
Dalam waktu yang singkat Wanara dan Shengkara telah kembali ke istana kerajaan Shaminari. Tanpa membuang waktu keduanya pun langsung pergi menemui Patih Pramana untuk menyampaikan kabar yang sudah mereka bawa.
"Cepat sekali kalian kembali? Apa sudah kalian dapatkan apa yang ingin aku ketahui?" Patih Pramana bertanya pada keduanya ketika sudah tahu kedatangan mereka.
"Tentu saja hamba sudah membawa kabar yang tuan inginkan" Jawab Wanara.
"Lalu pergi kemanakah orang-orang itu sekarang?" Tanya Patih Pramana lagi.
"Dari apa yang sudah saya tahu sepertinya mereka pergi ke sebuah desa yang bernama Sentani" Shengkara menjawab mendahului Wanara.
Patih Pramana mengerutkan dahinya, sepertinya sedang mencoba mengingat nama desa yang disebut Shengkara. Namun sepanjang ingatannya dirinya sama sekali belum pernah mendengar nama desa Sentani. "Desa Sentani? Kenapa orang-orang mengungsi kesana?" Patih Pramana bertanya dalam hati.
"Lalu apa kalian tahu dimana letak desa Sentani?" Tanya Patih Pramana setelah yakin jika dirinya sama sekali tak mengenal desa itu.
"Hamba hanya tahu jika Desa itu berada di Selatan Negeri ini tuan" Wanara menjawab sambil melihat ke arah selatan, seolah-olah dirinya merasa bisa melihat desa tersebut.
"Memangnya apa yang ada di Desa Sentani? hingga orang-orang begitu yakin mengungsi ke sana tanpa keraguan?" Patih Pramana merasa geram dengan pemikiran orang-orang itu. Dirinya beranggapan jika Kerajaan sebesar Shaminari saja berhasil dia taklukan apalagi hanya sebuah desa yang tak dikenal.
"Kami juga tidak tahu, tapi jelas jika pastinya ada seseorang yang telah menyuruh mereka untuk mengungsi ke desa Sentani karena mungkin merasa jika desa itu adalah tempat yang paling aman" Shengkara mencoba mengajukan pendapatnya.
Patih Pramana terdiam, ucapan Shengkara memang benar. Tak mungkin jika orang-orang pergi ke desa Sentani jika tidak ada orang yang meyakinkan mereka jika di sana adalah tempat yang paling aman. Patih Pramana kemudian teringat dengan sosok pendekar pemilik pedang biru, "Tentunya dia yang mengatakan pada semua orang" Katanya dalam hati.
Akan tetapi biar bagaimanapun Patih Pramana tetap tak mempunyai bayangan tentang apa yang sebenarnya ada di Desa Sentani. Dan kenapa mereka semua yakin jika disana mereka akan aman, semakin dirinya memikirkan hal itu amarahnya semakin menjadi dirinya seolah merasa dianggap sepele. Namun karena tak ingin gegabah dirinya kemudian merasa perlu untuk mencoba mencari tahu sedikit tentang keadaan desa Sentani.
__ADS_1
"Bawalah beberapa Prajurit Sastrika dan pergilah ke desa Sentani, cobalah cari tahu tentang desa itu sebanyak mungkin, kalian boleh menyuruh Prajurit Sastrika untuk mencoba menyerang. Aku juga ingin tahu seberapa kuat pertahanan di desa itu" Perintah Patih Pramana pada ke dua Siluman di hadapannya.
Wanara dan Shengkara saling memandang kemudian menatap ke arah Patih Pramana dan berkata "baik, akan kami laksanakan" sambil menganggukan kepala dengan yakin.
Mereka pun kemudian membawa beberapa Prajurit Sastrika dan segera pergi untuk melaksanakan perintah baru yang diberikan Patih Pramana. Sepanjang perjalanan keduanya terlibat sebuah percakapan,
"Menurutmu apa yang akan kita temui di desa Sentani saat kita nanti pertama kali melihatnya?" Ucap Wanara mencoba bertanya kepada Shengkara.
"Aku sendiri tidak terlalu yakin, tapi pastinya disana akan ada benteng yang mengelilingi desa. Karena tanpa itu tak mungkin mereka yakin akan aman berada di sana" Jawab Shengkara mencoba berpendapat.
"Masuk akal kata-katamu itu, tapi apa tidak aneh jika yang kau katakan itu benar kenapa selama ini kita tak pernah mendengar dan tahu tentang desa Sentani?" Wanara menyampaikan rasa penasarannya.
"Aku juga heran, kemungkinan desa itu memang sudah menyiapkan dan mengetahui tentang akan datangnya sebuah bencana. Jika pemikiran ku benar tentunya ada orang yang memiliki kesaktian yang cukup tinggi di desa Sentani" Ucap Shengkara menjawab rasa penasaran dari temannya.
Wanara menganggukan kepalanya sependapat dengan apa yang Shengkara ucapkan "Lalu siapakah kira-kira orang yang berada di desa Sentani itu?"
Nama Prabu Widyatmaka sama sekali tak terlintas dalam benak mereka berdua. Namun tentunya ada sosok lain yang telah membantunya hingga bisa membuat desa Sentani menjadi kuat dan aman selama ini.
...*************...
Raja Prabaswara pun yang saat ini sedang memimpin rakyatnya untuk pergi ke desa Sentani sama sekali belum tahu jika yang memimpin desa itu adalah Prabu Widyatmaka yang tak lain adalah Raja sebelumnya yang berhasil dia gulingkan kekuasaannya.
Tanpa terasa perjalanan mereka kini telah hampir sampai ke desa Sentani, setelah melewati beberapa hari yang melelahkan rombongan pengungsi itu sudah dekat dengan tujuan nya. Dari kejauhan sudah mulai terlihat sebuah tembok tanah yang cukup tebal dan terlihat kokoh. Tembok tanah yang menyerupai benteng itu terlihat membentang diantara sebuah jurang dan gunung.
__ADS_1
Raja Prabaswara berhenti diiringi rombongan lain yang ikut berhenti melihat tembok tanah yang tinggi menjulang dihadapan mereka. Rasa kagum jelas tak dapat disembunyikan dari wajah orang-orang yang saat ini melihat pemandangan di depan mereka. Rajendra dan ke dua Atmik yang juga sudah melihat hal itu lantas berjalan ke depan untuk menemui Raja Prabaswara.
"Apakah desa Sentani berada di balik dinding benteng itu?" Tanya Raja Prabaswara sambil menoleh ketika melihat Rajendra yang sudah datang menghampirinya.
"Saya kira begitu yang mulia" Jawab Rajendra sambil menatap dinding benteng yang memang luar biasa itu.
"Anda lihat dinding benteng itu, saya kira tak mungkin manusia biasa bisa membangun dinding seperti itu. Pastinya ada orang hebat yang saat ini berada di balik semua itu, dan jika saya tak salah menduga anda tentunya sudah tahu sosok yang kini berada di desa Sentani itu" Raja Prabaswara menyampaikan rasa penasarannya yang sangat karena melihat bangunan yang bahkan terlihat lebih kuat dari benteng kerajaannya.
Rajendra terdiam, dirinya tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dengan rasa canggung Rajendra terlihat memandang ke arah dua Atmik berharap mereka yang akan mengatakan jawaban dari pertanyaan Raja Prabaswara.
"Ada apa? Kenapa anda tak menjawab?" Raja Prabaswara mengulangi pertanyaannya ketika melihat Rajendra yang terdiam seolah merasa ragu.
Rajendra menoleh ke arah Raja Prabaswara dengan ragu dirinya kemudian menjawab "Ampun Paduka, sosok saat ini menjadi pemimpin di desa Sentani adalah Prabu Widyatmaka" sambil menunduk karena merasa tak enak hati karena baru sekarang mengatakan hal ini.
Mata Raja Prabaswara terbelalak, jawaban dari Rajendra tentunya membuat dirinya kaget. Kini perasaan enggan dan sungkan memenuhi hati Raja Prabaswara. Bagaimana mungkin dirinya yang dulu berperang dan berhasil menggulingkan kekuasaan Prabu Widyatmaka tiba-tiba saat ini datang meminta perlindungan dari bekas musuhnya. Namun disisi lain dirinya juga tak mungkin kembali dan membiarkan orang-orang yang saat ini bersamanya berada dalam bahaya. Sebuah dilema besar kini benar-benar sedang dirasakan oleh Raja Prabaswara.
Rajendra yang merasakan kegundahan di hati Raja Prabaswara mencoba menenangkannya, "Anda tak perlu khawatir tentang hal itu, karena besar kemungkinan Prabu Widyatmaka sudah mengetahui kedatangan rombongan yang anda bawa"
"Bagaimana bisa?" Tanya Raja Prabaswara.
"Hamba sudah menyuruh Nadira dan Riswana untuk membawa Ranu dan Utari ke desa itu, saya kira mereka sudah menceritakan hal ini pada Prabu Widyatmaka. Dan melihat apa yang sudah dipersiapkannya saya kira Prabu Widyatmaka juga sudah mengetahui akan datangnya sebuah bencana di negeri ini" Jawab Rajendra menjelaskan semuanya.
Meskipun tak dapat sepenuhnya menghilangkan rasa segannya namun ucapan dari Rajendra sedikit memberikan rasa lega di hati Raja Prabaswara. Melihat bangunan benteng yang kokoh itu memang jelas jika Prabu Widyatmaka telah mengetahui dan mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah bencana yang akan segera datang.
__ADS_1
"Baiklah sebaiknya kita bergegas ke desa Sentani, sepertinya orang-orang juga sudah membutuhkan istirahat" Ucap Raja Prabaswara mencoba menepiskan rasa enggannya dengan melihat wajah-wajah pengikutnya.
Rajendra mengangguk tanda setuju, mereka pun melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju desa Sentani yang sudah berada di depan mata mereka.