
Langit terlihat menjadi gelap, awan-awan hitam tiba-tiba bermunculan di sekitar hutan Wanamawa ketika Patih Pramana membangkitkan Prajurit Sastrika. Seolah langit memberikan sebuah pertanda akan kegelapan yang mungkin segera berkuasa di atas dunia.
"Keluarlah dari tempat ini" terdengar suara teriakan keras dari Patih Pramana.
Tanah lalu terdengar bergemuruh, tangan-tangan prajurit Sastrika bermunculan dari dalam tanah. Bumi seakan mau runtuh ketika satu per satu Prajurit Sastrika mulai merangkak keluar dan melompat bergantian ke sekitar tanah yang lapang. Meninggalkan sebuah lubang besar di tanah berpasir yang semula menjadi pintu masuk menuju gua tempat Prajurit Sastrika.
Patih Pramana dan kedua siluman pun terlihat melompat keluar dari lubang yang diciptakan oleh Prajurit Sastrika. Kini ketiganya tepat berada di tengah Prajurit Sastrika yang berbaris tak beraturan di tempat itu. Patih Pramana mulai menyapukan pandangan ke sekeliling, dirinya merasa takjub berada ditengah pasukan yang memiliki kekuatan yang agung.
Kini suatu pertanyaan muncul di benak Patih Pramana, sekuat apakah sebenarnya Prajurit Sastrika ini. Mengapa hingga diceritakan jika Prajurit ini tak terhancurkan?. Meskipun dari penampilan sosok mereka terlihat sangat kuat dan mengancam namun belum dapat diketahui ketangguhan yang mereka miliki.
"Menjauh lah aku ingin mencoba bertarung dengan salah satu Prajurit Sastrika" Katanya pada dua Siluman di sampingnya.
Kedua siluman tampak terkejut mendengar ucapan sang Patih,
"Apa maksud anda?" Tanya Shengkara mendahului Wanara yang ingin menanyakan hal yang sama.
"Aku ingin melihat sejauh apa kekuatan yang mereka miliki" Jawab Patih Pramana dengan dingin dan tanpa menoleh. Tatapannya tampak terfokus menatap salah satu Prajurit Sastrika yang berdiri tegap di hadapannya.
Wanara dan Shengkara yang mendengar jawaban Patih Pramana memahami maksud dari sang Patih, dapat mereka tangkap jika tujuan Patih Pramana adalah untuk membuktikan cerita tentang Prajurit Sastrika yang tak terhancurkan dan tak terkalahkan. Tanpa berkata-kata lagi mereka pun segera melompat mundur untuk menjauh.
"Kau serang lah aku" Perintah Patih Pramana sambil menunjuk pada salah satu Prajurit Sastrika.
__ADS_1
Prajurit yang ditunjuk pun mulai bergerak maju dan menyerang Patih Pramana tanpa ragu. Meskipun tubuhnya besar namun ternyata gerakan Prajurit itu sangat cepat, pukulan-pukulan yang dilesatkan pun kekuatannya tak main-main. Patih Pramana memang terlihat cekatan menghindari serangan itu dengan mudah, namun gelombang pukulan itu menyebabkan ledakan-ledakan di tanah.
"Boleh juga" Kata Patih Pramana dalam hatinya, meskipun sebenarnya hal itu belum terlalu membuatnya terkesan.
Kemudian ketika ada sebuah kesempatan Patih Pramana menjatuhkan pukulannya, Prajurit itu tampak tak bergeming menerima pukulan dari Patih Pramana. Merasa kesal akhirnya Patih Pramana melompat tinggi dan menyerang untuk ke dua kalinya, kali ini dia lakukan sekuat tenaga. Prajurit itu terpental, terlihat pukulan Patih Pramana menyebabkan sebuah lubang di tubuh Prajurit yang roboh ke tanah.
"Apa hanya ini kekuatan yang dimiliki Prajurit Sastrika?" Tanya hati Patih Pramana yang menyangka jika dirinya telah mengalahkan salah satu Prajurit Sastrika.
Wanara dan Shengkara yang melihat perkelahian itu dari jauh juga berpikir sama dengan sang Patih. Mereka nampak sedikit kecewa karena Prajurit itu tampak dengan mudah dapat dikalahkan oleh Patih Pramana.
Namun tak selang lama Prajurit itu telah bangkit berdiri meski dengan bekas lubang ditubuhnya. Prajurit itu sama sekali tak menampakan rasa sakit, bahkan perlahan lubang itu mulai menutup dan pulih. Ketika prajurit itu akan memulai serangannya lagi Patih Pramana berteriak "cukup" ucapan itu terdengar sangat lantang. Prajurit itu pun seketika terhenti dan kembali berdiri terdiam.
Kini Patih Pramana dan kedua siluman yang melihat kejadian itu mulai dapat menilai kebenaran dari Prajurit Sastrika yang tak terhancurkan itu. Mereka ternyata tak bisa terbunuh meskipun tubuhnya mungkin dapat dihancurkan dan dilukai.
Wanara dan Shengkara pun bergegas mendekati Patih Pramana, mereka tak sabar untuk mendengarkan rencana selanjutnya yang akan Patih Pramana lakukan.
"Tuan sudah lihat kan kehebatan Prajurit Sastrika!" Tanya Wanara pada Patih Pramana ketika dirinya sudah berada di sampingnya.
Patih Pramana menoleh ke arah Wanara, "Ya, aku puas melihat kemampuan yang mereka miliki. Rasanya tak sia-sia melakukan semua pengorbanan selama ini" kata sang Patih sambil menyunggingkan senyum licik.
"Jadi apa langkah yang akan selanjutnya tuan lakukan?" Tanya Wanara lagi.
__ADS_1
"Sudah pasti kita akan kembali untuk merebut kekuasaan atas negeri ini" Jawab sang Patih sambil melihat ke pasukannya yang mengagumkan.
"Kapan anda akan melakukan pembalasan itu?" Kali ini Shengkara yang mencoba bertanya.
"Tak lama lagi, dan aku yakin kali ini kita tak akan gagal" Jawab Patih Pramana penuh keyakinan.
Shengkara dan Wanara pun saling menatap mereka sepertinya juga merasa puas karena sejauh ini keduanya telah berhasil menjalankan rencananya.
Wanara kemudian memalingkan pandangannya ke para Prajurit Sastrika. Benaknya melayang teringat oleh sebuah pesan yang masih terekam jelas hingga saat ini. Waktu itu Raja siluman berada pada ujung kematiannya, dirinya yang waktu itu menjadi salah satu Panglima nya dan juga orang yang menjadi kepercayaan Sang Raja. Di saat terakhirnya Raja siluman membisikan sesuatu padanya, sejak saat itu Wanara merasa mempunyai sebuah tanggung jawab untuk melaksanakan wasiat dari Raja Siluman.
Membangkitkan Prajurit Sastrika adalah merupakan salah satu dari beberapa pesan yang saat itu disampaikan padanya. Kini dirinya telah berhasil melaksanakan salah satu wasiat yang di embannya. Usahanya saat ini menjadi selangkah lebih dekat dengan rencana lain yang sudah lama dia pikirkan.
Meskipun Wanara telah menceritakan semua rencananya kepada Shengkara namun dalam batas tertentu Shengkara sendiri tidak tahu tujuan sebenarnya dari akhir rencana yang Wanara akan lakukan.
Membayangkan semua itu membuat Wanara tersenyum-senyum tanpa disadarinya. Patih Pramana yang tak sengaja melihatnya segera bertanya,
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara Patih Pramana menyadarkan lamunan Wanara, namun dengan cepat dirinya mampu menenangkan dirinya dan segera menjawab "Tidak ada, hamba hanya sedang mengagumi wujud Prajurit Sastrika tuan" ucapnya berbohong.
"Setelah hari ini habis kita akan kembali untuk merebut kekuasaan atas negeri ini" Kata Patih Pramana seolah penuh dengan ancaman.
__ADS_1
Petir kemudian terdengar dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Seolah langit sedang menangis mendengar ucapan yang baru saja Patih Pramana katakan. Hujan turun semakin lebat namun ketiganya tampak tak bergeming sedikitpun, mereka masih melihat ke arah para Prajurit Sastrika. Air hujan pun membasahi tubuh prajurit Sastrika melunturkan debu dan lumpur yang melekat pada tubuh mereka. Aliran air yang turun dari tubuh mereka memang berwarna coklat namun seolah terlihat jika aliran itu serupa dengan darah yang mungkin esok hari akan tertumpah.