
orang-orang mengenal jika di bagian timur negeri, masih berupa hutan rimba yang jauh dari pemukiman penduduk. Dalam luasnya hutan itu, terdapat sebuah tempat yang dianggap penuh misteri, orang biasa menyebut tempat itu dengan nama hutan Birama. Konon ditempat yang selalu diselimuti kabut itu pepohonan yang tumbuh disana ukurannya melebihi ukuran normalnya.
Sebuah takdir pun membawa Rajendra untuk pergi ke hutan Birama. Sehari setelah mereka tak menemukan Atmik Tanah di gunung japadipa, kini Riswana mengarahkan mereka untuk pergi ke hutan itu untuk menemukan Atmik Angin. Mereka kini sudah sampai di ujung hutan rimba, setengah jalan lagi untuk menemukan hutan Birama.
Rajendra dan Ranu merasa takjub dengan hutan yang ada dihadapannya, mengingatkan Rajendra dengan hutan di pulau canala tapi tempat ini terlihat jauh lebih luas.
"Tempat ini tampak mengagumkan" Gumam Rajendra. "Apa kalian bisa lihat?pohon-pohon disini terlihat sudah berumur tua dan subur. Tempat ini tampak masih suci, bahkan perang-perang besar pun seolah tak mampu menyentuh hutan ini" katanya kemudian.
Bagi Rajendra yang sering melakukan perjalan, melihat hutan merupakan hal yang biasa, namun hutan-hutan yang selama ini dia lihat pepohonannya sebagian masih terlihat muda. Pertanda jika sebagian hutan itu mungkin pernah di bakar atau banyak yang ditebang ketika perang antar kerajaan terjadi. Maka tak heran jika dirinya merasa takjub dengan hamparan pepohonan yang terlihat berukuran sama besarnya berjejer memenuhi hutan dihadapannya saat ini.
Nadira merasa aneh dengan rona kekhawatiran yang ditunjukan pada wajah Riswana. "Ada apa?" Tanyanya kemudian. Rajendra dan Ranu pun ikut menoleh mendengar pertanyaan itu.
"Hach... Tidak, tak ada apa-apa" Riswana tampak tergagap menjawab pertanyaan Nadira. Jawaban yang tentunya bukan sesuatu yang Nadira harapkan.
Riswana sebagai Atmik hutan tentu saja dapat merasakan sesuatu yang ada di dalam hutan itu. Namun karena dia tak dapat memastikan mahkluk yang dia rasakan keberadaannya itu dirinya memilih diam. Riswana tak mau berspekulasi menebak, dia juga tak ingin membuat yang lain merasa khawatir.
"Apa masih jauh tempat yang akan kita tuju?" Tanya Rajendra pada Riswana sambil menatap ke depan mencoba mencari jalan yang kiranya bisa mereka lewati.
__ADS_1
"Tempat itu tepat di tengah hutan ini, mungkin akan butuh setengah hari untuk sampai ke tempat itu" Riswana menjawab dengan mengerutkan dahinya mencoba untuk menerka waktu.
"Kalau begitu kita mesti segera bergegas, tentunya kita ingin sampai tempat itu sebelum fajar tiba" Ucap Riswana yang tampak
Yang lain pun hanya terdiam dan mengangguk menyatakan kesetujuan dengan pendapat yang Nadira katakan. Mereka pun mulai bejalan beriringan menembus rimbunnya hutan.
Cahaya matahari hampir tak dapat menembus masuk ke dalam tanah di dasar hutan, mereka dapat merasakan kelembaban tanah yang mereka pijak. Akar-akar pepohonan tampak menyembul kokoh, menopang batang pohon yang tinggi menjulang. Semakin mereka masuk jauh ke dalam hutan, mereka semakin sadar dengan makin besar dan tingginya pohon di sekitar mereka.
"Sepertinya kita sudah dekat dari hutan Birama" Ucap Riswana sambil melihat ke arah sebuah pohon yang terlihat paling besar dan tua.
Ranu menutup telinga dengan ke dua tanganya, kemudian menyuruk sembunyi di balik sebuah pohon. Sosok-sosok bertubuh besar pun seolah memenuhi seluruh hutan, bermunculan di atas dan dibelakang pepohonan.
"Tetaplah sembunyi disitu, jangan bergerak.." Perintah Rajendra pada Ranu, sambil bersiap dengan sikap siap tempur.
"Siapa kalian? Dan apa yang membuat kalian berani masuk ke hutan ini" Tanya salah satu mahkluk yang bertubuh paling besar diantara yang lain, kiranya dialah pemimpinnya.
Rajendra tampak tak mempedulikan pertanyaan itu, dirinya sudah bersiap untuk menjawabnya dengan sebuah serangan. Untuk sesaat seakan-akan pertempuran tak dapat dihindari, namun ketika Rajendra sudah bersiap untuk menyerang teriakan Riswana menghentikannya.
__ADS_1
"Tunggu....!!" Teriaknya, teriakan yang kemudian mendapat perhatian dari semua yang ada ditempat itu. Membuat mereka diam tak melanjutkan gerakan. "Apa kalian bangsa Asura??" Lanjut Riswana melontarkan pertanyaan pada sosok-sosok yang serupa dengan manusia namun dalam bentuk raksasa itu.
"Dari mana kau tahu?" Jawab Pemimpin kelompok itu. Kemudian dia tampak mulai menyadari sesuatu, dia sekarang bisa melihat dengan jelas wujud Riswana dan Nadira. Raut mukanya pun berubah kesan keseraman telah hilang berganti dengan wajah ramah penuh persahabatan, "apa kalian berdua Atmik?" Ucapnya kemudian setelah yakin dengan penilaian sekilas dari apa yang dia lihat.
"Ya, begitulah" Jawab Riswana dan Nadira hampir bersamaan. Riswana tak menyangka jika ternyata bangsa Asura masih ada di dunia ini. Sejak awal dia memang sudah merasakan keberadaan mereka, namun karena dia mengira jika bangsa mereka telah dibawa kembali oleh dewa ke langit, diapun tak mengatakan apa yang dia rasakan pada yang lain.
"Senang bisa melihat kalian lagi" Jawab pemimpin suku Asura itu dengan tersenyum.
Bangsa Asura konon diceritakan adalah pasukan yang dikirim dewa dari langit untuk membantu Raja Mahesa saat berperang menghadapi musuh-musuh kerajaan lain. Ketika perang telah usai para dewa pun berniat membawa mereka kembali, namun beberapa diantaranya menyatakan ingin tetap tinggal di dunia karena merasa telah jatuh hati dengan keadaan di negeri ini. Dewa pun mengijinkan beberapa diantara pasukan kerajaan langit itu yang berniat tinggal di dunia, sekaligus meminta mereka untuk menjaga kedamaian di dunia.
Semenjak itulah mereka mulai tinggal di hutan Birama dan menyembunyikan keberadaan mereka dari manusia. Ukuran tubuh mereka tentu saja berbeda dengan manusia pada umumnya, tinggi mereka lebih dari dua meter. Dengan badan tegap dan dada bidang tubuh mereka terlihat lebih kokoh dengan otot-otot pada perutnya. Pemimpin bangsa Asura yang saat ini sedang berbicara pada Atmik bernama Adanu, dia merupakan salah satu panglima pasukan kerajaan langit.
Rajendra yang merasa jika sosok-sosok besar yang disebut bangsa Asura oleh Riswana itu bukanlah musuh diapun mengendorkan sikapnya. Kemudian dia berjalan mendekat dan bertanya "Siapa kalian sebenarnya, dan kenapa menyerang kami?".
"Maafkan atas ke salah pahaman tadi, kami mengira kalian orang-orang yang punya niat jahat di hutan ini, tentang siapa kami biarkan kedua Atmik yang menjelaskan padamu" Jawab Panglima Adanu sambil menundukkan kepala dan membungkuk meminta maaf.
Riswana pun kemudian menjelaskan yang dia tahu tentang bangsa Asura pada Rajendra, mendengar jika mereka adalah pasukan yang dulu membantu gurunya untuk menciptakan kedamaian di dunia dirinya pun merasa senang. Kenangan pun seketika membanjiri hatinya teringat hari-hari yang dia lewati bersama sosok tua yang menyenangkan itu. Diapun menatap ke langit setengah berharap bisa menemukan wajah gurunya diatas sana.
__ADS_1