
Fajar mulai menyingsing, menggantikan gelap dengan kilauan cahaya matahari. Kabut-kabut di gunung Basanta mulai menipis perlahan menghilang terkena angin dan panas. Tiga sosok kini dapat terlihat jelas dalam remang cahaya matahari yang tak mampu menembus ke dalam rimbunnya daun dari pohon-pohon tua di gunung Basanta.
"Anda sepertinya telah berhasil menguasai dua Ajian yang kami ajarkan" Kata salah satu yang berwujud seorang tua berjenggot yang tak lain adalah penjelmaan Shengkara.
"Lalu apa rencana anda selanjutnya tuan?" Tanya sosok yang lain yang berwujud manusia kera dengan bulunya yang panjang.
Sosok yang menjadi pusat perhatian tampak terdiam mendengarkan pertanyaan, dapat dipastikan jika sosok itu adalah Patih Pramana yang kini telah menguasai dua ilmu hitam. Selama ini dirinya berusaha untuk mendapatkan Pedang Hitam semata-mata hanya untuk melaksanakan perintah Rajanya, kini setelah dia tahu jika pedang hitam dapat dia ciptakan dari dua Ajian yang telah dikuasainya keyakinannya untuk setia mengabdi mulai goyah. Dengan kesaktian yang dimilikinya sekarang tentunya membuat ambisinya pun kian bertambah, Patih Pramana tak lagi menginginkan sebagai abdi tapi ingin menjadi seorang pemimpin atau lebih tepatnya penguasa negeri.
Menyadari kegundahan yang sedang dirasakan Patih Pramana, Wanara pun tak menyia-nyiakan kesempatan
"Anda sekarang telah memiliki kekuatan dan kesaktian yang barangkali tak tertandingi, alangkah sayangnya jika tuan tak menggunakan kekuatan itu untuk menguasai seluruh negeri" Kata Wanara mulai melancarkan hasutannya.
Sang Patih mulai merasa tertarik dengan kata-kata dari Wanara, tapi meskipun dirinya kuat tetap saja tak mungkin bisa melakukan semuanya sendirian. Setidaknya dirinya membutuhkan sebuah pasukan untuk dapat memulai pemberontakan,
"Menarik sekali yang kau katakan itu, tapi tak mungkin rasanya aku menaklukan seluruh negeri ini sendirian ha...ha.." Patih Pramana menertawakan gagasan Wanara karena mengira hanya lelucon saja.
"Tentu saja kami tak akan tinggal diam, jika tuan ingin mencoba menguasai negeri ini kami berdua akan membantu sekuat tenaga kami" Kata Wanara sambil menatap ke arah Shengkara seolah meminta persetujuannya.
"Ya, tidak hanya kami, tapi juga semua bangsa siluman akan kami ajak untuk mendukung rencana anda" Shengkara menimpali ucapan Wanara yang paham dengan arti tatapannya.
__ADS_1
Patih Pramana kini merasa jika ternyata yang dikatakan keduanya bukanlah sebuah lelucon, dirinya pun kini mulai memikirkan ucapan keduanya dengan lebih serius.
"Seberapa banyak siluman yang dapat kalian kumpulkan?" Tanya Patih Pramana mencoba membandingkan kekuatan, dirinya tentu saja tahu seberapa banyak prajurit yang akan dihadapinya jika ingin memulai pemberontakan terhadap kerajaan Shaminari.
Sebagai seorang Patih di kerajaan Shaminari, dirinya tentu saja mengetahui untuk menggulingkan kekuasaan Raja Prabaswara yang saat ini memegang negeri, dibutuhkan sebuah rencana yang matang dan kekuatan pasukan yang mumpuni.
"Jumlah siluman yang dapat kami kumpulkan mungkin tak akan sebanyak pasukan kerajaan, tapi yakinlah kami mampu menandingi kekuatan mereka!" Jawab Wanara mencoba meyakinkan Sang Patih.
Ambisi Patih Pramana seketika bergelora mendengar ucapan Wanara, keserakahan mulai merasuki jiwanya. Bayang-bayang menjadi seorang Raja yang memegang kekuasaan negeri pun terlintas dalam benaknya.
"Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk mengumpulkan mereka semua!" Patih Pramana mulai memikirkan sebuah strategi.
"Tak akan makan waktu setengah hari kami akan mampu mengumpulkan semua siluman yang ada di seluruh penjuru negeri ini" Jawab Shengkara terlihat yakin, dari penekanan pada tiap patah katanya.
Wanara dan Shengkara menjawab perintah itu dengan mengangguk hampir bersamaan, mereka mengerti arti perintah Patih Pramana. Keduanya segera saja menghilang dari hadapan Patih Pramana dan segera pergi untuk mengumpulkan semua siluman yang telah mereka ketahui.
Patih Pramana yang kini sendirian di tengah gunung Basanta duduk di sebuah batu di bawah sebuah pohon, dirinya tampak sedang merenungkan rencana-rencana untuk dapat menguasai negeri ini. Siapa sangka jika seorang yang dulunya hanya anak petani dari desa yang tak dikenal kini telah menjelma menjadi seorang yang memiliki kesaktian yang begitu tinggi. Bahkan bagi Patih Pramana sendiri tak pernah sebelumnya terbesit impian untuk menjadi seorang penguasa negeri, mimpi yang paling tinggi baginya hanyalah menjadi seorang patih dan mimpi itu sudah berhasil dia wujudkan.
Tapi kini ambisinya menjadi lain ketika tujuannya yang semula ingin memenuhi perintah rajanya mempertemukannya dengan sosok dua siluman yang mengajarkan dua Ajian yang terlarang. Dengan usaha yang tak mudah dirinya kini telah berhasil menguasai dua ajian itu, membuat dirinya menjadi satu-satunya manusia atau mungkin mahkluk yang mampu menciptakan pedang hitam. Sebuah Pedang mitos yang diyakini membawa sebuah kutukan yang sangat gelap. Meskipun pedang Hitam itu sampai saat ini belum tercipta namun keberadaan seseorang yang mampu melakukanya sudah cukup membuat peradaban manusia terancam keberadaannya.
__ADS_1
Sorot mata Patih Pramana tampak berkilat-kilat, dirinya kini sedang membayangkan duduk di sebuah singgasana. "Tak lama lagi... Aku akan menguasai seluruh negeri dan membuat semua orang mengenal nama Pramana sebagai seorang Raja.." Katanya dalam hati diakhiri dengan sebuah tawa yang besar penuh kegembiraan.
... *************...
Sementara ditempat lain dua Siluman yang sedang menjalankan perintah untuk membuat pasukan saat ini berada di Hutan Wanamawa,
"Kenapa engkau belum mengatakan tentang Prajurit Sastrika padanya?" Tanya Shengkara mencari tahu sebab dari Wanara masih merahasiakannya.
"Aku masih ragu dirinya mampu menciptakan pedang Hitam, sejujurnya aku sendiri tidak tahu cara untuk menciptakan pedang itu. Dari yang aku dengar Pedang itu hanya akan tercipta ketika pemilik dua ajian itu merasa tersudut dalam bahaya" Jawab Wanara mencoba menjelaskan.
Shengkara diam merenungkan maksud ucapan dari Wanara, dirinya masih merasa belum paham sepenuhnya maksud atau rencana dari Wanara "Jadi apa sebenarnya rencanamu?".
"Engkau sendiri pastinya paham tentang keangkuhan Patih Pramana, kemungkinan dalam perang yang akan kita buat dirinya akan menghadapi musuh yang kuat dan aku harap demikian. Tanpa sebuah pertempuran tak mungkin kita bisa membuat Patih Pramana merasa terancam dengan kesaktian yang dimilikinya sekarang" Ungkap Wanara menjelaskan tujuannya.
Shengkara kini merasa paham dengan maksud dari Wanara, memang benar yang dikatakannya tak ada keraguan sama sekali jika hanya dengan membawa Patih Pramana dalam sebuah pertempuran yang bisa membuatnya mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dan ada kemungkinan jika dirinya akan menghadapi musuh kuat yang akan membuatnya terpojok dan terancam, saat itu besar kemungkinan dirinya akan bisa menciptakan pedang hitam.
"Jadi dalam perang yang akan kita buat ini kemenangan bukanlah sebuah tujuan?" Shengkara mengerutkan dahinya.
"Ya, tujuan kita hanyalah membuat kekacauan dan menyebarkan ketakutan. Perang sesungguhnya akan dimulai ketika Patih Pramana telah berhasil menciptakan Pedang hitam" Kata Wanara menyudahi penjelasannya, "sekarang yang mesti kita lakukan hanyalah mengumpulkan semua siluman dengan mengatakan jika hari pembalasan telah tiba, niscaya akan banyak siluman yang akan dapat kita kumpulkan" senyum licik terukir di sudut bibir Wanara.
__ADS_1
"Engkau memang selalu penuh kejutan, masih seperti Wanara yang dulu aku kenal" Shengkara menatap ke arah Wanara mengagumi temanya yang selalu mempunyai rencana-rencana tak terduga.
Wanara balas menatap ke arah Shengkara mendengar kata-kata temannya, "Semua ini belum seberapa, ini barulah sebagian rencana kecil saja" Katanya sambil tertawa dan kemudian menghilang, meninggalkan Shengkara dan gema tawa di seluruh penjuru hutan.