Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Langkah Penyelamatan


__ADS_3

Cahaya Fajar yang biasanya membawa sebuah harapan baru, namun kali ini sama sekali tak terlihat indah bagi semua yang telah menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Wajah-wajah penuh keterkejutan nampak dari para prajurit yang berada diatas benteng kerajaan Shaminari. Rasa takut dan khawatir bercampur jadi satu, pikiran mereka seolah menolak untuk mempercayai apa yang sudah mata mereka lihat.


Pemikiran para prajurit dibuat buntu untuk mencari jawaban atas kejadian yang baru saja mereka lihat. Bagaimana mungkin ratusan Pasukan berkuda yang sudah dianggap sebagai ujung tombak dari kekuatan kerajaan dapat dikalahkan dengan mudah oleh pasukan yang bahkan jumlahnya jauh lebih sedikit. Dalam cahaya fajar yang perlahan mulai menerangi terlihat dengan jelas jika tak satupun ada yang tumbang dari pihak musuh.


Semua yang sudah terjadi seolah sama sekali tak masuk akal, sesuatu yang seharusnya mustahil terjadi. Jikapun Pasukan berkuda itu berhasil dikalahkan harusnya setidaknya mereka juga akan menimbulkan kerusakan pada pihak musuh. Namun kenyataan ternyata menepiskan keharusan itu, yang terjadi jelas jika Prajurit musuh sama sekali tak ada korban satupun.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya seorang prajurit pada yang lain.


Semua terdiam, karena masing-masing pun memiliki pertanyaan yang sama tanpa ada satupun yang tahu jawabannya.


Prajurit Sastrika yang telah berhasil menaklukan Pasukan berkuda kini telah membubarkan formasi dan mulai berjalan ke arah dinding benteng.


Panglima prajurit yang melihat jika serangan akan segera datang berteriak memberikan perintah, "Tutup gerbangnya, siapkan pasukan pemanah!"


Mendengar perintah itu para prajurit pun segera melaksanakannya, pintu gerbang telah mulai ditutup dan pasukan pemanah sudah bersiap dengan busur nya.


Setelah meyakini jika pasukan musuh sudah berada pada jangkauan anak panah, Panglima prajurit pun memberikan perintah untuk menyerang "tembak..". Meskipun suara perintah itu terdengar keras dan jelas namun dalam hati Panglima itu sama sekali tak ada keyakinan jika serangannya akan mampu menghentikan pasukan musuh.


Ratusan anak panah pun menghujani Prajurit Sastrika, namun kelihatan sekali jika mereka sama sekali tak merasa peduli. Dengan langkah pasti, mereka tampak terus berjalan mendekati benteng kerajaan.


Sesuatu yang sudah dikhawatirkan Panglima prajurit kerajaan Shaminari pun benar-benar terjadi. Anak panah yang terus menghujani tubuh pasukan pemberontak sama sekali tak mempan, jangankan menembus tubuh mereka, tergores pun sepertinya tidak.


Tiba-tiba rentetan serangan yang meledakan tanah terjadi, serangan itu nampak membuat pasukan pemberontak terpental. Seiring serangan yang baru saja terjadi tampak lima sosok yang baru saja terbang melewati tembok benteng.

__ADS_1


"Tahan tembakan kalian!" Teriak salah satu Panglima yang berada di ujung benteng, dirinya sepertinya tahu jika serangan yang baru saja terjadi dilakukan oleh Rajendra dan kawan-kawannya.


Berada diatas punggung Atmik angin yang berwujud Elang Perak, Rajendra dan para Atmik saat ini telah datang untuk menghalau serangan Prajurit Sastrika.


Mendahului yang lain Agnigara tampak sudah turun untuk menghadapi Prajurit Sastrika. Riswana dan Nadira pun segera menyusul, sementara Rajendra yang sudah memegang Pedang Petir ditangannya mencoba melakukan serangan dari atas bersama Bayurajata.


Dan untuk pertama kalinya kini Rajendra dapat melihat dengan jelas pasukan musuh yang sudah tentu Prajurit Sastrika. Bayurajata nampak terbang menukik sementara Rajendra terus menebaskan pedangnya, gelombang tebasan pedang Petir nampak membelah tubuh Prajurit Sastrika dan menembus sampai ke tanah.


Agnigara, Nadira dan Riswana yang berada di bawah juga terlihat sudah bertarung dengan beberapa Prajurit Sastrika yang mengepung mereka. Tanpa kenal ampun Agnigara terlihat yang paling banyak menumbangkan Prajurit Sastrika yang datang untuk menyerang.


Rajendra dan Bayurajata yang sudah memporak porandakan bagian belakang kini sudah terlihat bergabung dengan ke tiga Atmik yang berada tak jauh dari dinding benteng. Sebuah tebasan mendatar di lakukan Rajendra, gelombang tebasan berwarna biru itu terlihat memotong apa saja yang dilaluinya.


Untuk sesaat para prajurit kerajaan Shaminari mengira jika semuanya telah selesai. Kemenangan sudah dipastikan, bayang-bayang tentang kehebatan sosok pahlawan beberapa waktu yang lalu sepertinya telah memberi keyakinan pada semua prajurit.


"Apa hanya ini kemampuan Prajurit Sastrika?" Tanya Rajendra pada para Atmik tanpa menoleh dan tetap mempertahankan posisinya.


"Tak mungkin, ini terlalu mudah" Jawab Agnigara.


Tak perlu waktu lama pertanyaan Rajendra pun terjawab, Prajurit Sastrika yang telah roboh, terbelah bahkan yang hancur sekalipun mulai bangkit lagi. Luka mereka telah pulih, yang terbelah bersatu lagi dan yang hancur tampak menyatu kembali.


"Sepertinya anda menilai terlalu cepat" Kata Agnigara yang melihat Prajurit Sastrika telah hidup lagi.


"Ini tak akan mudah, aku merasakan firasat buruk. Riswana, Nadira beritahu Raja untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dan setelah itu bawalah Utari dan Ranu pergi ke desa Sentani, kami akan segera menyusul jika keadaan sudah terkendali" Perintah Rajendra pada Atmik Hutan dan Air.

__ADS_1


Riswana nampak sedikit enggan melakukan perintah Rajendra, dirinya yang juga merasakan sebuah firasat buruk sebenarnya ingin tetap berada di tempat ini untuk membantu mereka mengahadapi Prajurit Sastrika. Namun karena teringat jika langkah penyelamatan lebih penting untuk di lakukan maka dengan berat hati dirinya mengiyakan perintah itu.


Tanpa perlu menjawab Riswana menatap ke arah Nadira, keduanya tampak mengangguk kemudian segera terbang meninggalkan Rajendra dan dua Atmik lain.


Prajurit-prajurit kerajaan yang juga melihat jika Pasukan pemberontak yang sudah tumbang telah bangkit satu per satu seolah kini kehilangan keyakinannya.


"Mahkluk apa mereka itu?" Tanya beberapa prajurit.


Mereka yang semula mengira perang sudah akan segera dimenangkan ternyata salah. Perang sebenarnya ternyata baru saja akan dimulai, bahkan kini mereka sudah kehilangan keyakinan untuk dapat mengalahkan mahkluk-mahkluk yang terlihat tak bisa mati.


Rajendra, Agnigara dan Bayurajata yang sudah mulai dikepung Prajurit Sastrika tengah bersiap menghadapi pertempuran yang bahkan tak terpikir dapat mereka menangkan.


"Jadi apa sekarang rencana anda" Bayurajata mencoba bertanya pada Rajendra.


Rajendra tak segera menjawab, karena memang dirinya tak mempunyai sebuah rencana untuk menghadapi musuh. Selama ini yang dia tahu hanya akan mengalahkan setiap musuh yang dia hadapi. Tapi untuk musuh-musuh yang saat ini dia hadapi tentunya kekuatan dan kesaktian saja tak akan cukup untuk dapat meraih kemenangan.


"Tak ada rencana, kita hadapi dan tahan mereka selama mungkin" Jawab Rajendra datar.


Kedua Atmik hanya tersenyum mendengar jawaban itu, tanpa berkata-kata lagi mereka pun seketika berteriak dan menyongsong langsung ke arah Prajurit Sastrika. Sebuah pertarungan yang seolah terasa sia-sia, karena tak peduli sebanyak apapun ke tiganya telah merobohkan Prajurit Sastrika maka mereka akan segera bangkit dan menyerang kembali.


Beberapa Prajurit Sastrika pun tampak mulai berhasil lolos dan menyerang ke arah dinding benteng. Rajendra dan kedua Atmik tak bisa menghentikan semua itu, mereka terlalu sibuk menghadapi Prajurit Sastrika yang terus datang menyerang mereka.


Merasa kesempatan bertahan semakin kecil Rajendra pun berteriak kearah para prajurit yang berada di dinding benteng, "larilah, peringatkan penduduk untuk segera menyelamatkan diri!!"

__ADS_1


Patih Pramana yang berada di depan Wanara dan Shengkara tersenyum penuh kepuasan melihat Prajurit Sastrika yang berhasil merepotkan Rajendra dan ke dua Atmik.


__ADS_2