Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Wajah-wajah Penuh Kemurungan


__ADS_3

Patih Pramana mulai bergerak menuju kerajaan Shaminari untuk menyambut kemenangannya, Wanara dan Shengkara juga tampak berjalan mengikuti langkahnya. Perasaan puas terasa dalam hatinya ketika berjalan melewati ratusan pasukan berkuda yang berhasil dihancurkan oleh Prajurit Sastrika.


Langkahnya seketika terhenti ketika melihat satu Prajurit Sastrika yang tampak terbelah tubuhnya dan tak dapat bangkit lagi.


"Kenapa ada salah satu Prajurit Sastrika yang tak mampu bangkit lagi?" Tanya Patih Pramana pada Wanara dan Shengkara. Rasa heran tak dapat disembunyikan dari wajahnya.


"Hamba juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi" Jawab Wanara ketika melihat tubuh Prajurit Sastrika yang tumbang. Sementara Shengkara memilih untuk diam karena memang dirinya juga tak mengetahui sebab dari kejadian itu.


"Bukankah ini berarti jika Prajurit Sastrika memiliki sebuah kelemahan?" Tanya Patih Pramana lagi.


"Sepertinya begitu tuan, tapi hamba tidak terlalu yakin apa kelemahan dan sebab dari dapat ditaklukan nya salah satu dari Prajurit Sastrika" Wanara mencoba memberikan pendapatnya.


Patih Pramana yang pernah menguji sendiri kemampuan dari Prajurit Sastrika pun tak mampu mencari jawaban. Dirinya sangat yakin jika saat dirinya bertarung dengan Prajurit Sastrika meskipun tubuh Prajurit itu telah dihancurkan dengan pukulannya namun nyatanya tetap mampu bangkit lagi. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya dalam hati.


Dengan rasa penasaran dirinya kemudian mencoba memeriksa ke sekeliling tempat itu, namun dirinya tak menemukan Prajurit Sastrika lain yang tumbang. Karenanya Patih Pramana menyimpulkan jika musuh tak sengaja melakukan hal itu. Dirinya juga berpendapat jika artinya musuhnya pun belum mengetahui kelemahan dari Prajurit Sastrika.


Namun tumbangnya salah satu Prajurit Sastrika nampaknya dapat segera dilupakan oleh Patih Pramana, mengingat jika kini dirinya telah berhasil menaklukan kerajaan Shaminari, kerajaan yang menguasai negeri ini. Dengan langkah penuh kegembiraan dirinya melanjutkan tujuannya untuk memasuki istana kerajaan Shaminari. Dirinya merasa tak sabar lagi untuk mencoba duduk di atas Singgasana kerajaan, merasa tak sabar untuk menyatakan jika kini dirinya adalah penguasa atas negeri ini.


Tak lama langkah kakinya telah mengantarkannya didepan istana kerajaan Shaminari, sesuatu yang baru adalah jika kini dirinya bukan lagi menjadi seorang Patih di kerajaan melainkan kini dirinya telah berhasil merebut kekuasaan atas kerajaan itu. Dengan bangga dirinya mulai memasuki istana untuk menuju ke aula kerajaan tempat singgasana raja berada. Dengan rasa puas dirinya mulai duduk di atas singgasana itu dan mulai tertawa dengan bangga. Sesuatu yang dulu bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya telah berhasil diwujudkan Patih Pramana, dirinya kini telah menjadi Raja di kerajaan Shaminari.


Namun sesaat dirinya merasa ada sesuatu yang kurang, apa artinya seorang raja tanpa adanya rakyat yang dapat diperintah sesuka hatinya. Sebuah pertanyaan pun seketika terlintas di benaknya,


"Kemanakah penduduk kota ini pergi?" Tanya Patih Pramana sambil menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Hamba belum tahu tuan" Jawab Wanara menanggapi pertanyaan Patih Pramana.


"Lekas kalian cari tahu hal itu, bawalah beberapa prajurit Sastrika jika kalian merasa perlu" Perintahnya pada Wanara dan Shengkara. Dirinya mempunyai sebuah firasat jika para penduduk dan punggawa kerajaan Shaminari pasti menuju suatu tempat, mereka tentunya sudah mempunyai sebuah tujuan untuk mengungsi.


"Baik tuan" Ucap Wanara, dirinya kemudian mengajak Shengkara dan beberapa Prajurit Sastrika untuk melaksanakan perintah dari Patih Pramana. Tanpa berlama-lama mereka pun telah pergi dari istana kerajaan Shaminari.


...***********...


Wajah-wajah penuh kemurungan nampak jelas dari orang-orang yang berjalan berduyung-duyung menuju selatan negeri ke desa Sentani. Mereka tak lain adalah Raja Prabaswara beserta para punggawanya dan bekas penduduk kota Ankara. Dengan langkah gontai mereka berjalan tanpa sebuah harapan pasti apakah benar jika tempat tujuan mereka dapat memberikan mereka perlindungan dari cengkraman kekuasaan yang saat ini telah berkuasa.


Dibarisan terdepan nampak Rajendra dan kedua Atmik memimpin perjalanan mereka bersama Raja Prabaswara yang berada satu barisan dengan mereka.


"Apakah anda yakin jika nantinya di tempat tujuan kita ini akan dapat menampung dan memberikan perlindungan pada semua orang yang saat ini sedang menuju ke sana?" Tanya Raja Prabaswara pada Rajendra.


Pikiran Rajendra sebenarnya masih tertuju pada keberhasilannya menumbangkan salah satu Prajurit Sastrika. Meskipun dirinya sadar hal itu adalah sesuatu yang tak dia sengaja namun keberhasilannya itu jelas menunjukan jika Prajurit Sastrika memiliki sebuah kelemahan. Selama ini dirinya masih terus memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan dari kelemahan Prajurit Sastrika.


Melihat jika Rajendra nampak tenggelam dalam pemikiran Raja Prabaswara pun menyadarinya, "Lalu apa yang sebenarnya sedang engkau pikirkan saat ini?" Tanyanya kemudian.


Rajendra sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, kedua Atmik juga nampak menolehkan kepalanya ke arah Rajendra mereka sepertinya juga menyadari kemuraman pada wajahnya.


"Hamba sedang memikirkan tentang kemungkinan dari kelemahan Prajurit Sastrika" Jawab Rajendra sambil membagikan pandangannya.


"Apa maksudmu?" Tanya Raja Prabaswara yang belum paham "Apakah Prajurit Sastrika dapat dikalahkan?" Lanjutnya kemudian. Dirinya yang sudah mendengar cerita tentang keabadian Prajurit Sastrika nampak tertarik dengan ucapan Rajendra.

__ADS_1


"Sepertinya begitu, meskipun hamba sendiri belum sepenuhnya mengetahui kelemahan mereka" Jawabnya serius.


"Lalu kenapa engkau yakin jika mereka dapat dikalahkan?" Tanya Raja Prabaswara mengerutkan dahi karena belum merasa paham.


"Ketika kami bertempur dengan mereka, hamba melakukan sebuah serangan yang berhasil membelah tubuh beberapa Prajurit Sastrika. Dan kami sangat yakin jika salah satu dari mereka ternyata tak dapat bangkit lagi, hal itu jelas mengartikan jika ternyata mereka dapat dibunuh. Namun karena hal itu bukanlah suatu kesengajaan, tentunya sampai detik ini kamu belum menemukan jawaban untuk kejadian itu" Ungkap Rajendra menjelaskan semuanya.


Raja Prabaswara mengangguk-anggukan kepala kini dirinya nampak paham sepenuhnya maksud dari Rajendra. Tak ada yang salah jika semua yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Jika memang salah satu dari Prajurit Sastrika dapat ditumbangkan maka artinya kemungkinan untuk dapat mengalahkan mereka semua menjadi ada.


Langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah desa kecil yang nampak tak jauh. Karena Senja sudah hampir menjelang mereka berencana untuk beristirahat di desa itu.


"Kita sebaiknya beristirahat di desa itu dan melanjutkan perjalanan esok hari, barangkali kita juga perlu mengajak penduduk desa itu untuk sekalian mengungsi ke desa Sentani" Kata Raja Prabaswara.


"Ya saya kira itu sebuah gagasan yang paling baik" Jawab Rajendra.


Raja Prabaswara pun meneruskan pesannya pada salah satu pengikutnya yang kemudian segera diteruskan ke seluruh orang yang ikut dalam perjalanan mereka.


Penduduk desa dibuat kaget dengan rombongan orang yang datang ke desa mereka. Kepala desa yang mendengar berita itu tampak lebih terkejut karena ternyata yang memimpin rombongan itu adalah Raja Prabaswara. Dengan penuh rasa sopan kepala desa itu pun mempersilahkan rombongan itu untuk beristirahat, kepala desa itu juga segera mengajak Rajanya untuk menginap di rumahnya.


"Terimakasih atas kebaikan anda" Ucap Raja Prabaswara menghargai tawaran kepala desa.


"Hamba yang mendapat kehormatan jika yang mulia bersedia" Jawab kepala desa itu merendahkan dirinya.


Langit mulai gelap seiring senja yang telah lewat, orang-orang yang mengungsi dari kerajaan Shaminari kini sedang beristirahat setelah melalui perjalanan yang melelahkan. Jauh di belakang mereka tanpa satu orang pun yang kini menyadari ada beberapa sosok yang sedang menguntit perjalanan mereka. Tak ada satupun yang merasakan sebuah bahaya yang kemungkinan sedang datang mendekat, karena untuk saat ini rasa lelah lah yang paling dapat mereka rasakan.

__ADS_1


__ADS_2