
Setahun berlalu sejak isu akan datangnya orang dalam Ramalan kuno telah berlalu. Papan-papan kayu sayembara perburuan yang ditujukan pada penangkapan Rajendra telah lapuk termakan cuaca. Orang-orang juga sepertinya sudah menyerah dan melupakan tentang sosok yang sempat selalu menjadi buah bibir dalam tiap percakapan penduduk saat itu. Banyak yang beranggapan kalau Rajendra telah berhasil ditangkap, sebagian yang lain menganggap dia telah mati.
Di tempat lain di sebuah desa kecil, sosok yang dimaksud terlihat sedang mempersiapkan perbekalan sepertinya Rajendra tengah bersiap meninggalkan desa dan memulai pengembaraan ke seluruh negeri. Hari itu sudah sebulan lebih semenjak peristiwa mengerikan yang terjadi di desa, penduduk perlahan sudah mulai melupakan kenangan buruk di hari naas itu. Sehari setelah kejadian itu banyak penduduk yang enggan melakukan pekerjaannya, mereka sepertinya merasa patah semangat.
Rajendra yang merasa kesal setelah mendengar hal itu dari cerita yang di bawa Ranu segera menuju desa, dia kumpulkan orang-orang desa itu dan memberikan sedikit ceramah pada mereka. Ceramah singkat itu diakhiri dengan pesan nya "Jika kalian bisa selalu bekerja sama dan tetap saling membantu, mengesampingkan ego masing-masing. Kalian akan mampu mempertahankan desa ini jika kelak kejadian kemarin terulang, aku akan mengajarkan sebagian dari kalian cara mempertahankan diri".
Sepertinya petunjuk dari Rajendra membangkitkan semangat hidup penduduk terbukti mereka langsung membubarkan diri dan memulai aktivitasnya sehari-hari. Semenjak hari itu orang sering mampir ke gubug rajendra dan memberikan sedikit hasil panennya, Rajendra senang menerimanya bukan dari apa yang dia terima tapi dia senang melihat ketulusan dan senyuman para penduduk desa.
Merasa sudah membawa perubahan baik disana, maka dia memutuskan untuk melanjutkan niatnya untuk menelusuri seluruh penjuru negeri. Setelah menyelesaikan persiapannya Rajendra pun segera pergi bersama Ranu yang kini telah jadi muridnya, Ranu pun merasa sangat bersemangat karena mimpi nya untuk bisa melihat hal-hal baru akan segera terwujud. Dia sengaja lewat jalan yang mengarah ke desa untuk sekaligus berpamitan dengan penduduk desa kecil itu.
Penduduk dengan berat hati melepas pahlawannya itu pergi, meski dalam hati masing-masing berharap Rajendra bisa menetap disana, tapi mereka juga tahu jika mungkin di bagian negeri ini ada yang membutuhkan kedatangannya.
Sepanjang perjalan Ranu selalu berjalan lebih cepat dari gurunya, dia terlalu bersemangat hingga tak sabar melihat pemandangan baru, keramaian sebuah kota besar atau kemakmuran desa yang maju hal seperti itulah yang selalu diinginkan untuk dilihatnya. Ketika sudah terlalu jauh ke depan dia selalu berteriak
"Ayo guru..." sambil melambaikan tangan dan berdiri menunggu. Rajendra memaklumi saja kelakuan muridnya itu karena dia ingat saat seumurannya dirinya juga selalu bersemangat.
Setengah hari perjalanan melewati hutan dan perbukitan telah mereka lalui, senja telah datang dan hutan didepan mereka tampak mulai gelap. Sebuah desa belum juga mereka temukan akhirnya Rajendra memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di tengah hutan.Dia pilih sebuah tempat yang landai kemudian berkata,
"Malam ini kita tidur disini, hamparkan tikar yang kau bawa itu disini" sambil menunjuk tempat yang dia maksud dan menyuruh Ranu untuk menghamparkan tikar bambu yang dibawanya.
"Baik guru" Jawab Ranu menurut.
__ADS_1
Sementara Rajendra sibuk mencari ranting dan daun kering untuk membuat api. Setelah api menyala mereka buka sisa perbekalan yang mereka bawa dan menikmatinya di bawah ribuan bintang yang menghiasi langit malam itu.
"Apa kamu senang?" Tanya Rajendra pada Ranu.
"Senang sekali guru" jawabnya sambil tersenyum penuh bahagia.
"Indahkan pemandangan bintang di atas sana, sekarang berbaringlah aku akan bercerita untukmu" Kata Rajendra menunjuk ke langit sambil membaringkan tubuhnya.
Ranu dengan senang hati menurut perintah gurunya itu terlebih ketika dia tahu dirinya akan mendengarkan cerita dari gurunya. Malam semakin larut, belum habis cerita dari Rajendra Ranu sudah tertidur pulas, Rajendra melihat wajah muridnya yang terlihat begitu tentram dalam dekapan dewi mimpi. Diambilnya sebuah kain dan menyelimutkannya ke tubuh Ranu, tak lama kemudian Rajendra pun sudah jatuh tertidur.
Fajar menyingsing dan matahari tampak mulai merekah, kicau burung terdengar bersahut-sahutan di seluruh penjuru hutan. Tetesan embun yang jatuh dari sebuah pohon membangunkan Rajendra dari tidurnya yang pulas. Ketika membuka mata dan menoleh dia tak melihat muridnya, Ranu ternyata sudah bangun dan pergi entah kemana.
"Kemana pula anak itu?" Kata Rajendra dalam hatinya.
"Aku bawakan ikan kesukaan guru, akan ku bakar kan sebentar untuk kita makan" Kata Ranu dengan penuh ketulusan.
Rajendra hanya membalasnya dengan senyuman, dia nampak memperhatikan Ranu yang sedang sibuk mengumpulkan ranting dan dahan kering untuk dijadikan api dan membakar ikan yang ditangkapnya. Dalam diam dia mengungkapkan rasa syukurnya karena bisa memiliki murid yang begitu berbakti, seorang yang terlihat begitu menganggap keberadaannya.
Rajendra kini mempunyai seseorang yang telah menjadi sahabat perjalanannya, yang menghiburnya dengan segala tingkah dan keluguannya, baru kali ini Rajendra merasa jika dirinya di sayangi seseorang selain adiknya. Pikiran yang tiba-tiba melintas tentang adiknya membuatnya terlihat murung , dia berharap jika kelak tujuan dari ujung perjalanannya adalah bisa menyelamatkan adiknya.
"Guru, guru kenapa?" Ranu terdengar memanggil Rajendra karena dia melihat kemurungan di wajah gurunya.
__ADS_1
Lamunan Rajendra ter buyarkan oleh panggilan Ranu yang sudah dilakukan muridnya berkali-kali "Ah tidak ada apa-apa, apa ikannya sudah matang?" Tanya nya mengalihkan pembicaraan.
"Sudah guru, ini silahkan" Jawab Ranu sambil menyodorkan ikan yang ditusuk sebilah dahan kepada gurunya.
"Enak sekali" Kata Rajendra untuk menghibur usaha muridnya, sambil tersenyum ke arah muridnya.
Ranu tersenyum puas, merasa senang karena usahanya dihargai.
Selesai menikmati hidangan pagi itu, mereka pun segera bergegas melanjutkan perjalananya ke arah matahari yang mulai naik. Seperti hari lalu Ranu pun selalu mendahului langkah gurunya jauh ke depan, sesekali berhenti memeriksa sekeliling kemudian berlari ke depan berharap menemukan sebuah desa, ketika akhirnya Ranu melihat desa di kejauhan dia terlihat girang. Dia berlari ke arah Rajendra dan berteriak penuh semangat. "Guru di depan sana tampak sebuah desa!" Serunya sambil menunjuk ke arah depan.
Ketika Rajendra juga melihat desa yang dimaksud dia pun menjawab
"Mari kita kesana!"
Ranu pun langsung berlari tak sabar ingin segera sampai ke desa itu, jalan menuju desa itu rupanya melewati sebuah bukit kecil. Tepat sebelum masuk ke arah bukit Ranu menghentikan langkahnya, dia merasa ada sesuatu yang mencegahnya untuk berani sendirian masuk ke bukit kecil itu. Perasaan aneh yang membuat nalurinya merasa takut dia tak dapat menjelaskan apa yang dirasakannya.
"Perasaan apa ini?" Kata Ranu dalam hati, padahal dirinya yang sudah terbiasa hidup sendiri di desanya harusnya tidak mudah merasa takut. Karena tak bisa juga memaksakan kaki nya untuk melangkah, Ranu pun menunggu gurunya.
Ketika Rajendra sudah dekat tentu saja dia juga telah paham adanya aura kegelapan di dalam bukit kecil di depannya, dia pun mengambil sikap bersiap. Dalam hatinya Rajendra memuji kepekaan muridnya yang sepertinya sudah bisa mempertajam Naluri nya.
"Ayo kita jalan" Ajak Rajendra pada Ranu karena dia merasakan wajah muridnya yang penuh keraguan.
__ADS_1
Tanpa menjawab Ranu pun berjalan, tapi kali ini dirinya berjalan merapat ke tubuh Rajendra.
"Apa yang ada di bukit ini?" Tanya Ranu pada dirinya sendiri.