
Pasukan siluman yang menyerang benteng kota Angkara saat ini terlihat hampir seluruhnya telah lenyap. Sebagian besar telah dibunuh dan dimusnahkan oleh Rajendra bersama dua Atmik sedangkan sebagian kecil sisanya telah memilih kabur meninggalkan medan pertempuran.
Kini dalam peperangan itu tinggal menyisakan dua sosok saja yang masih melakukan pertarungan. Patih Pramana yang memimpin dan melakukan pemberontakan menghadapi Rajendra yang datang untuk menggagalkan usaha Sang Patih untuk menguasai kota Angkara. Rajendra yang sesaat sebelumnya menerima pukulan kini telah bangkit dan maju lagi untuk menghadapi Patih Pramana. Keduanya kini kembali berhadapan, saling memasang kuda-kuda dan beradu tatapan. Mereka tampak saling diam mencoba mencari sebuah kesempatan untuk membuka sebuah serangan.
Dalam pertarungan satu lawan satu, jelas sekali bagi seorang Pendekar merupakan sesuatu yang lebih sulit apabila dibandingkan dengan perang sekalipun. Dalam sebuah peperangan seseorang masih akan sempat jeda dan mengandalkan orang lain bertempur untuk dirinya namun dalam pertarungan satu lawan satu tak ada kesempatan jeda bagi salah satu pihak. Mereka hanya bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri bahkan kesempatan, doa dan dewa-dewa sekalipun tak dapat lagi masing-masing harapkan.
Kaki Patih Pramana tampak mulai beringsut perlahan, Rajendra yang menyadari gerakan itu segera melakukan penyesuaian untuk bersiap menghadapi serangan. Kediaman itu serasa berlangsung ribuan tahun, padahal sebenarnya singkat saja. Sepanjang waktu yang dibutuhkan untuk menarik dan menghembuskan nafas setengah lusin kali.
Kemudian satu pekik yang dahsyat yang datang dari Patih Pramana segera saja memporak porandakan detik yang penuh ketegangan itu, disusul pekikan dari Rajendra. Keduanya tampak saling melompat dan bertumbukan, rentetan pukulan dari ke dua tangan Patih Pramana tampak dapat dihindari dan ditangkis oleh Rajendra. Disela-sela kesempatan Rajendra selalu melakukan pukulan balasan dan dengan jumawa Patih Pramana sama sekali tak mencoba untuk menghindar, dirinya seolah merasa tak akan kalah.
Semua yang melihat pertarungan itu hanya bisa menahan nafas dan merasa takjub. Kecepatan dan kesaktian keduanya sama sekali sudah di luar batas penalaran, mereka dapat melihat ketika satu pukulan yang dapat dihindari selalu saja menghancurkan benda yang terkena ujung pukulan itu. Penilaian sekilas dapat terlihat jika Patih Pramana terlihat sedikit lebih unggul dalam hal tehnik bertarung dan kesaktian. Tapi tanpa mereka tahu jika Rajendra lebih unggul dalam hal semangat dan kecepatan.
Rajendra yang sadar jika Patih Pramana menganggapnya sepele merasa senang karena dengan begitu dirinya terus bisa melakukan pukulan dan tendangan yang semakin kuat. Patih Pramana yang semula menerima begitu saja serangan dari Rajendra kini menyadari jika semakin lama serangan Rajendra menjadi lebih kuat, kini dirinya tampak mulai menghindar dari beberapa pukulan dan tendangan yang Rajendra lakukan.
Rentetan pukulan dari Rajendra yang menyasar wajah dan perut Patih Pramana akhirnya membuat tubuh Patih Pramana terpental, keangkuhan dari sang Patih sepertinya telah dimanfaatkan dengan baik oleh Rajendra. Tanpa Patih Pramana sadari dalam pertarungan itu Rajendra telah meningkatkan kekuatan pukulannya dengan memfokuskan tenaga dalamnya pada tangan dan kakinya. Namun dengan segera Patih Pramana kembali bangkit dan pulih dari segala lukanya.
Melihat hal itu berulang Rajendra sepertinya mulai merasa jika yang dihadapinya saat ini bukan lagi manusia. Dirinya beranggapan akan sia-sia saja serangan pukulan dan tendangannya, maka dengan segenap keyakinan dia mulai tampak menarik pedang dari punggungnya. Dengan kedua tangan memegang pedang ke samping setinggi mata Rajendra terlihat sedang menyiapkan diri untuk menyerang.
__ADS_1
Cahaya yang berpijar pada pedang yang dipegang musuhnya membuat bulu kuduk Patih Pramana seketika berdiri, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasakan pertanda ketakutan. Patih Pramana tampak menggelengkan kepalanya, entah untuk membuang pikiran takut atau sekedar untuk mengibaskan keringat di dahinya. Sudah berkali-kali Sang Patih mengganti posisi kuda-kudanya dalam usahanya untuk memancing Rajendra melakukan serangan, tetapi Rajendra tetap diam tak bergerak.
Kehilangan kesabaran akhirnya Patih Pramana berinisiatif melakukan sebuah serangan, Rajendra melesat menyambut kesempatan yang telah dinantikannya. Sebuah pukulan yang dilesatkan Patih Pramana dielak Rajendra dengan sebuah lompatan yang tinggi, dan sambil melipat kakinya dia seolah mengecilkan tubuhnya. Sesaat setelah lompatannya melewati kepala Patih Pramana dia tebaskan pedang ke punggung sang Patih.
"Argh.." Teriak Patih Pramana ketika terkena tebasan pedang Rajendra, seolah jiwanya yang mengeluarkan suara itu. Dirinya roboh, perlahan lukanya memang pulih tapi Patih Pramana tak dapat menyembunyikan rasa sakit dari serangan yang baru saja diterimanya. Menyadari serangan belum berhenti Patih Pramana segera bangkit dan mencoba melompat menjauh.
Rajendra terus mendesak Patih Pramana dengan serangannya, seperti telah kehilangan kepercayaan dirinya Patih Pramana hanya bisa menghindari rentetan serangan yang mengarah padanya. Tebasan pedang, tendangan datang silih berganti baru saja pedang ditebas kan sebuah tendangan akan menyusulnya. Menghindari tebasan pedang berarti menempatkan Patih Pramana pada arah tendangan Rajendra. Sebuah tendangan akhirnya dengan telak menghantam sisi perut Patih Pramana dirinya terpental ke samping dengan keras, Rajendra tak menyianyiakan kesempatan itu dengan menyusul ke arah sang Patih bersiap menebaskan pedangnya.
Merasa tak ada lagi kesempatan menghindar Patih Pramana benar-benar telah kehilangan kesempatannya, dirinya telah terpojok dan terancam tebasan pedang Rajendra. Sambil berteriak Patih Pramana menyilangkan tangannya mencoba menangkis sabetan pedang dari Rajendra, entah asap atau api berwarna hitam seketika muncul dari ke dua tangan Patih Pramana. Tebasan pedang Rajendra segera menghujam, sebuah bunyi dentuman terdengar ketika pedang Rajendra menghantam tangan Patih Pramana.
Sesuatu yang tak terduga terjadi tubuh Rajendra tampak terpental oleh tangkisan Patih Pramana, dengan bersalto Rajendra berhasil menyeimbangkan diri dan mendarat dengan kakinya.
Serangan itu menimbulkan kepulan asap tebal disekitar Patih Pramana, sambil memicingkan matanya Rajendra mencari tahu kejadian yang baru saja terjadi. Asap mulai menipis dan tubuh Patih Pramana perlahan mulai tampak, dan tampak sesuatu yang kini berada pada genggaman sang Patih. Benda itu berpijar dengan aura berwarna hitam, ketika asap telah hilang sepenuhnya, kini dapat terlihat jelas jika benda itu adalah sebuah Pedang.
"Apakah itu pedang Hitam?" Rajendra dan kedua Atmik yang melihatnya menanyakan pertanyaan yang sama di hati masing-masing.
Wanara dan Shengkara yang juga melihat kejadian itu saling pandang dan tersenyum,
__ADS_1
"Akhirnya muncul juga" Kata Wanara.
"Sepertinya rencanamu benar-benar berhasil" jawab Shengkara.
"Ayo...sekarang kita harus membawanya pergi, ada yang harus kita lakukan setelah pedang itu muncul, pertarungan ini sudah tak ada artinya lagi" Wanara mengajak Shengkara untuk bergegas.
Seketika keduanya telah menghilang dan tiba-tiba muncul dibelakang Patih Pramana.
"Ada apa?" Tanya Patih Pramana yang terkejut dengan kehadiran keduanya.
Tanpa perlu menjawab keduanya tampak segera memegang bahu Patih Pramana.
"Apa maksud kalian?" Teriak Sang Patih tampak kurang senang karena paham arti sentuhan pada kedua bahunya.
Tubuh ketiganya seketika lenyap. Meninggalkan semua bekas pertempuran yang baru saja terjadi, meninggalkan semua yang melihatnya dicekam sebuah rasa penasaran, menyisakan Rajendra yang menyadari jika saat ini Pedang Hitam telah muncul.
Suara teriakan kemenangan bergemuruh diatas dinding benteng kerajaan Shaminari, semua prajurit mengira jika kemenangan telah mereka raih. Tak ada yang menyadari jika semua ini hanyalah sebuah awal, tak ada satupun yang tahu jika ancaman yang lebih besar telah menanti. Semua wajah tampak tersenyum bahagia tapi tidak untuk Rajendra dan ke dua Atmik, mereka paham jika Bahaya besar akan segera datang. Hanya mereka yang tahu kemungkinan buruk yang akan segera terjadi.
__ADS_1
"Kita harus memperingatkan Raja kerajaan Shaminari" Kata Rajendra sambil berjalan mendekati kedua Atmik.
Kedua Atmik mengangguk, ketiganya lalu mulai berjalan menuju benteng, disambut oleh suara perayaan kemenangan yang terdengar semu bagi mereka bertiga.