Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Bukit Serigala


__ADS_3

Rajendra mulai melangkah masuk ke dalam bukit kecil dihadapannya, langkahnya mantap namun penuh kewaspadaan, karena dirinya tak dapat memastikan apa yang mungkin akan di hadapinya di dalam sana. Jalan setapak yang dilaluinya meski masih terlihat seperti sebuah jalan tapi hampir tertutup rumput liar, sebuah tanda jika jalan yang kini sedang dilaluinya sudah lama tidak terjamah langkah kaki.


Ketika sampai ke tengah bukit tiba-tiba muncul kabut tipis, aura kejahatan pun makin terasa mendekat. Ranu semakin merasakan ketakutan seolah ada sesuatu yang mengancam datang mendekat, tanganya pun reflek menggenggam baju gurunya.


Rajendra seketika menghentikan langkahnya, melihat keseriusan pada wajah gurunya Ranu nampak gugup dia menengok memeriksa sekeliling tapi tak ada yang apapun yang dia lihat selain deretan pohon dan semak. Rajendra bersiap dengan segala kemungkinan yang akan segera dihadapinya, aura jahat itu semakin mencekamnya seolah ada sesuatu yang mendekat, ketika tangan Rajendra bersiap pada gagang pedang seketika kabut beserta aura kejahatan itu lenyap, Ranu pun merasakannya karena rasa takutnya berangsur menghilang.


Rajendra pun mengendorkan kewaspadaannya mengetahui ancaman yang belum dia ketahui berupa apa itu telah hilang.


"Sekarang tak ada yang perlu ditakutkan lagi" Kata Rajendra membesarkan hati muridnya.


Kekagetan tak dapat disembunyikan dari wajah Ranu, dia tidak menyangka usaha untuk menyembunyikan rasa takut dari gurunya telah gagal, usahanya untuk bersikap tenang dan diam tak mengatakan apa-apa ternyata sia-sia saja, karena dari perubahan tingkahnya sudah dapat terlihat jelas jika ada hal yang membuatnya berubah dan selain rasa takut kiranya tak ada hal lain lagi yang bisa mematahkan semangat Ranu.


Senyum dan keceriaan pun mulai terlihat lagi dari wajah Ranu mendengar kata-kata gurunya, perasaannya pun meyakini setiap patah kata dari gurunya. Ketika menatap ke depan dia melihat jalan keluar dari bukit sudah deket, latar belakang desa pun sudah tampak. Ranu tersenyum melihat wajah Rajendra seolah meminta persetujuan, gurunya mengangguk dan Ranu pun segera melesat ke depan tak sabar ingin segera meninggalkan bukit itu dan menuju desa di depannya.


Rajendra berjalan mengikutinya dari belakang sambil mengawasi Ranu yang sepertinya sudah sampai ke ujung jalan ke luar bukit. Sebelum menyusul muridnya Rajendra menoleh ke belakang menyapukan pandangannya ke tiap sudut bukit, entah untuk memastikan atau sekedar menjawab rasa penasarannya yang masih mengganjal di hatinya. Dalam hati dia bertanya "Apa sebenarnya yang terjadi? Perasaan apakah ini?", karena tak melihat apapun, pertanyaan itu masih menadi misteri baginya.


Dia pun segera melangkah menyusul Ranu yang tampak sudah tak sabar menunggunya di ujung bukit.


Sawah dan ladang menjadi hal pertama yang Rajendra lihat ketika dirinya telah menyusul Ranu ke luar bukit. Mereka meneruskan langkahnya melewati persawahan dan beberapa kebun, mereka juga telah menjumpai beberapa petani yang sepertinya sedang mengerjakan sawah dan kebunnya, hal yang membuat Rajendra merasa aneh adalah petani-petani itu selalu menghentikan pekerjaannya dan memandang dengan wajah melongo penuh keheranan ke arah dirinya. "Ah mungkin karena mereka belum pernah melihatku" Katanya dalam hati mencoba menepiskan perasaanya.


Ranu yang baru pertama kali pergi meninggalkan desanya merasa aneh dengan pandangan orang-orang yang mereka jumpai, dia pun bertanya pada gurunya


"Guru, apa ada yang salah dari kita? kenapa mereka memandang seperti itu?"


"Entahlah, mungkin karena mereka tahu kita pendatang baru" Kata Rajendra merasa tak yakin dengan jawabannya.

__ADS_1


"Tapi di desaku meskipun jarang kedatangan orang, kami tak pernah menatap pendatang baru dengan heran??" Tanya Ranu lagi menyanggah jawaban gurunya.


"Sudahlah tak usah dipikirkan" Jawab Rajendra karena tak menemukan penjelasan lain lagi untuk menjawab pertanyaan muridnya.


Sebuah gapura dari bambu yang diatasnya terdapat papan bertuliskan " Desa Maruya " tampak di depan mereka. Rajendra dan Ranu pun segera masuk ke desa itu, kesan pertama yang dia dapat dari desa ini adalah desa yang cukup makmur terlihat dari pekerjaan penduduknya yang beraneka ragam bukan hanya bertani. Ranu yang baru kali ini melihat keramaian sebuah pasar tak dapat menahan langkahnya untuk menuju ke tempat itu, Rajendra pun mengikutinya dari belakang. Di tengah pasar tampak sebuah kedai Rajendra memutuskan untuk mengajak Ranu untuk beristirahat disana.


"Ranu, kemarilah !!" Seru Rajendra yang melihat muridnya nampak bengong menoleh kesana kemari. Ketika dia mendengar namanya dipanggil dia pun bergegas berlari mendekati Rajendra.


"Iya guru, ada apa?" Tanya Ranu ketika sudah berada di dekat gurunya


"Kita akan istirahat disana" Jawab Rajendra sambil menunjuk sebuah kedai.


Sambil menoleh ke arah yang ditunjuk Ranu menjawab senang "Ya guru".


"Apa benar tadi anda datang ke desa ini melewati bukit di belakang sana?" Tanya salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah bukit.


"Ya, kenapa?" Tanya Rajendra yang belum dapat menangkap maksud orang-orang itu.


Orang yang bertanya tampak bengong sesaat seolah tak percaya dengan yang dia dengar.


"Jadi benar anda orangnya, kepala Desa memanggil anda , maukah anda menemui beliau?" Kata orang itu menjelaskan tujuannya.


Merasa tertarik sekaligus penasaran Rajendra pun mengiyakan ajakan orang itu, dia dan Ranu pun mengikuti langkah orang-orang itu menuju rumah kepala Desa. Rumah kepala desa terlihat cukup besar dan ada teras yang cukup luas sepertinya di teras itu sering dijadikan tempat untuk mengadakan semacam pertemuan atau perjamuan, karena diteras itu terdapat banyak kursi kayu yang mengelilingi sebuah meja besar. Rajendra dipersilahkan duduk, orang itupun tampak masuk ke rumah memanggil kepala desa. Sesaat orang dengan kumis lebat dan perawakan kecil namun tampak berwibawa datang dan memperkenalkan dirinya,


"Nama saya Darya, maafkan saya jika tiba-tiba memanggil anda seperti ini" Katanya sopan sambil mengambil duduk didekat Rajendra.

__ADS_1


"Saya Rajendra dan ini Ranu murid saya, dan ada keperluan apa Bapak memanggil kami kesini?" Tanya Rajendra setelah memperkenalkan dirinya.


Kepala Desa itu tampak mengamati Rajendra kekaguman tak dapat disembunyikan melihat ketampanan dan pembawaan pemuda didepanya,


"Dari yang saya dengar, apa benar anda yang tadi siang datang ke desa ini melewati bukit kecil di belakang sana?" Tanya Darya dengan wajah serius.


"Ya begitulah saya kira" Jawab Rajendra biasa saja.


"Apa yang anda lihat didalam sana?"


"Pepohonan tentunya" Jawab Rajendra yang belum tahu maksud pertanyaan Darya.


Darya terdiam sesaat, dia merasa pemuda di depannya itu bukan orang sembarangan.


"Apa anda tidak tahu itu bukit apa dan cerita dibalik nya?" Tanya Darya penasaran.


"Tidak, apa ada yang salah?" Kata Rajendra balik bertanya.


Darya kemudian menceritakan semuanya pada Rajendra,


Bukit kecil yang mereka lewati itu, oleh penduduk sekitar di sebut bukit serigala, dan mitos yang berkembang belum ada satu orang pun yang berhasil ke luar dari bukit itu ketika memutuskan untuk masuk kedalam nya. Ada yang mengatakan jika di dalam bukit itu terdapat siluman Serigala Putih, sudah tak terhitung berapa Pendekar yang sengaja datang ke desa itu untuk membuktikan kebenaran mitos itu tapi ketika mereka memutuskan pergi ke bukit itu tak ada satupun yang terlihat kembali.


Rajendra mendengarkan dengan seksama cerita Kepala Desa itu, ketika akhirnya cerita itu selesai maka paham lah dirinya kenapa orang-orang yang tadi dilewatinya saat ke luar bukit nampak keheranan melihat mereka.


"Jadi memang ada misteri di bukit itu" Kata Rajendra dalam hatinya sambil melihat ke arah bukit yang tampak menyeramkan dalam latar belakang langit yang mulai gelap.

__ADS_1


__ADS_2