Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Perintah yang Terlaksana


__ADS_3

Tepat sebelum fajar Raja Prabaswara dan semua orang yang dibawanya untuk pergi mengungsi telah bersiap untuk melanjutkan perjalanannya ke desa Sentani. Beberapa orang dari desa yang baru saja mereka singgahi nampak mengikuti ajakan sang Raja untuk bergabung dalam rombongan, namun ada juga sebagian yang memilih untuk tetap berada di desa karena mereka mempunyai anggapan jika bagi mereka tak ada masalah siapa yang saat ini memegang kekuasaan. Sebagian penduduk yang memilih untuk menetap itu meyakini, jika mereka hanyalah penduduk biasa yang tak akan terkena dampak dari pergantian pemegang kekuasaan.


Memang mereka telah beberapa kali melewati pergantian pemegang kekuasaan negeri ini namun mereka sama sekali tidak paham jika pemegang kekuasaan saat ini jauh lebih kejam dari pada Raja-Raja sebelumnya. Tentu saja Raja Prabaswara tak dapat memaksa penduduk yang bersikeras untuk tetap tinggal di desa kelahiran mereka untuk ikut bersamanya, dirinya juga memiliki anggapan jika saja mungkin Patih Pramana tak akan melakukan hal-hal buruk pada rakyat jelata seperti mereka. Maka Raja Prabaswara akhirnya membiarkan saja para penduduk itu untuk menentukan pilihan yang sudah mereka pilih sendiri.


"Jadi apakah anda mau ikut atau akan tetap disini?" Tanya Raja Prabaswara pada kepala desa di sana sebelum melanjutkan perjalanannya.


Kepala desa itu terdiam, sepertinya dirinya sedang merasakan sebuah dilema antara mengikuti rajanya atau tetap menemani penduduknya, "Ampun yang mulia, sebenarnya hamba merasa terhormat untuk dapat menerima ajakan Paduka. Namun sepertinya hamba tak dapat meninggalkan penduduk di desa ini" Jawab kepala desa itu mengatakan keputusannya.


"Baiklah jika menurutmu itu adalah pilihan terbaikmu. Tapi ingatlah jika nantinya sesuatu hal buruk terjadi setidaknya sekarang engkau tahu kemana harus pergi" Ucap Raja Prabaswara menghargai keputusan kepala desa.


Kepala desa itu pun menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan Rajanya. Dirinya pun dengan rasa tak enak hati kemudian melepas kepergian Sang Raja dan rombongannya dengan terus menundukan kepala untuk menunjukan rasa hormatnya.


Setelah melakukan percakapan kecil dengan Rajendra, Raja Prabaswara pun segera memimpin rakyatnya untuk segera melanjutkan perjalanan mereka. Rajendra dan ke dua Atmik kali ini memilih berjalan di belakang iring-iringan penduduk, dirinya mempunyai sebuah firasat jika saja saat ini tentunya Patih Pramana sudah menyadari jika Kota Ankara telah kosong. Dan sangat besar kemungkinan jika Patih Pramana sekarang sudah memberikan perintah untuk mengejar para penduduk yang telah mengungsi.


Berbekal pemikiran itu maka Rajendra dan ke dua Atmik memutuskan untuk berada di barisan belakang untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya atau serangan dari utusan Patih Pramana.


"Apakah tidak apa-apa meninggalkan penduduk desa itu tetap tinggal?" Tanya Agnigara sambil menolehkan kepalanya kearah belakang untuk melihat desa yang baru saja mereka tinggalkan.


"Semoga saja dewa-dewa melindungi mereka" Jawab Rajendra yang mendengar pertanyaan Agnigara. Dirinya tak mempunyai jawaban lain karena memang Rajendra tak dapat memastikan apakah Patih Pramana akan tetap menghancurkan desa-desa kecil seperti desa yang baru saja mereka tinggalkan.

__ADS_1


Agnigara pun memalingkan pandangannya dari desa itu dan berharap jika jawaban Rajendra benar-benar terjadi. Mereka pun kemudian melangkah mengiringi rombongan pengungsi yang sudah berada cukup jauh didepan mereka.


"Semoga apa yang akan kita temui di akhir perjalanan ini akan sepadan dengan apa yang sudah kita lakukan" Ucap Rajendra pada kedua Atmik.


...**********...


Sesaat setelah rombongan Raja Prabaswara pergi meninggalkan desa kecil tempat mereka singgah sebelumnya, Wanara dan Shengkara saat ini telah sampai di dekat desa itu. Karena perintah dari Patih Pramana hanya mengharuskannya mengetahui kemana tujuan para penduduk kota Ankara pergi maka dirinya tak memiliki keinginan untuk menghancurkan desa tersebut. Bukan karena kebaikan hatinya yang mendorongnya untuk melakukan hal itu namun jelas tak ada kebanggaan baginya untuk menyerang sebuah desa kecil yang bahkan tanpa pertahanan tersebut.


Maka kemudian dirinya dan Shengkara segera merubah wujudnya menyerupai manusia untuk bertanya pada penduduk desa tersebut. Shengkara yang menyerupai kakek tua dan Wanara menyerupai pemuda yang seolah menjadi cucu dari sang kakek. Setelah yakin dengan penyamaran itu, mereka kemudian berjalan memasuki desa tersebut. Kedatangan mereka disambut oleh seorang petani yang nampak sedang mau memulai pekerjaannya.


"Ada yang bisa saya bantu kek?" Tanya petani itu dengan sopan.


"Apa yang hendak anda tanyakan?" Petani itu menjawab sambil menurunkan cangkul yang disanding di pundaknya.


"Apakah beberapa saat lalu ada rombongan yang lewat desa ini?" Tanya Shengkara memulai pencarian informasi.


"Oh ya, malam sebelumnya mereka baru saja singgah di desa kami, apakah kakek ini tertinggal dari rombongan itu?" Ucap petani itu sembari bertanya.


"Sebenarnya kami bukan dari rombongan itu, tapi kami mendengar jika negeri ini sedang dalam bahaya" Jawab Wanara yang beranggapan jika tentunya petani itu telah mendengar cerita dari sebab rombongan Raja Prabaswara meninggalkan kerajaannya.

__ADS_1


"Ah ya saya juga sudah mendengar cerita itu, menurut yang saya dengar sepertinya kekuasaan negeri ini telah berhasil digulingkan oleh Patih Pramana. Dan menurut mereka alangkah baiknya jika kami juga ikut pergi bersama mereka, namun beberapa penduduk tetap memilih untuk tinggal. Karena sebenarnya tak akan berpengaruh bagi penduduk kecil seperti saya ini siapapun yang saat ini memegang kuasa atas negeri ini" Petani itu menjelaskan apa yang dia tahu.


"Oh jadi begitu rupanya, lalu apakah anda tahu kemana mereka akan pergi? Kami ingin sekali mengikuti tujuan mereka" Tanya Shengkara menanyakan maksud sebenarnya.


"Ehm... Jika saya tak salah dengar mereka sepertinya menuju sebuah desa bernama Sentani" Jawab Petani itu dengan polos. Dirinya sama sekali tak menyadari jika ucapannya telah membuka sebuah peluang bahaya bagi semua orang.


"Oh terimakasih anak muda. Sebaiknya kami bergegas untuk menyusul mereka" Kata Shengkara berpura-pura terburu-buru untuk segera pergi.


"Ah ya kek sama-sama, sebaiknya kalian berhati-hati" Jawab Petani itu melepas kepergian dua orang asing yang sama sekali tak dia ketahui jika keduanya adalah jelmaan siluman. Petani itu pun mengambil cangkulnya dan melanjutkan perjalanannya ke sawah.


Ketika petani itu telah pergi Wanara dan Shengkara segera menghilang dan kembali ke tempat awal dimana beberapa Prajurit Sastrika yang mereka bawa telah menunggu.


"Desa Sentani, sekarang kita sudah tahu kemana tujuan mereka" Ucap Wanara merasa puas karena berhasil melaksanakan perintah Patih Pramana.


"Ya, sebaiknya sekarang kita segera kembali untuk memberitahukan hal ini pada Patih Pramana" Kata Shengkara yang merasakan kepuasan yang sama dengan Wanara.


"Ya, dan kita akan segera tahu apa yang akan dilakukan oleh Patih Pramana ketika mengetahui kabar yang kita bawa" Wanara menyunggingkan senyum penuh arti.


Shengkara yang paham dengan maksud dari Wanara membalas dengan senyum. Mereka pun segera memerintahkan Prajurit Sastrika yang mengiringi mereka untuk segera kembali ke kerajaan Shaminari.

__ADS_1


Perintah dari Patih Pramana telah berhasil dilaksanakan. Kini kedua siluman sedang kembali dengan membawa sebuah kabar, tak ada yang tahu apa kiranya yang mungkin akan Patih Pramana lakukan ketika mendengar kabar yang mereka bawa. Saat ini tak ada satupun yang paham untuk apa Patih Pramana mencoba mencari tahu kemana tujuan para pengungsi. Satu hal yang dapat dipastikan tentunya bukan hal baik yang akan dilakukan oleh Patih Pramana.


__ADS_2