
Di dalam pulau Canala yang gelap dan rimbun oleh pepohonan itu terlihat Rajendra sedang bersiap dengan posisi tangan di pegangan pedangnya. Sesaat setelah memastikan jika Riswana tak mendapatkan luka yang parah, Rajendra saat ini terlihat sedang memperhitungkan keadaan mereka.
Dinilai dari segala sesuatunya, jelas jika saat ini keadaan Rajendra tidak menguntungkan. Selain dia belum tahu musuh yang dia hadapi, dia juga tidak tahu berapakah jumlah mereka dan saat ini dia pun berada di wilayah mereka. Jika musuh menyerangnya sekarang mungkin dia bisa menghindar, tapi tentu sulit baginya melancarkan serangan yang tepat jika banyak pohon di sekitarnya.
Setelah melewati banyak pemikiran, akhirnya Rajendra sudah memilih satu cara. Meskipun cara ini kemungkinan tidak disukai oleh Riswana sang Atmik hutan, tapi menurutnya itulah cara terbaik untuk mempertahankan dirinya dan membuka peluang untuk menghadapi pertempuran dengan baik. Sesaat sebelum dia melakukan rencananya dia tatap wajah Riswana,
" Maafkan aku... " Katanya setengah berbisik pada Riswana.
Riswana yang masih terduduk memegangi pundak nya merasa heran dengan kata yang diucapkan Rajendra. Justru ketika itu juga Rajendra sudah berbalik dan mencabut pedang dari sarungnya, di sertai sebuah teriakan dia tebaskan pedang itu agak rendah menyusuri tanah. Efek dari tebasan itu menciptakan gelombang tenaga berwarna biru yang menumbangkan pohon-pohon didepan Rajendra.
Kini dihadapan mereka sudah berubah seketika menjadi tempat terbuka dengan tumbangnya pohon-pohon yang disebabkan oleh tebasan pedang Rajendra. Maka pahamlah Riswana sekarang kenapa sebelumnya Rajendra meminta maaf. Jika sekiranya Riswana melihat perbuatan penumbangan puluhan pohon itu dilakukan oleh seseorang hanya demi perburuan, mungkin saat ini dia akan murka. Tapi karena dia tahu alasan Rajendra melakukan itu semata-mata hanya untuk mempertahankan hidup mereka diapun memakluminya.
Rajendra segera mengajak Riswana ke tengah tempat terbuka itu. Dengan memapahnya dia gesit melompat dari satu bekas pohon yang tumbang ke tempat yang lain. Kini mereka sudah berada di pusat tempat terbuka yang Rajendra buat. Sekarang dari tempat nya posisi pertahanannya semakin lebih baik, setidaknya sekarang dia bisa tahu dari mana kemungkinan akan datangnya serangan.
Meskipun Rajendra tak dapat melihat dengan jelas, tapi secara naluriah dia bisa merasakan kehadiran musuh. Dia memperkirakan jika saat ini musuh-musuh tak terlihat itu sudah mengepungnya dari segala penjuru. Tak ada pilihan lain baginya selain bersiap menghadapi pertempuran yang mungkin akan segera terjadi.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelegar, suaranya begitu keras kemungkinan berasal dari mahkluk raksasa,
" Apa mau mu manusia? Kenapa engkau berani datang ke tempat ini? " Tanya suara itu belum terlihat wujudnya hingga seolah suara itu berasal dari langit.
Rajendra tentu saja tak ada minat untuk menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata, karena dirinya sudah diserang secara mendadak dan membuat temannya terluka. Dirinya sudah bertekad untuk membalas untuk tiap serangan yang sudah dia terima.
" Keluarlah pengecut, tunjukan diri kalian dan hadapi aku dengan jantan " teriak Rajendra memberikan sebuah tantangan.
" Besar juga nyali mu manusia, belum tau engkau siapa aku? " Ucap mahkluk itu sambil terus tertawa.
" Tuan.., hamba akan merubah diri menjadi perisai Serigala Putih, pakailah perisai itu untuk melawan mereka " kata Riswana, kemudian dia meneruskan kata-katanya " saat hamba berubah jadi perisai tolong jaga hamba, karena hamba hanya bisa berubah menjadi wujud manusia lagi jika terkena sinar bulan purnama".
Rajendra mendengarkan kata-kata Riswana dengan seksama, karena dia berpikir mungkin memang membutuhkan sebuah alat untuk bertahan, diapun menyetujui keinginan Riswana. Sesaat kemudian Riswana tampak mengeluarkan cahaya yang menyilaukan dari tubuhnya, dan ketika cahaya itu lenyap tampaklah sebuah perisai berbentuk kepala serigala yang berwarna putih. Segera Rajendra ambil perisai itu dan memasangkannya ditangan kirinya.
Dengan Pedang Petir di tangan kanan dan perisai Serigala putih ditangan kirinya, kiranya sekarang Rajendra sudah siap menghadapi musuh apapun yang akan menyerang. Rajendra menyongsong langsung ke arah musuh didepannya, bagi Rajendra yang sendirian lebih baik berinisiatif melakukan serangan dari pada harus menunggu datangnya serangan.
__ADS_1
Diapun segera melesat ke arah siluman bertubuh Raksasa, siluman itu melancarkan pukulan ke arah Rajendra. Sebuah pukulan dahsyat yang menyebabkan sebuah ledakan, mengira pukulannya mengenai sasaran siluman raksasa itu lengah. Ternyata Rajendra berhasil menghindar dan disusul gerakan berlari di tangan Raksasa itu lalu memukulkan perisai ditangan kirinya tepat di wajah mahkluk itu. Suara berdebam terdengar seiring tubuh siluman raksasa yang roboh oleh pukulan Rajendra.
Serangan Rajendra tak berhenti disitu, dia tebaskan pedang ke arah kanan mengarah ke beberapa siluman yang tak sempat mengelak karena tak menduga datangnya serangan. Tubuh mereka pun terlihat terbelah, ketika Rajendra mendarat ke tanah lima atau enam siluman langsung memburunya. Serangan itu berhasil Rajendra tahan dengan perisainya, efek dari tangkisan perisai itu tak hanya mampu menahan serangan tapi juga membuat siluman-siluman itu terpental.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, dia tebas semua siluman yang terpental sebelum tubuh mereka sampai ke tanah. Serangan itu berhasil menumbangkan mereka, beberapa siluman yang masih tersisa mulai berkumpul membentuk sebuah formasi untuk menghadapi Rajendra. Kali ini sepertinya mereka berencana menyerang secara bersama-sama.
Rajendra sama sekali tak merasa gentar menghadapi beberapa siluman yang membentuk sebuah kesatuan itu. Dirinya sudah bertekad untuk tidak mundur dalam pertempuran ini, justru baginya dengan berkumpulnya siluman-siluman itu membuatnya lebih mudah untuk menghadapi pertarungan ini. Sesaat tercipta keheningan sepertinya mereka saling menunggu untuk melakukan serangan.
" SERAAANG....!!!" Sebuah teriakan terdengar dari siluman-siluman itu memecah kesunyian yang sempat tercipta, mereka pun segera menyerbu ke arah Rajendra.
Rajendra sudah bersiap sepenuhnya dia pun menerjang langsung ke arah musuhnya, serangan mereka bertemu seperti dua gelombang ombak besar yang bertumbukan. Siluman itu mulai terlihat bertumbangan satu per satu seiring lesatan pedang Rajendra yang memotong tubuh mereka. Gerakan menghindar, menangkis dan melesatkan pedang yang Rajendra lakukan membuat formasi musuhnya berantakan dan kehilangan kerja sama.
Pukulan pedang Rajendra yang seolah tak kenal jeda itu memang membuat kawanan siluman itu kewalahan. Seharusnya jika seseorang menebaskan pedangnya ke arah samping, maka sisi lainnya akan terbuka untuk diserang. Tapi justru ketika sisi yang terbuka itu akan diserang, pedang Rajendra sudah mengarah ke arah kebalikannya, serangan tak terduga yang Rajendra lakukan tentu saja berhasil menumbangkan siluman yang mencoba menyerang sisi lemahnya.
Tak butuh waktu lama pertempuran itu telah usai. Menyisakan pemandangan Rajendra yang berdiri tegak diantara puluhan mayat siluman yang berhasil dikalahkannya.
__ADS_1