
Di dalam kerajaan suku Carani terlihat Putri Laksmi sedang duduk di singgasananya, dirinya sedang berada bersama Rajendra dan ke dua Atmik.
"Kini engkau telah membebaskan Atmik Api, sekarang apa rencana mu?" Tanya Sang Ratu pads Rajendra.
"Hamba belum tahu" Jawab Rajendra dengan jujur.
"Jika kau tahu sebuah bencana akan segera terjadi apa yang akan kau lakukan?" Putri Laksmi mencoba membuat pertanyaan untuk menguji cara berpikir Rajendra.
Rajendra terdiam, dirinya sama sekali tak punya jawaban atas pertanyaan yang diajukan Putri Laksmi padanya. Dengan ragu-ragu dirinya pun menjawab "Hamba akan mencoba mencegah bencana itu".
Putri Laksmi tersenyum mendengar jawaban yang diberikan Rajendra. Sang Ratu kemudian menjelaskan tentang berbagai kemungkinan yang biasa dilakukan seseorang ketika misalnya hanya dirinya yang tahu akan datangnya sebuah bencana.
"Kau bisa saja mengatakan pada orang-orang jika bencana akan segera datang, tapi kemungkinan untuk dipercaya sangat kecil bahkan mungkin orang akan menganggap mu gila. Dan jikapun engkau berhasil meyakinkan orang tentang bencana yang akan segera datang bisa saja hal itu malah akan menimbulkan kepanikan dan kebingungan mereka".
Putri Laksmi berhenti sejenak, kemudian berdiri dari singgasananya dan melanjutkan ucapannya,
"Ada juga seseorang yang akan memilih untuk membiarkan bencana itu datang kemudian dia akan memerangi bencana itu agar orang-orang menilainya sebagai seorang pahlawan, tapi dari semua itu yang paling baik adalah jika ada seseorang yang diam-diam melakukan sesuatu untuk mencegah bencana itu datang tanpa pamrih meskipun orang lain menilai yang dilakukannya adalah kebodohan atau kegilaan".
Rajendra mendengarkan semua kata-kata Putri Laksmi dan mencoba memahaminya, dirinya sedang berpikir meskipun dia tahu bencana itu akan datang tapi Rajendra sama sekali tak punya sebuah rencana untuk mencegahnya. Selain dirinya belum tahu sosok yang akan membawa bencana itu tapi tentu saja dia juga tidak tahu keberadaannya saat ini.
"Adakah petunjuk dari Putri agar hamba bisa mencegah bencana itu?" Tanya Rajendra mencoba mencari jawaban atas pikirannya.
"Saat ini aku pun tak tahu sosok yang akan membawa bencana itu ada dimana dan apa rencananya, tapi kemungkinan terbesar dia pasti akan menyerang kerajaan yang sekarang menguasai negeri ini. Jadi rencana terbaik yang harus kau lakukan adalah tinggallah didekat pusat kerajaan Shaminari". Jawab Putri Laksmi memberi sebuah petunjuk.
Rajendra menganggukan kepalanya menyetujui pendapat yang masuk di akalnya tersebut.
__ADS_1
"Namun apabila bencana yang datang ternyata tak mampu kau cegah sepenuhnya, katakan dan bawalah orang-orang yang selamat untuk pergi ke selatan negeri ini. Tempat itu tepatnya bernama desa Sentani disana ada seseorang yang sudah membuat sebuah rencana untuk menghadapi bencana yang akan datang. Engkau akan menemukan hal yang menarik ketika nanti datang ke desa itu" Lanjut ucapan Putri Laksmi.
"Jadi ada orang lain yang tahu tentang bencana yang mungkin akan segera datang? Kalau hamba boleh tahu siapakah orang itu?" Tanya Rajendra penuh rasa penasaran.
"Dia adalah bekas penguasa negeri ini, Prabu Widyatmaka". Jawab Putri Laksmi
Rajendra sedikit terkejut mendengar jawaban Putri Laksmi, kenangan tentang perang yang pernah dia lalui pun seketika membayang di benaknya. Rajendra mengingat jika dulu dirinya pernah merasakan kekalahan perang saat berada di pihak Prabu Widyatmaka dalam perang besar yang terjadi. Namun jika akhirnya Rajendra harus berjuang bersama lagi, kali ini kekalahan bukanlah hal sebuah pilihan. Karena perjuangan perang kali ini bukan sekedar memperebutkan kekuasaan namun lebih kepada mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia.
"Baik, akan saya ingat semua yang anda pesankan pada hamba Putri" Jawab Rajendra.
Mereka bertiga pun segera pergi dari pulau langit untuk kembali ke desa Wiyati, sebelum pergi Rajendra diberikan beberapa keping uang emas oleh Putri Laksmi.
"Gunakan uang itu untuk kebutuhanmu selama tinggal disekitar kerajaan Shaminari" Ucap Putri Laksmi ketika memberikan hadiah itu.
Rajendra menerimanya dengan segan, tapi Sang Putri tampak bersikukuh dan tak menerima sebuah penolakan.
"Apa engkau bisa terbang dari sini untuk turun ke desa di bawah sana?" Tanya Rajendra pada Agnigara.
"Jika untuk turun saya yakin bisa" Jawab Agnigara dengan mantap.
Rajendra mengangguk mendengar jawaban Agnigara, mereka pun segera melesat dan terbang menuju desa Wiyati. Tak butuh waktu lama mereka pun telah sampai didekat lubang bekas gunung Prabatatunu, dengan berjalan kaki mereka kemudian menuju Rumah kepala desa.
Kedatangan Rajendra disambut oleh sendiri oleh Dhipa kepala desa Wiyati yang ternyata masih terjaga malam itu.
"Oh anda sudah akan pergi?" Kata Dhipa saat Rajendra datang untuk menjemput Ranu.
__ADS_1
"Ya pak, terimakasih banyak atas kebaikan bapak mau menerima murid saya untuk menginap di rumah bapak selama ini" Ucap Rajendra dengan membukukan badannya.
"Ah itu bukanlah apa-apa, tak usah anda merasa sungkan" Jawab Dhipa sambil tersenyum. Dirinya kemudian mempersilahkan Rajendra untuk masuk, sementara dia memanggil Ranu untuk keluar. Rajendra menolak tawaran itu dan memilih untuk menunggu di luar saja. Saat akhirnya Ranu yang ternyata sudah tidur dibangunkan, dirinya kelihatan senang mendengar kabar yang dibawa Dhipa, dengan gembira dia segera berlari keluar untuk menemui gurunya.
"Guru sudah kembali" Katanya ketika melihat Rajendra di depan rumah.
"Ya, sekarang kita harus pergi dari sini untuk melanjutkan perjalanan kita" Jawab Rajendra dengan tersenyum, dirinya juga merasa senang melihat murid yang menjadi teman perjalanan pertamanya itu.
"Kita akan kemana sekarang guru?" Tanya Ranu yang sepertinya merasa senang karena akan pergi ke tempat baru lagi.
"Nanti kamu akan tahu sendiri" Jawab Rajendra yang tak ingin mengatakan tujuannya karena ada Dhipa di sampingnya.
"Baiklah, sebentar saya akan ambil barang-barang kita" Jawab Ranu sambil berjalan masuk ke kamar tempat tidurnya.
Rajendra kini sedang berpikir, apakah akan memberi tahukan tentang kemungkinan sebuah bencana yang akan datang pada Dhipa. Setelah cukup lama berpikir dirinya kemudian berkata,
"Sebentar lagi saya akan pergi, jika suatu saat bapak mendengar atau melihat sesuatu yang sangat buruk, saya minta bapak untuk pergi bersama orang-orang yang bisa bapak ajak ke sebuah desa di selatan negeri ini. Nama desa itu desa Sentani". Pesan Rajendra pada Dhipa tanpa memberitahukan hal buruk apa yang dia maksud.
Dhipa diam terbengong mendengar ucapan dari Rajendra, dirinya merasa bingung dengan maksud kata-kata Rajendra.
"Hal buruk? Hal buruk seperti apa yang anda maksud?" Tanya Dhipa dengan ragu-ragu.
Rajendra kini bingung untuk menjelaskan maksudnya, tak mungkin dia menceritakan yang dia tahu pada Dhipa.
"Itu baru kemungkinan saja, ingat saja pesan yang saya katakan"
__ADS_1
Meski masih bingung Dhipa kemudian menganggukan kepalanya " Baik akan saya ingat pesan anda" Jawabnya.
Ranu yang sudah selesai berkemas pun telah muncul, mereka kemudian pamit kepada tuan rumah. Dhipa pun melepaskan kepergian tamunya, dirinya masih berdiri di depan pintunya hingga Rajendra dan Ranu hilang dari pandangannya. Dalam sebuh rasa penasaran dan heran dirinya berkata dalam hatinya "Desa Sentani, aku belum pernah mendengar nama desa itu" meski diselimuti keraguan, dirinya telah menanamkan nama desa itu dalam ingatannya.