Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Sosok Misterius


__ADS_3

Ke dua Atmik yang membawa Rajendra dan Ranu sekarang telah sampai disebuah daratan yang agak lebih tinggi dari daerah sekitarnya, mereka memilih tempat itu agar mudah untuk mendarat. Bersama-sama kini mereka memperhatikan fajar yang perlahan merekah, mengusir kabut dan gelap kemudian menggantinya dengan terang cahaya matahari yang mulai terbit.


Padang rumput tampak menghampar di depan mereka, ditengah hamparan kini terlihat menjulang gunung japadipa dengan kokohnya. Apa yang sebenarnya mereka lihat sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tumpukan bebatuan dari pada sebuah gunung, karena rupanya gunung japadipa berupa batuan cadas yang memiliki lereng-lereng yang curam.


Terlintas sebuah keraguan dalam benak Rajendra untuk dapat dengan cepat bisa menemukan keberadaan Atmik tanah di gunung Japadipa. Melihat betapa besarnya gunung dan sulitnya cara untuk mendaki lerengnya.


"Bagaimana cara tercepat menemukan Atmik tanah di tempat itu?" Tanya Rajendra mengungkapkan keresahannya pada ke dua Atmik.


"Mungkin dengan menyebar dalam dua kelompok tuan, anda bersama Riswana menyisir dari bagian utara biar saya dan Ranu dari arah selatan" Jawab Nadira mengajukan solusinya, sambil melihat bergantian ke arah Rajendra dan Riswana seolah meminta persetujuan.


Riswana hanya terdiam menunggu jawaban dari Rajendra, setelah sedikit berpikir Rajendra menyatakan kesetujuannya,


"Sepertinya memang itulah cara yang terbaik" Jawab Rajendra sambil mengusap dagunya.


"Jika salah satu dari kelompok kita menemukan tanda-tanda keberadaan Atmik tanah, saya dan Nadira bisa saling memberi tahu" Sela Riswana sambil menatap ke arah Nadira.


Mereka pun kemudian menyebar ke arah yang sudah ditentukan, Nadira yang membawa Ranu segera melesat ke arah selatan. Dan Riswana yang bersama Rajendra segera melompat dan terbang ke arah Utara gunung japadipa. Sesaat kemudian keduanya telah sampai di kaki gunung berbatu itu, Rajendra melihat ke sekeliling dan mengakhiri pandangan nya ke puncak gunung yang tak terlihat tinggu menjulang.


"Akan kita mulai dari mana pencarian ini?" Tanya Rajendra meminta pendapat Riswana.


"Kita bisa mulai dari tempat yang landai dulu tuan"


"Apakah kau tak mendapatkan sebuah petunjuk tentang keberadaannya?"

__ADS_1


Riswana terdiam dia memang merasakan sesuatu yang sedikit aneh, meskipun sedikit seharusnya antara Atmik akan mengetahui hawa keberadaan Atmik lain jika mereka tak berjarak terlalu jauh. Tapi Nadira sama sekali tak merasakan hawa Atmik tanah di sekitar tempat ini. Dalam ingatannya dia merasa yakin jika di tempat inilah dulu Atmik Tanah diasingkan oleh para dewa.


"Hamba sama sekali tak punya petunjuk pasti keberadaannya tuan" Jawab Nadira ragu-ragu berusaha menyembunyikan keganjilan yang dia rasakan.


"Jika begitu kita memang harus mencoba mencarinya ke setiap sudut" Ucap Rajendra sambil memperhatikan sekeliling mencari tempat kemungkinan keberadaan Atmik Tanah.


"Kita mulai dari ujung sana" Kata Riswana sambil melesat ke sebuah tempat di ujung kanan mereka.


Di bagian selatan gunung Nadira dan Ranu tampak sedang memeriksa sebuah gua yang dangkal diujung tebing yang curam.


"Tak ada disini" Kata Ranu setelah sampai ke ujung gua.


"Ya sepertinya tidak ada apa-apa!" Jawab Nadira, dirinya kemudian melanjutkan ucapannya "Dimana kalian menemukan Riswana?". Nadira sepertinya ingin tahu awal mula mereka bisa dipertemukan dengan Riswana.


Ranu diam sejenak sepertinya sedang memikirkan waktu mereka pertama bertemu dengan Riswana, "Ehm... mungkin sebulan yang lalu atau barangkali lebih lama lagi" Jawabnya agak ragu dengan waktu pastinya.


"Di sebuah tempat bernama bukit serigala, waktu itu awalnya kami mengira dia mahkluk yang jahat" Kali ini jawaban Ranu terdengar mantap, mungkin dia masih ingat dengan perasaan takut saat memasuki bukit dimana Riswana berada.


"Lalu? Bagaimana akhirnya kalian tahu jika Riswana bukan mahkluk jahat?" Tanya Riswana yang ingin tahu lebih banyak lagi.


"Ketika itu malam hari setelah guru mendengar cerita tentang keangkeran bukit Serigala, dia memutuskan untuk mengungkap kebenaran cerita tersebut. Tapi sesaat setelah guru pergi, orang jahat yang sebenarnya sudah menyekap saya dan kepala desa. Pagi hari ketika guru kembali, ternyata dia sudah bersama Riswana yang saat itu tak memperlihatkan wujudnya. Penjahat itu sudah menunggu kedatangannya di depan bukit, dan saat itulah saya berhasil diselamatkan oleh Riswana, dia bisa menghajar penjahat-penjahat itu tanpa bisa mereka sadari" Jawab Ranu mencoba menjelaskan sambil memperagakan sebuah pukulan yang seolah-olah sedang Riswana lakukan pada penjahat yang dihajarnya.


Nadira mendengarkan semua cerita Ranu itu dengan seksama, tepat ketika Ranu mengakhiri ceritanya dia merasakan dalam batinnya jika Riswana memanggilnya.

__ADS_1


"Kita harus ketempat gurumu dan Riswana sepertinya mereka telah menemukan sesuatu" Ucap Riswana yang segera melompat dan terbang ke luar gua.


Rajendra dan Riswana saat itu sedang berada di tempat yang landai di bagian celah gunung, disana mereka menemukan "wadah" dari ruh penjaga tanah tapi ternyata telah kosong.


"Apa yang kalian temukan?" Tanya Nadira yang baru saja tiba dibelakang mereka.


Rajendra dan Riswana pun menoleh bersamaan ke arah Nadira yang baru saja datang,


"Sepertinya ada yang sudah mendahului kita" Jawab Riswana sambil memalingkan pandangannya ke "wadah" ruh penjaga tanah yang telah terbuka.


"Apa maksudmu?" Tanya Nadira sambil berjalan mendekat dan memeriksa arah pandangan Riswana, setelah melihat wadah itu Nadira melanjutkan pertanyaannya "hach...bagaimana bisa, bukankah seharusnya yang bisa membukanya hanya pemilik pedan Petir".


Nadira merasa heran karena wadah yang telah terbuka itu tidak dihancurkan secara paksa.


"Tidak, tak harus orang yang memiliki pedang petir, jika dewa menghendaki maka seseorang bisa membuka wadah itu tanpa menghancurkannya" Kata Riswana mencoba menjelaskan yang dia tahu. Para atmik tentu tahu jika wadah ruh mereka dihancurkan secara paksa maka yang akan keluar dari wadah itu adalah wujud Atmik yang sudah menjadi senjata.


"Jadi apa arti semua ini" Tanya Rajendra bingung, sambil memandangi ke dua atmik bergantian menunggu sebuah penjelasan.


"Artinya diluar sana ada seseorang yang telah mendapatkan ijin dari para dewa untuk dapat meminjam kekuatan dari Darani sang Atmik Tanah" Kata Nadira sambil memalingkan wajahnya dan menatap ke arah yang jauh.


"Siapa orang itu dan dengan tujuan apa hingga orang itu bisa membuka wadah ruh penjaga tanah, saat ini kita tak bisa tahu" Sela Nadira menambahkan penjelasan Riswana.


"Untuk saat ini kita memang tak tahu tujuan orang itu tapi saya cukup yakin bukan sebuah tujuan yang jahat" Ucap Riswana memalingkan muka dan menatap kembali ke Rajendra untuk menghilangkan kekhawatiran yang dia rasakan.

__ADS_1


"Jadi anggap saja kita sudah punya sekutu jika kelak kita akan menghadapi orang yang kini tengah mencoba menguasai ilmu Pedang Hitam" Kata Nadira menimpali ucapan Riswana.


Rajendra hanya terdiam mendengarkan penjelasan yang dikatakan ke dua Atmik. Mereka kini diselimuti rasa penasaran yang sama, tentang sebuah tanya "siapa gerangan yang sudah membawa Atmik Tanah itu?"


__ADS_2