Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Menghilangkan Keberadaan


__ADS_3

Bertahun-tahun bangsa Asura hidup di kedalaman hutan membuat mereka telah mampu beradaptasi dengan keadaan sekitar. Mereka rupanya telah membangun sebuah pemukiman kecil ditengah hutan Birama. Rajendra dan yang lain kini sedang berada di salah satu rumah yang dibangun oleh bangsa itu. Disebuah ruangan tampak Rajendra yang sedang bercakap-cakap dengan Adanu,


"Jadi rupanya engkau sudah mendapat pelajaran dari Mahesa..?" Tanya Adanu setelah mendengar cerita dari Rajendra.


"Ya begitulah" Rajendra terlihat menunduk seolah dirinya tahu jika saat ini dia sedang diselidik oleh pandangan Adanu.


Dan memang saat ini Adanu sedang melakukan penilaian pada anak muda yang ada dihadapannya, "Dari yang kulihat engkau memang kuat..bahkan kesaktianmu terlalu kuat..." Katanya kemudian.


Merasa sedang mendapat pujian wajah Rajendra merona merah, "Ah tidak saya masih harus banyak belajar, tentunya masih banyak yang lebih kuat dari saya di luar sana".


"Bukan itu maksudku, engkau harus bisa mengendalikan kekuatanmu. Jika engkau terlalu berbangga dengan kekuatan yang engkau miliki dirimu akan mudah terbunuh" Ucap Adanu menjelaskan jika dirinya bukan sedang memuji.


"Bagaimana maksudnya?" Tanya Rajendra masih merasa bingung dengan penjelasan yang Adanu berikan.


"Kau ingat tadi waktu berada di tengah hutan?, Ketika aku menyerang mu?"


"Iya, tentu saja" jawab Rajendra cepat


"Menurutmu kenapa aku bisa menyerang mu?"

__ADS_1


"Karena anda mengira kami musuh tentunya?" Jawab Rajendra sekenanya karena belum paham kemana arah pembicaraan.


"Hemh..lalu dari mana menurutmu kami tahu keberadaan mu?" Tanya Adanu lagi dengan pandangan menyelidik.


"Barangkali salah satu dari kalian sudah melihat kami dari atas sebuah pohon?" Rajendra mencoba menerka jawaban.


"Tidak, yang kami lakukan sebenarnya hanyalah mencoba untuk mempertahankan diri. Semenjak engkau masuk ke dalam hutan ini, kami sudah dapat merasakan aura kekuatan besar yang kau pancarkan. Maka kami pun sudah bersiap untuk menghadapi ancaman dan mempertahankan wilayah kami" Adanu berhenti sejenak melihat ke arah Rajendra untuk melihat reaksinya.


Rajendra mendengarkan perkataan Adanu dengan seksama, dia ingin bisa tahu maksud ucapan itu, "Jadi apa yang salah dengan ku?" Tanyanya kemudian.


Adanu menghela nafasnya, menatap ke mata Rajendra kemudian melanjutkan penjelasannya,


"Engkau harus bisa mengendalikan kekuatan, harus belajar untuk menghilangkan aura keberadaan anda. Jika anda tak dapat melakukan semua itu mudah sekali musuh menyerang anda meskipun dalam keadaan mata tertutup".


"Jadi inilah rahasia mengapa keberadaan mereka tak diketahui oleh dunia ini" Batin Rajendra setelah dia sadar dengan kemampuan yang dimiliki bangsa Asura. Dirinya kemudian memberanikan diri untuk bertanya rahasia dibalik kemampuan itu, "Adakah cara bagi saya untuk dapat mempelajari semua itu?"


"Tentu saja, semua ilmu dapat anda pelajari jika anda mau" Jawab Adanu.


"Sudikah anda mengajarkan cara agar bisa mengendalikan kekuatan yang saya miliki" Tanya Rajendra penuh harap.

__ADS_1


"Aku hanya bisa memberimu petunjuk, cobalah belajarlah dari alam. Jangan pernah mengira untuk menjadi pendekar sejati itu hanya pameran besarnya kekuatan saja, tapi aku dan gurumu mahesa pun cenderung melakukan kesalahan yang sama. Jadi aku tak pantas mengatakan jika engkau telah keliru" Adanu terdiam menghela nafasnya kemudian melanjutkan ucapannya, "Engkau harus bisa menjadi luwes, jangan terlalu kaku. Akan ku tunjukan padamu sesuatu, ikut aku" Adanu berjalan ke arah luar.


Rajendra hanya patuh dan berjalan mengekor, Adanu tampak melihat ke sekeliling sepertinya sedang mencari sesuatu. Kemudian ketika dia melihat serumpun pohon bambu Adanu kemudian mengeluarkan sebuah gerakan seperti menyapukan tangan. Seketika keluar semacam hembusan angin yang pesat menghempas pohon bambu itu, Rajendra melihat akibat dari angin besar yang di ciptakan oleh Adanu. Dua pohon yang berdiri dengan kokoh diantara rumpun bambu itu yang satu patah dan yang lain tumbang, sedangkan rumpun-rumpun bambu hanya nyiur terombang-ambing namun sama sekali tak patah ataupun tumbang.


Adanu menatap ke arah Rajendra yang terlihat masih terdiam, "Apa anda lihat?, Jika engkau terlalu jumawa dengan kekuatan yang anda miliki, ketika menghadapi serangan yang kuat nasib anda hanyalah akan sama dengan ke dua pohon yang patah dan tumbang itu!" Katanya menjelaskan maksud dari apa yang baru saja dia tunjukan.


Rajendra seperti mulai memahami sesuatu, dia melihat ke arah Adanu kemudian menatap kembali ke arah rumpun bambu itu. Dirinya sebenarnya sudah sering melihat hal itu, namun tak pernah memikirkan pelajaran yang dapat diambil dari apa yang dia lihat.


Melihat Rajendra yang terlihat sedang berpikir Adanu melanjutkan lagi ucapannya "Anda harus bisa luwes seperti pohon bambu itu, tak hanya bisa menahan serangan tapi anda juga harus bisa membalikan serangan yang anda terima. Belajarlah untuk memanfaatkan kekuatan lawan untuk serangan balik, niscaya anda tak akan lagi membuang banyak tenaga untuk membuat gerakan jurus yang tak perlu".


"Adakah sebuah cara bagi saya untuk dapat mempelajari semua itu dengan cepat?" Tanya Rajendra tanpa segan, dirinya kini sudah menganggap Adanu sebagai seorang guru baginya.


Adanu berpikir sejenak, kemudian nampak sekilas cahaya dari matanya seolah dia menemukan sebuh ide.


"Ikuti aku, akan ku tunjukan sebuah tempat yang cocok untukmu berlatih menguasai kekuatan alam" Kata Adanu yang kemudian berjalan ke belakang rumah.


Rajendra mengikuti tepat di belakangnya, Dia nampak terus berjalan melewati semak belukar kemudian menembus ke sebuah tempat yang ternyata terdapat sebuah sungai yang membentuk air terjun. Suara gemericik air dan deburan dari air terjun menjadi satu dengan bunyi desiran angin yang meniup pohon di sekitarnya.


"Bertapa lah anda di sana" Kata Adanu sambil menunjuk sebuah batu pipih di dekat air terjun, "pusatkan pikiran dan cobalah menyatu dengan alam, jika anda bisa mendengar suara kicau burung dipepohonan itu, berarti usaha anda telah berhasil dan ketika anda telah berhasil menguasainya maka anda akan melihat alam ini dengan pandangan yang baru" sambil memandang ke arah burung-burung yang meloncat dari dahan ke dahan lain.

__ADS_1


Meskipun agak ragu Rajendra menuruti saja perintah Adanu. Dia kemudian berjalan ke arah batu yang ditunjukan Adanu padanya, kemudian dia mulai duduk bersila dan menutupkan mata. Tentu saja yang kini dapat dia dengar hanyalah gemuruh deburan air yang jatuh dari air terjun, saat dia membuka mata untuk bertanya ternyata Adanu sudah pergi dari tempat itu. Dia kemudian mengalihkan pandangannya di pepohonan memastikan jika disekitarnya memang terdapat burung-burung.


Rajendra melihat dengan jelas jika beberapa burung itu tampak membuka paruhnya sedang berkicau, tapi dia sama sekali tak mendengar suara kicauan itu, Rajendra nampak bingung, "Bagaimana bisa dari tempat ini aku bisa mendengar suara selain bunyi gemuruh air terjun itu??" Katanya dalam hati.


__ADS_2