Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Mata yang cemerlang


__ADS_3

Senja telah lewat ketika Rajendra nampak sedang berjalan menuruni gunung, di saat seperti ini ketika dirinya sendiri ada semacam rasa bahagia yang muncul di dalam hatinya. Dirinya merasa bebas , merasa merdeka, baginya tak ada yang bisa menjadi teman terbaik yang dapat menolong dan datang membantu selain dirinya sendiri.


Rajendra berhenti berjalan kepalanya menengadah di pandangi langit yang nampak mulai menghitam, ketika dia melihat ke luasnya hamparan langit yang berhiaskan jutaan bintang itu dirinya kini merasa kerdil. Merasa kecil dirinya di banding alam semesta ini, pikirannya kemudian tertuju pada gagasan-gagasan yang kiranya akan dilakukan ke depan untuk mewujudkan perintah gurunya.


Rajendra saat ini sudah diberkahi kebijaksanaan yang membuatnya mampu berpikir jernih, dirinya kini ingin menjadi manusia yang bisa membawa perubahan baik di negeri ini, atau setidaknya menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Dirinya kini sadar betapa bodohnya dia saat masih muda dulu, ketika pikirannya yang masih primitif saat itu mempunyai mimpi untuk bisa dikenal dunia, dengan cara masuk ke kancah peperangan dan berharap dapat membunuh panglima musuh.


Dirinya kini merasa malu menyadari kebodohannya itu kini pikirannya telah terbuka bahwa pada dasarnya untuk dikenal orang bukan dengan cara memamerkan kekuatan tapi lebih kepada bagaimana kekuatan itu bisa digunakan untuk menolong orang lain dan bagaimana dirinya dengan kekuatan yang dimiliki bisa membuatnya diakui keberadaanya. Karena dengan diakui oleh orang banyak maka dia akan lebih mudah untuk membawa orang lain untuk menuju perubahan yang lebih baik. Tidak ada cara yang mudah untuk mewujudkan apa yang dipesankan gurunya pada Rajendra.


Ketika dia melihat sebuah batu besar di bawah sebuh pohon beringin maka dia memutuskan untuk duduk mengistirahatkan kakinya, disandarkan tubuhnya sambil melihat ke sekeliling ia sadar tak ada orang lain disekitarnya. Suatu hal yang sudah menjadi biasa untuk dirinya, semenjak kecil hingga beranjak dewasa dapat dikatakan dirinya tak memiliki teman.


Tak terhitung sudah berapa banyak usahanya untuk membaur dengan anak-anak seusianya namun selalu saja mereka tak ingin berlama-lama berada bersamanya, hal yang terkadang membuatnya heran. Namun bagi orang lain ada alasan yang tak terjelaskan yang mencegah mereka untuk menyukai Rajendra, ada semacam aura kejahatan dalam diri Rajendra yang membuat orang-orang merasa tak nyaman berada di dekatnya.


Hal itu pun disadari benar oleh ayahnya, itulah sebabnya ayahnya selalu bersikap kasar dan keras hal itu dilakukan ayahnya untuk berusaha mencoba menghilangkan sifat dalam diri Rajendra. Sebuah sifat yang bisa muncul ketika marah atau merasa terancam, sifat buas tak kenal peradaban, sifat khas prajurit-prajurit kerajaan kuno.


Jikapun ada anak seusianya yang mau bermain dan berani melawan ketika dirinya marah hanyalah anak perempuan bernama Andara. Saat Rajendra marah hanya Andara dan adiknya Utari lah kiranya yang bisa meredakan kemarahan itu. Kenangan masa kecil itu sejenak membuatnya kembali bersemangat, rasa lelah nya telah hilang. Dia nampak bangkit berdiri dan meneruskan perjalanannya.


Dirinya kini hampir sampai di sebuah pedesaan kecil di kaki gunung, desa kecil yang nampak masih sedikit di huni hanya nampak sejumlah rumah, ladang ubi dan persawahan yang jaraknya terpisah jauh oleh rumput-rumput liar. Langkah nya terhenti di sebuah jembatan di atas sebuah sungai kecil, dia mendengar bunyi kecipak air disekitar sungai sempit itu, di tajamkan pandangannya mencoba mencari tahu sumber suara itu. Apakah itu berang-berang? Atau mungkin binatang lain? Dia mendecap ketika akhirnya menemukan sumber suara itu dia melihat ada anak kecil yang sepertinya sedang mencari ikan gabus.


"Apa yang sedang kau lakukan di bawah situ?" Tanya Rajendra ramah karena merasa senang mengetahui kini ada orang lain disekitarnya.


Anak itu terlihat sedikit kaget kemudian anak kecil itu mencari sumber suara ketika dia melihat Rajendra dia nampak tersenyum dan menjawab "Mencari ikan gabus" sambil mengangkat keranjang anyam dari bambu menunjukan hasil tangkapannya.


"Sudah dapat banyak?" Tanya Rajendra lagi berusaha untuk tak melepaskan percakapannya dengan anak itu.


"Tak banyak, tapi ku rasa cukup untuk makan hari ini"


"Apa boleh ku minta beberapa, akan ku bayar?"


"Maaf tapi ini tidak dijual" Jawab anak itu sambil memeluk keranjangnya, sekejap kemudian dia melompat ke tepi sungai dan segera berlari secepat tembakan busur dan sekejap menghilang dalam gelap.

__ADS_1


" Cepat juga larinya " Batin Rajendra memuji kecepatan anak kecil itu. Ketika dia melewati jembatan kecil itu dia melihat seberkas cahaya di kejauhan, dia berharap cahaya itu berasal dari rumah seorang petani. Sudah beberapa hari ini dia tidur dibawah bintang-bintang, dirinya kini berharap dapat tidur di tempat yang layak meskipun hanya di dalam sebuah gubug yang beratap jerami, dia rindu kehangatan perapian, bahkan dirinya rindu makanan sederhana petani, umbi atau nasi yang dicampur jagung. Terbayang dengan semua itu maka diarahkan lah langkahnya menuju asal cahaya redup itu.


Tumbuhan yang menjalar tampak mengelilingi gubug yang letaknya terpencil itu, atapnya kelihatan miring dan dinding nya memerlukan banyak perbaikan. Ketika dia mencoba mengetuk pintu kakinya tak sengaja menginjak sebuah dahan pohon kering bunyi gemretak patahan itu sepertinya didengar penghuni rumah.


"Siapa disitu?" tanya sebuah suara dari dalam rumah.


Rajendra mengenali suara itu, suara anak kecil yang dilihatnya mencari ikan di sungai tadi, sambil tersenyum dia berseru "Bolehkah saya menginap disini malam ini? saya akan pergi besok pagi"


Terdengar suara langkah mendekat, anak kecil itu membuka pintu dan mengamati Rajendra baik-baik "Boleh, silahkan masuk"


Ketika masuk disadari jika gubug itu telah reyot, cahaya bulan nampak bersinar menerobos celah-celah di atap dan dindingnya. Dia pun duduk diatas tikar yang terbuat dari anyaman bambu, ketika dia duduk terasa juga angin yang masuk dari sela dinding yang berlubang.


Anak itu duduk di depan Rajendra, sambil tersenyum ramah dia berkata


"Apa bapak lapar? Tadi saya dengar bapak menginginkan ikan gabus?"


Rajendra tak segera menjawab dia nampak terkesan ketika kini bisa melihat anak itu dengan jelas, wajah dan rambutnya memang terlihat kotor tapi wajah itu memiliki karakter tak ada rasa takut atau kesedihan yang terlihat di wajah anak itu. Dan mata anak itu nampak bersinar cemerlang seperti mutiara yang sengaja dipasangkan ke wajahnya, "mata yang indah" kagum Rajendra dalam hati. Terlihat dari sorotan mata anak itu terpancar sebuah keberanian.


"Tidak ada" Jawab Rajendra cepat kemudian dia melanjutkan bertanya " berapa tahun usiamu? "


"Tiga belas, tadi bapak menginginkan ikan saya apa sekarang bapak masih mau?" Anak itu mengulang pertanyaannya.


"Boleh" Jawab Rajendra singkat


"Saya juga ada sedikit nasi jagung apa bapak ingin makan?"


"Saya mau, maaf jika merepotkan" Kata Rajendra yang merasa senang dengan kehangatan yang ditawarkan anak itu.


"Silahkan tunggu sebentar" anak itu lantas berdiri, dia berjalan ke belakang dan terdengar suara pintu berderit. Sepertinya anak itu sedang di dapur karena Rajendra mendengar suara patahan ranting dan sekejap asap memenuhi gubug itu.

__ADS_1


Anak itu sekejap muncul membawa baki, diletakan baki itu di depan Rajendra. Dalam waktu singkat Rajendra memakan hidangan yang tuan rumah berikan sepiring nasi jagung dengan ikan gabus yang digoreng kering.


"Enak sekali, terima kasih" Kata Rajendra selesai menghabiskan masakan anak itu.


"Betul" Jawab anak itu tersenyum karena merasa senang bisa membuat orang lain bahagia.


"Saya mau berterima kasih dengan kepala rumah tangga, apa dia sudah pergi tidur" Tanya Rajendra yang sedikit heran atas kemandirian anak di depannya.


"Dia ada di depan bapak"


"Kamu tinggal disini sendirian?" Tanya Rajendra kaget dengan jawaban anak itu.


"Ya.." Jawab anak itu mantap.


Sesaat Rajendra diam, menciptakan keheningan yang kaku. Dia lalu bertanya "Dan siapakah namamu?"


"Ranu"


"Lantas apa kerjamu sehari-hari?"


"Saya menanam jagung dan umbi dibelakang rumah, saya juga menangkap ikan jika cuaca sedang bagus dan ikan yang saya tangkap cukup banyak saya menjualnya sebagian" Jawab anak itu menjelaskan.


Seolah bingung dengan keadaan yang dialaminya sekarang dia hanya menjawab


"Begitu ya" dan kembali terdiam.


"Apa bapak mau tidur sekarang" Tanya Ranu memecah keheningan.


"Ya saya rasa begitu"

__ADS_1


"Mari saya antar ke kamar" Kata Ranu sambil berdiri mengarahkan Rajendra ke ruangan sebelah.


Rajendra masuk ke ruangan itu dan segera saja membenamkan tubuhnya disebuah kasur jerami yang nampak usang, dengung suara serangga terdengar menentramkan, dia pun segera tertidur pulas.


__ADS_2