Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Sosok Nadinari sang Atmik Air


__ADS_3

Seekor burung celepuk terbang berpindah pohon saat angin bertiup dengan kencang, saat itu sudah lewat dari tengah malam. Itulah waktu terdingin di saat malam hari yaitu tepat sebelum fajar merekah. Rajendra bergidik di sekujur tubuh merasakan angin yang menghembus tubuhnya, memulihkan kesadarannya seolah baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk. Dia arahkan tatapannya ke atas melihat langit yang mulai terang, kemudian di sapukan pandanganya ke sekitar melihat bekas pertempuran yang baru saja dilaluinya.


Perasaan lega memenuhi hatinya, Rajendra merasa puas bisa mengalahkan semua musuhnya. Dia senang karena bisa membunuh siluman-siluman yang ada di pulau Canala, keberadaan mereka di pulau canala mungkin bisa saja nantinya menimbulkan bahaya, atau mencelakakan manusia di sekitar danau Tirtanara.


Kemudian ketika melihat perisai putih yang ada di tangan kirinya, Rajendra teringat dengan Riswana yang telah membantunya. Tapi dia juga menjadi tersadar jika saat ini dirinya sendirian di pulau Canala,


"Bagaimana caraku untuk pulang?" Tanyanya dalam hati, dirinya yang semalam terbang bersama Riswana sekarang merasa sedikit bingung dengan caranya untuk kembali ke desa Grigis.


Terpikir olehnya jika dia akan menunggu sampai bulan purnama muncul, karena saat itu Riswana akan kembali ke wujud manusia. Tapi itu terlalu lama, barangkali purnama berikutnya masih 15 hari lagi, atau kemungkinan Ranu yang khawatir pada dirinya akan menjemputnya dengan perahu ke pulau Canala. Namun kemungkinan itu sangat kecil karena tak kan ada satu orang pun yang akan menyewakan perahu dan bersedia mengantarnya ke pulau Canala.


Jadi yang sekarang menjadi pilihan Rajendra adalah mencoba secepatnya menemuka Atmik air di pulau ini. Dan berharap semoga saja Atmik air memang berada di pulau ini, seperti yang Riswana katakan. Setelah memantapkan pilihannya itu Rajendra segera melejit masuk ke rerimbunan pepohonan. Dia berlari tanpa tahu arah pasti, dia hanya berlari mengikuti kemana naluri nya akan mengarahkan.


Entah karena petunjuk dari perisai yang dia bawa atau memang karena ketajaman naluriahnya, Rajendra kini telah sampai di sebuah tempat dalam hutan pulau Canala. Dalam cahaya fajar yang mulai merubah langit menjadi keemasan dia melihat sebuah gundukan tanah di hadapannya. Setelah mendekati dan memeriksa, akhirnya dia tahu gundukan tanah itu terjadi karena terdorong oleh sesuatu yang sepertinya jatuh dari tempat yang tinggi. Karena dibelakang gundukan tanah itu terdapat lubang yang cukup besar seperti bekas terhantam benda keras.

__ADS_1


Rajendra segera melompat dan mengarah ke cekungan di tanah yang baru saja dia temukan, sepertinya untuk memastikan jika mungkin benda yang membuat bekas lubang di tanah itu adalah Atmik air. Setelah memeriksa hingga ujung lubang Rajendra tak berhasil menemukan apapun, tapi dia bisa melihat dengan jelas sebuah bekas benda yang sepertinya sudah diambil atau dipindahkan dari sana.


"Apakah siluman-siluman itu yang sudah menemukan sesuatu disini?" Kata hati Rajendra. "Jika itu benar kemana mereka membawanya?"


Tak ingin berlama-lama dalam rasa penasaran Rajendra segera melesat ke tempatnya semula, tempat dimana menjadi bekas pertempurannya semalam. Dia berharap semoga saja masih ada sisa siluman yang bisa dia tanya, meskipun kecil kemungkinan itu tapi Rajendra tak punya pilihan lain. Sesaat kemudian dia sudah sampai, Rajendra tampak mulai melihat satu persatu tubuh mayat-mayat siluman yang berserakan.


Setelah cukup lama memeriksa, Rajendra memastikan jika tak ada lagi siluman yang tampak masih hidup, tapi dia kemudian teringat jika ada satu siluman yang tidak ada. Siluman bertubuh raksasa yang pertama kali dia serang mayatnya tidak ada di tempat itu. "Kemana perginya mahkluk itu?" Gumam Rajendra. Dia lihat sekeliling tempat itu untuk mengembalikan ingatan tempat robohnya siluman Raksasa yang dia pukul.


" Ah..disana " teriaknya karena sudah mengingat dengan jelas posisi jatuhnya siluman Raksasa. Rajendra pun bergegas ke tempat itu, ketika dia sampai tampak ada bekas jatuh tubuh besar raksasa itu. Dia tajamkan matanya dan melihat ada bekas kaki yang mengarah masuk ke rimbun pepohonan, ketika dia ikuti bekas kaki itu tampak juga beberapa semak yang terinjak dan pohon yang nyaris tumbang. Mungkin karena terdorong oleh tubuh siluman raksasa yang berjalan sempoyongan.


Di bagian terdalam gua Rajendra akhirnya bisa menemukan sosok Siluman Raksasa yang dia cari. Siluman itu tampak memegang sesuatu berwarna hitam, benda itu berbentuk kubus dan tampak memiliki semacam ukiran yang rumit. Nampak jelas jika Siluman raksasa itu berusaha untuk mempertahankan benda itu.


"Siapa engkau..dan apa mau mu !?" Tanya siluman itu dengan suara parau, seolah telah kehilangan seluruh keangkuhannya.

__ADS_1


" Kau tak tahu aku? Aku adalah utusan dewa untuk menghabisi mahkluk jahat seperti mu " jawab Rajendra dengan suara yang mantap, sambil berjalan tanpa keraguan menyongsong langsung ke arah Siluman Raksasa itu.


Dengan seluruh sisa tenaga yang Siluman itu miliki dia mencoba menyerang Rajendra yang sudah berada dalam jangkauannya. Tentu saja usaha itu sia-sia karena Rajendra sudah menduga serangan itu, dengan sedikit berkelit Rajendra kemudian memutar badannya dan mengayunkan pedangnya membelah tubuh Siluman itu.


" Awrkk..." Teriak siluman itu sebelum roboh dan mati.


Benda ditangannya pun terjatuh di depan Rajendra, teryata benda itu lebih besar dari yang Rajendra kira. Dia pun berjongkok dan memeriksa benda itu dia raba permukaannya dan menemukan semacam bentuk yang tidak asing dengan benda itu. "Bentuk ini sepertinya aku pernah melihatnya !" Kata Rajendra dalam hatinya. Karena bentuk itu menjorok ke dalam Rajendra berkesimpulan itu adalah sebuah lubang kunci untuk membuka benda tersebut.


Setelah cukup lama mengingat, akhirnya Rajendra melihat ke arah gagang Pedang Petir miliknya dan ingatlah dia jika bentuk itu adalah bentuk gagang pedang miliknya. Maka dia pun mencoba memasukan gagang pedangnya ke dalam lubang di benda hitam itu. Tiba tiba benda itu mengeluarkan cahaya, karena tak terjadi apa-apa lagi Rajendra mencoba memutar pedangnya. Dan benar saja benda itu kemudian terbuka dan asap berwarna hijau keluar dari dalam kotak hitam tersebut.


Rajendra segera berdiri dan mundur, sepertinya ingin melihat dengan jelas apakah yang kiranya akan muncul ketika asap itu menghilang. Asap itu pun perlahan menipis dan tampak sosok yang mulai terlihat. Ketika asap itu sudah benar-benar hilang, jelaslah sekarang sosok itu dimata Rajendra.


Mahkluk itu berwujud wanita berparas cantik dengan rambut yang panjang. Diantara rambutnya yang panjang nampak telinganya yang runcing dan ada semacam tanduk di sebelah telinganya. Setelah melihat kebawah, Rajendra menyadari jika ternyata mahkluk yang masih memejamkan matanya itu, berwujud setengah ular dari bagian perut kebawah. Perlahan mahkluk itu mulai membuka matanya, menatap ke arah Rajendra, tersenyum dan kemudian berkata,

__ADS_1


" Hamba Nadinari ruh penjaga air ".



__ADS_2