
Danau Tirtanara sekarang sudah berada di hadapan Rajendra, dari dekat kini terlihat banyaknya orang yang sibuk menangkap ikan dengan memancing. Banyak tempat yang dibangun dari kayu yang dibuat menjorok ke danau untuk tempat memancing, ada juga perahu-perahu kecil yang tertambat di tepian danau. Sepertinya penduduk setempat selain menggunakan perahu untuk menangkap ikan di malam hari, mereka juga menyewakan perahu di siang hari kepada orang yang mau mencoba memancing di tengah danau.
Ketika menengok ke kanan kiri Rajendra juga melihat banyak gubug yang dibangun ditepian danau, kemungkinan gubug-gubug itu juga disewakan untuk pendatang yang mau menginap untuk memancing di malam hari. Seorang penduduk setempat yang melihat Rajendra dan Ranu menoleh ke kanan kiri pun mendekati mereka,
" Apa tuan mau memancing?, Atau barangkali tuan mau menyewa tempat untuk bermalam? " Tanya orang itu sambil tersenyum ramah.
" Kami tidak mau memancing, setidaknya untuk sekarang, tapi tawaran tempat untuk bermalam itu saya mau " jawab Rajendra sambil menghadap orang yang bertanya.
" Ah..kebetulan sekali tuan, gubug saya masih ada yang kosong, silahkan melihat jika tuan berminat " jawab penduduk itu mempersilahkan untuk mengikutinya.
" Ya, saya mau melihat tempatnya " kata Rajendra sambil melangkah mengikuti orang itu.
Penduduk itu pun mengarahkan mereka ke sebuah gubug tak jauh dari situ, gubug itu hanya berupa bangunan persegi yang kecil. Ketika mereka masuk ke dalam Rajendra melihat jika didalamnya telah disediakan tikar buluh dan meja kecil, di atas juga sudah tergantung sebuah lampu minyak. Meski sempit setidaknya mereka sekarang punya tempat untuk berteduh selama di sini.
" Bagaimana tuan? Apa anda berminat menyewa gubug ini? " Tanya penduduk itu setelah mempersilahkan mereka melihat-lihat.
" Ya, Saya akan menyewa tempat ini, mungkin untuk beberapa hari ke depan " jawab Rajendra sambil meletakan barang bawaan nya ke lantai gubug.
" Wah senang sekali mendengarnya, jika anda perlu sesuatu, tuan bisa mencari saya di rumah saya " katanya sambil menunjuk ke sebuah rumah yang sepertinya juga membuka usaha kedai.
" Apa anda juga menjual makanan? " Tanya Rajendra ketika melihat menuruti arah telunjuk penduduk itu.
" Iya tuan, jika anda mau makan silahkan memesan dan kami akan mengantarkannya ke sini ".
__ADS_1
" Baik tapi tidak sekarang kami belum mau makan "
" Emh.. ya , saya kira itu saja silahkan anda beristirahat saya mau melanjutkan pekerjaan saya " kata penduduk itu mohon undur diri.
" Ya silahkan " jawab Rajendra.
Penduduk itu segera pergi,sepertinya langkah yang dia tuju adalah rumahnya. Sebenarnya Rajendra ingin mengajak orang itu untuk berbicara sekedar mencari tahu cerita tentang danau Tirtanara, tapi karena dia tahu orang itu sedang sibuk Rajendra mengurungkan niatnya.
" Apa kamu mau memancing? " Tanya Rajendra pada Ranu yang terlihat asik melihat ke arah orang-orang yang sedang memancing, tak menghiraukan cuaca panas yang menerpa langsung ke tubuh mereka.
" Mau guru, apa guru mau mengajak saya memancing? " Jawab Ranu cepat.
" Tidak, kamu saja yang pergi memancing aku akan menunggumu disana " ucap Rajendra sambil menunjuk ke arah gubug yang sepertinya menjual atau menyewakan beberapa peralatan memancing.
" Ada yang bisa saya bantu tuan? " Tanya pemilik kedai itu.
" Ya, murid saya ini sepertinya ingin pergi memancing, apa bapak menjual atau menyewakan peralatan untuk memancing ini? " jawab Rajendra sambil pura-pura memilih joran yang dipajang.
" Joran itu saya sewakan, tapi peralatan yang lainnya saya menjualnya " jawab orang itu,
" Sudah kau temukan yang cocok? " Tanya Rajendra pada Ranu yang nampak kebingungan memilih joran yang hendak digunakan.
Setelah mempertimbangkan dua joran yang ada ditangannya Ranu pun menyodorkan satu pada gurunya, " yang ini saja guru! " Ucapnya.
__ADS_1
Rajendra pun meneruskan keinginan Ranu pada pemilik kedai, setelah melengkapi semua yang dibutuhkan untuk memancing Ranu pun segera bergegas mencari tempat untuk memancing. Dia tengok ke kanan kiri kemudian meluncur ke sebuah tempat yang dia kira cocok untuk memancing. Rajendra yang tak suka memancing hanya melihat ke arah muridnya dari dalam kedai " apa sih enaknya memancing itu? " katanya dalam hati, Baginya memancing adalah sesuatu kegiatan yang sangat membosankan.
Tujuan Rajendra yang sebenarnya adalah sambil menunggu Ranu yang pergi memancing dia mau bercakap-cakap dengan pemilik kedai, setidaknya dia mau mencari sedikit informasi tentang daratan yang berada di tengah danau Tirtanara.
" Apa setiap hari ramai begini pak? " Tanya Rajendra ketika pemilik warung datang membawa pesanan minumnya.
" Tidak bisa dipastikan tuan, kadang meski cuaca sedang bagus tidak seramai hari ini " jawabnya menjelaskan.
" Apakah perahu-perahu itu digunakan untuk menyebrang ke daratan di tengah pulau itu? " Tanya Rajendra kemudian mengarahkan pembicaraan ke topik yang dia inginkan.
" Maksud anda pulau Canala? " jawab pemilik kedai merendahkan suaranya seolah takut di dengar orang lain.
Pemilik kedai yang kemudian mengenalkan dirinya yang bernama Sarno itu menceritakan cerita turun temurun tentang danau Tirtanara. Daratan yang berada di tengah danau itu bernama pulau Canala, dan berdasarkan cerita yang beredar belum ada orang yang bisa untuk menginjakan kakinya ke pulau itu. Setiap perahu yang berusaha untuk mendekati pulau Canala akan terdorong menjauh, karena dari pulan itu seolah bisa menciptakan semacam arus yang akan mendorong benda apa saja saat akan mendekati pulau Canala. Penduduk setempat meyakini jika arus itu diciptakan oleh ular raksasa yang tinggal di pulau itu.
Konon dikisahkan jika desa Grigis mengalami masa paceklik, waktu itu datang kemarau yang sangat panjang. Tanah di desa itu menjadi kering dan tandus, waduk kecil yang mereka bangun sudah tampak mengering tak menyisakan air setetes pun. Penduduk pun banyak yang mulai mengeluhkan keadaan desanya dan mulai mencari cara untuk bisa mempertahankan hidup di desanya. Berbagai cara digunakan penduduk untuk bisa menemukan atau membuat sumber air, usaha mereka sia-sia.
Beberapa diantaranya mulai menggunakan cara-cara aneh untuk mencapai tujuannya. Pemimpin desa mengatakan jika desa ini telah dikutuk oleh dewa, dan untuk melepaskan kutukan di desa ini mereka harus menumbalkan seorang gadis yang masih perawan. Meskipun pada awalnya banyak yang tidak setuju dengan pendapat itu, tapi keadaan yang semakin memburuk dengan hujan yang tak kunjung turun membuat penduduk meyakini usulan itu patut untuk dicoba.
Penduduk akhirnya bersiap melakukan ritual persembahan yang dipimpin oleh ketua adat, wanita yang akan dijadikan korban tampak sudah ditutup mata dan diikat tangannya. Mereka berkumpul di tepi waduk yang kering. Tepat sesaat sebelum wanita yang akan dijadikan tumbal dilempar kedalam waduk, penduduk mendengar suara dari dalam waduk yang menyuruh mereka untuk menghentikan ritual itu. Belum lagi hilang rasa kaget yang mereka rasakan, tiba-tiba muncul seekor ular raksasa berwarna hijau dari dalam waduk.
Suara itu rupanya berasal dari ular tersebut, Ular itu kemudian meminta mereka untuk membubarkan ritual itu dan menyuruh penduduk untuk pulang. Ular raksasa itu lalu mengatakan pada penduduk untuk kembali keesokan harinya untuk melihat waduk, dia berjanji jika esok hari air di waduk ini akan kembali penuh. Penduduk menuruti permintaan ular itu dan mulai membubarkan dirinya.
Ada yang mengatakan setelah para penduduk itu pergi ular itu kemudian mulai berputar-putar di dalam waduk, putaran yang dibuat ular itu kemudian membuat waduk menjadi lebih besar dan dalam, merubah waduk itu menjadi sebuah danau karena besarnya. Kemudian mulailah muncul air yang perlahan memenuhi danau itu, danau itulah kemudian dinamakan danau Tirtanara. Putaran ular itu menyisakan sebuah daratan di tengah danau yang diyakini menjadi tempat tinggal ular tersebut, dan dataran yang berada ditengah danau itu dinamakan pulau Canala oleh penduduk.
__ADS_1