Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Dua Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Wanara yang saat ini sudah tahu tempat Shengkara berada menyunggingkan senyuman penuh kelicikan, "Jadi selama ini engkau bersembunyi disana" Katanya dalam hati.


"Kita kesana sekarang!!" Kata Patih Pramana memecah keheningan dan lamunan Wanara.


"Tidak, anda tak perlu terburu-buru tuan, alangkah baiknya tuan beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dan kekuatan, sehingga saat kita sampai ke tempat itu tuan telah siap sepenuhnya" Jawab Wanara menenangkan sikap tak sabaran Patih Pramana.


Meskipun kini Patih Pramana sudah memiliki ilmu yang tinggi namun tetap saja dirinya masih mempunyai kebutuhan sebagai manusia, dirinya pun menyadari rasa lapar dan haus yang kini dia rasakan, maka diurungkan lah sejenak niatnya dan menuruti perkataan Wanara "Baiklah, sepertinya aku memang membutuhkan waktu istirahat" Katanya kemudian.


Wanara kemudian menyuruh Patih Pramana untuk ke gubug yang berada di hutan itu kemudian memerintahkan anak buah silumannya untuk menyiapkan segala yang Patih Pramana butuhkan. Sedangkan Wanara masih berdiri diam pada tempatnya dan memandang ke arah Gunung Basanta, "tak lama lagi mungkin kita akan bisa mewujudkan rencana kita lagi Shengkara, tunggulah disana" Kata hati Wanara sambil menyunggingkan senyum liciknya.


Beratus tahun yang lalu Wanara dan Shengkara adalah dua sosok yang bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di dunia ini. Kebencian ke duanya kepada manusia didasari perasaan iri dengan bangsa manusia yang selalu mendapatkan berkah dari para dewa. Mereka kemudian mempunyai sebuah rencana untuk menghancurkan peradaban manusia di dunia.


Dengan segala kelicikan dan kekuatan yang mereka berdua miliki maka dimulailah rencana jahat itu. Memanfaatkan sifat buruk yang ada pada hati manusia mereka mulai menghasut para penguasa untuk meluaskan daerah kekuasaannya. Dengan mengiming-imingi para penguasa itu dengan cerita rahasia yang mereka tahu maka ketamakan dari pemimpin-pemimpin kerajaan itu menjadi besar.

__ADS_1


Mereka juga menyebarkan fitnah-fitnah diantara para manusia dengan tujuan mengadu domba dan menciptakan kebencian pada kerajaan lain. Maka terjadilah perang yang terus berkelanjutan diantara kerajaan yang ada waktu itu. Untuk sesaat mereka merasa rencananya berhasil, tapi mereka tahu jika masih ada sebuah kerajaan yang belum berhasil mereka hasut. Jika mereka tak bisa menarik kerajaan itu dalam kekacauan yang mereka buat, maka rencana mereka tidak akan berjalan dengan sempurna.


Kerajaan besar yang saat itu tidak belum dapat di hasut oleh Wanara dan Shengkara itu, bernama Astana yang dipimpin okeh seorang raja bernama Mahesa. Mereka berdua merasa kesulitan menghasut Raja yang diberkahi kebijaksanaan yang tinggi itu. Berbagai cara sudah mereka coba untuk membuat Raja Mahesa terpengaruh dengan bujukan dan iming-imingan, tapi hal itu sama sekali tak membuat Raja itu terbuai dengan keserakahan.


Menghadapi seorang Raja yang mempunyai integritas tinggi membuat keduanya hampir putus asa. Akhirnya cara yang dapat mereka tempuh hanyalah menyebarkan fitnah pada kerajaan lain agar mulai membenci kerajaan Askara, dengan harapan jika kemudian kerajaan lain akan menyerang kerajaan itu. Dengan begitu mereka secara tidak langsung berhasil menyeret kerajaan Askara dalam kekacauan dan membuat rencana ke duanya lebih dekat pada keberhasilan.


Namun sesuatu yang tak pernah mereka berdua duga adalah ternyata Raja Mahesa telah mendapatkan bantuan dari para dewa. Dengan Pedang Petir yang telah Raja Mahesa dapatkan dari petunjuk para dewa maka dirinya kemudian berhasil mengalahkan semua kerajaan yang menyerang kerajaannya. Dengan kekalahan itu maka semua kerajaan pun tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Askara.


Raja Mahesa pun tahu jika dalang di balik semua kekacauan yang terjadi adalah siluman Shengkara dan Wanara. Dirinya kemudian memerintahkan pasukan dan memimpin langsung untuk memburu keduanya. Menyadari jika rencananya telah gagal dan mereka berdua dalam bahaya maka kedua siluman itu pun menyembunyikan dirinya jauh dari manusia. Mereka berdua pun terpisah dan bersembunyi di tempat yang mereka pilih. Dalam persembunyian mereka terus memendam sebuah perasaan dendam dalam dirinya masing-masing.


...*************...


Ketika dewa-dewa terdahulu memberikan ruh pada ke lima unsur bumi, tujuan dari semua itu hanya untuk menjaga keseimbangan alam. Ketika akhirnya ruh itu menjadi wujud Atmik, seharusnya mereka tak memiliki sebuah perasaan selain keinginan untuk melindungi. Namun sesuatu yang tak bisa dijelaskan sepertinya sedang dirasakan oleh Riswana. Dirinya yang tidak memahami perasaan aneh ketika melihat Rajendra yang bersama Atmik air hanya mampu memendam nya dalam diam.

__ADS_1


Sejak pertama dirinya bertemu dengan Rajendra di bukit serigala, Riswana sudah merasa kagum dengan sosok yang membawa Pedang Petir itu. Di kemudian hari ketika mereka melewati perjalanan bersama, rasa kagum nya semakin besar. Kekaguman yang akhirnya berubah menjadi perasaan takut kehilangan, ingin melindungi dan selalu ingin didekat Rajendra.


Baris-baris pepohonan dilewati begitu saja oleh Rajendra yang terbang bersama Atmik air, Riswana dan Ranu yang berada didepan mereka menuntut jalannya menuju gunung japadipa. Sesekali tampak Riswana menyempatkan mencuri pandang ke belakang, entah untuk memastikan jika Nadira bisa mengikutinya atau barangkali dia merasa "cemburu" pada Rajendra yang saat itu bersama Atmik Air.


Dalam batasan sebagai Atmik yang belum pernah merasakan dan mengalami hubungan dekat dengan manusia tentu saja membuat Riswana tidak tahu apa-apa tentang perasaan yang dia rasakan.


"Apa masih jauh tempatnya" Teriak Rajendra yang saat itu menyuruh Nadira untuk menyusul kesamping Riswana.


"Tidak jauh lagi tuan, tinggal melewati hutan ini" Jawab Riswana yang sedikit kaget dengan kemunculan keduanya disampingnya.


"Kalau begitu kita harus cepat" Kata Nadira sambil menatap ke arah mata Riswana yang terlihat gugup itu.


Nadira seolah memahami perasaan Riswana, semenjak dirinya melihat Rajendra pertama kali dan mengetahui waktu itu ada Perisai Serigala Putih ditangan kirinya dirinya sudah dapat menilai jika Riswana mempunyai perasaan khusus pada sosok pemilik Pedang Petir itu. Karena selama ini yang dia tahu belum ada Atmik lain yang rela berubah menjadi wujud senjata dengan keinginan sendiri.

__ADS_1


Penilaian Nadira sepertinya tidak salah karena memang Riswana sudah merasa suka dengan sosok Rajendra, tapi perasaan itu murni sebuah ketulusan semata. Jauh diatas rasa "cinta" yang manusia bisa tahu, yang Riswana tahu hanyalah saat ini dirinya akan bersedia melakukan apapun untuk melindungi dan mengorbankan segala yang dia punya untuk tuannya itu. Meskipun itu berarti akan ditukar dengan hidup yang dia miliki hal itu sama sekali tak membuatnya khawatir.


Sebuah perasaan tak terpahami kini hanya bisa dipendam dalam oleh Riswana. Tentang sebuah perasaan tulus yang tak mengharapkan balasan apapun.


__ADS_2