
"Lekas panggil pasukan pemanah ke sini, dan persiapkan pasukan berkuda di belakang gerbang benteng" Teriak salah satu Panglima dari atas benteng.
Setelah melihat apa yang kini ada dihadapannya Panglima itu menyadari akan adanya sebuah serangan pemberontakan, dan ketika melihat pasukan musuh dirinya pun menyadari akan ancaman bahaya yang sangat nyata.
Perintah pun diteruskan oleh para prajurit hingga semua kekacauan itu pun telah merambat sampai ke dalam kota dan kerajaan Shaminari. Raja Prabaswara pun akhirnya mendengar keributan itu dan mendapatkan sebuah kabar yang mengejutkan. Apa yang selama ini ditakutkannya ternyata benar-benar terjadi, dirinya kini merasakan sesal yang amat mendalam karena telah menceritakan legenda Pedang Hitam dan meminta Patih Pramana untuk mencarinya.
"Sungguh tak tahu diuntung, selama ini aku sudah memberikan segalanya untuk dia dan ternyata ini balasannya" Kata Raja Prabaswara mengungkapkan kekesalannya.
Semua yang ada di hadapan Raja Prabaswara hanya tertunduk dan terdiam mendengar keluhan Rajanya, mereka sepertinya dapat merasakan juga kekesalan yang dialami Sang Raja.
Sambil berdiri dari singgasananya Raja Prabaswara memberikan perintahnya,
"Kerahkan semua prajurit dan hadapi pemberontak itu, jangan biarkan Patih Pramana merebut benteng ini dengan mudah. Kita akan mempertahankan kerajaan ini dengan segenap kekuatan yang kita miliki. Lekas laksanakan!" Suara Raja Prabaswara terdengar menggelegar penuh amarah.
"Siap Paduka" Jawab serempak para punggawa yang ada dihadapannya. Mendengar perintah raja yang begitu keras membakar amarah dan semangat semua yang ada di aula kerajaan. Mereka segera pergi dan melaksanakan perintah Rajanya.
Kini di dalam aula kerajaan hanya tinggal Raja Prabaswara dan Adyana penasehat kerajaannya, kemurungan jelas tergambar dari wajah Sang Raja.
"Ini semua salahku, aku sendiri yang telah memelihara anak singa dan kini ketika singa itu telah dewasa ternyata singa itu kini menyerang ku" Keluh Raja Prabaswara, dirinya mengumpamakan Patih Pramana sebagai seekor Singa yang telah dewasa.
"Ini semua bukan sepenuhnya kesalahan anda Yang Mulia, ambisi Patih Pramana yang begitu besar memungkinkan dirinya untuk mudah diperalat. Saya yakin ada sosok lain yang bertanggung jawab dan menghasut Patih Pramana dalam pemberontakan ini" Adyana mencoba membela sekaligus memperingatkan Raja Prabaswara.
__ADS_1
Kata-kata dari Adyana seketika mengingatkan Raja Prabaswara tentang ambisi besar Patih Pramana, dirinya ingat betul jika dulu dengan licik pernah menghasut Patih Pramana untuk berkhianat dan memihak padanya dalam perang besar perebutan kekuasaan. Dan kini kejadian nya terulang hanya saja kali ini dirinya yang dikhianati dan ada sosok lain yang berhasil menghasut Patih Pramana untuk merebut kekuasaan darinya. "Ironis sekali, apakah semua ini karma yang memang harus ku terima" Kata hati Raja Prabaswara.
Perintah Raja Prabaswara telah menyebar dengan cepat diantara para prajurit didalam kerajaan. Mereka semua kini telah segera berangkat menuju ke benteng dan bersiap menghadapi pemberontakan, bayangan tentang kekalahan dan kematian sama sekali tak terlintas dalam benak para prajurit yang begitu penuh dengan semangat.
Diatas dinding benteng deret-deret pasukan pemanah telah siap dengan bidikannya, tinggal menunggu perintah serangan dan mereka akan segera menghujani pasukan siluman dengan anak panah yang akan mereka lesatkan.
Patih Pramana sama sekali tak merasa gentar dengan persiapan yang telah dilakukan prajurit kerajaan Shaminari. Dengan kesaktian dan pasukan yang dimilikinya sekarang rasa takut sama sekali tak terasa dalam hati Patih Pramana yang telah dipenuhi dengan ambisi.
Pasukan siluman pun tampak merasakan hal yang sama dengan pemimpin mereka, dengan wajah tanpa ekspresi dan terkesan menyeramkan, mereka terlihat bagaikan utusan dewa kematian yang akan mencabut nyawa setiap manusia yang ada dihadapannya.
"Serang!!!!" Teriak Patih Pramana dengan lantang memecah keheningan malam yang mencekam.
Melihat pasukan pemberontak mulai bergerak, Para Panglima kerajaan pun memberikan perintah penyerangan.
"Tembak!" Teriak mereka, seketika busur-busur panah pun dibidikan kearah pasukan pemberontak yang mulai datang mendekat. Ratusan anak panah pun seketika menghujani siluman-siluman yang datang dengan cepat.
Serangan dari para siluman pun mulai menghantam bertubi-tubi ke dinding benteng, sebagian serangan itu juga mengarah ke para pemanah bahkan sebagian lagi jauh melewati dinding benteng dan menghantam ke dalam kota Ankara.
Sesaat para Panglima kerajaan menduga para pemanah telah berhasil membuat laju para siluman terhenti, namun ketika diperhatikan dengan seksama ternyata anak-anak panah itu sama sekali tak membunuh satupun siluman. Dengan panah-panah yang tertusuk ditubuh mereka para siluman itu tetap melaju seolah tak mempedulikan luka pada tubuhnya.
Mengetahui jika serangan anak panah tak memberikan efek salah satu Panglima tiba-tiba meneriakkan sebuah gagasan.
__ADS_1
"Lekas siapkan minyak, api barangkali akan mencegah laju mereka!"
Merasa jika gagasan itu masuk akal beberapa prajurit di bawah benteng segera membawa tong-tong minyak ke atas benteng.
"Bagi minyak-minyak itu kedalam tabung bambu dan lemparkan sejauh yang kalian bisa ke arah para pemberontak" Ucap Panglima yang mempunyai gagasan itu.
Tanpa banyak kata para prajurit segera melaksanakan perintah itu, waktu mereka tak banyak lagi ketika mereka mulai dapat mendengar dengan jelas suara pekikan dari siluman yang semakin keras.
"Lapisi ujung anak panah kalian dengan kain yang telah dilumuri minyak" Perintahnya lagi, kali ini perintah itu diucapkan pada para prajurit pemanah.
Tabung-tabung bambu berisi minyak pun telah dilemparkan ke arah para siluman, beberapa terlihat tepat jatuh ditubuh para pemberontak sebagian pecah jatuh menghantam tanah.
"Nyalakan api diujung anak panah dan bidik pasukan pemberontak itu sekarang!" Terdengar teriakan perintah dari Panglima prajurit yang melihat jika tabung-tabung bambu berisi minyak itu telah melumuri tubuh para siluman.
Panah-panah berapi pun bertebaran di udara melesat ke arah para pemberontak yang sudah hampir mencapai dinding benteng. Nyala api seketika membakar tubuh para siluman dan tempat di sekitarnya yang telah terkena minyak dari tabung bambu yang dilemparkan. Merubah keadaan malam itu menjadi terang oleh cahaya api yang membakar daerah sekitar benteng.
Keadaan terang yang biasanya dapat mengusir rasa takut kali ini justru menciptakan pemandangan mengerikan yang kiranya akan membuat para pengecut berteriak histeris dan lari. Meski dengan tubuh terbakar dan panah yang menancap ditubuhnya mahkluk-mahkluk pemberontak itu tetap dapat bergerak maju dan menggedor gerbang benteng. Sebagian bahkan mulai terlihat dapat memanjat tembok benteng dengan mudah. Pasukan siluman yang berselimut api ditubuhnya itu kini terlihat bagaikan prajurit dari neraka yang datang untuk menghancurkan dunia.
Terlalu bingung dengan apa yang mereka lihat para Panglima kerajaan mulai merasa bingung dengan perintah yang harus diberikan pada prajurit-prajuritnya. Otak mereka seolah menjadi tumpul dan merasa tak ada lagi yang harus dilakukan selain menunggu datangnya serangan yang akan segera terjadi.
Ketika harapan mempertahankan benteng seolah telah sirna tiba-tiba terlihat cahaya berwarna biru yang datang dari langit. Cahaya itu seperti sebuah gelombang tebasan, karena cahaya itu membelah tempat di dekat benteng dan tubuh para siluman yang tepat berada dalam lintasannya.
__ADS_1