
Setelah Raja Prabaswara tahu jika ternyata salah satu abdi pelayan di istana adalah adik dari Rajendra yang merupakan pahlawan bagi kerajaan Shaminari, maka kemudian Raja Prabaswara mengijinkan Utari untuk tinggal bersama Kakaknya. Mereka diberikan tempat tinggal oleh sang Raja di sebuah rumah yang berada tak jauh dari istana. Rajendra yang awalnya menolak kebaikan Raja Prabaswara pada akhirnya menerima tawaran itu ketika Raja juga mengijinkan Ranu dan semua Atmik untuk tinggal di tempat itu. Bahkan Sang Raja sendiri yang memberikan perintah untuk menjemput Ranu ketika dirinya diberi tahu jika masih ada murid Rajendra yang tinggal di luar benteng kota Ankara.
Semenjak Raja Prabaswara mendengar peringatan yang Rajendra sampaikan dirinya kemudian mengeluarkan sebua perintah pada Panglima-Panglima prajuritnya. Keadaan di sekitar benteng kini terlihat sangat sibuk, kekuatan prajurit yang berjaga nampak diperkuat. Penjagaan diperketat dan sebagian pasukan berkuda selalu berkeliling secara bergantian, tampak sekali jika kerajaan Shaminari sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah kemungkinan buruk.
Sementara keadaan di dalam benteng, penduduk kota Ankara tampak tetap melakukan kegiatan kesehariannya dengan tenang. Raja Prabaswara tentu saja sudah memberikan perintah lain agar penduduk tidak tahu tentang kemungkinan ancaman bahaya yang akan datang, bagi sang Raja hal terbaik adalah tidak membiarkan rasa takut menghinggapi pikiran rakyatnya. Namun meskipun demikian tentunya Sang Raja juga sudah mempunyai rencana penyelamatan apabila ancaman itu benar-benar terjadi dan keadaan memburuk untuk kerajaannya.
Ranu yang saat ini sudah berada di tengah kota Ankara tak henti-hentinya merasa kagum dengan hal-hal yang dilihatnya saat ini. Dirinya yang baru pertama kali melihat sebuah kota besar merasa banyak sekali sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Bahkan ketika pasukan berkuda melewatinya, dirinya merasa senang dan membuntutinya, Rajendra yang melihat kesenangan yang dirasakan muridnya membiarkan saja segala yang dilakukan Ranu.
Sambil memandang jauh ke langit di luar benteng Rajendra tengah berbicara dengan para Atmik di beranda rumah,
"Apakah menurut kalian Prajurit Sastrika itu benar-benar ada?" Tanya Rajendra mencoba mendengarkan pendapat dari para Atmik.
"Apa sekarang tuan meragukan cerita dari Ratu Laksmi?" Jawab Agnigara balik bertanya.
"Bukan, bukan begitu hanya saja aku merasa jika cerita itu masih sulit dipercaya sepenuhnya" Rajendra mengalihkan pandangannya ke Agnigara.
"Menurut anda apa yang paling sulit untuk dipercaya?" Kali ini Bayurajata yang bertanya.
"Tentu saja tentang maksud dari Prajurit Sastrika yang tak terhancurkan dan tak dapat dikalahkan itu, menurut kalian apakah mungkin ada mahkluk seperti itu?" Rajendra mengemukakan pendapat pribadinya.
__ADS_1
Para Atmik saling pandang mendengar pendapat yang Rajendra kemukakan, memang masuk akal yang dikatakannya. Meskipun jika benar Prajurit Sastrika itu begitu kuat tetap saja seharusnya ada sebuah cara atau sesuatu yang menjadi kelemahan mereka.
"Barangkali maksud tak terkalahkan dari cerita itu karena memang selama Prajurit Sastrika di ciptakan belum ada yang mampu menghadapinya" Agnigara mencoba menjawab pendapat Rajendra.
Rajendra mengangguk setuju dengan kata-kata dari Agnigara, memang benar yang dikatakannya jika selama Prajurit Sastrika diciptakan menurut cerita Prajurit-prajurit itu dapat dengan mudah untuk mengalahkan semua musuhnya. Jadi menurut Rajendra mungkin saja cerita tak terkalahkan dari Prajurit Sastrika terkesan dilebih-lebihkan.
"Jadi menurutmu apa kita saat ini bisa saja mengalahkan Prajurit Sastrika itu?" Tanya Rajendra dengan nada serius.
"Tentu saja" Jawab semua Atmik hampir bersamaan.
Rajendra merasa senang dengan keyakinan yang terpancar dari wajah-wajah para Atmik ketika menjawab pertanyaannya. Dirinya kini menjadi lebih merasa percaya diri dan lebih siap untuk menghadapi ancaman kutukan dalam cerita yang disampaikan Ratu suku Carani. Namun meskipun begitu dirinya tetap tak bersikap jumawa dan mencoba mengatakan rencana untuk menyelamatkan adiknya dan muridnya,
"Baik tuan" Jawab Riswana mewakili Nadira. Meskipun dirinya sedikit kurang senang dengan pemikiran buruk dari Rajendra namun dirinya juga tak bisa menolak permintaan itu. Biar bagaimanapun dirinya juga tidak tahu sama sekali tentang kekuatan dan wujud dari Prajurit Sastrika. Sehingga terlalu awal baginya jika berpendapat mereka akan mampu mengalahkan Prajurit Sastrika dengan mudah.
Utari yang hendak mengantarkan makanan untuk Rajendra tak sengaja mendengar ucapan yang dikatakannya,
"Aku tak akan pergi kemana-mana, aku tak mau kita terpisah lagi" Katanya sambil berjalan mendekati Rajendra dengan mata berkaca-kaca.
Semua Atmik memandang ke arah Utari, Rajendra yang memahami perasaan adiknya berusaha menenangkannya,
__ADS_1
"Kita tak akan terpisah, itu hanyalah sebuah rencana, dan meskipun hal itu benar terjadi tentunya aku akan segera menyusul mu, jadi jangan khawatir" Rajendra terlihat menjelaskan semuanya pada Utari.
Meskipun telah diberi pengertian namun sepertinya hal itu sama sekali tak membuat Utari merasa lega. Dapat dia rasakan jika kemungkinan mereka akan terpisah bisa saja terulang kembali.
"Apa benar jika aku pergi engkau akan segera menyusul ku?" Tanya Utari mencoba mencari keyakinan.
"Tentu saja, tak perlu kau ragukan sesuatu yang sudah pasti akan aku lakukan" Jawab Rajendra dengan yakin.
Jawaban yang terdengar dengan tenang dan jelas itu membuat Utari sekarang merasa sedikit lebih baik. Untuk beberapa hal memang kakaknya belum pernah mengecewakan dirinya, satu-satunya hal yang sampai kini membuat Utari kecewa pada kakaknya adalah ketika larangannya untuk mencegah Rajendra pergi berperang tidak didengarnya waktu itu. Hingga pada akhirnya dirinya mendengar jika pihak yang dibela kakaknya telah kalah dan dirinya beranggapan jika Rajendra telah gugur. Dan karena hal itu lah yang membuat mereka akhirnya terpisah cukup lama.
Ranu yang baru saja kembali setelah puas melihat-lihat keadaan kota Ankara merasa heran karena semuanya sedang berkumpul di depan rumah,
"Apa yang kalian sedang bicarakan?" Tanyanya pada semua.
"Tak ada apa-apa" Jawab Rajendra cepat.
Ranu yang merasa jawaban itu adalah sebuah kebohongan mengerutkan dahinya dan memasang wajah cemberut.
Tingkah laku dari Ranu itu tentu saja membuat semuanya merasa geli, mereka pun akhirnya tak dapat menahan tawanya ketika Ranu melengos pura-pura merajuk.
__ADS_1
Untuk sesaat mereka dapat merasakan sebuah kebahagian yang sederhana itu, Ranu yang merasa bahagia karena kini makin banyak yang dia sayangi. Rajendra yang merasa bahagia karena dapat berkumpul lagi dengan adiknya. Seberapa lama kebahagian itu dapat bertahan, ancaman buruk apa yang mungkin saja akan segera terjadi. Untuk saat ini sepertinya tak ada yang memikirkan hal itu, bagi mereka apapun hal buruk yang akan terjadi dapat dipastikan jika mereka telah siap untuk menghadapinya bersama-sama.