
Kehadiran sosok-sosok yang menjadi penyelamat kota Angkara dari serangan para pemberontak telah sampai ke telinga Raja Prabaswara.
"Ampun yang Mulia, serangan para pemberontak kini telah dapat dipukul mundur" Kata si pembawa pesan.
"Jadi kalian telah berhasil, ternyata pasukan pemberontak tak sekuat yang kita kira sebelumnya" Jawab Sang Raja yang membanggakan kekuatan prajurit kerajaannya.
"Sebenarnya tidak seperti itu yang Mulia"
"Lalu maksudmu?" Raja Prabaswara tampak bingung.
"Sebenarnya pertahanan benteng kita hampir saja runtuh seandainya tidak datang tiga sosok yang menolong kami?" Pembawa pesan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Siapakah ke tiga orang itu?" Raja Prabaswara terperanjat mendengar penjelasan yang tak dia duga.
"Kami tak yakin siapa mereka, bahkan sampai saat ini pun kami tak percaya jika mereka dengan kesaktian yang begitu tinggi adalah manusia biasa" Pembawa pesan tampak bingung untuk menjelaskan ke tiga sosok pahlawan.
__ADS_1
"Apa maksud kata-katamu?" Tanya Raja Prabaswara penasaran.
Pembawa pesan diam sejenak sepertinya sedang mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang dilihatnya. Setelah cukup yakin dirinya kemudian menjelaskan ke tiga sosok pahlawan itu, salah satu dari pahlawan itu yang menurut nya adalah pemimpin mereka adalah sosok pemuda yang membawa sebuah pedang berpijar biru dan memiliki kesaktian yang tinggi. Sedangkan dua sosok lain adalah mahkluk berwujud seperti manusia tapi memiliki bentuk seperti singa dan elang.
Mendengar cerita yang disampaikan pembawa pesan Sang Raja menyimpulkan jika sosok itu tentunya Pendekar Pedang Biru, orang yang semula dianggapnya sebagai musuh dan ancaman untuk kekuasaannya. Dan dua sosok lain kemungkinan adalah para Atmik, Raja Prabaswara pernah mendengar sedikit cerita tentang keberadaan Atmik di dunia ini. Kini sebuah kenyataan telah menyadarkannya, orang yang dulu dianggap musuh saat ini telah menjadi penyelamatnya sedangkan orang yang dulunya dianggap sekutu terkuat sekarang malah menjadi musuh yang menjadi ancaman bagi Sang Raja.
Di medan pertempuran saat ini pasukan siluman telah hampir seluruhnya dapat dimusnahkan, para siluman tampak kebingungan karena berada pada dua pilihan yang sulit. Jika mereka terus maju maka mereka akan menghadapi ke tiga sosok musuh yang akan menghancurkan mereka satu per satu sedangkan jika mereka memilih mundur mereka telah menyaksikan sendiri pemimpin mereka yang saat ini sedang berjalan mendekat akan membunuh mereka. Terlalu bingung dengan himpitan keadaan yang dihadapi pasukan siluman yang tersisa pun kini tercerai berai tanpa tahu lagi apa tujuan mereka.
Ketika tahu jika pasukan siluman sudah tak lagi datang menyerang, kini Rajendra menyadari sebuah aura kekuatan yang begitu gelap dan kuat datang mendekat. Dalam hiruk pikuk pasukan siluman yang tampak berlarian tanpa arah itu samar-samar Rajendra dapat melihat sosok yang memancarkan aura yang kuat itu.
"Dia kah yang telah menguasai dua Ajian hitam itu" Kata Rajendra dalam hati meskipun belum melihat wujudnya dengan jelas.
Mata Patih Pramana menatap tajam seperti api, nyala yang haus darah berkobar dari matanya. Sebuah tatapan yang seolah penuh gertakan dan ancaman pada siapa yang ditatapnya.
Sedangkan tatapan Rajendra jauh lebih tenang namun dalam sorot nya jelas terpancar sebuah keberanian dan keyakinan.
__ADS_1
Tinggi mereka hampir sama tapi tubuh Rajendra terlihat lebih kecil dibandingkan tubuh Patih Pramana yang berotot dan berwajah penuh. Pertarungan keduanya sebenarnya telah dimulai sejak keduanya beradu tatapan, tak dapat dipungkiri jika tatapan mata adalah pembuka serangan yang paling dahsyat. Seseorang yang lemah tentunya akan segera kehilangan segala keberaniannya ketika menghadapi sorot tajam yang kini sedang di tunjukan oleh Rajendra dan Patih Pramana.
Rajendra tampak menyarungkan pedangnya ke punggung, karena dirinya masih beranggapan jika hanya akan menggunakan Pedangnya ketika menghadapi siluman. Keduanya kini mulai bergerak perlahan saling mendekat, ketika jarak keduanya sudah tinggal beberapa langkah Patih Pramana sudah kehilangan kesabarannya untuk mulai melakukan serangan.
Disertai teriakan dirinya langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah Rajendra, begitu cepat nya gerakan itu hingga tak dapat dipastikan apakah suara teriakannya atau pukulannya yang terlebih dahulu dapat di tangkap oleh Rajendra. Dengan gesit Rajendra menggeser maju tubuhnya, gerakan yang tak terduga itu tak terpahami oleh Patih Pramana. Kebanyakan orang akan melompat mundur untuk menghindar, dengan begitu dirinya akan mampu meneruskan serangan jurus-jurusnya. Tapi ketika Rajendra membuat gerakan maju mendekat itu arah pukulan yang dilancarkan Patih Pramana menjadi meleset karena melebihi sasarannya. Dirinya juga tak bisa lagi meneruskan serangannya karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Gerakan selanjutnya yang dilakukan Rajendra adalah menunduk dan melancarkan sebuah pukulan ke arah wajah Patih Pramana yang masih berada pada akhir gerak serangannya. Serangan itu dengan telak mengenai wajahnya, begitu keras pukulan itu hingga terdengar suara seperti dentuman. Patih Pramana terpental kesamping, wajahnya tampak hancur oleh serangan yang dilancarkan oleh Rajendra. Tapi Patih Pramana seolah tak merasakan kesakitan dari efek pukulan yang mengerikan itu, dengan cepat dirinya bangkit dan dengan perlahan dapat terlihat jika luka di wajahnya segera pulih.
Sebuah senyum tersungging di wajahnya yang telah pulih, hanya Patih Pramana yang tahu arti senyumnya entah sebuah ejekan atau barangkali merasa senang karena menghadapi musuh yang kuat. Rajendra yang melihat jika musuhnya dapat memulihkan luka dengan cepat tak merasa heran karena tahu Patih Pramana telah menguasai Ajian Atmaanjana.
Tampaknya serangan pertama yang dilakukan Patih Pramana hanyalah sebuah serangan coba-coba, kini dirinya tampak lebih serius dengan mengeluarkan kedua Ajiannya bersamaan. Dahsyatnya aura kekuatan yang saat ini dikeluarkan Patih Pramana hingga menimbulkan gelombang angin yang menerpa tubuh Rajendra. Mengetahui jika musuhnya lebih serius Rajendra tak menganggapnya remeh dirinya segera mengeluarkan Ajian Akaladarsa untuk menciptakan perisai di seluruh tubuhnya.
Sesaat setelah tersenyum Patih Pramana segera melesat ke arah Rajendra, dia hujamkan sebuah pukulan, kecepatannya terlihat meningkat pesat. Rajendra mengelak pukulan itu dengan lompatan ke samping, hampir saja serangan itu mengenainya. Belum lagi Rajendra menyelesaikan lompatannya ternyata Patih Pramana melakukan serangan lain, diakhir pukulannya yang tak kena dengan cepat dirinya menyapukan tanganya ke samping ke arah tubuh Rajendra.
Tak ada kesempatan untuk menghindar Rajendra segera menyilangkan tangannya untuk menangkis serangan yang mengarah padanya. Meski berhasil menangkal serangan itu tapi tubuhnya tetap terpental cukup jauh, sebuah pohon tampak menghentikan pentalan tubuh Rajendra. Pohon besar itu sampai berderak, batang-batangnya bergetar hebat dan daun-daunnya berguguran.
__ADS_1
"Kuat sekali" Kata hati Rajendra ketika merasakan serangan itu masih menimbulkan rasa sakit meski tubuhnya telah diselimuti Ajian Akaladarsa.
Dengan mengatur nafasnya Rajendra mencoba mengembalikan keyakinannya, perlahan Rajendra telah berhasil memperbarui keyakinannya. Dirinya kini tampak mulai berjalan dengan gagah untuk berhadapan kembali dengan musuhnya.