Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Desa Api Abadi


__ADS_3

Sinar matahari musim panas menerobos menembus ke hutan Birama, membentuk cahaya tipis dan miring melewati dahan-dahan yang tertiup angin. Suasana hening, kata-kata yang diucapkan oleh Atmik Angin seketika mengingatkan mereka pada sosok misterius yang sedang berusaha mendapatkan Pedang Hitam.


"Apa ada yang bisa jelaskan" Kata Bayurajata dengan suara khasnya yang besar dan dalam.


Mereka masih terdiam, Riswana dan Nadira saling pandang kemudian melihat ke arah Rajendra. Karena menganggap tak ada yang mau menjelaskan, Riswana pun berinisiatif untuk membuka pembicaraan,


"Beberapa waktu yang lalu kami mendapatkan firasat buruk, pertanda yang tak salah lagi jika ada seseorang yang telah berhasil menguasai ilmu hitam yaitu Ajian Atmaanjana" Riswana mencoba menjelaskan yang dia tahu.


Bayurajata merasa kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Riswana, namun dia berusaha menyembunyikannya.


"Ajian terlarang itu?! , Bagaimana bisa bukankah dulu Prabu Mahesa telah membunuh siluman yang bisa menurunkan ilmu itu?" Kata Bayurajata setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Ada dua kemungkinan kenapa Wanara ternyata masih hidup sampai sekarang" Jawab Adanu menyela percakapan yang sedang terjadi.


"Oh...engkau bangsa Asura tentunya lebih tahu tentang itu, bukankah dulu kalian yang ikut dalam perburuan dua siluman itu!!" Bayurajata melihat ke arah Adanu, melihat sosok nya yang besar diapun tahu jika dia adalah salah satu bangsa Asura.


"Ya, dan waktu itu kami merasa telah berhasil membunuh ke duanya, kemungkinan pertama adalah mereka bisa bangkit lagi karena menguasai Ajian ilmu hitam tapi kemungkinan itu kecil" Adanu tampak mengingat kejadian waktu itu.


"Kenapa begitu?" Bayurajata mengernyitkan dahinya.


"Karena saat itu kami tidak hanya membunuh ke duanya tapi kami juga telah membakar mereka sampai menjadi abu" Adanu mencoba meyakinkan penjelasannya.


"Lalu kemungkinan ke dua?" Kali ini Rajendra menyela pertanyaan karena dirinya merasa harus lebih banyak tahu tentang calon musuhnya itu.


"Kemungkinan ke dua menurut saya adalah mereka rupanya telah mengorbankan siluman lain yang sengaja dirubah wujudnya menyerupai mereka berdua, dan saya kira itulah sesuatu yang paling masuk akal" Jawab Adanu tanpa memberitahu jika saat kejadian itu dirinya memang merasa sedikit aneh karena ke dua siluman itu berhasil dengan mudah dikalahkan dan hampir tanpa perlawanan.

__ADS_1


Mereka semua terdiam memikirkan kata-kata dari Adanu, tampaknya mereka semua setuju dengan pendapat itu.


"Jika memang begitu saya yakin saat ini orang yang telah berhasil menguasai Ajian Atmaanjana itu sedang berusaha mencari Shengkara atau bisa jadi dia telah menemukannya dan sedang berusaha menguasai Ilmu hitam yang ke dua, jika dia berhasil...." Bayurajata terdiam sejenak seolah tak ingin mengatakan hal yang dia takutkan, dia menghela nafas dan melanjutkan ucapannya "Dunia harus siap menghadapi kehancuran yang akan ditimbulkannya..!!".


Angin besar tiba-tiba berhembus menggoyangkan ranting pepohonan diatas mereka merontokkan daun-daun ke tanah, suasana sesaat menjadi hening mencekam.


"Tapi tentunya kita sudah harus siap mencegah kemungkinan terburuk" Jawab Adanu yang tak ingin berlama-lama dalam suasana yang dramatis.


"Ya aku tahu, sebab kini ada seseorang yang bisa kita andalkan untuk mencegah terjadinya kemungkinan terburuk itu!" Bayurajata memandang ke arah Rajendra, yang lainpun mengikuti pandangannya.


Tak bisa dipungkiri lagi jika nasib dunia kini dipikul oleh orang yang menyanding Pedang Petir di pundaknya, sosok yang tak lain adalah Rajendra. Apakah suatu kebetulan atau memang sesuatu yang sudah diatur oleh dewa-dewa, kini Rajendra harus siap menanggung beban dari takdir yang dibawanya.


Merasa jika semua pandangan mengarah pada dirinya Rajendra pun merasa sedikit gugup, tapi perlahan keyakinannya bangkit. Dirinya merasa jika memang inilah yang harus ditanggung seseorang yang dianugerahi kekuatan yang besar, dengan yakin dia lalu berkata "Aku siap melindungi dunia ini dari kehancuran, biar bagaimanapun caranya aku tak akan membiarkan hal itu terjadi..!".


"Aku senang mendengar ucapan mu, tapi alangkah baiknya jika kita secepatnya menemukan Atmik lainya, tapi bukankah seharusnya Atmik Tanah sudah bersama kalian?" Kata Bayurajata yang kini menyadari jika dirinya tak merasakan kehadiran Darani disitu.


"Ya, tentu saja sebelum kami berniat membebaskanmu kami telah berusaha menemukan Atmik Tanah, tapi rupanya ada seseorang yang lebih dulu membebaskannya" Riswana mencoba mengatakan yang dia tahu.


"Sepertinya ada manusia sakti lain yang mendapat restu dari dewa untuk membebaskan Atmik Tanah" Nadira menyambung penjelasan Riswana.


"Hemh.. sesuatu yang menarik, tentunya orang itu telah mengetahui banyak hal tentang dunia ini di masa lalu.. dan aku yakin saat ini dia juga telah mempersiapkan sesuatu untuk mencegah kehancuran umat manusia" Bayurajata mencoba menebak, namun lebih terdengar sebagai sebuah harapan dari pada terkaan semata.


"Apa benar begitu?" Jawab Rajendra meragukan pendapat dari Atmik Angin.


"Jika selama ini belum terjadi kekacauan, aku yakin jika apa yang aku katakan itu bisa anda percaya" Bayurajata memandang ke arah Rajendra mencoba meyakinkannya dengan sorotan matanya.

__ADS_1


Merasakan tatapan penuh keyakinan dari mata Bayurajata membuat keraguan pada hati Rajendra luruh. Dia pandangi semua yang ada di situ satu per satu dan dirinya kini merasa jauh lebih bersemangat merasakan adanya sosok-sosok kuat yang siap membantunya mencegah kehancuran dunia ini.


"Jadi yang harus secepatnya kita lakukan saat ini adalah segera menemukan Atmik Api.. tentu saja kita tak ingin jika musuh sampai mendahului kita" Kata Nadira pada yang lain.


"Ya kita harus cepat atau hal buruk akan lebih cepat terjadi" Bayurajata menimpali kata-kata Nadira, "dan dimana dia kini berada?" lanjutnya mengajukan pertanyaan pada Riswana.


"Atmik Api itu berada di desa Wiyati, tepatnya di gunung api bernama Prabatatunu". Jawab Riswana pada mereka.


"Aku pernah mendengar sedikit cerita tentang tempat itu, menurut yang aku dengar desa itu berada di bagian barat negeri ini" Kata Rajendra sambil mencoba mengingat sebuah cerita yang pernah dia dengar dari penduduk.


Rajendra merasa pernah mendengar tentang nama desa itu, dia ingat tentang sebuah cerita yang menceritakan tentang sebuah tempat yang terdapat banyak kawah yang menyemburkan lahar dan api sepanjang waktu. Dan sepanjang ingatannya nama tempat itu adalah desa Wiyati, sebuah desa yang dijuluki desa api abadi. Meskipun dengan keadaan seperti itu tapi desa itu tetap banyak ditinggali penduduk karena kesuburan tanahnya. Kini menjadi jelas baginya kenapa di tempat itu terdapat banyak kawah berapi.


"Dan apakah yang anda tahu dari cerita itu?" Tanya Bayurajata sepertinya mewakili pertanyaan yang lain.


"Mereka menceritakan tentang sebuah desa yang memiliki banyak kawah, dan jika aku tidak salah mendengar desa itu dijuluki desa api abadi" jawab Rajendra.


"Sebuah julukan yang tepat mengingat sekarang kita tahu tentang keberadaan Atmik Api ditempat itu" Adanu mengemukakan pendapatnya.


"Sekarang kita sudah tahu kemana tujuan kita selanjutnya, alangkah baiknya kita tak menunda waktu untuk segera ke desa Wiyati". Sela Bayurajata sambil melangkah merapatkan dirinya dengan yang lain.


"Jika begitu sebaiknya kita kembali ke tempat ku, kalian bisa mulai menyiapkan segalanya dari sana" Kata Adanu sambil melangkah dan mengajak semuanya.


Tanpa perlu menjawab lagi mereka pun mengikuti Adanu ke rumahnya. Sebuah tujuan untuk menemukan Atmik Api pun sudah di hadapan mereka, meskipun belum tahu aral apa yanga akan mereka hadapi tapi tak ada satupun kiranya yang akan mampu menghalangi niat mereka.


Matahari mulai tenggelam, cahaya senja perlahan melingkupi hutan Birama, menuntun beberapa burung terbang kembali ke sarangnya.

__ADS_1


__ADS_2