Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Keberadaan Prajurit Sastrika


__ADS_3

Keadaan di gunung Basanta pagi itu terlihat begitu porak poranda seolah sebuah badai besar baru saja menerpanya. Kekacauan yang terjadi di gunung Basanta sebenarnya adalah perbuatan Patih Pramana. Tepat sesaat setelah Wanara dan Shengkara membawa tubuh Patih Pramana pergi dari medan pertempuran dirinya merasa begitu kesal. Tak dapat lagi memendam amarah diapun meluapkannya dengan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya. Karena merasa tak sanggup untuk menahan amarah dan amukan Patih Pramana, Wanara dan Shengkara memilih untuk membiarkan saja sang Patih meluapkan kekesalannya.


Ketika Patih Pramana mulai merasa tenang, Wanara yang tetap belum menunjukan wujudnya mengatakan sesuatu, "Jika anda pikir semua ini telah berakhir anda salah besar tuan, tujuan kami sebenarnya telah berhasil dalam pemberontakan yang kita lakukan malam tadi" suara Wanara terdengar menggema.


"Apa maksudmu? keluarlah!! jelaskan semua padaku" Teriak Patih Pramana tak kalah dari suara Wanara.


Wanara dan Shengkara yang merasa keadaan sudah cukup aman seketika menampakan wujudnya di samping Patih Pramana.


"Anda telah berhasil menciptakan Pedang Hitam, dan itu adalah sesuatu yang memang menjadi tujuan kami dari awal" Kata Wanara mencoba menjelaskan.


Patih Pramana melihat pedang yang kini dipegangnya, sambil mengangkat e depan mukanya dirinya mencoba mencari-cari keistimewaan Pedang Hitam. Karena tak yakin dirinya kemudian bertanya, "Apa hebat nya Pedang ini?"


Wanara kemudian menceritakan tentang semua yang dia tahu, dengan kisah yang dilebih-lebihkan dirinya memulai ceritanya dari awal perselisihan antara bangsa siluman dan manusia. Dikatakan jika saat itu manusia terus memperluas wilayah kekuasaannya hingga mendesak mahkluk-mahkluk lain yang sudah terlebih dahulu tinggal di dunia ini. Karena ulah serakah manusia itu kemudian bangsa siluman bekerja sama dengan mahluk lain untuk menghentikan keserakahan manusia.


Maka ketika Raja siluman dan Ratu suku Carani berkerjasama mereka menciptakan sebuah pasukan yang di beri nama Prajurit Sastrika. Pasukan itu konon sangat hebat hingga tak perlu waktu lama mereka berhasil memukul dan menghancurkan peradaban manusia dengan cepat. Namun karena akhirnya Ratu suku Carani memihak ke manusia, Ratu itu kemudian menghentikan Raja siluman. Pertarungan ke duanya tak dapat dihindari, Raja siluman dapat dikalahkan dalam pertarungan yang dahsyat itu.


Dengan kekalahan Raja siluman, Ratu itu kemudian menyembunyikan keberadaan Prajurit Sastrika dari dunia ini. Menurut yang Wanara tahu Prajurit Sastrika dapat dibangkitkan dan akan menuruti oleh Pemilik Pedang Hitam.


Patih Pramana terlihat sangat tertarik mendengarkan cerita yang disampaikan Wanara, "Dan kini aku sudah mempunyai Pedang Hitam, jadi kini kita tinggal mencari dimana keberadaan Prajurit Sastrika" Kata Sang Patih dengan wajah penuh semangat.


"Kita tak perlu lagi mencarinya tuan" Jawab Wanara.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Patih Pramana sedikit merasa tak senang.


"Karena hamba tahu keberadaan Prajurit Sastrika itu disembunyikan" Wanara menyunggingkan senyum bangganya.


Patih Pramana tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, meski dirinya sedikit merasa aneh dengan Wanara yang begitu banyak tahu tentang kejadian di masa lalu namun keangkuhan telah menutup kecurigaan Patih Pramana pada sosok Wanara.


"Dimanakah keberadaan Prajurit Sastrika itu?" Tanya Patih Pramana tak sabar.


"Prajurit Sastrika telah disembunyikan didalam sebuah gua yang sangat dalam, untuk menutupi gua itu Ratu yang dulu menyembunyikannya telah menutup pintu gua itu dengan sebuah gunung, dan gunung itu berada tak jauh dari Hutan Wanamawa" Jawab Wanara.


Kini menjadi jelas jika selama ini ternyata ada tujuan kenapa Wanara memilih untuk menguasai Hutan Wanamawa. Tentu saja karena dirinya ingin memastikan jika keberadaan Prajurit Sastrika terus berada dalam pengawasannya.


"Tentu saja tuan" Jawab Wanara sambil menatap ke arah Shengkara, melihat semangat Patih Pramana yang bangkit kembali kegembiraan dirasakan oleh Wanara.


Dengan cara yang sama Wanara dan Shengkara kemudian membawa tubuh Patih Pramana ke tempat yang Wanara sebutkan. Dengan cepat ketiganya kini telah sampai disebuah gunung di sekitar hutan Wanamawa. Patih Pramana tampak sedang mengamati gunung yang kini berada dihadapannya.


"Apa kau yakin Prajurit Sastrika berada di bawah Gunung ini?" Tanya Patih Pramana ketika dirinya tak menemukan suatu keanehan pada gunung di hadapannya.


"Hamba yakin, tuan" Jawab Wanara tanpa banyak kata.


"Lalu apa rencanamu untuk menemukan pintu masuk ke gua tempat Prajurit Sastrika itu berada?" Tanya Patih Pramana pada Wanara yang selalu penuh dengan rencana.

__ADS_1


"Hamba akan mengerahkan bangsa siluman yang masih tersisa di hutan Wanamawa untuk menggali dan mengikis gunung ini" Jawab Wanara menjelaskan rencananya.


Patih Pramana sekali lagi mengamati gunung di hadapannya, melihat gunung itu cukup besar dirinya ragu dengan kecepatan rencana dari Wanara, "Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menjalankan rencanamu itu?"


"Hamba tidak yakin, tapi kami akan melakukan tanpa henti dan berusaha melakukan itu dengan secepatnya" Jawab Wanara tak bisa memastikan waktu yang mungkin akan dihabiskannya.


"Itu terlalu lama! Aku punya cara yang lebih baik, dan jika memang benar Prajurit Sastrika itu tak terhancurkan caraku ini akan berhasil" Jawab Patih Pramana penuh dengan tanda tanya bagi Wanara dan Shengkara.


Patih Pramana kemudian tampak mulai mengumpulkan seluruh kekuatannya, ketika dirinya telah merasa siap ditatapnya gunung dihadapannya dengan tajam, "menjauh lah" perintahnya pada Wanara dan Shengkara.


Keduanya hanya menurut saja karena belum tahu apakah kiranya rencana yang akan dilakukan oleh Patih Pramana, dengan cepat keduanya sudah menjauh di belakang tubuh sang Patih.


Sambil mengeluarkan teriakan Patih Pramana seketika melompat dengan tinggi, dalam puncak lompatannya dirinya kemudian mulai menebaskan Pedang Hitamnya ke arah gunung. Suara gelegar dentuman menggema ketika gelombang kekuatan tebasan itu menghantam puncak gunung, sebelum dirinya turun tiga empat kali tebasan di arahkan kembali ke arah gunung. Dentuman-dentuman pun terjadi, gunung itu seketika hancur menyebabkan hujan batu dan kepulan asap yang memenuhi sekitar tempat itu.


Wanara dan Shengkara yang melihat dari jauh merasa kaget sekaligus kagum dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Patih Pramana. Tubuh keduanya bergidik membayangkan apabila serangan semacam itu diarahkan ke tubuh mereka. Tak terbayangkan lagi kini seberapa besar batas kekuatan yang saat ini dimiliki Patih Pramana.


Patih Pramana sudah mendarat dengan ringan tak jauh dari gunung yang telah hancur. Seolah kepulan debu dan hujan batu sama sekali tak menggangu nya sama sekali. Dengan tenang dirinya tetap memusatkan pandangannya ke arah bekas serangannya, dengan sabar menunggu hingga kepulan debu itu lenyap terbawa angin.


Wanara dan Shengkara yang merasa penasaran pun mulai datang mendekat, mereka tentu saja ingin tahu keberhasilan dari rencana yang telah Patih Pramana lakukan. Ketiganya kini berdiri menunggu kepulan asap itu lenyap.


Ketika kepulan asap itu lenyap apakah Prajurit Sastrika akan mereka temukan? Apakah ketika kepulan asap itu lenyap, hilang juga kesempatan manusia untuk mempertahankan peradabannya?

__ADS_1


__ADS_2