali tak melukai tubuh dari Patih Pramana, hanya saja kini tubuhnya dipenuhi oleh asap seolah tubuhnya baru saja dibakar.

__ADS_1


"Bukalah mata anda tuan" Kata Wanara yang saat itu sudah berada di hadapan Patih Pramana.


Patih Pramana yang mengenali suara yang dia dengar segera mengikuti perintah itu, perlahan-lahan di buka matanya dan dia melihat Wanara sudah berada di depannya. "Apa aku sudah berhasil?" Tanyanya kepada Wanara sambil berusaha berdiri dari pertapaannya.


Wanara melihat dengan seksama tubuh Patih Pramana, sama sekali tak ada perubahan kecuali sekarang bagian sekeliling mata dari Patih Pramana berwarna kehitaman. Dan dari pancaran aura yang keluar dari tubuh sang Patih Wanara dapat merasakan hawa iblis yang kuat. "Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya tuan!" Kata Wanara yang masih sedikit ragu dengan keberhasilan Patih Pramana bisa menguasai Ajian Atmaanjana.


"Apakah cara itu?" Tanya Patih Pramana penasaran.


"Pejamkan mata anda sekarang tuan!" Perintah Wanara pada sang Patih.


Patih Pramana yang tidak paham maksud dari Wanara hanya mengikuti saja perintahnya dirinya kini sudah memejamkan matanya sepenuhnya.


"Sekarang rentangkan tangan kiri anda tuan" Kata Wanara setelah memastikan jika Patih Pramana sudah menutup mata dan tak bisa melihat.


Sang Patih patuh saja dengan perintah itu dia rentangkan tangan kirinya kesamping. Belum sempat dia merentangkan sepenuhnya tangan kirinya, Patih Pramana seolah merasakan firasat datangnya sebuah serangan. Diapun segera membuka mata dan menarik tanganya tapi terlambat, serangan Wanara sudah mengenai tangan kirinya dan merobeknya hingga hampir putus. Patih Pramana pun mundur dan menyiapkan kuda-kuda,


"Apa maksudmu menyerang ku!!?" Teriak Patih Pramana.

__ADS_1


Wanara tak menjawab, dia hanya terlihat menatap lekat pada tangan kiri sang Patih yang terkena serangannya. Luka parah yang dia sebabkan itu ternyata berangsur menutup dengan cepat dan segera saja pulih seperti sedia kala. Melihat hal itu Wanara pun tersenyum kecil dan berkata,


"Sepertinya anda telah berhasil menguasai Ajian Atmaanjana sepenuhnya tuan"


__ADS_2